NovelToon NovelToon
AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:380.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fifie

Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INIKAH CARAMU MENCINTAIKU, TUHAN??

Aku sesegukan. Menghapus lelehan airmata yang masih mengalir deras dipipiku. Lantunan iqomat seorang napi kembali menarik alam bawah sadarku.

Inikah caramu mencintaiku, Tuhan? Inikah bukti bahwa Kau begitu menyayangiku? Dan harusnya aku bersyukur atas segala teguran dan cobaan dihidupku ini. Bukan berlari menjauh karena kecewa dengan hukumanmu yang bertubi-tubi. Bukankah Kamu tidak pernah menghukum kecuali memberi peringatan atas segala tindakan yang diambil oleh umat-Mu? Lagi-lagi mataku rembes.

Aku berdiri tertatih. Mengikuti sujud pertamaku disel tahanan ini. Aku terus menangis sepanjang sholatku. Meratapi betapa kecilnya aku dihadapan Penciptaku. Aku malu dengan semua kelakuanku padahal Dia Maha Memberi. Dan aku ciptaan-Nya yang hina ini terlalu sombong bersujud meminta ampunan-Nya.

"Panggil saja aku bang Sobri! Kamu siapa? Berapa usiamu?" tanya bang Sobri lebih ramah setelah selesai sholat. Wajahnya begitu cerah bersinar dengan mata menatap lembut membuatku tersungkur menangis dikakinya.

"Saya Dika, bang! Sudah 40 tahun. Kasus saya,"...

"Cukup, aku udah dengar kisahmu dari kepala sipir. Ga perlu kamu berdrama melankolis cerita kisah hidupmu padaku! Asal kamu tahu, aku ini disini udah 6 tahun. Dan masih 7 tahun lagi masa tahananku! Kamu mau tau kenapa aku dipenjara? Aku sudah bunuh 5 nyawa sekaligus. Istriku, selingkuhannya, anak sulungku, juga dua mertuaku. Semua mati diujung belatiku dalam sekali tebas!.."

Aku menelan ludah. Hanya diam tak berkutik mendengar ceritanya dengan suara lantang seperti biasa.

"Cukup, kamu tau khan siapa aku sekarang?.. Kamu bisa ngaji ga?" tanyanya menghardik. Aku mengangguk.

"Ambil Al-Qur'an yang ada dilemari itu! Ambilkan dua!" perintahnya tanpa peduli berapa susahnya aku berdiri dan berjalan. Bahkan untuk mengambil dua ayat suci Al-Qur'an sungguh merupakan pekerjaan yang sangat berat dengan tangan kanan saja.

"Jangan bantu dia!" hardik bang Sobri pada seorang napi yang membantuku karena kasihan melihatku yang tertatih sendirian.

Dengan susah payah dan perjuangan keras akhirnya aku berhasil membawa dua buah Al-Qur'an seperti perintahnya. Lalu duduk tertatih berusaha menahan kaki kiriku yang lunglai.

"Bukalah surat Al-Fatihah!"

Dengan gemetaran kubuka lembaran pertama. Aku membaca perlahan ayat demi ayat kembali dengan lelehan air mata.

"Sodakallahul'adziim....!" Bang Sobri mengakhiri kajianku setelah satu halaman surat Al-Baqorohku berpindah kelembar berikutnya.

Kami kembali kelapas kami.

"Jalan yang benar! Baru 40 tahun tapi jalan udah kayak aki-aki 80 tahun! Kuatin, jangan cengeng! Lawan penyakit! Nih, kunyah permen karet digigi kirimu!" Aku kaget menerima lemparan sekantong plastik permen karet.

Dan begitulah... awal pertemuanku dengan bang Sobri. Sosok lelaki yang begitu aku hormati mulai saat itu.

Walau ia terkesan kejam karena ketegasannya. Tapi ternyata ia mampu membuatku perlahan membaik dari stroke sedangku menjadi lebih ringan.

Bahkan kini makanpun sudah bisa kulakukan tanpa tumpah dibibir sebelah kiri. Juga tangan kiri mulai bisa memegang sendok meskipun agak lamban. Karena bang Sobri selalu menghardikku dan memarahi kelambananku karena penyakit ini. Juga karena setiap malam juga ia mengurut kaki dan tanganku dengan minyak urut buatannya.

Vika terkejut melihat kondisiku ketika ia datang menyambangiku setelah 3 bulan setengah.

