"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibakar Tanpa Api.
"Bang jalan yuk bosan gue di rumah terus,"
Ajak Rindu kepada Kenzo yang sedang berada di kamarnya, gadis itu berdiri di depan pintu yang terbuka.
Dapat dia lihat jika Kenzo sedang fokus dengan laptopnya yang sedang menyala dan diletakkan di atas pahanya.
"Lo nggak lihat gue lagi ngapain dek?"
Padahal sudah melihat Kenzo lagi kerja tapi tetap saja mengajak laki-laki itu untuk pergi jalan-jalan.
"Bentar aja Bang, daripada gue pergi sendiri kelihatan banget gue jomblonya,"
Rindu sudah duduk di sebelah Kenzo dan tidak lupa gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang Abang.
Kenzo hanya melihat sekilas lalu melanjutkan lagi pekerjaannya, dia tidak merasa terganggu atas keberadaan adiknya ini.
"Lah bukannya lo itu emang jomblo jadi nggak ada yang perlu ditutupi,"
Rindu hanya bisa mencebikkan bibirnya saat mendengar sindiran dari Kenzo walaupun memang itu kenyataannya, tapi jangan salah.
"Lo jangan ngomong sembarangan ya Bang, seharusnya sebagai sesama jomblo kita harus saling menghargai perasaan satu sama lain,"
Kenzo tertawa mendengar ucapan terakhir adiknya ini.
Kenzo jomblonya tidak sama seperti jomblo yang dijalani oleh Rindu.
Rindu jomblonya masih lurus seperti jalan tol karena belum pernah memiliki mantan atau pasangan sebelumnya.
"Ayo kita keluar, ntar lo bunuh diri lagi karena keinginan nggak kesampaian. Ganti baju sana Jangan sampai gua dikira lagi jalan sama pembantu,"
Walaupun mereka sering bertengkar kecil tapi Kenzo tidak akan tega menolak keinginan adik semata wayangnya ini.
Lebih baik dia meninggalkan pekerjaan daripada mengabaikan adiknya karena tidak selamanya mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
"Selagi Abang belum sibuk mengurus perusahaan papa atau sebelum Abang sibuk dengan keluarga kecil Abang, maka Abang akan tetap meluangkan waktu menghabiskan bersama kamu karena setelah kita memiliki pasangan dari keluarga kecil masing-masing maka waktu kita akan banyak dihabiskan untuk keluarga kita masing-masing,"
Kenzo tidak ingin kesempatan yang ada dibuang dengan sia-sia karena selagi masih sendiri dan belum sibuk dengan keluarga masing-masing maka dia akan memanfaatkan waktu kebersamaan dengan Rindu untuk mengukir kenangan yang lebih banyak lagi.
Karena semua ini tidak mungkin terulang kembali dan juga dia tidak tahu mungkin saja hari esok akan lebih sibuk daripada hari ini.
"Pa ma kami keluar dulu ya mau kencan,"
Setelah rapi mereka berdua berpamitan kepada orang tuanya.
"Bukannya kencan itu bersama pasangan?"
Walaupun di luar sana jika ada yang melihat interaksi antara Kenzo dan Rindu, mereka akan menganggap pasangan Abang dan adik itu adalah sepasang kekasih yang sangat serasi.
"Kan kita ini juga pasangan ma,"
Balas Rindu yang merasa sedikit tersentil sebab keluar bukan dengan pasangan yang sebenarnya tapi dengan saudara.
"Iya sih tapi tidak mau nutup kemungkinan bahwa bukan kekasih yang diajak jalan-jalan, percuma tampan dan cantik tapi masih jomblo sampai sekarang,"
Karena tidak ingin mendengar lebih jauh lagi sindiran demi sindiran yang diberikan maka mereka berdua segera pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sekarang kita mau ke mana?"
Sudah hampir setengah jam mereka terus berkeliling tanpa tujuan padahal sejak di rumah tadi Rindu mengajak Kenzo pergi keluar tapi setelah tiba di luar malah tidak tahu ke mana tempat yang akan mereka tuju.
"Nyari jodoh kayaknya enak bang,"
Rindu tertawa sendiri dengan kalimat yang dia ucapkan padahal tidak ada lucu sama sekali.
