NovelToon NovelToon
Dalam Pelukan Dosa

Dalam Pelukan Dosa

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / One Night Stand / Romantis / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”

Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.

Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?


Update hari jumat, sabtu, dan minggu!

Happy Reading, Guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Bubur Ayam

“Woi! Ngapain lo?” tanya Jeri.

Cowok itu sedang dalam perjalanan ke kampus saat menemukan Rayyan sedang nongkrong di angkringan bubur ayam dekat kampus. Jeri memutuskan untuk berhenti di tepi jalan menyapa Rayyan.

“Ngepet!” sarkas Rayyan.

Jeri turun dari motornya, kemudian menghampiri Rayyan. 

“Pertanyaan bodoh macam apa itu?! Kan lo punya mata, gak lihat gue lagi makan?” sarkas Rayyan lagi.

“Sensi amat lo pagi-pagi gini!” sungut Jeri. 

Cowok itu menarik kursi plastik yang ada di hadapan Rayyan, kemudian duduk di sana.

“Itu dia maksud gue. Ngapain lo makan bubur ayam disini? Bukannya lo gak suka bubur ayam?”

Rayyan menatap Jeri, kemudian beralih menatap bubur ayam yang tinggal setengah mangkuk itu. Rayyan melepaskan sendok di tangan membuatnya berdenting pelan, tersadar sesuatu.

“Lah iya! Gue kan gak suka bubur ayam! Ngapain gue makan bubur ayam disini?!”

“Aneh lo!”

“Kok gue makan bubur ayam di sini sih, Jer?”

“Lah bego! Pake nanya gue. Emang gue emak lo?!”

Rayyan mengusap tengkuknya sambil berpikir. Keningnya berkerut, berpikir keras. Tadi saat perjalanan ke kampus, Rayyan melihat angkringan bubur ayam ini, lalu Rayyan tiba-tiba ingin makan bubur ayam. Jadilah dia mampir. Rayyan sampai lupa kalau sejak dulu dia tidak suka bubur ayam. Tadi yang ada di pikirannya hanya ‘dia ingin makan bubur ayam’.

“Kesambet setan apaan sih lo!” celetuk Jeri yang melihat Rayyan masih bengong memikirkan tindakannya.

Jeri menarik mangkok bubur itu, mengambil sesendok, dan mengarahkannya ke mulut.

“Jangan dimakan!” seru Rayyan yang berhasil menghentikan gerakan Jeri.

Jeri menatapnya bingung. “Apaan sih?” sungut Jeri.

Rayyan mengambil sendok di tangan Jeri dan menarik kembali mangkok itu mendekat. “Orang lagi gue makan, main ambil seenaknya aja.”

“Ya elah! Biasanya juga gitu!”

“Beli sendiri aja sono!”

“Pelit banget elah! Mau nyicip doang juga!”

“Enggak! Ini punya gue! Kalau lo mau beli aja! Gue bayarin deh!”

“Aneh lo!”

Jeri menatap Rayyan heran. Tapi dia tidak mempermasalahkannya. Yang penting Jeri dapat sarapan gratis.

Rayyan kembali memakan bubur ayam itu, mengecap rasanya. Kok enak? Padahal dulu dia makan bubur ayam itu tidak enak. Rayyan mengerutkan kening heran sambil berpikir. 

Tau lah! Makan aja! Batin Rayyan.

...***...

Rayyan, Jeri, Vincent, dan Niko berjalan menyusuri koridor kampus menuju lift untuk turun. Mereka baru saja selesai kelas dan sekarang ingin pergi ke kantin.

“Laper banget gue cok!” ucap Vincent yang diangguki oleh Niko.

“Buset lama banget Bu Widi jelasinnya, sumpah! Gak tau aja orang udah kelaperan,” sahut Niko.

“Kelaperan kek mana, orang lo aja tidur goblok!” sungut Rayyan. “Gila aja tidur dari awal masuk sampe kelas selesai kek orang mati!”

“Ya gue tidur kan gara-gara gue laper. Daripada gue kelaperan mending tidur.”

“Biasanya juga emang tidur!” celetuk Vincent.

“Tidur tidur gini gue paham tau!”

“Paham apa?”

“Paham kalau gue mending tidur aja!”

“Goblok!”

Vincent menoleh pada Jeri. 

“Tumben lo diem aja? Biasanya lo yang paling semangat ke kantin.”

“Masih kenyang gue,” jawab Jeri.

“Lah, gak biasa-biasanya lo sarapan.”

“Noh!” Jeri menunjuk Rayyan. “Ditraktir.”

Niko memiting kepala Rayyan. “Njir! Yang ditraktir Jeri doang!”

“Parah lo!” sahut Vincent.

“Lepasin gue, woi!” seru Rayyan pada Niko.

Jeri dan Vincent hanya tertawa pelan.

“Ketekin aja tuh ketekin!!” seru Jeri.

