NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:841
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditolak Calon Ibu Mertua

Ami spontan tersenyum tipis. Sigit memang pemuda kampung yang beberapa kali pernah mencoba mendekatinya. Pekerja keras, sederhana, dan sangat disukai warga sekitar.

“Kalau bupati…” Bu Lili menggeleng pelan sambil tertawa kecil hambar. “Kayaknya ketinggian buat keluarga kita.”

Ami tersenyum getir. Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bukan hanya orang luar yang merasa dirinya tidak pantas untuk Rasyid. Bahkan keluarganya sendiri pun merasa dunia mereka terlalu jauh berbeda. Dan itu membuat hati Ami semakin bingung. Karena di tengah semua keraguan itu ia justru semakin sulit menyangkal bahwa dirinya mulai menyukai laki-laki tersebut.

***

Malam semakin larut di Lembah Embun. Setelah membantu ibunya minum obat dan memastikan kedua adiknya sudah tidur, Ami kembali masuk ke kamarnya dengan langkah pelan. Namun pikirannya tetap tidak tenang.

Ucapan Paman Badri siang tadi masih terasa menusuk. Ditambah lagi perkataan ibunya yang secara tidak langsung mengakui bahwa dunia Rasyid memang terlalu tinggi untuk mereka.

Ami merebahkan tubuhnya di kasur tipis sambil menatap langit-langit kamar. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kalau dipikir dengan logika, seharusnya ia menjauh saja sekarang. Sebelum semuanya menjadi terlalu rumit. Sebelum perasaannya makin dalam. Dan sebelum dirinya benar-benar berharap lebih pada laki-laki yang mungkin pada akhirnya memang tidak ditakdirkan untuknya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar pelan di samping bantal. Nama itu kembali muncul di layar. Pak Rasyid.

Jantung Ami langsung berdegup tidak karuan. Dengan ragu, ia membuka pesan itu.

[Sudah istirahat?]

Beberapa menit kemudian masuk lagi pesan baru.

[Jangan terlalu capek kerja.]

Dan tak lama setelah itu, [Jadi kapan saya dapat jawaban lamaran saya?]

Ami spontan menutup wajah dengan bantal. Laki-laki itu benar-benar membuatnya pusing. Bahkan cara Rasyid bertanya pun terdengar terlalu santai untuk sesuatu sebesar lamaran pernikahan.

Namun justru karena itulah hati Ami semakin kacau. Karena di balik semua candaan dan pendekatan ugal-ugalan itu, Ami tahu Rasyid serius.

Ami menatap layar ponselnya cukup lama. Jari-jarinya sempat bergerak ingin membalas. Tetapi kemudian ia berhenti. Perlahan, Ami menarik napas panjang. Lalu mematikan ponselnya.

Kamar mendadak sunyi. Dan di tengah gelap malam itu, Ami memejamkan mata sambil menahan sesak di dadanya sendiri. Mungkin memang benar sebaiknya ia berhenti sekarang. Sebelum hatinya benar-benar jatuh terlalu dalam pada laki-laki yang dunianya begitu jauh darinya.

***

Pagi itu bahkan matahari belum sepenuhnya tinggi ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana Ami.

Udara Lembah Embun masih dingin, embun bahkan masih menggantung di daun-daun sekitar halaman. Namun Rasyid sudah berdiri di depan rumah itu sejak beberapa menit lalu. Wajahnya terlihat lelah karena kurang tidur. Semalaman ia gelisah. Pesannya tidak dibalas. Saat ditelepon, nomor Ami justru tidak aktif.

Entah kenapa, hal kecil itu cukup membuat pikirannya kacau. Dan akhirnya, pagi-pagi sekali ia nekat datang.

Tok.

Tok.

Pintu rumah terbuka pelan. Bukan Ami yang muncul. Melainkan Bu Lili.

Begitu melihat siapa tamunya, wajah perempuan paruh baya itu langsung berubah canggung.

“Pak Rasyid…”

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Wa’alaikumussalam.”

Suasana langsung terasa tidak nyaman.

Rasyid mencoba tersenyum sopan. “Ami ada, Bu?”

Bu Lili tampak ragu sebelum menjawab pelan, “Mohon maaf, Pak Rasyid… ini masih terlalu pagi. Sebaiknya jangan datang ke sini dulu.”