"Jangan terlalu perlihatkan dek, cukup pendam saja perasaan yang menyedihkan itu sebab jomblo bukanlah suatu aib tapi nasib,"
"Nasib jomblo,"
Lalu mereka berdua menertawai nasib jomblo mereka yang belum pergi hingga sekarang.
Untuk Kenzo banyak yang menyukai tapi laki-laki itu belum menemukan yang menarik di hatinya, termasuk Risa sahabat Rindu juga menyukai laki-laki ini.
Dan untuk Rindu disukai oleh seorang bos besar pemilik perusahaan terkenal di kota ini tapi justru menyalah artikan debaran yang dimiliki.
Jadi sekarang mereka cukup menikmati masa jomblo yang tidak tahu kapan akan berakhir.
"Dinner aja yuk bang,"
Karena mereka keluar malam hari jadi tidak salahnya mereka melakukan dinner berdua.
"Gas lah,"
Lalu Kenzo mencari sebuah restoran yang akan mereka tempati untuk melakukan dinner seperti pasangan pada umumnya.
Akhirnya malam ini mereka berdua makan malam bersama ala-ala pasangan bahagia dan merasa dunia milik kedua.
Padahal kenyataan di belakangnya mereka hanyalah saudara.
Tapi semua itu tetap membuat mereka bahagia dengan cara mereka masing-masing.
Karena bahagia itu selain dengan keluarga ataupun pasangan tapi sesama saudara juga bisa asalkan kita pintar menikmati waktu yang kita lalui.
\=\=\=\=\=
Keesokan paginya rindu datang ke kantor dengan perasaan yang lesu atau lebih tepatnya dia merasa kurang sehat.
"Selamat pagi kak,"
Rindu duduk di kursinya lalu merebahkan kepala di atas meja yang beralaskan dengan sebelah tangannya dan menghadapkan kepalanya ke arah Kaisar.
"Kamu sakit dek?"
Kaisar dapat melihat wajah Rindu yang sedikit pucat dan juga tidak bersemangat seperti biasanya.
"Bukan kak, mungkin aku kurang tidur saja karena semalam telat pulang,"
Karena memang benar setelah melaksanakan makan malam rindu mengajak Kenzo untuk menonton jadi akhirnya mereka pulang hampir mendekati jam sebelas malam.
Jadi wajar jika sekarang dia marah Saya ngantuk dan merasa badannya kurang fit.
"Lain kali jangan begadang lagi, apalagi kamu sepertinya nggak terbiasa untuk bergadang,"
Nasehat Kaisar karena tidak tega melihat wajah cantik itu kini kurang semangat.
Kaisar mengusap lembut kepala rindu apalagi sekarang rindu mencoba memejamkan matanya untuk meresapi rasa nyaman yang disalurkan dari tangan Kaisar.
"Jika ingin pacaran maka bukan di kantor tempatnya,"tegur Devano karena tidak tahan melihat interaksi keduanya yang membuat darah dia mendidih seketika.
'Dia pikir ini tempat untuk pacaran apa dan juga bikin sakit mata saja interaksi mereka berdua'
Tapi sekarang detak jantung Devano lebih cepat saat dia mengingat tentang Rindu apalagi pemandangan di depannya ingin sekali Devano menghajar Kaisar yang dengan lancang menyentuh Rindu.
'Tapi buat apa gue marah? Tapi nggak di kantor juga jika mau pacaran, ngga modal kali'
"Maaf pak,"
Rindu menegakkan kembali kepalanya saat kedatangan Devano sebab dia tidak ingin ditegur lebih oleh laki-laki itu.
Sekarang kepalanya lagi pusing dan jika mendengar ocehan Devano mungkin kepalanya makin sakit.
"Kerja yang benar,"
Devano memasuki ruangannya dengan dada yang berdebar.
Saat melihat tangan Kaisar bertengger di kepala Rindu ingin sekali dia rasanya menggantikan posisi itu tapi alasan apa yang akan dia katakan.
"Maaf ya kak karena aku kakak jadi ikutan kena marah,"
Rindu merasa tidak enak karena kondisinya yang kurang fit membuat mereka ditegur oleh Devano tapi ini belum memasuki jam kerja jadi seharusnya tidak terlalu dipermasalahkan.