“Bangsat lo!”

“Yok gas kantin!” seru Vincent yang diangguki oleh Jeri.

Niko melepaskan pitingannya pada Rayyan. Rayyan menendang kaki Niko sembari mengumpat pelan. Niko hanya tertawa.

Mereka ikut berjalan di belakang Jeri dan Vincent.

“Oiya Ray,” ucap Niko yang membuat Rayyan menoleh. “Soal kerjaan yang lo cari itu…

Rayyan menghentikan langkahnya untuk mendengarkan Niko dengan seksama. Niko juga berhenti melangkah.

“Di perusahaan bokap gue gak bisa.”

Rayyan yang tadinya excited mendadak lesu. Dia mengangguk mengerti.

“Tapi ada temen bokap gue yang bisa terima mahasiswa. Lo bisa kesana aja. Gue udah rekomendasiin lo ke temen bokap gue.”

“Serius?”

“Serius lah!”

“Thanks bro! Lo emang paling bisa diandelin!”

Niko menepuk dadanya sombong. Rayyan mengulas senyum senang.

“Bahagia banget lo,” celetuk Niko.

“Iyalah.”

“Sabi lah traktir makan siang!” celetuk Niko lagi.

“Gampang itu!”

Rayyan jelas bahagia. Dia akhirnya akan punya pekerjaan. Ya, Rayyan perlu banyak uang, untuk hidupnya, Alana, dan adek bayi. 

...***...

Alana bosan. Seharian dia hanya muntah-muntah sampai tubuhnya lemas. Alana menyandarkan punggungnya di sofa, menghela napas pelan. Dia menghidupkan televisi untuk menghidupkan ruangan, tapi Alana tidak menonton. Memejamkan mata dengan punggung bersandar pada sofa.

Alana menyentuh perutnya.

“Gue laper.”

Alana membuka mata, mengambil ponsel, dan menatap jam yang ada di layar ponselnya. Pukul 01.00 siang. Pantas saja Alana lapar, sejak pagi Alana belum makan. 

Alana hendak memesan makanan, tapi saat membuka aplikasi, Alana tidak dapat membukanya. Berkali-kali Alana merefresh aplikasi itu, tapi hasilnya tetap sama.

“Kuota gue abis ya,” gumam Alana pelan.

Alana menghela napas pelan. Dia kembali menyentuh perutnya.

“Gue keluar aja kali cari makan.”

Alana bangun dari sofa. Tapi dia urung melangkah karena teringat kembali kejadian saat Alana keluar tempo hari, bertemu dengan teman-teman Rayyan, lebih tepatnya Vanya. Alana menggeleng pelan. Alana tidak mau ada orang yang melihatnya lagi. Baik itu temannya, Vanya, Rayyan, maupun teman orang tuanya. Intinya Alana tidak mau bertemu dengan orang yang mengenalnya.

Alana menghela napas pelan.

“Apa gue buat mi aja?”

Alana berpikir sejenak, menimbang. Kemudian mengangguk pelan. Lebih baik Alana buat mie daripada kelaparan. Alana berjalan menuju dapur. Alana mengambil satu bungkus mie instan di kabinet dapur. Kemudian, membaca petunjuk memasaknya.

Alana tidak pernah masak mi. Itu kenyataannya.

Di rumah, Alana bahkan tidak pernah masuk dapur. Semua yang Alana butuhkan, Alana hanya tinggal meminta pada Mbak Wati lalu Mbak Wati akan menyajikannya. Jadi, wajar saja jika Alana tidak bisa memasak, bahkan mie sekalipun.

Alana membaca petunjuk itu dengan seksama, kemudian mengambil sebuah panci, mengisinya dengan air. Alana menatap kompor di depannya.

“Ini muternya ke kanan apa kiri?”

Alana berpikir sejenak, kemudian memutar knop wajan ke kiri.

“Oh, bener,” gumam Alana lagi.

Alana mulai memasak mie instan itu. Saat sedang menunggu mie matang, Alana menyiapkan bumbu. Tangannya kotor terkena bumbu saat sedang menuang bumbu itu.

Saat hendak menuang mie yang sudah masak, tanpa sengaja tangan Alana menyentuh tepi panci yang panas.

“AW!”

Alana mengibaskan tangannya yang terasa panas, meniupnya beberapa kali. Setelah merasa mendingan, Alana menuang mie instan yang sudah matang itu ke mangkuk dan mengaduknya.

Alana mengulas senyum.

Alana mengambil mangkok berisi mie instan itu untuk membawanya ke sofa. Alana ingin makan di sana. Tapi saat sedang berjalan ke sana, karena tangannya yang licin dan posisi memegangnya yang tidak erat, mangkok tersebut terjatuh.

Mangkok itu pecah. Mie yang ada di dalamnya juga berserakan di lantai.

Alana menatap nanar mie yang dia buat dengan susah payah itu. Dia kemudian berjongkok, menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan, dan mulai menangis.

