"Siapa bilang hidup tak seindah drama Korea. hidup jauh lebih indah dari drama ketika memiliki cinta"
ini adalah lika-liku kehidupan seorang gadis untuk menemukan jodoh/cinta sejatinya. karena terlalu terobsesi dengan karakter oppa-oppa yang ada di drama Korea, ia sampai tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki yang ada di kehidupan nyatanya hingga usia ke 26 tahun. usia yang sudah cukup matang untuk menikah.
lalu suatu hari, sang Ibu berinisiatif untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda, anak dari teman arisannya. padahal Yuna tidak menginginkan perjodohan, ia berharap bisa menemukan cinta sejatinya sendiri. namun, mengingat bahwa hidup tak seindah drama Korea, alhasil ia memutuskan untuk menerima perjodohan itu.
apakah Yuna berhasil menemukan jodohnya melalui perjodohan itu?
yuk! ikuti kisahnya 💃.
oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak. like, komen, vote dan hadiah ☺️
bila berkenan berikan kritik dan saran juga ✌️
jazakumullahu khairan 🙏
🌹🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lztari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbagi cerita dengan Lio
Berada dalam minimarket, Yuna dan Lio sibuk dengan diri mereka masing-masing. Lio memesan kopi pada karyawan minimarket. Sedangkan Yuna sibuk mengumpulkan camilan. Saat keduanya selesai, mereka menuju meja kasir. Yuna menyerahkan tas belanja lalu merogoh dompet di dalam sakunya. Namun, nahas. Benda itu tidak ada dalam saku.
“Astaga! Bukannya tadi aku menyimpannya dalam kantong motor?.” Gumamnya setelah mengingat bahwa tadi ia meletakkan dompet itu di kantong motor listrik Ibunya.
“Dasar ceroboh!.” Makinya pada diri sendiri. Tidak mungkin ia mengembalikkan semua barang itu lalu membatalkan belanjaan, niatnya capek-capek ke sini kan untuk kudapan ini. Lalu? Apa ia harus pulang dulu? Hah, itu lebih melelahkan. Ia melirik Lio di kasir sebelah. Saat ini yang bisa membantunya hanya pemuda itu.
“Lio,” sebut gadis itu dengan malu-malu.
“Ada apa Yuna?.”
“Dompetku ketinggalan,” jawabnya melas lalu menepuk dahi pelan. Lio pun ikut menepuk dahi sambil tertawa kecil.
“Ya sudah. Mbak, sekalian sama belanjaan yang sebelah ya.” Ucap Lio pada Mbak kasir.
“Baik, Pak.” Jawab sang kasir.
Beberapa saat kemudian, pembayaran sudah selesai. Yuna mengambil kantong belanjaan sambil berucap terimakasih. Ia begitu malu pada karyawan minimarket. Untung saja ada Lio, jika tidak, ia tidak tahu harus menyimpan muka yang manis itu dimana.
Lio melangkah keluar lalu duduk di table set yang disediakan di luar minimarket. Yuna pun mengekor, ia ikut duduk dalam satu meja bersama Lio, namun mengambil kursi yang agak berjauhan.
“Maaf ya, aku janji akan menggantinya besok. Aku ceroboh sekali bisa melupakannya di kantong motor.” Ungkap Yuna.
“Iya, santai aja.” Balas Lio.
Sebenarnya Yuna ingin cepat-cepat pulang untuk nonton drakor, tapi bagaimana cara bilangnya? Ia merasa sungkan, apalagi berlama-lama bersama Lio cukup menyenangkan. Ya sudah, anggaplah ini sebagai pengganti drakornya.
“Kamu minum kopi?.” Tanya Lio, karena sudah duduk bersama dan ia minum kopi sendiri, sepertinya teman duduknya juga perlu kopi. Namun Yuna menolak karena ia sudah membeli beberapa kotak susu di kantong belanjanya. Alhasil ia meminum susu itu sambil menemani Lio ngopi.
