Pernahkah kalian mencintai seseorang secara diam-diam? Jika pernah, berarti kisah kalian sama dengan kisah yang dialami oleh Rania. 5 tahun lebih ia memendam perasaan kepada seorang laki-laki yang merupakan teman sang kakak, namun pada akhirnya laki-laki itu malah menikah dengan orang lain.
Sakit? Tentu saja. Sangking tidak kuatnya menahan rasa sakit itu, Rania bahkan sampai memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri agar dapat melupakan cintanya pada laki-laki itu.
Namun ternyata, semua usahanya itu sia-sia karena saat ia kembali lagi ke Indonesia, perasaan itu ternyata masih ada dan malah semakin besar.
Lalu, apa yang harus Rania lakukan sekarang? Haruskah dia kembali keluar negeri untuk berusaha lebih keras lagi melupakan laki-laki itu, atau ia harus lebih berani lagi menghadapi perasaannya sendiri?
Kalau kalian ingin tahu jawabannya, cari sendiri ya di dalam novel ini. Enjoy your journey❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spring dazzling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa dengan Bayu?
"Gue titip Rania di rumah lo dulu,"
"Nggak!"
Hampir saja Bayu menginjak rem saat mendengar suara teriakan Rania yang begitu nyaring, untung saja ia masih memiliki pengendalian diri yang bagus sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Loh, Ran? Lo kok denger omongan gue sih?" tanya Irsyad dari seberang sana.
Karena Rania tak kunjung menjawab pertanyaan dari kakaknya itu, akhirnya Bayu pun angkat bicara.
"Gue loudspeaker telponnya," jawab laki-laki itu.
"Oh gitu, bagus deh biar gue ngomong langsung sama tuh bocah. Dek!"
Rania yang masih memasang ekspresi marah nya pun menjawab, "Apa?!"
"Lo ikut ke rumah Bay-"
"Nggak!"
Belum selesai Irsyad berbicara, Rania sudah memotongnya terlebih dahulu. Membuat laki-laki yang sudah berusia lebih dari seperempat abad itu menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Dengerin omongan gue dulu kenapa sih, main potong-potong aja heran, orang gue belom selesai ngomong,"
"Ya gue nggak mau ke rumah Mas Bayu, gue mau pulang ke rumah," sahut Rania dengan nada ketusnya.
Sumpah! Hari ini adalah hari yang paling menyebalkan dalam hidup Rania. Sudah tadi ditinggal oleh Kakak dan juga sahabatnya. Terus tiba-tiba kakak laknatnya itu malah menitipkan nya kepada seseorang yang sangat amat ingin Rania hindari seumur hidupnya. Lalu sekarang, kakaknya itu dengan mudahnya malah menyuruhnya untuk pergi ke rumah Bayu? Tentu saja Rania akan menolak hal itu dengan keras. Dia tidak akan mau lagi mengalami patah hati untuk yang kesekian kalinya.
"Terus, lo mau sendirian di rumah? Gue lagi ada urusan di resto, pulangnya nggak tau jam berapa,"
Mendengar hal itu, Rania pun mengerutkan keningnya, "Emangnya Bunda sama Ayah belum pulang?" tanya gadis itu.
"Mereka nginep di rumah nenek," jawab Irsyad dengan santainya.
Berbanding terbalik dengan Rania yang kembali melebarkan matanya karena terkejut.
"Nginep? Ngapain mereka nginep di rumah nenek?"
"Mbak Citra lahiran hari ini,"
Bibir Rania pun langsung tertutup sempurna saat mendengar ucapan sang kakak.
Bagaimana ini?
Masa dia harus ikut ke rumah Mas Bayu sih?
Terus nanti disana dia harus melihat kemesraan suami istri itu gitu?
Tidak. Tidak. Tidak. Itu adalah ide yang sangat buruk.
"Ya udah nggak papa gue sendirian aja di rumah," ucap Rania masih kekeh dengan pendiriannya.
Membuat sang kakak di seberang sana kembali menghembuskan nafasnya dengan keras.
"Ran, gue nggak tenang kalo lo sendirian di rumah. Emangnya kenapa sih kalo ikut ke rumah Bayu? Dulu juga lo suka main kesana kan. Gue janji nanti malem gue jemput,"
Rania hanya diam saja saat ditanya seperti itu oleh sang kakak. Kenapa juga laki-laki itu membahas hal yang sudah lalu. Padahal kan dulu dan sekarang sudah tidak bisa disamakan lagi.
Dulu, Rania suka main ke rumah Bayu karena ia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan laki-laki itu. Namun sekarang, apa yang harus dia lakukan di rumah Bayu? Melihat rumah tangga penuh cinta yang dibangun oleh laki-laki itu?
