Arkhenia bukanlah tempat yang nyaman, namun mau tak mau kita harus memperjuangkan apa yang harusnya kita miliki.
Eurashia, salah satu benua terbesar di Arkhenia, terpecah menjadi dua akibat perang yang sudah berjalan ratusan tahun. Respher, benua yang dipenuhi ras murni seperti penyihir, elf, peri dan makhluk spiritual lainnya. Ceshier, benua yang dikuasai oleh demi human dan beberapa ras lain yang dianggap 'cacat' bagi para makhluk spiritual.
Mungkin dari luar, Respher dan Ceshier adalah langit dan bumi dengan Respher sebagai panutan bagi benua lain karena dianggap suci, namun apa benar kenyataannya seperti itu?
Saciel Arakawa, penyihir terbaik di Careol dan juga pahlawan perang, muak dengan kondisi perang yang terjadi dan ingin mengakhirinya. Hingga takdir mempertemukannya dangan Kezia Ata Lafoia, sang putri dari Ceshier yang terdampar di wilayahnya.
Rintangan dan cobaan terus menghalanginya hingga pada titik tertentu. Apakah ia mampu mengembalikan perdamaian di Eurashia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saciel Arakawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taming the Monster
Lao diam, mencoba mendapat bantuan dari Julian dengan melirik padanya, namun Julian menggeleng kepala. Cerlina menanti dengan cemas, air mata kembali menumpuk di pelupuk mata. Lao menghela napas dan berlutut di depannya sambil memegang kedua tangannya dengan tatapan seteduh yang ia bisa.
“Cerlina, saat ini Saciel dalam misi besar, belum dengan resiko yang ia tanggung sebagai buronan. Kalau kau ke sana dan menemuinya, bisa-bisa kau terseret dan nama baikmu sebagai Pendeta Agung akan hancur. Tolong jangan menyelaku, dengarkan aku sampai selesai. Aku memang menyuruh beberapa anggotaku untuk membawanya pulang, tapi itu hanyalah alibi agar para tetua tidak mengganggunya. Jika waktunya tiba, aku pasti akan membawamu menemuinya,” paparnya lembut.
“Apa kami masih bisa bertemu?” tanyanya lirih.
“Hush, kau pasti bisa bertemu dengannya, tapi bukan sekarang. Jangan gegabah.”
“...Comet Phoenix nyaris membunuh Ciel, kan?”
“Beritanya ternyata sudah sampai ke telingamu ya?” celetuk Julian. Cerlina menatapnya dengan kesal bercampur marah.
“Kau kira aku bodoh, hah? Meski aku dikurung dan berita luar tidak bisa masuk ke telingaku, aku punya caraku sendiri untuk mencari informasi. Tambahan, jika ada satu pendeta yang meninggalkan kuil aku pasti tahu,” balasnya geram. Julian angkat tangan, keder menghadapi Cerlina yang mulai terlihat menakutkan untuknya.
“Sudah, sudah. Cerlina, sebaiknya kau beristirahat dulu. Pikiranmu kacau setelah semua ini, dan kau Julian, pergi dan sampaikan pada Lord Phoenix untuk segera mencari pengganti Comet atau aku akan turun tangan dan memilihnya sendiri,” lerai Lao sembari bangkit berdiri dan memanggil seorang pelayan untuk menuntun Cerlina ke kamarnya. Setelah Cerlina meninggalkan ruangan itu, Julian melipat kedua lengannya.
“Sekarang juga? Kau lupa Lord Phoenix tipe yang temperamental, apalagi mereka masih di masa berduka akibat…”
“Itu salahnya dia yang terlalu ceroboh melawan Saciel di Hutan Suci,” potong Lao.
“Apa kau ada kandidatnya jika Lord Phoenix tidak mau bekerja sama?”
“Anak pertama keturunan Phoenix,” jawab Lao. Julian pucat pasi dan menggeleng kuat mendengarnya.
“Gila! Anak pertamanya kan wanita! Kau lupa aturan mereka?” maki Julian.
“Sudah waktunya merubah aturan konyol itu, Julian. Kau tau sendiri dia lebih berbakat daripada Comet. Gelar SEW akan lebih cocok untuknya. Sudah sana, bujuk Lord Phoenix untukku,” usir Lao sembari mengibaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Julian yang masih kelabakan dengan perintahnya.
“Bangsat, menyuruhku menemui wanita itu dan menjadikannya sebagai pengisi SEW sama aja menyuruhku mati di tangan Lord Phoenix. Kenapa tidak menyuruh yang lain saja sih,” keluhnya sembari berjalan keluar meninggalkan kediaman Requiem dan masuk ke dalam kereta kuda.
