Niat hati ingin dinikahkan dengan kekasihnya, Rania justru dinikahkan dengan Dave, ayah kekasihnya tanpa sepengetahuan nya.
Suatu hari. Pernikahan Rania hampir saja batal, sebab pengantin prianya kabur entah kemana. Ketika Dave meminta maaf pada keluarga Hamid Malik atas kelakuan putranya, Hamid justru memaksanya untuk menikahi Rania menggantikan putranya, Kevin.
Dave tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan Hamid. Selain Hamid mengancam Dave akan menyebarkan scandal putranya dengan putrinya ke media, Dave pun tak tega pada Rania yang konon katanya sudah dirusak oleh putranya.
Lantas, kemana Kevin? Dan apakah Rania menerima pernikahan nya dengan pria tua yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akting Rania
Perlahan mata Rania terbuka saat silauan sinar matahari menerpa wajahnya melalui celah tirai yang terbentang lebar di kamarnya. Setelah terbuka sempurna, Rania mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Rania juga melihat ke arah sofa, ternyata sosok yang semalam tidur di atas sofa itu sudah tak nampak lagi di sana.
Merasa kurang yakin jika sosok yang Rania cari tidak ada di kamarnya, Rania pun turun dari atas ranjangnya, berjalan tertatih ke arah kamar mandi. Kemudian menempelkan telinganya di daun pintu, menajamkan pendengarannya. Akan tetapi, telinganya tak mendengar suara apapun di dalam sana.
"Kemana, Om Dave?Apa sedang berganti pakaian?" Bathin Rania.
Krek
Baru saja Rania berniat hendak mencari Dave ke walk in closet, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Rania langsung mengalihkan tatapannya ke arah pintu yang sudah terbuka seperempat, berharap yang membuka pintu itu adalah sosok yang Rania cari. Tapi ternyata, sosok yang datang bukanlah sosok yang Rania cari melainkan sosok wanita paruh baya.
"Ma-mama!" ucap Rania dengan raut wajah bengong nya.
Amira tersenyum lebar.
"Kamu sudah bangun, sayang !" kata Amira sambil berjalan ke arah sofa, kemudian meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja. Di atas nampan itu berisi makanan untuk Rania yang telah dibuat oleh bibi Arum.
"Apa, apa ma-mama me-melihat, Om Dave?" Tanya Rania pelan dan dengan perasaan yang gugup. Selain gugup, Rania juga agak malu pada mamanya. Malu karena Pria yang selama ini tak pernah dipedulikan olehnya tentang keberadaanya atau apa yang sedang dilakukan nya? kali ini, Rania menanyakan nya seolah-olah dirinya peduli pada pria itu.
"Suami mu sudah berangkat ke kantornya dua jam yang lalu. Tadi sebelum pergi, dia bilang ke mama kalau kakimu sedang terluka."
Rania diam termangu.
"Apa Om Dave cerita kalau semalam aku keluar rumah dan...."
"Kata suamimu, semalam kamu tidak sengaja terjatuh saat pergi sama dia ke cafe. Apa benar, sayang? coba mama mau lihat lukanya!"
Glek
Rania menelan air ludahnya.
"Jadi, Om Dave tidak menceritakan apa yang terjadi semalam? Tapi kenapa? Apa Om Dave sengaja menutupinya agar papa sama mama tidak marah sama aku?"
"Ran..." Amira membuyarkan lamunan Rania. Rania terperangah.
"I-iya, Ma. Tapi lukanya cuma luka kecil saja kok."
"Mau kecil mau besar, boleh kan mama tahu?"
Rania mengangguk, lalu menunjukan luka itu pada Amira. Setelah memperlihatkan lukanya yang sudah ditutupi oleh perban, Amira menawarkan diri untuk menyuapi Rania makan. Awalnya Rania menolak dengan alasan bukan anak kecil lagi. Tapi berhubung sang mama merengek memaksa, mau tak mau akhirnya Rania membiarkan mamanya menyuapi dirinya.
Setelah selesai menyuapi Rania, Amira beranjak dari kamar Rania. Tapi sebelum Amira keluar, Rania memanggilnya.
"Kenapa?" Tanya Amira.
"Apa....apa papa ada?" Rania terpaksa menanyakan hamid, meskipun sejujurnya perasaanya diselimuti kecemasan. Bagaimana tidak cemas, Rania masih memiliki dosa pada papanya itu. Dosa tentang mobilnya yang dirusak olehnya, dan hingga kini Rania belum berterus terang padanya.
"Papa mu sudah berangkat ke luar kota tadi pagi-pagi sekali."
"Keluar kota!" ucap ulang Rania. Merasa kurang percaya.
"Iya. Ada urusan mendadak katanya. Tapi tidak akan lama kok. Paling besok atau lusa pulang," terang Amira.
Kecemasan Rania seketika menghilang. Raut wajah tegang nya pun berubah kendur. Padahal tadinya Rania ingin menanyakan nomer Dave, tapi ternyata papanya itu sudah pergi ke luar kota. Lantas sekarang kemana dirinya harus menanyakan nomer suaminya? Karena hanya papa Hamid lah yang tahu.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi sebelum mama keluar?"