"Sudah nggak perlu dipikirkan, bukankah ini bukan pertama kalinya tuan muda menegur kamu. Maklumi saja mungkin dia cemburu,"
Rindu tidak ingin menanggapi lebih dan dia lebih memilih untuk mulai bekerja sebab jika mengingat tentang Devano lagi kepalanya makin sakit.
Hanya masalah seperti itu Devano sudah seperti penguasa dirinya saja, mengatur dirinya kadang juga bersikap seenaknya.
Jadi lebih baik ada jarak di antara mereka.
Hingga.
"Kak ini beneran nanti kita meeting dengan perusahaan ini?"
Rindu melihat nama perusahaan yang tertera di berkas yang sedang dikerjakan dan itu nanti jadwalnya jam sepuluh pagi.
"Iya bener dan itu berkasnya masuk beberapa hari yang lalu,"
Walaupun masih heran dengan berkas yang dikerjakan tapi Rindu menyimpan dulu pertanyaan yang sempat timbul di kepalanya.
Biarlah nanti dia akan tahu juga jawabannya dan pasti ini bukanlah sesuatu yang tanpa disengaja.
"Ini sudah selesai, seperti biasa kan kakak yang mengantar ke dalam?"
Sebisa mungkin Rindu menghindari berinteraksi berdua dengan Devano.
"Iya biar kakak saja, kamu lanjutkan saja kerjaan yang lain,"
Kaisar lebih mengerti apa yang dirasakan Rindu jika sudah berdua dengan Devano.
Jika Rindu yang mengantarkan berkas itu maka raut wajah sebelum masuk ke ruangan itu seperti jeruk bali maka saat keluar sudah berganti dengan jeruk nipis.
Dan tak terasa sekarang sudah saatnya mereka berangkat meeting dan itu tempatnya di perusahaan itu langsung.
'Semoga semuanya berjalan dengan lancar dan nggak ada drama apapun tapi gue nggak bisa jamin itu, karena dia pasti akan bikin ulah'
Mereka berangkat hanya bertiga saja sebab asisten Ren tidak ikut karena dia harus menghadiri pertemuan lainnya sebab kebetulan acaranya bentrok hari ini.
Kenapa asisten Ren berangkat cuma sendiri? Karena Devano tidak ingin berdua saja bersama Kaisar pergi meeting dan juga Devano juga tidak ingin berdua saja dengan Rindu jadi asisten Ren akhirnya mengalah dan pergi sendiri dalam meeting kali ini.
"Mari tuan muda kami antar ke ruangan meeting,"
Saat baru menuruni mobil saja di tempat tujuan kedatangan Devano sudah disambut dan diarahkan menuju ruangan meeting.
Rindu dan Kaisar berjalan mengikuti dari belakang, sesekali Rindu melihat sekeliling karena interior perusahaan ini sangat mewah hampir sama dengan perusahaan milik Devano.
"Selamat datang tuan Devano silahkan duduk,"
Kedatangan Devano disambut langsung oleh wakil direktur perusahaan itu siapa lagi jika bukan Kenzo Abang Rindu.
Ya, perusahaan yang membuat rindu heran tadi adalah perusahaan keluarganya yang mengajukan kerjasama kepada perusahaan milik Devano dan di sinilah dia berada sekarang melakukan meeting bersama Kenzo abangnya.
"Terima kasih tuan Kenzo,"
Devano cukup kaget kedatangannya di sambut oleh Kenzo padahal dia berpikir bahwa yang menghadiri meeting kali ini adalah direkturnya langsung.
tapi dia berusaha menetralkan raut wajah keterkejutannya walaupun sekilas Kenzo sudah melihat tapi dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
*kita mulai dari sini tuan Devano dan saya akan pastikan kamu akan kepanasan tanpa harus dibakar*
Kenzo tersenyum miring tanpa ada yang mengetahui sebab pertemuan kali ini bukanlah suatu tanpa kesengajaan sebab ini sudah direncanakan setelah tahu jika pengusaha sukses ini menyukai adiknya.
