Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 28
Hari berikutnya Abra berangsur baik. Ia bangun tidur pagi itu dnegan tubuh yang begitu segar. Tapi Abra juga sedikit terkejut saat merasa rumahnya sedikit ramai. Sebelum turun, Abra memilih mandi karena merasa tubuhnya sangat lengket, sekalian menjalankan kewajiban 2 rakaat. Tapi sebelum itu dia memeriksa ponselnya terlebih dulu.
" Apa ada pergerakan?"
" Tidak bos, sejauh ini aman. Kemarin saat Nona masuk ke rumah, dia tidak ada pergi lagi."
" Bagus, awasi terus."
Abra tersenyum lebar, sepertinya Ciara memang tidak ada hubungan khusus dengan klien prianya itu. Tapi dia tidak boleh lengah. Ia harus tetap mengawasi hal tersebut.
Tak! Tak! Tak!
Abra berjalan menuruni tanga dengan pakaian yang sudah rapi. Celana bahan, kemeja, dasi dan juga jas. Sepertinya dia sudah bersiap untuk berangkat ke perusahaan. Tapi kening Abra berkerut saat melihat rumah nya sangat ramai. Adik, kakak, dan juga pasangan mereka serta anak-anak mereka semua ada di situ. Kecuali ponakan kembarnya yang sudah ABG, tidak ada.
" Wuidihhh, ada angin apa ini kok rame bener,"ucap Abra santai. Sepertinya dia benar-benar tidak tahu bahwa dirinya merupakan biang kerok yang sesungguhnya.
Tuk!
Kai langsung mengetuk kepala adiknya itu. Abra hanya bisa mencembikkan bibir, dia sungguh tidak tahu apa-apa tapi sepertinya semua mata tertuju pada dirinya.
" Apakah aku melakukan kesalahan?"
Tidak ada yang menjawab, Sita hanya berjalan menghampiri Abra lalu memeluk sang putra dengan sangat erat. Tak lama kemudian isakan tangis keluar dari bibir wanita yang sudah melahirkan 4 anak itu.
" Wait, Mom, what happened? Apa aku benar melakukan kesalahan? Please, jangan menangis. Abra minta maaf kalau buat salah."
Tidak ada kata yang keluar dari bibir Sita. Airin--istri dari Akhza membawa anak-anak ke taman belakang dibantu Topan--suami Ana dan Kiran--istri Kai. Mereka membiarkan keluarga inti itu untuk berbincang, karena pasti ada hal yang akan dibicarakan lebih lanjut.
Tidak dapat berkutik, Abra melihat ke arah Kai untuk meminta penjelasan, " Bang, ada apa?"
" Semalam, kamu bikin kita takut. Bahkan Mommy dan Ana tidak tidur semalaman karena menjaga kamu. Kamu mengulang kembali saat SMA dulu, dimana kamu mengigau ketakutan saat tidur dan tubuhmu lemas, berkeringat dingin, bahkan Nataya sampai datang kemari dua kali untuk memeriksa mu," papar Kai panjang lebar.
" He??? Begitu kah?"
" Ra, ceritakan kepada kami, sebenarnya apa yang kamu alami saat SMA yang membuat kamu sakit satu minggu itu."
Sita tidak lagi bisa menahan. Dia harus segera tahu apa kejadian waktu itu. Dan Abra masih terdiam hingga kata-kata Kai membuatnya tersadar.
" Ceritakan, jika tidak bercerita kami tidak tahu apa yang menimpamu dan bagaimana menangani itu saat kamu mengulang kondisi yang begini. Mommy dan Ayah ketakutan saat kamu tidak berdaya disertai tidak memiliki kesadaran utuh terhadap tubuhmu."
Abra mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia sepertinya harus siap mengorek peristiwa lama itu. Tapi apa yang dikatakan abangnya semuanya adalah benar. Ini akan membuat kedua orang tuanya panik dan bingung jika kondisi serupa terulang.
" Waktu itu, aku pulang ... ."
