Hati Zara Aurora dibuat tak berdaya akan pesona Affan Zayendra. Semua tak akan menjadi masalah andai pria itu bukan putra dari wanita yang diperistri ayahnya.
Wajah yang rupawan serta kebaikan hati yang pria itu miliki membuat hati Zara sulit berpaling, namun siapa yang menyangka diam-diam Affan menyimpan luka yang dalam. Sebuah peristiwa membuat semuanya berubah. Pria penuh kasih itu berubah menjadi sosok tak berperasaan yang bahkan tega menjadikan Zara sebagai budak hasratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Zara merasa begitu lelah, tubuhnya terasa remuk namun tak ia pungkiri hatinya menghangat ketika merasakan dekapan posesif Affan pada tubuhnya. Zara termenung sesaat, hatinya mendadak kelu menyadari kesalahan yang terjadi kembali antara dirinya dan Affan. Zara sama sekali tak menyangkal bahwa Affan tak sepenuhnya salah, ia sadar bahwa dirinya ikut menjadi pemicu hal ini terjadi.
Zara melirik jam yang ada di nakas, gadis itu tersentak menyadari bahwa waktu yang ditentukan untuk berkumpul di kampus kurang dari satu jam lagi. Dengan hati-hati Zara melepaskan kungkungan tangan Affan yang melingkar di perutnya meski sebenarnya ia masih betah berlama-lama berada dalam hangatnya dekap pria itu. Namun ia harus segera pergi untuk mengikuti camping dalam rangka penutupan masa pengenalan lingkungan kampus, selain itu Zara juga takut Affan akan kembali memarahinya jika pria itu terbangun nanti.
Zara memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai sebelum pergi dari kamar kakak tirinya. Zara menepis segala resah akibat kejadian tadi malam, ia harus cepat bersiap. Zara khawatir terlambat dan membuat teman-teman seangkatannya terlalu lama menunggu, sebelumnya ia juga sudah mengirimkan pesan pada Chelsea agar tak perlu menjemputnya dengan alasan akan diantar oleh Affan. Ia tak mau sahabatnya itu sampai ikut terlambat jika harus menjemputnya dirinya terlebih dahulu, untung saja segala perlengkapan yang harus ia bawa telah ia siapkan sebelumnya.
Saat sedang berpakaian, Zara terpaku melihat banyaknya tanda kemerahan di leher yang tampak begitu jelas. Hal itu membuat Zara kebingungan, ia yakin orang-orang akan mudah menebak tanda kemerahan tersebut, ia benar-benar belum siap jika harus mendapat cecaran pertanyaan Chelsea tentang hal itu. Setelah berfikir beberapa saat, Zara segera memakai hodie dan mengambil syal. Untung saja mereka akan pergi ke puncak sehingga teman-teman tak akan heran jika ia memakai syal di leher nya.
Zara merasa lega karena berhasil menyembunyikan tanda yang Affan tinggalkan. Setelah memastikan semuanya siap Zara keluar dari kamar sambil memesan mobil online di aplikasi ponselnya, karena matanya fokus menatap pada hp Zara tak menyadari keberadaan Affan yang tengah menatap tajam padanya.
"Mau ke mana?" suara dingin Affan membuat Zara tersentak, hampir saja ponsel di tangannya terlepas.
"Ke kampus bang" jawab Zara, ia tak berani menatap ke arah Affan. Ia takut Affan akan mengomelinya karena kejadian tadi malam.
"Kenapa bawa koper?" Tanya Affan lagi. Ia perlahan mendekat ke arah Zara, pria itu hanya mengenakan celana pendek dan tak memakai baju, rambutnya masih terlihat acak-acakan.
"K-kan hari ini Zara mau camping ke puncak seperti yang Zara katakan malam kemaren" Mungkin Affan lupa kalau Zara sudah minta izin padanya.
"Dijemput teman kamu?" Zara memberanikan diri menatap ke arah Affan, entah kenapa pagi ini pria itu jadi banyak bertanya padahal biasanya Affan tak peduli padanya.
"Zara kesiangan jadi Chelsea uda duluan." jawab gadis itu.
"Emang harusnya kumpul jam berapa?" Affan merasa kasihan jika Zara harus pergi sendiri, ia tau Zara pasti masih sangat lelah karena perbuatan nya tadi malam yang membuat tenaga gadis itu terkuras, apalagi ia tidak hanya melakukan nya satu kali. Affan mengutuk dirinya yang mulai candu akan tubuh Zara dan tak bisa menahan hasratnya.
