Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan tamu
Setelah menelpon Awan Senja membanting ponselnya ke kasur ia benar-benar terpukul mendengar ucapan Awan yang akan menjauhinya ia sangat kecewa padanya kenapa Awan dengan mudahnya menyerah menghadapi sikap orangtuanya. Bahkan tidak sedikit pun berjuang untuk meluluhkan hati orang tua Senja.
"Aku tidak menyangka kalau Mas Awan akan berbuat begini padaku, bukannya malah menyemangati ku malah ia menghancurkan semua harapanku. Apa aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan hati Papa lagi?" ucapnya melirih.
Bunyi bel rumah terdengar, ada yang memencet Bel rumah mereka. Pak Agung yang sudah siap dari tadi menunggu di ruang tamu langsung memeriksa menuju pintu utama untuk memastikan siapa yang datang. Ia membuka pintu dan sepasang keluarga yang ditunggunya sudah ada di depan pintu. Pak Agung memasang senyum dan para tamu ikut tersenyum sambil berjabat tangan satu persatu. Mereka dipersilakan masuk dan duduk.
"Maaf istri dan anak saya masih di dalam," ucap Pak Agung sungkan pada keluarga itu.
"Oh iya tidak apa-apa Mas, ini juga masih awal kami sudah datang," ucap tamu itu.
"Silahkan duduk-duduk dulu, saya pamit ke dalam," ucap Pak Agung sungkan.
"Iya. Makasih gak usah sungkan gitu, gapapa kami menunggu," ucap lelaki paruh baya yang tampak lebih muda dari Pak Agung itu.
Pak Agung terseyum dalam hatinya merasa dongkol melihat Mama Lita dan Senja belum keluar.
"Mereka bikin malu saja, masa tamu dari jauh sudah datang mereka belum siap! sebenernya sedang Ngapain lagi?" tanya Pak Agung memerah.
Sepasang keluarga yang datang di rumah mereka itu adalah keluarga Pak Jaya dan istrinya ia adalah Ayah Niko. Mereka sengaja datang ke situ karna permintaan Pak Agung yang mengundang mereka dengan maksud akan memperkenalkan Niko dengan Senja. Pak Jaya dan Pak Agung adalah rekan bisnis mereka sudah dekat saat masih bujangan.
Pak Jaya juga banyak berhutang budi dengan Pak Agung saat perusahaan Pak Agung mengalami penurunan Pak Jaya lah yang kerap membantu Pak Agung. Sehingga mereka sangat dekat tapi sayangnya Niko yang sejak SMP sampai kuliah ke luar negeri tidak pernah saling mengenal.
Sebenarnya antara Pak Agung dan Pak Jaya ingin memperkenalkan ke dua anaknya Namun, selalu belum ada kesempatan, baru kali itu ada kesempatan.
Setelah putus kuliah di luar negeri, Niko melanjutkan di kota mereka tinggal saja karna sang Mama yang tidak mau berjauhan dengan anaknya. Akhrinya Niko menyambung kuliahnya di kota mereka saja agar dekat dengan sang Mama.
Pada saat bersamaan Senja masih bergelut dengan pikiran sedihnya masih belum beranjak dari tempat tidurnya ia masih memikirkan Awan dan gadis yang selalu bersama Awan.
"Senja, Senja ...!" terdengar suara Mama Lita memanggil Putrinya.
Senja tersentak ia menepis air matanya yang mengalir dari tadi. Hari mulai gelap, Senja masih belum siap. Ia baru teringat ucapan Papanya kalau sore itu akan ada tamu di rumahnya.
Suara Mamanya masih terdengar memanggilnya bahkan semakin keras, akhirnya Senja bangun dan menemui Mamanya.
"Ada apa Ma," ucap Senja sambil membuka pintu.
"Senja kenapa belum siap? Apa Papa gak bilang ke kamu kalau ada tamu yang akan datang kerumah kita? mereka mau berkenalan denganmu Sayang," ucap Mama Lita lembut.
"Siapa sih Ma? ada urusan apa dengan Senja?" tanyanya.
"Mama juga belum tau Sayang, Papa masih merahasiakannya."
"Papa selalu bagitu, bikin capek saja. Padahal Senja gak mood mau keluar kamar apalagi mau ketemu tamu yang Senja tidak kenal!" Senja cemberut ia duduk di tepi ranjangnya. Mama Lita ikut masuk dan duduk di samping Senja.
"Jangan begitu Senja? ikuti saja apa kata Papamu kalau tidak Mama takut dia akan marah padamu. Mau ya," rayu Mama Lita.
"Hem, demi Mama iya deh Senja mau, tapi awas saja Papa menyuruh Senja yang tidak-tidak lagi Senja gak akan mau. Senja pergi ke kamar mandi akan siap-siap.
"Mama Lita menjadi lega, iya pun kembali menemui suaminya. Ternyata Pak Agung juga mencarinya dari tadi. "Ternyata di sini Mama kirain masih ke kamar!" Pak Agung datang tiba-tiba. Wajahnya tampak memerah karna kesal pada Mama Lita dan Senja yang belum keluar-keluar dari tadi.
"Iya Pa, maaf Senja ya masih siap-siap dulu," ucap Mama Lita rada takut.
"Hem ... masih belum siap!" tanya Pak Agung melotot.
"Sabar Pa, namanya juga anak gadis. Ayo kita temui tamunya dulu." hibur Mama Lita.
"Jadi Mama sudah tau, kalau tamunya sudah datang?"
"Ya tau dong Pa, Bibik kasi tahu tadi."
"Oh ya sudah. Ayo, susah juga punya anak gadis apa-apa serba lama," gerutu Pak Agung.
Mama Lita mengelus punggung suaminya agar ia bersabar.
Senja sudah siap ia menarik napas panjang berharap tidak ada apa-apa karna ia masih ragu dengan tujuan Papanya yang hendak memperkenalkan dirinya pada tamu yang datang itu. Jangan-jangan ia akan di jodohkan lagi.
"Semoga aja tujuan mereka hanya bertamu biasa," ucap Senja dalam hatinya, ia pun menemui tamu itu.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir