Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Biarkanlah kalau mas Adya minta aku bawa pak Yahya. Toh aku akan gampang mau pergi dan pulang tanpa harus nunggu taksi online.
"Mas, kamu lagi kerja ya?" tanyaku sekedar basa basi. Padahal aku tahu pasti kalau ia memang sedang kerja.
"Iya. Eh, tapi gak sih sebenarnya. Aku hanya melihat-lihat kerjaan ku yang tadi saja."
"Oh gitu."
"Mas, besok aku mau ke rumah sakit buat jenguk Maya lagi. Apa kamu tidak keberatan aku pergi?" Pertanyaan yang mungkin tidak perlu aku tanyakan.
Mas Adya menghentikan pekerjaannya melihat laptop. Ia berpindah kesamping untuk melihat aku.
"Kenapa tidak boleh, Lala? Jika kamu ingin pergi untuk menjenguk temanmu, aku tidak akan melarangnya."
"Tapi .... "
Mas Adya sengaja menggantungkan kalimatnya agar aku merasa penasaran. Benar saja, aku memang merasa penasaran dengan sambungan dari kata tapi itu. Tanpa sadar, aku malah menanyakannya.
"Tapi apa mas?"
"Tapi kamu harus pergi bersama pak Yahya. Karena aku akan tenang jika pak Yahya ikut kamu."
Sudah ku duga kalau mas Adya pasti akan mengirim pak Yahya denganku.
"Tapi mas, apa gak merepotkan kamu dan pak Yahya kalau pak Yahya kamu suruh ikut aku?"
"Lho, kenapa merepotkan aku dan kenapa merepotkan pak Yahya sih, La?"
"Ya jelas merepotkan kamu mas. Pak Yahya itukan selalu ada bersama kamu. Pulang dan perginya selalu pak Yahya yang nyopir. Kalau .... "
"Lala, kalau itu gak usah dipikirkan. Yang penting aku tenang kalau pak Yahya ikut kamu."
Aku hanya bisa mengangguk saja pada akhirnya. Mas Adya tidak pernah mau ngalah kalau soal yang ini. Entah kenapa, ia selalu tidak membiarkan aku jalan sendiri. Mungkin ia memang tipe orang yang khawatiran kali.
....
Sama seperti apa yang telah aku rencanakan. Aku akan datang ke rumah sakit pagi ini, untuk melihat keadaan Maya yang katanya sudah sadar dari kemarin.
Aku berangkat dengan pak Yahya setelah bersiap seadanya saja. Mau kemana bersiap-siap berlebihan, emangnya mau ke kondangan? Enggak kan?
Aku meminta pak Yahya menghentikan mobil saat kami melewati toko buah. Aku mampir ke toko buah sebentar untuk membeli buah yang Maya suka. Kemudian, kami melanjutkan kembali menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, aku meminta pak Yahya untuk istirahat saja di mobil. Atau mau jalan-jalan kemana ia mau, itu terserah padanya.
"Bapak menunggu di mobil aja non, Kaila. Non gak perlu mikirin bapak disini."
"Kalau aku lama gimana pak? Pak Yahya akan bosan nunggu aku disini."
"Jangan mikirin bapak non. Bapak akan cari kesenangan bapak biar gak bosan nantinya," kata pak Yahya sambil tersenyum.
"Ya sudah kalo gitu pak. Kalau bapak bosan nanti, masuk kedalam temui aku ya."
"Baik non."
Aku pun masuk meninggalkan pak Yahya sendirian menunggu di mobil. Aku berjalan dengan cepat agar bisa segera sampai ke kamar rawat Maya.
Tapi tiba-tiba, langkah kakiku terhenti saat aku baru saja ingin mencapai kamar Maya. Aku melihat seseorang yang tidak pernah ingin aku lihat. Orang itu berjalan kearah yang sama denganku.
Dia adalah Bram. Laki-laki yang tidak ingin aku temui hingga detik ini. Aku masih belum bisa menerima apa yang ia lakukan padaku. Suaranya yang bilang kalau ia tidak mencintai aku, masih terdengar dengan sangat amat jelas di telinga ini.
Tiba-tiba, pikiran ini berpikir sesuatu yang sudah tidak ingin aku pikirkan. Pemikiran soal kenapa ia bisa datang ke rumah sakit ini kalau ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Maya. Kenapa ia bisa tahu, kalau Maya ada disini kalau ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Maya.
Mungkinkah Maya bohong padaku soal ia dan Bram tidak ada hubungan apa-apa. Bagaimana bisa ia bilang padaku, kalau ia lebih memilih aku sahabatnya dari pada laki-laki?
Berbagai pertanyaan muncul di benakku saat ini. Pertanyaan yang belum bisa aku temukan jawabannya sama sekali. Karena aku tidak tahu, manakah yang benar dan manakah yang salah sekarang.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