“Oh iya, memangnya apa arti oppa? Kenapa kau bisa berpikir kalau aku punya pacar karena panggilan itu?.” Lio kembali membahas masalah sebutan oppa tadi.
“Sebenarnya panggilan oppa itu bisa berarti Kakak laki-laki dan bisa berarti sayang juga.” Jelas Yuna.
“Oh.” Lio kembali tertawa kecil sambil mengangguk paham.
“Kupikir itu hanya julukan untuk penyanyi Korea, ternyata bisa untuk panggilan ke pasangan?!.” ujar Lio polos.
“Iya, sebenarnya lebih cocok untuk sebutan ke pasangan, apalagi kalau diiringi suara manja, kan bisa jadi lebih gemas.” Terang Yuna.
“Oya? Trus kalian tahu itu dari mana? Dari drama Korea? Jangan bilang kamu juga suka Korea?.” selidik Lio.
“Ya, benar! Aku suka nonton drakor. Makanya aku hapal sebutan oppa, karena ada orang yang menyebutmu oppa, kupikir dia pacarmu. Trus kupikir mungkin gaya pacaran kalian ala-ala drakor.” Yuna menjelaskan. Lio manggut-manggut sambil tertawa kecil.
“Sejak remaja aku tidak pernah pacaran, makanya aku kaget saat kamu berpikir aku punya pacar. Apa aku terlihat seperti orang yang berpengalaman dalam urusan percintaan?.” Curhat Lio.
“Heh?! Kok kita sama!.” Tanya Yuna dalam hati. Ia menatap Lio serius, “apa benar dia tidak pernah pacaran? Tapi kenapa? Parasnya menawan, anak konglomerat pula, kenapa tidak punya pacar?.” Batin Yuna bertanya-tanya.
“Apa dia gak suka cewek? Atau?.”
“Yuna? kau mendengar ku?.” Lio mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Yuna. Setelah Lio bercerita tentang dirinya, gadis itu jadi tidak fokus dan malah asik melamun.
“Ya?.”
“Dari tadi aku mengajakmu ngobrol tapi kau tidak mendengarkan.” Keluh Lio.
“Astaga maaf. jujur, aku Cuma heran, kenapa laki-laki sepertimu tidak punya pacar?.” Yuna blak-blakan.
“Sejak sekolah, aku tipikal orang yang pemalu, trus saat aku kuliah aku sering ikut kajian. Jadi sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak pacaran sebelum menikah. aku ingin pacaran secara halal.” Jelas Lio. Yuna tercengang dengan bibir membulat. Baru kali ini ia bertemu seorang laki-laki yang bukan ustadz tapi akhlaknya baik. Ia berusaha menjaga kehormatan wanita dengan tidak mengajaknya pacaran tapi akan langsung dinikahinya. Pasti beruntung gadis yang mendapatkannya kelak.
Sayang sekali! Karena ia tidak termasuk salah satu gadis beruntung itu. Walau saat ini Lio terbukti tidak memiliki kekasih, tapi ia sendiri sudah terikat perjodohan dengan Wisnu.
“Waw, masyaallah. Semoga kamu mendapatkan calon istri yang shalihah, baik dan sama-sama terjaga kemuliaannya.” Doa Yuna.
“Aamiin.” Balas Lio mengaminkan, “kamu sendiri? Sepertinya kamu sudah punya calon suami?!.” Lio teringat kejadian tadi sore di halaman kantor. Pertikaian kecil yang terjadi antara Denis dan seorang pemuda yang mengaku calon suami Yuna.
Yuna tampak kikuk dengan pertanyaan itu, “oh! Iya. Sebenarnya aku dijodohkan. Saat ini kami baru proses perkenalan.” Ungkap Yuna. tiba-tiba ia merasa sungkan. Dengan canggung, ia menyeruput susu kotak di depannya.