Rasyid langsung memahami bahwa dirinya memang tidak diterima pagi itu. Tetapi ia tetap bertahan. “Saya cuma ingin bicara sebentar.”

Bu Lili menggenggam ujung pintu lebih erat. “Ami juga sedang sibuk. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.”

Rasyid menghela napas kecil. Ia tahu itu alasan untuk menghindarinya.

Namun sebelum sempat bicara lagi, Bu Lili melanjutkan dengan hati-hati, “Pak Rasyid ini calon bupati.” Nada suaranya tetap sopan, tetapi jelas sedang menjaga jarak. “Sebaiknya jangan gegabah sering mengunjungi putri saya.” Tatapan perempuan itu mulai terlihat gelisah. “Ini demi kebaikan bersama.”

Rasyid diam mendengarkan.

“Tidak elok dipandang orang,” lanjut Bu Lili lirih. “Nanti kami harus bilang apa kalau ada yang bertanya?”

Dan entah karena terlalu lelah menahan perasaannya sendiri atau karena terlalu takut kehilangan Ami Rasyid menjawab tanpa berpikir panjang, “Bilang saja saya calon suami Ami, Bu.”

Bu Lili langsung membelalak kaget. “Ya Allah, Pak Rasyid…” Perempuan itu tampak benar-benar panik sekarang. “Maaf sekali,” katanya cepat. “Tapi jangan diteruskan.”

Kalimat itu membuat dada Rasyid terasa berat. Bu Lili menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Ami itu hidupnya sudah sangat susah.” Suara perempuan itu bergetar tipis. “Keluarga Pak Rasyid kemarin sudah datang ke sini untuk memperingati putri saya.”

Rasyid langsung terdiam. Rahangnya perlahan mengeras. Ia langsung tahu siapa yang dimaksud. Pasti Paman Badri.

Dan sebelum Rasyid sempat bicara, Bu Lili kembali berkata lirih, “Jadi jangan persulit hidupnya lagi ya, Pak. Kami ini orang miskin, dan Ami itu sudah tidak punya bapak, tidak ada yang akan membelanya kalau terjadi apa-apa."

Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan dibanding penolakan terang-terangan. Karena Bu Lili tidak marah. Tidak membenci dirinya. Perempuan itu hanya ingin melindungi putrinya dari kemungkinan terluka.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Lalu perlahan, Bu Lili menundukkan kepala sedikit. Sebuah isyarat halus untuk mengakhiri percakapan. Dan untuk pertama kalinya sejak jatuh hati pada Ami Rasyid merasakan bagaimana rasanya benar-benar ditolak oleh keadaan.

***

Rasyid memang meninggalkan halaman rumah Ami. Tetapi ia tidak benar-benar pulang. Mobilnya justru berhenti cukup jauh dari rumah itu, tersembunyi di balik deretan pohon pinus pinggir jalan.

Andre yang sejak tadi ikut bersamanya sampai menghela napas panjang. “Pak…” katanya pasrah. “Ini sudah masuk level nekat.”

Rasyid tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju ke arah rumah Ami dari kejauhan. Entah kenapa, setelah mendengar ucapan Bu Lili tadi, justru semakin besar keinginannya untuk bertemu langsung dengan Ami. Ia ingin memastikan sendiri. Apakah gadis itu memang ingin menjauh atau hanya sedang takut. Dan benar saja. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka pelan. Ami keluar membawa topi kebun dan keranjang kecil di tangannya.

Rasyid langsung sigap turun dari mobil. Dengan menjaga jarak, ia mengikuti Ami menyusuri jalan setapak menuju kebun.

Udara pagi masih dingin, embun belum sepenuhnya hilang dari daun-daun liar di sepanjang jalan.

Rasyid berjalan pelan agar langkahnya tidak terdengar. Sampai akhirnya ia tiba di area kebun milik keluarga Ami. Dari balik pohon, Rasyid memandang gadis itu dalam diam.

Ami berdiri di antara tanaman cabai dan bawang yang mulai menguning tanda sebentar lagi panen. Sinar matahari pagi menyentuh wajahnya yang sedikit memerah terkena udara dingin pegunungan.

Pemandangan itu entah kenapa terasa menenangkan bagi Rasyid.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!