Sita adalah gadis yang sangat menjauhi percintaan. Kenangan masa lalu yang meninggalkan noda dalam hatinya.
Erick datang menyelamatkan Sita dari kekangan sang ayah yang ingin menjualnya. Untuk mengajak menjadi istri hanya untuk membuktikan kalau ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
Sebuah kepura-puraan membawa luka pada hidup Sita. Lelaki yang ia harapkan bisa membawanya dalam kebahagiaan justru menyakitinya.
"Kamu sangat indah Sherena ...."
Seketika hati Sita seperti di iris-iris. Bagaimana tidak, di saat Erick sedang menikmati tubuhnya justru menyebut nama orang lain yang telah pergi darinya.
Saat Erick menyadarkan semua telah terlambat. Sita telah pergi dari hidupnya. Akankah dengan seiring berjalannya waktu mereka akan dipertemukan lagi oleh takdir?
Folow Ig author @Samar_Jenny1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Sah!
Sita berdiri di depan cermin menatap pantulan dirinya sendiri. Kini ia sudah selesai didandani oleh para tenaga make up ternama di kota ini. Sangat lama ia berdiri di sana memejamkan mata menghela napas dalam-dalam. Siapa sangka hidupnya akan berakhir seperti ini.
Zia memegang pundaknya sehingga membuat ia seketika terperanjat dari lamunannya.
“Kamu siap, Sita?” Zia berkata menatap wajah Sita dari bayangan cermin.
Sita berbalik ke arah temannya itu tersenyum tipis lalu berkata, “Siap tidak siap aku harus menjalankannya, Zia.” Sita melihat tiga orang yang sedang membereskan sisa-sisa make up memasukkan ke dalam bok. “Apa kalian bisa keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan teman-temanku.”
Perintah Sita langsung mendapat anggukan dari tiga orang itu lalu ke luar dari kamar.
“Erick sudah membeliku dengan harga yang sangat mahal Zia.
Zia termenung hampir tidak percaya. Sedangkan Vita tidak kalah terkejutnya mendengar semua itu. Selama hampir setengah jam Sita menceritakan semua pada Zia dan Vita. Hingga Zia memberi suport untuk menguatkan Sita. Sesaat suasana kamar menjadi haru karena mendengar cerita hidup Sita.
Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Itu tampaknya seseorang yang diperintahkan untuk membawa Sita turun.
“Sudah ah, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya hilang loh,” putus Zia di sela-sela curahan hati Sita. “Ada yang mengetuk pintu tuh, mungkin orang suruhan Tante Lisa. Ayo bersiap.” Zia meraih kuas bedak mengoleskan pada wajah Sita bekas air mata tadi.
Setelah siap Sita diiringi Zia dan Vita keluar dari kamar. Wanita dengan mengenakan pakaian kebaya serba pas di tubuhnya itu mengalami kesulitan saat berjalan. Langkah yang biasa ia lakukan cepat kini ia hanya melakukan pelan-pelan menuruni anak tangga.
Hingga semua pandangan mata ke arahnya. Terlebih Erick, lelaki yang sebelumnya berwajah merah meredam itu berubah menjadi aura takjub melihat kecantikan seorang Sita bagai bunga yang mekar di taman.
Lain halnya dengan Sherena. Perempuan itu tampak meremas kursi. Ia tidak terima kalau Sita akan menikah dengan Erick. Terlintas rasa penyesalan di benaknya karena dulu sudah meninggalkan Erick dan menyetujui menikah dengan pilihan orang tuanya.
Sita diiringi Vita sampai duduk di sebelah Erick. Sedangkan Zia bergabung dengan suaminya.
Setelah mengantar Sita sampai ke kursinya. Vita kembali ke tempat duduknya di sambut Rio dengan senyuman di sebelahnya.
“Apa kalian siap?” tanya penghulu pada Erick dan Sita.
“Aku siap,” jawab Erick cepat hingga membuat Sita menoleh ke arahnya.
Marcel mewakilkan pernikahan pada penghulu ia mempersilakan supaya proses ijab qobul segera dimulai.
“Baikalah saudara Erick.” Penghulu itu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Erick hingga tangan mereka bertaut. “Ikuti kata-kata saya, ya.”
Erick menarik napas dalam-dalam ia sejak kemarin memang sudah berlatih guna mempermudah saat hari ini tiba. Tapi nyatanya ia masih sangat grogi. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam sekali lagi.
Setelah penghulu itu berucap Erick menjawab, “Saya terima nikah dan kawinnya Sita Gabrylla Wiliam dengan uang senilai lima ratus ribu rupiah di bayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu pada tamu yang hadir.
Mereka semua menjawab secara bersamaan, “Sah!”