"Jam 8 tepat bang" Balas Zara.
"Itu 5 menit lagi, kamu akan telat Zara!" Ucap Affan gusar saat menyadari sekarang sudah hampir jam 8.
"Tunggu sebentar, aku ambil kunci mobil" Ucap Affan sambil bergegas masuk ke dalam kamar meninggalkan Zara yang terpaku kebingungan. Tak berapa lama Affan kembali keluar dengan terburu, ia bahkan berjalan sambil mengenakan kaos.
"Ayo buruan" sentak Affan saat Zara masih terpaku bingung.
"I-iya bang" Zara mengikuti langkah Affan menuju mobil pria itu.
"Abang nggak mandi dulu?" tanya Zara setelah mereka telah memasuki mobil dan Affan sudah siap memacu mobilnya.
"Kamu telat kalo aku mandi dulu" Mata pria itu fokus menatap jalanan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Zara merasa begitu takut namun ia tak berani berbicara. Ia hanya bisa melantunkan doa di dalam hati untuk keselamatan nya dan juga Affan.
Karena Affan melajukan mobilnya dengan cepat tak butuh waktu lama mereka tiba di kampus gadis itu, beruntung jalanan tidak macet sehingga perjalanan mereka tidak terhambat.
"Makasih bang, Zara pergi dulu ya" Zara mengulurkan tangannya, Zara bersyukur karena Affan menerima uluran tangannya. Setelah bersalaman Zara turun dari mobil sementara Affan tak beranjak dari posisinya. Ia terus memperhatikan pergerakan Zara yang semakin menjauhinya menuju bus.
Affan menajamkan matanya saat melihat seorang laki-laki yang tergesa mendekat ke arah Zara dan merebut koper adiknya itu. Rahang Affan mengeras ketika menyadari bahwa laki-laki yang tengah mengajak Zara bicara adalah orang yang sama dengan yang ia lihat di kafe.
Sementara itu, perasaan Zara begitu kacau karena Yuda mendekatinya. Ia tak berani menoleh untuk memastikan apakah Affan sudah pergi atau belum. Ia takut Affan akan kembali menuduhnya berpacaran dengan Yuda.
"Kamu kenapa baru datang? ini uda lewat 10 menit dari waktu yang ditentukan" Ucap Yuda, pria itu terlihat panik. Takut Zara tidak datang padahal ia sengaja ikut kelompok program studi Zara agar bisa dekat dengan gadis itu.
"Maaf aku kesiangan" Ucap Zara.
"Ya udah ayo buruan. Teman-teman kamu sudah naik bus semua" Yuda meraih tangan Zara namun dengan cepat Zara melepaskan genggaman Yuda.
"Maaf kak" Ucapnya dengan wajah menyesal.
"Nggak Zara, Kakak yang harusnya minta maaf" Balas Yuda sambil tersenyum.
Saat menaiki bus hanya tersisa dua bangku kosong, Chelsea sudah duduk bersama teman angkatan yang lain dan hal itu membuat Zara kebingungan.
"Kamu duduk bareng kak Yuda aja ya Za" Ucap Chelsea tanpa rasa bersalah.
"Chel kami tau itu nggak mungkin" bisik Zara. Perjalanan menuju puncak harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Ia tak bisa membayangkan harus duduk bersebelahan dengan Yuda selama itu.
"Uda Za, nikmati aja" ucap Chelse dengan senyum penuh arti. Zara menghela nafas lelah, ia tak punya pilihan lagi.
"Ayo duduk di sini Zara, bus akan segera berangkat" Ucap Yuda, Zara mengangguk pasrah.
"Kamu mau yang di sini atau dekat jendela?" Tanya Yuda, pria itu terlihat begitu bahagia.
"Dekat jendela kak" jawab Zara. Yuda menggeser tubuhnya dan memberikan akses untuk Zara. Jantung Zara berdetak kencang ketika melihat mobil Affan masih belum pergi dari sana, itu artinya Affan melihat apa yang Yuda lakukan pada nya beberapa waktu yang lalu. Zara benar-benar dibuat gusar, ia takut Affan akan berfikir macam-macam.
🍁🍁🍁