"Kamu kenapa, mas?" tanyanya begitu cemas.

"Aku kena stroke sedang, honey! Sebelah tubuhku lumpuh. Ini sudah lebih baik dari setengah bulan yang lalu." Lagi-lagi Vika hanya menangis menggenggam tanganku.

"Mas! Aku sekarang tinggal dikeluarganya Pak Iksan. Rumah sudah dioper alih karena aku ga sanggup bayar cicilan."

"Kamu baik-baik aja khan, Vika?" tanyaku seraya membelai rambut Vika. Aku menatapnya lekat. Membayangkan kesusahan yang juga ia lewati diluar sana.

Vika balik menatapku. Tersenyum kecut menandakan bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

"Mas! Aku kesini sekaligus mengabarkan kamu, aku akan kerja ke Singapura. Aku diterima kerja dipabrik garmen disana. Ini kesempatan bagus khan? Tawaran ini dari kolegaku yang pernah satu seminar dulu. Aku ambil karena kontraknya hanya 2 tahun. Boleh ya mas?"

Perkataan Vika membuatku terdiam. Aku sadar, Vika butuh uang. Butuh kerja untuk kelangsungan hidupnya. Dan secara tidak langsung, aku sudah menyusahkan hidupnya dengan menghabiskan uangnya untuk mengurus kasusku dulu.

"Ini kesempatan bagus, honey! Tapi apakah ga kejauhan untuk kerja di Singapura?" tanyaku pelan.

"Gajinya cukup bagus juga, mas! Dan lagi hanya 2 tahun saja. Setelah masa kerjaku habis dan kamu juga sudah bebas, kita bisa memulai hidup baru, mas! Kamu setuju khan?" tanyanya lagi.

Aku hanya mengelus rambutnya perlahan.

"Lalu gimana keabsahannya? Apakah pekerjaanmu itu legal dilengkapi surat-surat dokumen dan juga visa izin bekerja? Hati-hati, honey.... Zaman sekarang banyak penipuan. Apalagi usiamu juga bukan usia produktif dibursa kerja." kataku pelan.

"Justru ini tawaran bagus, mas! Aku sudah 34 tahun tapi masih bisa dapat kerjaan dengan gaji besar. Dibayar dengan dolar pula! Ini legal koq! Aku hanya menyetor uang awal 4 juta untuk biaya paspor, visa dan surat-surat mas! Temanku sendiri sudah hampir 4 bulan kerja disana. Perusahaan bonafid mas, terpercaya!"

"Kalau begitu, ambil kesempatan ini! Aku mendukungmu, honey! Asal kamu bisa jaga diri dan jaga kesehatan disana. Negara orang berbeda dengan negara sendiri, Vika! Hati-hati, banyak orang baik yang ternyata jahat."

"Mas! Aku akan berusaha keras bekerja dengan baik disana. Aku bisa menabung lagi nanti! Setelah kita bersama nanti, kita bisa menikah memulai hidup baru baik atas persetujuan Ranti ataupun tidak!"

"Kalau aku sudah bebas, aku yang akan cari nafkah. Bukan kamu, honey! Itu prinsipku sejak dulu. Walau aku tak bisa menjanjikan kemewahan, tapi aku akan bekerja giat untuk kehidupan kita."

"Iya, mas! Aku percaya padamu. Aku akan menunggu masa-masa itu!" Vika menggenggam jemariku erat. Senyumnya mengembang dengan butiran airmata di kedua pipinya.

"Aku akan sangat merindukanmu, Vika!... Kapan kamu mulai bekerja?" tanyaku sedih.

"Surat-surat sedang kuurus. Setelah semuanya selesai, aku langsung terbang ke Singapura, mas! Doakan aku betah disana ya, mas! Kita berjuang bersama-sama. Seperti katamu dulu, kita pasti bisa melewati ini semua."

"Iya. Kita pasti bisa melewatinya. Allah menyayangi kita!" kataku penuh pengharapan.

Ini terakhir kali Vika menjengukku. Untuk 2 tahun kedepan aku tak lagi bisa melihat senyum manis dan wajah cantiknya. Aku hanya bisa bercumbu dalam bayangan dan kenangan.