Setelahnya doa bersama dilakukan memohon pada Yang Maha Kuasa. Setelah itu Sita mencium tangan Erick ada perasaan sebagai bukti resminya pernikahan mereka.
Tak berselang lama Marcel berdiri dari kursi. “Maaf, saya rasa tidak ada urusan lagi di sini. Jadi saya mohon undur diri, karena pesawat yang kami tumpangi akan segera berangkat.”
“Tunggu, Pah. Ada yang ingin aku ucapkan padamu.” Sita berjalan mendekat tepat di hadapan Marcel.
Sedangkan Marcel menaikkan sebelah alisnya menatap putrinya itu.
“Terima kasih, Pah. Karena kamu aku kini menjadi seorang istri, terima kasih karena kamu aku menjadi lebih kuat menghadapi dera dan cobaan hidup ini. Dan terima kasih karena sudah menyayangi istri mudamu dengan baik.” Sita menatap Sherena tajam yang berdiri di belakang.
Tanpa bersalah Marcel tersenyum tipis lalu berkata, “Mulai saat ini kau bukan lagi tanggung jawabku. Kamu sudah resmi menjadi milik Tuan Erick. Menurutlah dengan semua kata-kata dan segala perintah dia.”
Saat Sita dan Marcel berbicara dengan langkah elegant Sherena berjalan mendekat. “Maaf, suamiku. Ada telepon untukmu dari Tuan Carlos. Beliau mengatakan ponselmu tidak bisa di hubungi.” Ia memberikan ponsel tangan suaminya.
Marcel memilih pergi dari sana tanpa permisi seraya menempelkan ponsel ditelinganya. Sedangkan Sherena masih berdiri menelisik penampilan Sita dari atas sampai bawah. Sangat berbeda jauh dengan dirinya yang memiliki tubuh yang berlekuk dan menonji beberapa bagian.
“Apa kamu tahu, Sita. Siapa lelaki yang menikah denganmu?” Sherena tampak berkata pelan menyeringai memandang penuh kebencian. “Dia adalah ke-ka-sih-ku, Sita.”
Sita mengepal, geram dengan wanita di hadapannya itu. Kenapa? Kenapa ia harus berhubungan dengan masa lalu Sherena. Ia baru mengerti ternyata Sherena yang selalu disebut Erick adalah wanita yang ada di hadapannya. Perempuan yang merebut kebahagiaan ibunya.
“Terus kenapa kalau dia mantan kekasihmu, Sherena? Sekarang akulah istrinya. Kamu tahu kan, posisi istri sangat kuat di sini,” balas Sita tampak mencibir Sherena. “Lagi pula kamu sudah menikah dengan Papaku, sayangnya usaha suami itu sebentar lagi akan bangkrut.”
Sherena mengepal ingin rasanya menjambak rambut Sita sampai acak-acakan. Tapi beruntung ia masih bisa mengontrol untuk menyerang Sita karena ia tahu sedang ada di rumah Erick yang tak lain adalah suami Sita.
“Kamu boleh berbangga, Sita. Dia memang suamimu, tapi hatinya milikku. Dan satu lagi.” Cherena mendekatkan bibirnya ke telinga Sita. “Dia adalah orang pertama yang mengambil keperawananku, Sita.”
Wajah Sita seketika menjadi kaku. Ini benar-benar gila walau ia menikah dengan Erick bukan karena cinta, tapi hatinya sangat sakit mendengar itu. Kenyataan Erick sudah pernah meniduri seorang wanita membuatnya kecewa. Sejenak terbesit dalam benaknya, apa Erick hanya meniduri Sherena saja? Atau ada perempuan lain lagi yang pernah di tiduri?
Sita termenung tatapan wajahnya kosong. Bahkan ia tidak menyadari kalau Sherena pergi dari hadapannya. Hingga suara mama Lisa membuyarkan lamunannya.
“Sita kemarilah, Nak. Ada teman mama mau ketemu.”
Sita membuang buruk pikiran buruknya Erick dengan cepat. Nyatanya ia tidak berhak mencampuri urusan lelaki itu, karena ia sudah dibeli. Setelahnya ia berjalan menghampiri Lisa dan dua temannya. Sejenak menoleh ke arah Erick yang sedang berbicara dengan keluarga Raka.
Setelah memberi kado teman Lisa pulang. Sita bergabung dengan keempat temannya. “Ciee yang sudah nikah ....” canda Rio.
“Apaan sih, Rio.” Pipi Sita memerah padam karena malu.
“Nanti malam siap malam pertama
dong ....”
Cerita On going memang seperti ini ya... jadi harap mengerti. kalau up setiap hari harus menunggu. Kalau mau baca cerita langsung selesai itu namanya cerita end.
Terima kasih semua atas pengertiannya 🙏
Jangan Lupa Vote berupa koin atau poin buat dukung author.
sukses
semangat
mksh
keren