"Baiklah daripada membuang waktu kita mulai saja meetingnya,"
Meeting berjalan dengan lancar tanpa ada kendala hingga mereka menemukan kesepakatan yang saling menguntungkan.
Meeting berlangsung hingga menjelang jam makan siang, dan.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama tuan Devano untuk merayakan awal kerjasama kita yang terjalin,"
Ajakan makan siang itu bukanlah sesederhana yang dipikirkan.
Kenzo sudah menyiapkan momen yang akan membuat Devano bakalan terbakar jenggot walau pada kenyataannya Devano tidak memiliki jenggot.
"Baiklah tuan Kenzo,"
Devano menerima ajakan Kenzo tanpa dia sadari bahwa dia sudah masuk dalam jebakan permainan Kenzo.
Kenzo menelepon seseorang untuk menyiapkan makan siang yang akan diadakan di rooftop kantor ini.
"Ayo kita ke atas, di atas tempatnya sangat bagus untuk bersantai sambil makan,"
*apalagi di atas anginnya cukup bagus untuk meredakan api yang sebentar lagi bakalan menyala*
Akhirnya mereka berempat menuju lantai teratas gedung perusahaan ini.
"Sini sayang,"
Kenzo menarik tangan Rindu lalu dia gandeng yang berjalan di sebelah Devano dan dia sengaja mengeraskan suaranya saat memanggil Rindu dengan panggilan sayang.
*Sial, apakah dia sengaja?*.
Raut wajah kesal Devano tunjukkan tapi itu hanya sebentar lalu dia tersadar.
*Memangnya apa urusan gue? biarkan saja mereka mau melakukan apa?*
Walaupun di dalam dadanya sangat ingin sekali memisahkan tautan tangan mereka berdua dan menggantikan tangan Kenzo dengan tangannya.
Tapi Devano segera disadarkan oleh kenyataan bahwa dia bukanlah siapa-siapa Rindu.
"Ayo silahkan di nikmati makanan nya tuan Devano, semoga suka sama hidangannya,"
Tanpa merasa bersalah Kenzo mengambilkan makanan untuk Rindu dan tidak lupa dia menyebutkan menu kesukaan Rindu di depan Devano agar laki-laki itu terus terbakar api cemburu.
"Kamu kan paling suka makanan ini sayang,"
Meletakkan seekor cumi di atas piring Rindu.
"Makasih sayang,"
Mendengar balasan Rindu, Devano sampai menggenggam erat sendok yang dia pegang dan menggantungkan suapan yang mana sendok sudah berada di depan mulutnya tapi diletakkan kembali karena tiba-tiba selera makannya hilang.
*Kenapa gue kesel sekali melihat interaksi mereka berdua?*
Tanpa minat Devano berusaha menyedokan makanan karena dia tidak ingin mengecewakan kliennya ini walaupun dia harus tahan hati dan diri.
Baru setengah Devano menghabiskan makanannya dia sudah tidak berminat lagi dan perutnya tiba-tiba merasa kenyang.
"terima kasih jamuan makan siangnya tuan Kenzo dan lain kali anda harus menghadiri undangan saya,"
Walaupun Devano mengucapkan setengah hati dan berharap Kenzo menolak karena jika pun Kenzo datang sudah pasti akan bersama Rindu dan itu tidak baik untuk penglihatan dan juga kesehatan jantungnya.
"Dengan senang hati saya bakalan datang tuan Devano,"
Devano berpamitan karena ini juga sudah memasuki jam kerja.
"Kamu yang semangat ya kerjanya sayang,"
Tidak lupa Kenzo melabuhkan kecupan di jidat Rindu sebelum gadis itu pergi dan itu disaksikan oleh Devano langsung.
Devano mengepalkan tangannya kuat-kuat karena dia sudah sangat muak sekali melihat interaksi Kenzo dan Rindu
'Menyesal gue menerima ajakan makan siang ini bukannya kenyang makan nasi malahan kenyang makan hati'.
Setelah itu mereka bertiga benar-benar pergi dari perusahaan ini dengan Devano membawa segudang kekesalan dan cemburu dan meninggalkan Kenzo dengan segudang senyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat seorang bos besar terbakar api cemburu tapi masih belum mau mengakui perasaan yang dimiliki.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