Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 27
+
+
Lily terjatuh lalu secara perlahan memundurkan tubuhnya ketika di depannya ada tubuh yang terjatuh dari atas. Dari kepala wanita itu keluar banyak darah dengan posisi terlentang hingga dia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Orang-orang pun mengerumuninya.
“Jillian.”
“K-kay di depanku.” Ujar Lily dengan terbata-bata masih syok dengan yang ada di depannya.
Tidak lama kemudian Lily merasakan tubuhnya diangkat lalu melihat kesampingnya ternyata Kay yang melakukannya. Lily berungsut mendekatkan tubuhnya pada Kay.
“Ayo kita pergi.”
“T-tapi itu.” Lily menunjuk yang ada di depannya.
“Itu bukan urusan kita.”
Kay merangkul bahu Lily dan membawanya keluar dari kerumunan. Kay membawa Lily masuk kedalam mobil, lalu melajukannya dan meninggalkan tempat itu.
Lily terdiam, pandangannya kosong. Lagi-lagi hal seperti itu terjadi di hadapannya. Belum juga hilang dari pikirannya tentang laki-laki yang mati tergeletak di bawah meja tadi dan sekarang malah di tambah wanita yang terjun dari atas.
“Lily.”
“H-ha?”
“Lapar?"
“Belum.” Kay menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung tinggi lalu dia keluar diikuti Lily.
Kay menggandeng tangan Lily lalu membawanya masuk kedalam. Keduanya di sambut oleh dua orang yang membungkukkan badannya membuat Lily membalasnya. Belum sempat Lily memberikan senyumnya, Kay terlebih dahulu menariknya.
Kay membawanya memasuki sebuah lift lalu menekan angka lantai tertinggi dari gedung ini. Lily melihat sekelilingnya lalu baru sadar tertanya di atasnya ada kaca yang memantulkan keduanya.
Karena bosan menunggu, Lily menarik tangan kanan Kay lalu memainkan jarinya. Kay yang melihat tangannya dimainkan membiarkannya. Sudah biasa dengan tingkah Lily yang kadang-kadang tidak bisa dia tebak.
Lily melepaskan tangannya ketika lift berhenti. Kay kembali menggandengnya lalu keluar dari lift dan masuk kedalam sebuah ruangan. Ternyata ini adalah sebuah restoran yang tidak bisa sembarang orang mendatanginya. Pemandangan dari gedung ini sangat indah, bahkan seluruh kota ini hampir terlihat dari sini.
Lily duduk di hadapan Kay dengan matanya yang masih fokus pada pemandangan yang ada di depannya. Kay yang melihatnya berdecak tidak suka.
“Berhenti menatap seperti itu, cepat makan.” Lily menunduk lalu melihat makanan sudah tersaji di hadapannya.
“Iya.” Keduanya fokus pada makanan tidak ada yang bersuara seorang pun.
“Besok kita akan pergi.”
“Kemana?” Lily harus mendongak untuk melihat Kay karena dia sedang duduk di bawah dan Kay duduk di atas sofa.
“Jepang.”
“Hah? Mau apa.” Lily membalikkan tubuhnya hingga keduanya berhadapan dengan posisi Lily yang masih di bawah.
“Bekerja.” Kay menyelipkan rambut Lily yang menghalangi matanya membuat Lily memejamkan matanya.
“Apakah aku harus ikut.” Lily menumpakan dagunya di kaki Kay.
“Tentu saja baby.” Kay menunduk lalu mengecup kening Lily membuat pipi gadis itu memerah.
“Baiklah.” Lily membalikkan badannya dan fokus kembali pada tayangan yang ada di depannya.
Lily berjengit ketika Kay tiba-tiba memeluknya dari belakang. Bulu-bulu yang ada di sekitaran rahang Kay terasa menggelitik di lehernya. Lily menggeliat mencoba melepaskannya tapi Kay menahannya.
“Diam lah.” Bisik Kay tepat di samping telinganya.
“Geli.” Lily menggeliat membuat Kay tidak tahan langsung mengangkat tubuh gadis itu dan meletakkannya di pangkuannya. Dengan keduanya yang saling berhadapan.
“Kay.”
“Hm.” Kay kembali menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Lily lagi dengan sesekali mencium dan menghisapnya.
“Ugh, geli.” Lily menarik kepala Kay hingga keduanya berhadapan. “Aku cukur ya.” Lily beralih mengelus rahang Kay.
“Asal kau yang melakukannya.” Dengan cepat Lily bangkit dari pangkuan Kay lalu menarik tangan laki-laki itu menuju ke kamarnya.
“Sebentar.” Dengan bodohnya Lily mengiyakan permintaan Kay padahal dia sendiri tidak tahu cara melakukannya.
Kay menunjuk tangan Lily yang memegang shaving foam, “Itu dulu.” Kay lalu duduk di atas toilet untuk memudahkan Lily melakukan pekerjaannya.
“Ah baiklah.” Dengan telaten Lily memakaikannya, setelah dirasa cukup Lily mengambil alat cukurnya lalu mengarahkannya pada rahang Kay.
“Aku takut melukaimu.” Aku Lily dengan menghentikan tangannya. Kay menarik pinggang Lily hingga dia duduk di pangkuannya.
“Lakukanlah secara perlahan.”
“T-tapi ini, posisinya.” Lily bergerak tidak nyaman.
“Cepat lakukan.” Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lily mengikuti instruksi Kay dengan perlahan.
