Masalah yang sili berganti, kejadian buruk yang hadir dalam bahtera rumah tangganya berhasil membuat Clarissa bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Gagal menikah di masa lalu dan rumah tangga yang dipenuhi oleh dendam suaminya membuatnya ingin lari dari kenyataan, namun dia harus tetap bersikap baik-baik saja di hadapan sang Ayah.
Felix, pria yang usianya tidak jauh berbeda dengan Clarissa, datang dalam hidupnya, bukan untuk serius kepadanya melainkan untuk membalas dendam. Kehidupan rumah tangga Clarissa terasa bak di neraka. Karma masa lalu ibundanya, kini datang menimpa dirinya.
"Kenapa mama yang berbuat, tapi aku yang menanggungnya? Kenapa tuhan? Kenapa?"
Jeritan keputusasaan itu selalu menggema saat tidak ada orang di rumah.
Bagaimana kelanjutan kisah kasih Clarissa? Akankah dia bertahan dan mendapatkan manisnya pernikahan atau malah berujung pada perceraian?
Ikutin terus perkembangan ceritanya🤗🤗
Sequel kedua dari "Tuhan, Beri Aku Kekuatan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua orang Menyebalkan
Jam menunjukkan pukul 4 sore yang menandakan tibalah saatnya bagi mereka semua untuk pulang. Karen dan Andrew beberes di kelas mereka masing-masing, sedangkan Lauren, Jasmine dan Clarissa sudah pulang lebih awal.
Lauren mengemudikan mobilnya dengan cepar, berharap dia bisa pulang sebelum Karen sampai di rumah.
Kali ini, Karen langsung pulang terlebih dahulu tanpa menanti pangerannya menjemputnya di depan kelas, dia pun tak menjemput Andrew disana. Sedangkan Andrew dengan hati yang riang berlari menuju kelas Karen.
"Lho? Kok sepi?" Gumamnya.
"Kak Andrew, cari Karen ya?" Tanya Rosaline.
"Hum. Dimana dia?" Tanya Andrew.
"Aku tadi lihat dia udah keluar duluan sih kayak buru-buru gitu. Mukanya sedang tidak bersahabat," jawab Rosaline sambil menunjuk kearah Karen pergi.
"Oh, makasih," ucap Andrew.
Andrew berlari mengikuti petunjuk dari Rosaline. Benar saja, dia bertemu Karen yang bersiap untuk naik ojek dari sekolahnya.
"KAREN!" Teriak Andrew.
"Pak, cepat berangkat saja," ucap Karen kepada tukang ojek.
"Karen, woy tunggu!" Seru Andrew.
Andrew berbelok ke arah motornya dan mengambil motornya dengan cepat. Dia mengejar Karen hingga ke rumah paman Roy.
Duhh, ngapain sih Andrew pake ikutin segala? Padahal kan aku mau cepet-cepet pulang. Kan jadi harus ke rumah Paman Roy.~Batin Karen.
"Pak, kita pindah tujuan. Sekarang ke jalan...," ucap Karen memberitahukan alamat lengkap paman Roy.
"Baik, nona," ucap ojek tersebut.
...*...*...
Beberapa menit kemudian...
"Ini pak uangnya." Karen menyodorkan uang beberapa dollars ke tukang ojek tersebut.
"Non, kembaliannya..."
"Ambil aja pak, semoga berkah," ucap Karen.
Karen meninggalkan tukang ojek itu masuk ke dalam. Tak berselang lama kemudian, Andrew telah tiba di depan rumah paman Roy. Dia memarkirkan motor lamanya dan sesegera mungkin turun dari sana.
Dor dor dor...
Andrew mengetuk pintu rumah paman Roy dengan kencang.
"Sayang, jangan ngambek dong. Please, bukain," pinta Andrew memelas.
"Enggak!" Seru Karen.
"Please, aku akan berdiri disini semalaman kalau kamu ga buka pintu," ucap Andrew.
Semalaman? Oh god, apakah aku harus tidur di rumah yang panas ini lagi? Aku merindukan rumahku~Batin Karen.
Karen dengan perasaan terpaksa membuka pintunya untuk Andrew.
Dia melihat Andrew seperti orang kebingungan disana. Karen tak kuasa menahan tawa melihat ekspresi Andrew yang begitu menggemaskan.
"Pfttt... hahaha, ekspresi apa itu? Kau benar-benar seperti orang gila yang kehilangan sesuatu," celoteh Karen.
Andrew memegang tangan Karen seketika.
"You know, aku bisa gila tanpamu," ucap Andrew.
"Cihh, gombal," Celetuk Karen sambil menarik kembali tangannya.
Andrew berlutut di hadapan Karen.
"Sayangku, cintaku, aku bersumpah aku tidak akan mengulanginya lagi!" Seru Andrew. Andrew mengangkat kedua jarinya untuk menunjukkan kesungguh-sungguhannya.
"Huftt, baiklah." Karen menghela nafas pasrah.
Setelah mendapatkan kata maaf dari Karen, Andrew berpamitan untuk pulang dan bersiap untuk besok.
"Huftt. Leganya hati ini. Omong-omong, Aku pamit pulang dulu ya,sayang," ucap Andrew.
"kamu..."