“Kenapa gue bego banget sih,” ucapnya di sela-sela tangisan.

...***...

Hari ini Rayyan tidak pulang malam, saat sore menjelang malam, Rayyan sudah sampai di rumah. Rayyan ingin bersiap karena besok dia harus pergi ke perusahaan teman ayahnya Niko. Rayyan perlu mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan. 

Saat Rayyan masuk ke rumah. Yang pertama kali Rayyan lihat adalah Alana yang tiduran di sofa. Rayyan mendekati Alana, berjongkok di depan sofa untuk menyejajarkan posisinya dengan Alana.

“Lo kenapa?” tanya Rayyan.

Alana menggeleng pelan. Tubuhnya lemas.

“Sakit?”

Alana menggeleng lagi.

“Udah makan?”

Alana menggeleng.

“Kok belum sih, Na?” tanya Rayyan pelan. Tapi Alana hanya diam.

“Lo tuh lagi hamil, Na. Jangan sampai telat makan.”

Rayyan menghela napas pelan.

“Lo pesan makanan aja, yaa,” ucap Rayyan lagi dengan suara lembut.

Alana menggeleng lagi. “Kuota gue abis,” cicit Alana pelan.

“Gak beli? Uangnya masih kan?”

Alana mengangguk pelan. “Masih,” cicit Alana lagi.

“Kenapa gak beli-

Rayyan menghela napas lagi untuk mengatur emosinya, agar tidak kebablasan berbicara dengan nada tinggi.

“Ya udah kita keluar aja, sekalian makan, ya,” ucap Rayyan lagi dengan suara lembut.

Alana menggeleng lagi.

“Na, makan dulu. Kita makan di luar. Lo mau makan apa?” bujuk Rayyan.

“Gak pengen apa-apa.”

“Lo belum makan loh. Makan dulu ya, dikit aja. Kasihan adek bayinya kalau lo gak mau makan.”

Alana menatap ke bawah, ke arah perutnya. Alana menghela napas pelan.

“Mau ya, makan,” bujuk Rayyan lagi.

Alana mengangguk. Dia mengubah posisinya menjadi duduk.

“Gue siap-siap dulu.”

Rayyan mengangguk, membiarkan Alana bersiap-siap di kamar.

Setelah beberapa saat, Alana keluar dari kamar dengan memakai hoodie dan celana jeans pendek. Rayyan sebenarnya heran, tapi dia tidak banyak bicara.

“Lo mau makan apa?” tanya Rayyan.

“Apa aja.”

Rayyan mengangguk pelan. “Ya udah, yuk!”

Rayyan pergi keluar bersama Alana. Mereka menaiki motor mengelilingi kota, sebelum berhenti di sebuah restoran. Mereka turun dari motor, kemudian berjalan masuk.

Tapi saat berada di depan pintu restoran, Alana melihat beberapa teman-temannya sedang makan disana. Alana memegang tangan Rayyan sehingga membuatnya menoleh.

“Gue gak pengen makan disini.”

“Kenapa? Tadi katanya terserah?”

Alana menggeleng pelan. “Mau tempat lain aja.”

Rayyan menghela napas. “Ya udah ayo, mau dimana?”

Alana menggeleng pelan. Alana juga tidak tahu dia mau makan dimana. Hanya saja, yang penting, tidak ada orang yang mengenalnya.

Rayyan menghela napas pelan. Perempuan memang merepotkan.

...***...

1
Che Putri Badar
semangat thor ..
lanjuuuut..
Eva Marlina siboro
jngan sampai alana keguguran ya thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
lnjt dong thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
😮‍💨😮‍💨😮‍💨
Ani Shofia
bagus ceritanya lanjutkan
Endah Ekayanti
bagus banget
Dev
semangat Thor lanjutin sampai end..ceritanya pas (gk berlebihan) dan realistis banget..
Chillzilla: Ditunggu lanjutannya yaa
total 1 replies
Dev
kurang komunikasi sih sepasang manusia ini..
Dev
cerita ini cukup menguras emosi Thor..keren ceritanya..
mayang sari
seru ceritanya🙂😚
mayang sari
duarrrr🤯
mayang sari
rayyan, rayyan, harusnya kamu ngerasa bersalah
mayang sari
duuh si rayyan😔
mayang sari
kenapa pintu kamar hotel gak dikunci Alana?
Aura Al
kasihan lana di tinggal sendiri trus
Aura Al
mobil papa padil pasti lagi ngitai
Aura Al
rayan kurang peka terhadap lana
Aura Al
bagus banget cerita thor seru
Chillzilla: makasii... ditunggu kelanjutannya yaa
total 1 replies
Kamiblooper
Wih, seruu banget nih ceritanya! Jangan lupa update ya thor!
Cô bé mùa đông
🤩Bikin baper banget deh si author ini, jangan jangan dia nyasar jadi scriptwriter
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!