Rivendell
Saciel dan Kezia tengah menikmati waktu luang mereka dengan berbaring di sofa sembari mengunyah stroberi berlapis cokelat yang dibuat Phillip saat Saciel terus merengek minta cemilan. Sang calon marquess merengut.
“Kau bisa bikin sendiri, kenapa juga aku yang harus buat?” keluhnya sambil mengupas buah apel dan membentuknya menjadi kelinci.
“Kalau kau tak suka kau bisa berhenti membuat kelinci itu, tolol,” maki Max. Phillip menatap hasil kerjanya, lalu memberikannya pada Kezia yang langsung menjerit bahagia dan menyantapnya dengan sepenuh hati. “Kau ini lemah sama rengekan?”
“Benar, aku tidak suka rengekan, apalagi rengekan dari bayi besar macam Saciel,” balas Phillip lempeng. Yang dibicarakan hanya masa bodoh, terlalu nyaman dengan situasinya. Nero berjalan masuk dan berdiri di depannya dengan tangan dilipat.
“Waktunya mengurus anjing neraka itu, penyihir. Segelku tidak akan bertahan lama,” ujarnya. Saciel bangkit dari tidurnya dan menghela napas, lalu berpaling pada Phillip.
“Ayo cari tempat yang luas dan jauh dari pemukiman,” ujarnya. Phillip mengetuk lantai, membentuk lingkaran sihir di bawah kaki mereka dan memindahkan semua di sebuah ladang kering bekas gandum, kira-kira jaraknya lima kilometer dari pusat kota Rivendell.
“Kau siap?” tanya Nero sembari mengeluarkan kertas mantra anjing neraka dari balik saku bajunya.
“Belum. Phillip?”
Phillip hanya menarik Ata Lafouia bersaudara menjauh dari Saciel dan membuat kubah raksasa yang diselimuti petir, sementara mereka berada di luar kubah tersebut. Saciel mengangguk puas, lalu mengikat rambut merah panjangnya menjadi cepol acak-acakan dan menarik pedang dari lubang hitam yang ia buat.
“Dengar, ini bukanlah permainan jadi tetap fokus dan jangan sampai anjing neraka itu membunuhmu! Dia mungkin masih bawahanmu, tapi dia sanggup membunuhmu untuk lepas dari kontrak!” sahut Nero.
“Aku juga tau itu!” balasnya sembari memutar pedangnya bagai tongkat baton. Nero menghela napas, melempar kertas segel tersebut ke dalam kubah dan membakarnya dengan sekali jentikan. Sebuah lingkaran sihir raksasa langsung muncul di bawah kaki Saciel, diikuti kaki sang anjing neraka hingga seluruh tubuhnya terekspos. Ia mendelik pada Saciel.
“Penyihir, masih berani kau memanggilku? Kulihat nyawamu sudah di ujung tanduk,” hinanya sembari menginjakkan kakinya hingga tanah bergetar. Saciel menyeringai, mengarahkan pedangnya dengan penuh percaya diri.
“Kenapa? Takut melawanku yang lemah ini?”
“Hm, kau benar-benar sombong untuk penyihir yang baru dikenal dalam satu dekade. Menarik, kita lihat siapa yang akan berdiri paling akhir di ring kematian ini.”
Sang anjing neraka mengaum, menciptakan angin keras yang sanggup membuat pepohonan sekitar bergoyang keras. Tidak sedikit yang tumbang, namun Saciel berhasil bertahan dengan menjadikan pedangnya sebagai jangkar. Ketika raungannya berakhir, penyihir itu langsung melompat dan memberikan beberapa serangan yang berhasil digagalkan hanya dengan sekali ayunan kaki besarnya. Ia kembali maju dan menyerang membabi buta demi membuka celah yang hanya berakhir sia-sia.
“Sial, keras banget kulitnya,” keluh Saciel sembari berdecih. Ia menancapkan pedangnya, membuat lingkaran sihir di bawahnya dan menyelimuti pedang itu dengan api berwarna merah kebiruan. Anjing neraka tertawa melihatnya.
“Kau pikir api itu mampu membakarku?” tanyanya.
“Coba saja,” balas Saciel malas. Ia mengayunkan pedang, melepaskan gelombang api dan membuat sang anjing neraka diselimuti api. Meski begitu, ia tidak memberontak dan memadamkannya dengan sekali ketuk kaki.
“Hei hei, dia ini serius tidak sih?” keluh Nero sembari menggigit bibir bawahnya.