"Bagaimana pun mereka adalah orang tuaku. Aku tidak bisa terus menerus kabur dari mereka," ucap Andrew terlihat pasrah.
"oh. Baiklah. Kamu jangan lupa jaga diri. Kalau ada apa-apa, kabari saja."
Karen menatap kepergian Andrew dari rumah paman Roy hingga tak nampak lagi dirinya. Karen diam-diam pergi kembali ke rumahnya yang besar dan megah itu.
...*....*...
Lauren telah tiba di rumahnya.
"Karen belum pulang kan? Harusnya sih bentar lagi dia bakalan nelepon atau enggak naik taksi." Lauren melirik ke kanan dan kekiri, dia bahkan melihat di seluruh rumahnya, namun tak seorang pun nampak disana. Tak terkecuali dengan bibi.
"Kesempatan," gumamnya.
Lauren melemparkan tasnya sembarangan dan melingkas tangannya dengan sesegera. Dia membersihkan lukanya dan memberikan obat agar lukanya dapat tersamarkan. Walau tadi di sekolah dia sudah melakukannya, namun setiap orang pasti mengetahuinya. Tak nyaman baginya bila beberapa pasang mata melihatnya,namun tidak ada yang berani menanyakannya.
"Huftt. Moga aja Karen ga sadar." Lauren menghela nafas panjang seakan dia menyesal dengan apa yang diperbuat olehnya.
Benar yang diramalkan oleh Lauren, Karen meneleponnya tepat satu menit saat dirinya keluar dari kamar mandi.
"Kak, kemana sih? Lama amat bukain pintunya? Lagian ya kalau udah pulang ngapain di kunci?" Celetuk Karen di ujung telepon.
"Ya maaf. Kan rumah kosong, bibi belum datang. Takutnya ada sesuatu," celoteh Lauren yang bahkan tak dimengerti oleh Karen.
"Sesuatu apa sih? Cepet buka gak?" Seru Karen galak.
"Iya iya. Wait," ucap Lauren.
Lauren berlari ke depan dengan hanya mengenakan handuk melingkari badannya.
Krekkk
Pintu telah terbuka dan betapa terkejutnya Karen dengan apa yang dilihatnya.
"KAKAK!!!" Teriak Karen.
"Bisa ga sih pakai baju dulu? Jijik ahhh!" Seru Karen.
Lauren yang tersadar dengan apa yang telah dilupakannya pun langsung melihat kearah badannya dan berlari menuju kamarnya.
"Oh maaf. Lagian ya kayak kamu ga pernah lihat tubuh pria aja. Kan kita sering mandi bareng dulu kecil," ucap Lauren sambil berlalu.
"Ya kan itu dulu waktu kecil. Sekarang kita sudah sama-sama besar!" seru Karen berapi-api.
"Banyak lho yang mau lihat tubuh kakak," ucap Lauren memamerkan perut sixpacknya.
"Gak gak. Aku ga nafsu sama kakak. Kakak jelek. Hufttt, semua orang menyebalkan kecuali papa," gerutu Karen.
"Yee. Enak aja ngatain gue jelek. KAREN!" Teriak Lauren memenuhi ruangan.
...*...*...
Clarissa telah tiba di apartment barunya bersama dengan Jasmine disana.
"Wahhh, apartmentmu bagus ya sa.Sama besarnya kayak yang di rumah lama kamu," ucap Jasmine.
"Ini adalah apartment yang disewa papaku dari om Eren. Apartment kelas VIP dengan harga kelas bawah hahaha," celoteh Clarissa.
"Haha, enak ya punya ayah pengusaha. Bisa dapat apa aja yang kita inginkan. Gak kayak aku," lirih Jasmine.
"Kenapa memangnya dengan kamu? Bukankah kamu juga lumayan cukup ya?" Tanya Clarissa.
"Sekarang tidak seperti dulu,sa. Semua mahal akhirnya banyak orang ngirit. Jarang banget orang yang beli sayur dan bahan lainnya. Restoran kecil yang biasanya beli di aku aja udah jarang banget belinya. Apalagi pesaingnya semakin banyak. Aku aja bingung ini gimana sama uang sekolah aku," curhat Jasmine.
"Nanti aku bantu kamu bayar,ok? Papa pasti setuju." Clarissa mengelus lembut pundak sahabatnya.
"Thank u," ucap Jasmine.
Mereka berbincang banyak hal disana. Mulai dari awal kehidupan Clarissa di New Zealand dan bagaimana dia bisa bertemu dengan pria yang pagi ini telah mengusik hidupnya untuk kesekian kalinya.
"Ya gitu deh,min. Dia benar-benar brengjek kan? Tapi, aku begitu bodoh dan lemah untuk menolaknya. Aku selalu luluh lagi saat melihat pintanya kepadaku, saat dia membulatkan matanya dengan sempurna, kerlingan matanya, matanya yang berbinar itu yang membuatku lemah," ucap Clarissa.
"Kalau saran aku sih mending tinggalin aja cowok kayak dia. Lagipula, sahabatku ini ga cocok banget kalau harus di duain, ditigain, atau lebih." Jasmine memeluk Clarissa dan menguatkannya.
"Focus on ur carrier bestie," imbuhnya.