“Jadi kalian akan segera menikah?.” Lio mengorek. Sejak mendengar soal hal ini tadi sore, ia teramat penasaran mengenai kebenaran itu. Mumpung ada kesempatan ia perlu penjelasan.
“Masih ada beberapa hal yang masih kita selesaikan, jadi kita menundanya sementara waktu.”
“Kamu menyukainya?.” Cecar Lio. Mata Yuna terbuka lebar. Entah mengapa Lio harus membahas persoalan ini, ia merasa malu. Ia takut Lio akan ilfil padanya karena kenyataan ini.
“Mh … aku lebih mengutamakan perasaan nyaman ketimbang perasaan suka.”
“Jadi kamu nyaman sama dia?.” Pertanyaan itu seketika membuat Yuna mengalihkan tatapan ke wajah Lio. Sebenarnya kenapa Lio harus menanyakan ini semua?.
“Aku … masih berusaha membuka hati untuknya.” Jawab Yuna, ia kembali menyedot isi susu kotaknya.
Mendengar itu Lio mengangguk paham, ia pun menyesap kopinya. Dari jawaban itu, Lio bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya Yuna belum benar-benar nyaman pada calon suaminya, ia sedang berjuang untuk menerimanya dan berjuang untuk mendapatkan rasa nyaman itu. Tapi kenapa Yuna melakukannya? kenapa ia harus memaksakan diri?.
“Bagaimana pun itu, semoga kamu bahagia.” Harap Lio.
Nyes!
Tiba-tiba hati Yuna menjadi nyeri mendengar kalimat itu. entah kenapa rasanya sedikit sakit mendengar harapan itu dari Lio. Beberapa hari ini Yuna merasa nyaman bersama Lio. Entah itu hanya berpapasan di kantor, di musholla dan juga di halte. Tapi ungkapan harapannya, seolah seperti orang yang baru putus cinta dan mendoakan kekasihnya mendapat pasangan baru dan bisa hidup bahagia.
Tiba-tiba saja Yuna terisak. Ia membalikkan badan untuk menyembunyikan kesedihannya. Karena tidak sanggup menahan tangis, akhirnya ia pamit pada pemuda itu.
“Maaf ya, aku duluan.” Ucap Yuna tanpa menoleh pada Lio. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu. ia berlari sekencang yang ia bisa. Setelah memasuki area komplek ia berhenti pada sebuah taman kecil, ada sebuah pohon yang membuat cahaya lampu tidak terlalu menyorotinya.
Di tempat itu, ia menangis sejadi-jadinya
Ia mengingat bagaimana perasaan kagumnya terhadap Wisnu tadi sore. Benar, ia mengagumi sikap Wisnu yang tampak tegas dan melindunginya, namun sesungguhnya itu kalah dengan perasaan nyaman saat ia bersama Lio. Meskipun mereka hanya duduk di depan minimarket rasanya sangat membuat hati Yuna bahagia. Namun, mengingat kenyataan yang sedang terjadi bahwa ia akan menikah dengan Wisnu, membuatnya patah hati. Ia jatuh cinta pada Lio, ia nyaman dengan pemuda itu. Namun, sudah tidak ada jalan untuk menyimpang. Sekalipun ia menyimpang belum tentu Lio akan menerimanya. Dan kini, ia mendengar harapan Lio yang tulus untuknya, seolah ia benar-benar akan kehilangan pemuda itu.
Dari jarak beberapa meter, Lio sedang berdiri sambil memperhatikannya, melihat bagaimana Yuna menangis tersedu-sedu. Ia merasa heran dan merasa bersalah dalam satu waktu. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan, ia tidak bisa datang lalu memeluk Yuna, memberikannya ketenangan seperti adegan dalam drama yang pernah ia tonton. Karena menjaga batas kepada wanita yang bukan mahram sudah menjadi semboyannya.
aku mampir niih, jangan lupa mampir juga di karyaku yaa..
semangat Wanda, sekuntum 🌹 untukmu😍
kutunggu lagi updatenya😍🫰