“Entah. Biarkan saja, kalau sekarat akan langsung kubantu dia,” balas Phillip kalem. Tangannya menggenggam tangan kecil Kezia yang gemetar, keringat dingin perlahan meluncur di wajah bulat nan menggemaskan dan sorot mata ketakutan terpantik. Phillip mengelus puncak kepalanya.
“Jangan khawatir, dia akan bertahan,” ujar Phillip.
“Kak Phillip yakin sekali,” bisik Kezia. Phillip mengulum senyum, tidak bersuara sepatah kata pun dan terus mengamati pertarungan Saciel yang semakin brutal. Gadis penyihir itu kembali menancapkan pedangnya dan menghela napas.
“Menyerah?”
“Siapa bilang? Aku hanya sedang mengulur waktu saja,” ujar Saciel sembari mengetuk pangkal pedang dan api yang menyelimutinya lenyap dalam sekejap. Max mengerutkan kening.
“Kenapa dia malah membatalkan sihirnya?”
“Coba lihat lagi,” celetuk Phillip sambil menjentikkan jarinya dan memberikan efek penglihatan super pada ketiga demi human. Lidah-lidah api perlahan melenggakkan tubuh mereka pada setiap sudut pedang.
“Bagaimana bisa? Tapi kita tidak bisa melihatnya, kan?” celetuk Kezia.
“Api putih adalah api terpanas dengan suhu mencapai 2000 derajat celcius. Warnanya lebih dominan transparan, jadi hanya bisa dengan sihir khusus atau alat sihir tertentu yang bisa mendeteksinya. Salah sedikit kau bisa jadi abu,” ujar Phillip.
“Memangnya semudah itu untuk mengalahkan makhluk neraka yang sudah terbiasa dengan panas neraka yang sudah tidak terukur?” balas Nero negatif.
“Kita hanya bisa menunggu hasilnya,” balas Phillip. Sang anjing neraka tertawa keras, menyamakan pandangannya pada Saciel yang menatapnya tajam. Ia menyeringai.
“Otakmu memang sudah konslet setelah pemanggilan pertama itu? Untuk apa menggunakan api jika yang kau lawan saja penghuni neraka yang sangat panas?”
“...kata-katamu ada benarnya juga. Tapi, kalau kubilang apinya bukan dari sini apakah kau masih akan mengatakan hal yang sama?” tanyanya sembari mengelus bilah pedang dengan dua jarinya. Sebelum anjing neraka itu bergerak, Saciel sudah berdiri di hadapannya dengan jarak kurang dari semeter dan menebas lehernya. Raungan kesakitan keluar dari sang anjing neraka, yang tentu saja mengejutkan para demi human. Phillip menyeringai.
Sebelum tebasan berikutnya mendarat di tubuhnya, anjing neraka itu menendang Saciel sejauh mungkin dan menggeram. Luka di tubuhnya sama sekali tidak menutup dan terus mengucurkan cairan merah kental anyir yang membuat Kezia mual melihatnya.
“Bagaimana rasanya? Perih? Panas?” tanya Saciel sembari bangkit berdiri dan membersihkan debu yang menempel padanya. Ia mengangkat wajahnya dan menghapus jejak darah yang ada di wajahnya. Si anjing neraka tidak menjawab, namun ekspresi kebencian terpatri kuat di wajah jeleknya.
“Aku tidak tahu kau bisa memanipulasi kekuatan surgawi.”
“Bentar, apa? Kekuatan surgawi katanya? Apa dia termasuk yang diberkati oleh dewa kalian?” celetuk Nero sambil berpaling pada Phillip yang hanya angkat bahu. “Kau tahu sesuatu, kan?”
“Aku hanya tahu dia bisa mengendalikan api dengan cukup baik, soal perkara kekuatan surgawi itu di luar pemahamanku,” balas Phillip. “Satu-satunya penyihir yang mendapat berkat dari dewa hanyalah kembarannya, bukan dia.”
“Lalu kekuatannya dari mana, dong? Memanipulasi kekuatan surgawi bukanlah hal yang mudah,” tanya Max. Phillip kembali diam dan menjawabnya hanya dengan gelengan kepala. Saciel memiringkan kepalanya dengan elegan.
“Memanipulasi, katamu? Aku hanya meminjamnya sebentar, kok.”
“Topengmu ternyata tebal juga, bocah. Kita lihat berapa lama kau bisa memakai kekuatan itu.”
salam dari Carlos'Revenge
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
jangan inget mampir yuk dinovelku judulnya
AKU HARUS BAIK
AKU HARUS JAHAT
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa Jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku
Kutunggu upnya lagi
Jangan lupa jaga kesehatan thor
Salam dari
-Cinta Terlarang
-Mencintai Pelayanku