Abra menceritakan semuanya dengan runut. Semua jelas terkejut saat mendengar cerita Abra. Mungkin bagi sebagian orang itu seperti hal biasa tapi bagi Abra itu adalah peristiwa paling buruk yang pernah ia temui selama hidupnya. Dan ternyata malah menimbulkan trauma tersendiri.
" Setelah itu, aku jadi takut dengan wanita. Apalagi saat mereka mulai menyentuhku, aku langsung merasa mual dan tidak bisa menahan untuk muntah. Tapi aku tidak begitu dengan kakak ipar ataupun wanita di lingkungan saudara dan circle pertemanan kelurga kita. Itu hanya murni terjadi dengan wanita asing."
Semua menghembuskan nafasnya kasar. Tidak menyangka bahwa satu diantara mereka ada yang memiliki phobia yang aneh ini. Tapi seketika Ana teringat sesuatu. Jiwa iseng ibu satu anak itu meronta-ronta. Padahal tadi suasana masih mellow.
" Lalu, siapa Ciara? Apa Mas tahu semalam Mas Abra selalu memanggil nama Ciara dalam tidur. Sepertinya dia pengecualian dari phobia yang mas derita? Apakah begitu?"
" He??? Kata hoax tuh! Mana ada manggil-manggil. Ngarang kamu pasti."
Salah tingkah, itulah yang sekarang Abra rasakan. Semua terkekeh geli. Tapi sebuah kelegaan mereka rasakan saat Abra mau membuka cerita itu.
" Ra, kalau ada apa-apa cerita ya," ucap Rama mengusap kepala sang putra.
" Iya sayang, sungguh mommy takut kamu begitu lagi," imbuh Sita.
Abra mengangguk, dia memeluk Rama dan Sita bergantian. Dan sebuah ide jahil terlintas di kepala Abra. Ia mendekatkan Rama dan Sita lalu meminta keduanya memeluk tubuhnya. Setelah itu ekspresi wajah meledek ia perlihatkan kepada 3 saudaranya.
" Ho ho ho, Mommy dan Ayah sepenuhnya milikku. Mommy dan Ayah paling sayang padaku."
Kontan wajah Ana, Akhza dan Kai langsung berubah kesal. Tapi Akhza punya ucapan balasan untuk adik tengilnya itu.
" Soalnya kamu masih jomblo. Dan kalau Ciara nggak segera kamu dapetin, doi bakal lepas. Lari deh!"
Dapat!
Abra langsung berubah ekspresi wajahnya. Tadi dia begitu senang saat meledek ketiga saudaranya tapi ternyata serangan balik dari Akhza membuat Abra langsung diam.
" Ra, apa perlu mommy sama Ayah yang datang menemui orang tuanya untuk melamar?" tawar Sita.
" Wohoo Mom, tidak secepat itu. Lha wong Abra aja nggak tahu dia suka sama Abra apa nggak. Sabar ya, nanti Abra akan cari cara sendiri untuk itu."
" Aaa cieeew, kan mengakui sekarang. Kiew kiew, Mas jatuh cinta beneran. Rekor, dalam sejarah seorang Abra Ishan Abinawa, jatuh cinta kepada seorang gadis yang bernama Ciara. Tampaknya gadis itu yang bisa meluluhkan hati seorang pria absurd bernama Abra."
Ucapan Ana sungguh membuat Abra gemas. Dia yang tadinya duduk diam langsung bangkit dan memiting tubuh Ana. Semua tertawa melihat kelakuan dua anak itu. Mereka sudah usia kepala 3 tapi jika bergabung begini tak ubahnya anak-anak.
Sita dan Rama hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi kedua orang tua itu senang masih bisa melihat anak-anaknya dalam kondisi yang sehat. Sita dan Rama juga bersyukur, selama 30 tahun lebih itu anak-anaknya selalu kompak dan tidak pernah berselisih, kalau bertengkar kecil ya wajar. Tapi tidak pernah hingga bermusuhan.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk samar-samar terdengar. Kai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke pintu untuk melihat siapa yang datang.
Cekleek
Kai menampakkan wajah dingin dan datar saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Tidak banyak berkata, Kai mempersilahkan mereka masuk dan juga mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.
" Silakan, dan mohon tunggu sebentar."
Glek!
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