"Kenapa mama tidak ikut?" Tanya Rania basa basi. Lagi pula tumben juga mamanya itu tidak mengekori suaminya.
"Tidak ah, capek. Mending mama temani kamu saja di rumah. Apalagi kamu lagi sakit."
Mendengar alasan Amira, Rania tersenyum lebar. Rania merasa sang mama memanjakan dirinya seperti saat dirinya belum menikah. Tadi Rania disuapi, sekarang alasan sang mama yang menolak ikut papanya semakin membuat Rania terharu saja.
Siang berganti malam.
Seharian tadi tak ada aktifitas yang Rania lakukan selain rebahan di kamarnya. Bi Arum atau mamanya saja yang bolak balik ke kamarnya membawa kebutuhan Rania. Hingga kini, Rania masih rebahan di atas ranjangnya. Menunggu sosok yang sejak pagi tadi tak terlihat olehnya. Dan kini....Rania merasa kehilangan sosok itu.
Krek
Mata Rania membulat saat terdengar ada yang membuka pintu kamar." Om Dave," bathin Rania. Kemudian mata bulatnya dipejamkan paksa.
Tap
Tap
Suara langkah kaki pun terdengar kian mendekatinya.
Deg
Deg
Detak jantung kian berpacu dengan cepat.
Semerbak aroma wangi parfum maskulin pun semakin kuat terendus di hidungnya. Aroma khas pemiliknya dan diam-diam telah menjadi aroma favorite Rania.
"Tak salah lagi ini pasti Om Dave!" bathin Rania.
Dave memperhatikan Rania yang tengah tertidur dalam keadaan selimut di bawah kaki. Tak biasanya Rania tidur dalam keadaan seperti itu. Biasanya, Rania selalu menutupi seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, dengan alasan agar tak tersentuh olehnya. Selain itu, Dave merasa ada yang aneh. Kali ini Rania tidak meletakkan bantal di tengah ranjang sebagai pembatas. Apa Rania lupa?
Tanpa berpikir panjang, Dave langsung menyelimuti seluruh tubuh Rania. Setelah itu, Dave beranjak untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Rania membuka matanya setelah Dave beranjak dari hadapannya. Melihat ke arah kamar mandi, lalu menghela nafas lega.
"Bagaimana caranya agar Om Dave perhatian terus sama aku?"
Entah mengapa, saat ini Rania merasa ingin terus diperhatikan oleh pria itu. Seketika terlintas dipikiran nya untuk membuka selimutnya kembali.
Dave menyipitkan matanya saat melihat selimut Rania terlepas jauh dari tubuhnya. Ini benar-benar aneh pikir Dave. Tapi meskipun merasa aneh, Dave tetap menyelimuti Rania kembali.
"Hanya segini doang perhatiannya? Ya ampun. Apa yang harus aku lakukan agar pria ini lebih lama lagi perhatiannya," ucap bathin Rania ditengah matanya memejam.
"Aduh, aduh."
Dave yang baru saja hendak merebahkan tubuhnya diatas sofa, berbalik badan melihat ke arah Rania yang tiba-tiba merintih.
"Raniaa!" panik Dave. Kemudian berjalan cepat ke arah Rania.
"Yes" bathin Rania. Ternyata, ide yang tiba-tiba muncul di otaknya itu berhasil menarik perhatian Dave.
"Kamu kenapa, Rania? Apa yang sakit?" Tanya Dave disertai wajahnya yang cemas. Duduk disamping Rania yang terus merintih sambil memegang perutnya.
"Perut ku, Om. Aduh...aduh..!"
Dave melihat ke arah perut Rania. Tangan nya terulur hendak memegangnya. Namun, Dave mengurungkan niatnya kala teringat Rania tak ingin disentuh olehnya.
"Tuhan, apa yang terjadi sama perut Rania? semoga kandungannya baik-baik saja."
"Aduh, Om..sakit!" Rania terus merintih. Dave semakin panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang, okey!" Dave mengangkat tubuh Rania. Rania yang mendengar Dave hendak membawanya ke rumah sakit, seketika berbalik menjadi panik. Dan langsung melepaskan diri dari dekapan Dave.
"Aku tidak mau ke rumah sakit, Om."
"Tapi perutmu sakit, Rania. Harus segera diobati."
"Perutku tidak sakit kok."
Kening Dave mengernyit." Tidak sakit!"
Rania mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku, aku cuma lapar saja, Om."
"Lapaaaarrr !" ucap Dave mengayun, menatap aneh pada Rania.
Rania kembali mengangguk-angguk kan kepalanya dengan polosnya, seolah tak merasa bersalah telah membuat Dave panik. Sementara Dave yang merasa di prank Rania hanya mengusap kasar wajahnya. Meskipun kesal, Dave tak bisa menunjukkan rasa kesalnya pada wanita aneh yang satu ini.
ayo up lagi, kak