Kalau iya, maka dengan tegas Rania akan menjawab… Tidak, terimakasih.
Hanya membayangkan nya saja perasaan Rania sudah tidak karu-karuan, apalagi melihatnya secara langsung, sungguh tidak bisa dibayangkan.
"Ribet, mending gue langsung ke rumah aja. Lagian di London gue juga sendirian, jangan lebay deh lo,"
Merasa lelah berdebat dengan gadis itu akhirnya Irsyad pun hanya bisa pasrah, "Ya udah terserah lo deh, tapi inget kunci semua pintu sama jendela. Kalo ada orang asing yang dateng jangan bukain pintu. Atau langsung telpon Pak RT, soalnya beberapa bulan ini lagi sering ada maling di daerah situ,"
Deg.
Tubuh Rania langsung menegang saat mendengar ucapan sang kakak. Apa katanya tadi? Maling?
"M-maling?" tanya gadis itu.
"Iya, lo tahu rumahnya Bu Joko kan? Yang jarak dua rumah dari rumah kita itu loh, dia beberapa minggu yang lalu baru aja kemalingan. Bahkan pembantu nya ada yang sampe masuk rumah sakit karena di tusuk sama malingnya," jawab Irsyad dengan nada yang di dramatisir.
Tidak tahu saja gadis itu kalau sang kakak sedang menahan tawa di seberang sana, sangat berbanding terbalik dengan Rania yang sedang merasa ketakutan. Bahkan, wajah gadis itu sudah mulai memucat sekarang.
"L-lo serius? Jangan nakut-nakutin gue ya!" seru Rania.
"Loh kok nakut-nakutin sih, gue serius! Kalo lo nggak percaya, tanya aja sama Bu Joko sana,"
Rania yang sudah termakan omongan sang kakak pun hanya dapat menggigit bibirnya sendiri. Isi kepalanya saat ini tengah bertengkar hebat, karena terdapat dua pilihan yang menentukan hidup dan matinya.
Yang pertama dia ikut ke rumah Bayu, tapi harus menghadapi sakit hati yang sangat hebat karena harus melihat kemesraan laki-laki itu dengan istrinya, atau yang kedua pulang ke rumah tapi ada kemungkinan kalau besok pagi dia hanya tinggal nama saja karena dihabisi oleh maling.
Mana pilihan yang paling baik?
"Dek, jadi gimana? Lo mau tetep pulang apa ikut si Bayu?" tanya Irsyad karena sang adik tak kunjung bersuara.
Bukannya menjawab, Rania malah menolehkan wajahnya ke arah Bayu. Laki-laki itu tampak sedang fokus menyetir, namun ada hal yang membuat Rania salah fokus saat menatap laki-laki itu.
Wajah Bayu tampak kaku dengan tatapan yang sangat tajam, walaupun laki-laki itu sedang menghadap ke depan tetapi Rania tetap dapat merasakan aura membunuh yang keluar dari mata laki-laki itu. Bahkan, dapat gadis itu lihat juga kalau tangan Bayu saat ini tengah mencengkram roda kemudi dengan sangat kencang hingga otot-otot nya terlihat.
Ada apa sebenarnya dengan laki-laki itu?
***
Setelah perdebatan panjang dengan sang kakak tadi, akhirnya Rania memutuskan untuk ikut dengan Bayu. Karena menurutnya, sakit hati itu masih bisa disembuhkan, tapi kalau nyawanya yang melayang sudah pasti tidak akan bisa dikembalikan lagi.
Tapi sepertinya, sekarang ia menyesali keputusan itu. Karena entah mengapa, Rania merasa kalau Bayu sedang marah kepadanya. Dia bisa mengatakan hal tersebut, karena sikap laki-laki itu benar-benar sangat berbeda dengan sebelum Irsyad menelpon dan menitipkan nya.
Jangan-jangan… laki-laki itu tidak sedang Rania datang ke rumahnya?
"Turun,"
"Hah?"
Rania yang tadi sedang melamun pun tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Bayu.
"Turun," ulang laki-laki itu lagi.
Mendengar hal tersebut, Rania pun langsung melebarkan matanya. Tuh kan benar! Bayu tidak senang karena dia ikut ke rumah laki-laki itu. Tapi… tidak harus begini juga kan? Masa dia diturunkan di tengah jalan sih. Kalau tau begini lebih baik tadi dia minta diantar pulang ke rumah. Setidaknya kalau ada maling dia bisa minta tolong sama tetangga. Lah, kalau di tengah jalan seperti ini mau minta tolong sama siapa dia? Pak Poci? Atau Mbak kunti?