Aku hanya menangis disujud Asharku setelah Vika berlalu. Malangnya nasibku! Sungguh hidupku ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tak ada cinta dan kasih sayang berlimpah lagi seperti dahulu. Bahkan satu persatu orang yang kusayangi berlalu pergi meninggalkanku. Inilah balasan dari perbuatanku sendiri. Bukan karma dan bukan pula karena Allah membenciku. Inilah cara Allah menyayangiku! Inilah saat yang tepat menata hidupku lagi mulai dari awal. Dengan segala niat baik dan doa pengharapan agar hidupku kembali normal dan dijalur yang benar.

Kubuang semua fikiran kotor dan fikiran negatif yang ada diotakku. Aku kejar target hatam Qur'an setiap bulan. Tak ada tempat untuk memikirkan cinta apalagi nafsu selain rasa syukurku dan penyesalan kepada Allah SWT. Bang Sobri adalah kawan terbaikku saat ini. Kami mulai berlomba-lomba untuk kebaikan. Dan hadiah yang Allah berikan adalah kesembuhan yang berangsur-angsur untuk penyakitku.

Aku rajin ibadah, puasa senin kamis dan juga kajian-kajian ilmu agama di mesjid rutan dengan para ustad dan kiyai yang hampir setiap minggu berganti-ganti. Aku juga aktif di semua kegiatan sosial. Aku harus bisa menguasai segala bidang. Untuk kelangsungan hidupku setelah habis masa tahanan. Secara mencari kerja dengan surat lamaran diperusahaan-perusahaan sepertinya itu jauh dari fikiran secara umurku yang sudah kadaluarsa untuk menjadi karyawan.

Tak terasa satu tahun terlewati dengan lebih mudah. Bahkan kepala sipir memperbolehkan aku memegang handphone hasil jerih payahku sedikit demi sedikit dibursa yayasan dengan menjual souvenir dari limbah kayu yang kubuat.

Bila ada uang lebih bisa kubelikan pulsa dan aku bisa mengakses media sosial untuk mengetahui kehidupan orang-orang tersayangku diluar sana. Walau tak percaya diri untuk memulai meminta konfirmasi pertemanan apalagi percakapan via inbox. Tapi cukup mengobati rinduku untuk mengetahui kondisi mereka. Khususnya anak dan istriku yang ternyata telah pindah rumah.

Jingga sudah besar. Usianya sudah 3 tahun lebih sekarang. Gadis kecilku itu terlihat sangat cantik dan fotogenik. Ia mewariskan kecantikan Ranti dan kharismaku. Aah.... kangenku meluap! Masih ingatkah Jingga akan wajah papanya ini? Aku hanya mengusap wajah kusuhku. Tak berani mengira-ngira.

Kucari medsos Vika. Sepertinya ia mengganti nama dan juga identitasnya. Karena aku tak bisa menemukannya didunia maya. Hanya ada berandanya yang dulu, ketika ia masih usaha bersama Ranti.

Aku juga bisa melihat medsos saudara-saudaraku dan beberapa kawanku. Hhh... Ada rasa sedih dan senang setelah melihat semua itu. Rasa rinduku kembali membumbung mengenang masa lalu. Dan lagi-lagi hanya airmata yang menemaniku melewati malam merambat pagi. Hhh....

Bersambung-

1
Lailatul Fadjariyah
bnyak hikmah yg BS kita ambil drcerita ini.bhwa kehidupan spti roda yg berputar..,tp semua tetap akan kembali kpd sang Halik.🙏🙏
Nanik Ismawati
Ranti yg skrg tambh bijak Krn didewasakan oleh pengalaman dan keadaan...skrg Dika yg tambh menyesal
YuWie
yaelahhh..malah salah2 an. laki2 mah klo zina istri yg di salahkan..yg sdh gak seksi lah, yg sdh gak perhatian lah, yg gak dilayani lah... apalagi lg merasa diri mapan..beuhhh
YuWie
dika kie nangisan ough
YuWie
trus klo Vika muncul ntar goyah lagi kamu Dika
YuWie
lagi membayangkan 2 laki2 dewasa yg gagah perkasa menangis...ya opo kuwi suasanane..
ika
byk pelajaran dari crita ini...
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
ika
rasain...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..
ika
karyanya bagus
ika
sakit rasanya...
Cusrita Bachri
sukurin deh...kesel sm laki² model bgini
Rani Ummi
krrennn ranti
‼️n
Walah....pelakot....njengkelke.....nghrrhetke😡😡😡😡
Dep queen
Bom like kU meluncur bubun🥰🥰👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏
Beast Writer
tamat
Fira Ummu Arfi
lanjuttttttt
Fira Ummu Arfi
semangatttt
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!