Dengan teliti dan serius Lily melakukannya. Kay yang melihatnya menahan senyuman. Wajah serius wanitanya terlihat menyenangkan untuk dia perhatikan. Dahinya yang sesekali menyerut, giginya yang di tekan, lalu wajahnya yang meringis ketika salah membuatnya tidak ingin melewatkannya sedikit pun.
“Selesai.” Lily tersenyum membuat Kay ikut tersenyum melihatnya.
Lily bangkit dari pangkuan Kay lalu membereskan alat-alat cukurnya lagi ke tempat semula.
“Tidak buruk.” Yang mengelus rahangnya seraya melihat pantulan dirinya di cermin.
“Kau cocok seperti itu Kay.” Lily memandang Kay dari samping.
“Benarkah?” Kay balik memandang Lily.
“Iya.” Lily menganggukkan kepalanya.
“Ayo tidur, besok kita akan berangkat pagi.” Lily keluar dari kamar mandi diikuti Kay. Kay mendekati Lily lalu dalam satu kali gerakan gadis itu ada dalam gendongannya.
“KAY.”
“Stt menurut lah.” Kay membaringkan Lily di kasur lalu mengurungnya di bawah tubuhnya.
Setelah melewati belasan jam dalam pesawat, mereka akhirnya tiba di negara yang memiliki julukan negri matahari terbit ini. Lily merasakan badannya terasa letih. Padahal dia tidak melakukan apa pun.
Keluar dari pesawat Lily menengok ke sampingnya ketika sebuah jaket tersampir di bahunya.
“Di sini musim dingin.” Kay membawa satu tangan Lily dan memasukkannya kedalam saku mantel yang laki-laki itu kenakan.
Lily bahkan bisa melihat hembusan nafasnya sendiri. Merapatkan lagi tubuhnya ke samping Kay ketika merasakan udara terasa semakin menusuk. Kay yang mengerti Lily kedinginan mempercepat langkah keduanya untuk segera ke hotel yang akan mereka tempati selama di sini.
Mereka masuk kedalam sebuah mobil di depan bandara yang sudah menunggu kedatangan keduanya. Seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Kay menyambut keduanya.
Lily lagi-lagi kagum pada laki-laki yang ada di sampingnya ini. “Kau sebenarnya bisa bicara bahasa apa saja Kay.” Tanya Lily dengan penasaran.
“Tidak tahu, aku tidak menghitungnya.” Jawab Kay seraya menatap Lily yang sedang menunggu jawabannya.
“Apa lebih dari lima bahasa?”
“Mungkin."
“Wah.” Lily yang baru bisa dua bahasa saja sudah merasa bangga apalagi Kay yang lebih. Dia tidak akan kesulitan dalam berkomunikasi jika berada di luar negri seperti ini.
“Kau ingin belajar?”
“Mau.” Dengan cepat Lily menganggukkan kepalnya.
“Pulang dari sini kau kan dapat kelasnya.”
“Oke.”
Tiba di hotel, Kay tidak melepaskan Lily sejengkal pun dari sisinya. Kay masuk kedalam hotel dan langsung disambut oleh orang-orang yang membungkukkan badannya.
Tiba di lantai di mana kamarnya berada, Kay segera masuk kedalamnya. Lily berdecak kagum dengan isi kamar yang ini. Bahkan pemandangan gunung langsung terlihat ketika pertama kali membuka pintu.
Lily menjatuhkan badannya di kasur sedangkan Kay langsung memeriksa Ipad-nya dan duduk di samping Lily. Melihat Kay yang fokus membuat Lily bangkit dan mengintip apa yang sedang laki-laki itu kerjakan.
Melihat layar iPad Kay menunjukkan angka-angka membuat Lily menjauhkan wajahnya. Dia tidak mengerti apa yang sedang Kay kerjakan.
Suara bel berbunyi membuat Lily menatap Kay dengan raut bertanya.
“Buka dan ambil makanannya.”
Menuruti perintah Kay, Lily membuka pintu dan ternyata ada dua orang laki-laki membawa makanan seperti apa yang di sebutkan Kay. Lily segera menerimanya dan mengucapkan terima kasih sebelum menutup kembali pintunya.
“Kay ayo makan.” Lily menghidangkan makanannya di atas meja.
“Suapi.”
“Kesini kalau ingin aku suapi.” Suruh Lily membuat Kay menurutinya tapi tetap dengan fokusnya pada iPad. “Tidak bisa berhenti dulu?” Tanya Lily setelah menyuapi satu potong sushi kedalam mulut Kay.
Kay menggelengkan kepalanya membuat Lily mengerti.
“Ganti bajumu.” Titah Kay setelah makanan yang ada di depannya habis.
“Sekarang?”
“Ya.”
“Baiklah.”
“Jangan lupa pakai mantel.” Peringat Kay ketika Lily akan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bajunya mana?” Lily baru ingat dimana koper mereka.
“Ada di dalam.” Masuk kedalam, ternyata benar koper berukuran besar sudah ada di dalam. Kay menyuruhnya agar memasukkan pakaian mereka kedalam satu koper membuat Lily menurutinya.
Dan sekarang Lily dibuat bingung karena semua baju yang di bawanya berbahan tipis. Kenapa juga Kay tidak memberi tahunya jika di sini musim dingin. Wide leg jeans dan juga sweater crop top itu lah pilihan yang masih lebih baik ketimbang yang lainnya.
Keluar dari kamar mandi kening Lily di lempar sebuah benda berukuran cukup besar membuatnya mengaduh lalu mengusap keningnya dan merasa kepalanya berdenyut.
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
sukses otor, dan semangat 💪😘