Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akibat salah paham
Hari ini Arin akan memeriksakan kandungannya ke dokter kandungan yang ada di rumah sakit. Arin berangkat pukul setengah enam pagi karena harus mengantri. Dia diantar oleh Ikbal karena masih pagi. Ikbal berangkat kerja pukul setengah tujuh.
Arin terpaksa membawa Flora karena dia tidak mau merepotkan orang rumah. Meski ibunya bilang akan menjaga Flora tapi mengingat Bu Nia yang suka mengomel, Arin tidak mau ambil resiko. Dia lebih tenang kalau Flora diajak. Toh anaknya tidak rewel.
Beberapa orang yang ikut mengantri di tempat pendaftaran berempati pada Arin. "Anaknya usia berapa tahun, Mbak?" tanya salah seorang ibu-ibu yang juga sedang mengantri di pendaftaran.
"Dua setengah tahun, Bu," jawab Arin.
"Kenapa diajak?"
"Suami saya kerja, Bu. Tidak ada yang menjaga dia jadi saya ajak," jawab Arin.
"Hamil berapa bulan, Mbak?"
"Jalan lima bulan, Bu," jawab Arin. Dia senang karena ada yang mengajaknya mengobrol sambil menunggu panggilan.
Setelah giliran Arin dipanggil, dia berdiri sambil menuntun Flora. Kemudian Arin menyerahkan beberapa persyaratan kepada pendaftar. Kemudian Arin menuju ke poli kandungan.
Ketika di poli kandungan, Arin tak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya. "Arin kan?" tanya Yunita.
"Nita, kebetulan sekali." Arin tersenyum pada teman sekolah di masa SMA itu.
"Ini anak kamu ya?" tanya Yunita.
"Iya, aku mengajak dia karena tidak ada yang jaga. Lagi pula Flora tidak rewel."
"Wah nama yang bagus ya," puji Yunita.
"Kamu juga periksa kehamilan di sini?" tanya Arin. Yunita tersenyum.
"Di usia pernikahanku yang ke lima aku belum dikaruniai keturunan, Rin," jawab Yunita dengan wajah sendu.
Arin menggenggam tangan temannya itu. "Yang sabar ya, Nit. Nanti juga dikasih sama Allah. Kamu banyak-banyak berdoa jangan putus asa." Arin memberikan pesan pada temannya itu. Yunita menganggukkan kepala.
"Jadi kamu ke sini untuk apa?" tanya Arin tidak mengerti.
"Aku ingin konsultasi pada dokter. Ini baru pertama kalinya aku ke sini. Dulu aku tidak periksa di sini," ungkap Yunita.
"Wah sama ya berarti," kata Arin. Sesaat kemudian Yunita dipanggil ke dalam. Sedangkan Arin dan Flora masih menunggu di luar.
Flora yang sejak pagi menunggu di rumah sakit tampaknya kelelahan. Arin mulai kerepotan. "Mbak anaknya sepertinya mengantuk," salah seorang ibu menegur Arin.
"Iya, Bu. Maklum menunggu dari pagi," jawab Arin.
"Wah kasian juga ya, kenapa nggak ditinggal aja mbak?"
Arin tak menjawab, sudah tiga kali dia mendapatkan pertanyaan yang sama pagi ini. Arin hanya tersenyum. Untung saja dia segera dipanggil. Kemudian Arin pun masuk. Flora juga ikut ke dalam.
"Kita periksa dulu ya," ucap Dokter kandungan yang memeriksa Arin dengan alat USG.
Setelah selesai menjalani pemeriksaan, Arin mengantri di bagian obat. Untungnya sang suami sengaja pulang cepat hari ini. "Dek," panggil Ikbal.
"Alhamdulillah kamu sampai tepat waktu, Mas. Flora sudah mengantuk. Kasian dia. Tolong pegang sebentar aku akan buatkan dia susu," kata Arin. Wanita itu oun dengan cekatan membuat susu botol untuk anaknya yang mulai rewel karena mengantuk.
"Flora yang sabar ya, Nak. Ini ibu lagi buatin susu," kata Arin agar Flora menunggu. Ikbal menggendong anak kecil itu sambil menepuk-nepuk punggungnya agar tidak lagi menangis.
Usai membuat susu, Arin memberikan botol susu itu pada anaknya. Ribet, kelihatannya tapi tak seribet bila dikerjakan.
Sesuatu yang belum dikerjakan namun hanya dipandang maka kamu tidak bisa mengambil kesimpulan.
Lalu tak lama kemudian tiba saatnya giliran Arin untuk mengambil obat. "Vitaminnya diminum rutin sehari sekali sebelum tidur ya, Bu," pesan apoteker yang bertugas.
"Baik, Mbak. Terima kasih."
"Sama-sama, Bu."
Arin berjalan menghampiri anak dan suaminya. "Sudah selesai, Dek?" tanya Ikbal. Arin mengangguk.
"Alhamdulillah sudah, Mas. Ayo kita pulang," ajak Arin. Dia sungguh lelah mengantri di rumah sakit. Dia ingin cepat-cepat merebahkan badannya di atas kasur. Maklumlah dia yang sedang hamil lima bulan mulai merasakan sakit di bagian pinggangnya.
Arin dan Ikbal berjalan ke tempat parkir. Kemudian suara klakson mobil berbunyi di dekat mereka. Yunita menyembul dari balik jendela mobil. "Arin, mau aku antar tidak?" Yunita menawarkan tumpangan.
"Makasih, Nit. Aku dijemput sama suami," jawab Arin yang menolak secara halus.
"Ya sudah aku duluan ya." Yunita melambaikan tangan pada Arin. Setelah itu dia meninggalkan Arin dan suaminya.
"Itu Yunita, kan?" tanya Ikbal yang juga mengenali teman sekolahnya.
"Iya, Mas. Kamu pernah sekelas ya sama dia?" tanya Arin.
"Tidak, aku hanya tahu namanya saja," jawab Ikbal.
"Apa kamu pernah naksir sama dia?" tanya Arin. Dia jadi curiga pada Ikbal.
"Bukan begitu, Dek."
"Sini, Flora biar aku yang gendong." Arin cemberut karena cemburu. Dia mengambil Flora dari gendongan suaminya.
Ikbal menghela nafas panjang. "Begitu saja cemburu," ledek Ikbal.
"Menurut kamu kalau aku bersikap sebaliknya kamu tidak cemburu?" tanya Arin.
"Kok nyolot sih?"
"Siapa yang nyolot? Aku hanya bertanya balik."
Tadinya mereka baik-baik saja. Namun, karena sebuah pemicu kecil dan kesalahpahaman membuat Arin dan Ikbal berdebat di area parkir rumah sakit. "Ini kita jadi pulang apa nggak?" tanya Ikbal.
"Kalau kamu keberatan jemput aku aku bisa naik ojek," jawab Arin dengan ketus.
"Aku sudah bela-belain pulang cepat kenapa kamu malah gini?" Ikbal tentu kecewa.
Arin hanya diam. Mereka akhirnya pulang bersama tapi sepanjang jalan tidak ada obrolan di antara suami istri tersebut.
Kira-kira berapa lama mereka akan bertengkar?
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...