Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
"Bun.. ayah berhenti kerja" lapor suamiku.
Deg... jantungku rasanya mau copot dan berdebar sangat kencang.
Oh ya Allah kuatkan aku.. jangan sampai penyakitku kambuh lagi. Doaku dalam hati.
"Kenapa Mas? Apa masalah sebenarnya?" tanyaku pada suamiku.
"SI Gayus sepertinya memang ingin mengusir Ayah dari kantor. Tiba - tiba ayah dipindah ke bagian gudang. Ayah tidak terima, belum juga satu bulan ayah kerja di bagian kanvas. Kan belum tau ayah bisa capai target atau tidak, mana bisa seenak hati mereka mindahin orang dalam waktu tidak sampai satu bulan. Dia itu terhasul omongan si Heri tu. Waktu arisan si Heri kan cerita kalau kita beli rumah dengan kelebihan tanah yang luas, kemudian kita langsung bangun dapur yang besar. Dia pasti mikir dari mana uang kita bisa punya uang sebanyak itu. Makanya dia cari - cari alasan pas audit. Padahal ayah tidak terbukti punya pemakaian. Pihak auditnya sendiri bilang sama ayah. Mereka heran lihat si Gayus bukannya bela anak buahnya apa lagi Ayah teman sekolahnya dulu yang harusnya di bela. Eh malah dia yang keberatan karena salah ayah tukar bon faktur. Padahal tukar bon faktur itu juga atas seizin dia. Pas di hadapan atasan dia buang badan bilang ayah tidak ada minta izin. Kemudian saat kami berdua bertemu dia ancam ayah" ungkap suamiku geram.
"Apa ancamannya?" tanyaku.
"Dari pada aku yang keluar dari sini lebih baik kau yang keluar" jawab Mas Fadil.
"Ih tega banget dia" sambutku ikutan kesal.
"Dia nyuruh Ayah mengundurkan diri tapi ayah tidak mau. Kalau ayah mengubdukatdl diri Ayah tidak akan dapat apa - apa. Biar saja ayah dipecat, biar keluar pesangon. Kalau mereka tidak keluarkan hak ayah, ayah akan pakai pengacara" ucap Mas Fadil dengan nada marah.
"Pengacara Yah? Dari mana uang kita bayar pengacara?" tanyaku pada Mas Fadil.
"Ayah punya kenalan pengacara yang dekat dengan ketua SPSI dikantor ayah. Katanya dia siap membantu dan gak katanya gak mahal kok bayar dia" jawab suamiku.
"Yaaah sepertinya bunda gak sanggup ngadapin masalah seperti ini" ucapku mulai lemas.
Aku mulai berdzikir dalam hati takut penyakitku kambuh.
"Bunda tidak perlu takut, semua kita serahkan kepada Allah. Mana yang menjadi hal kita sudah sepantasnya kita perjuangkan. Ayah sudah cerita sama Pengacara. Dia katakan ayah pasti menang ini" ucap suamiku meyakinkan.
"Jangan cerita kemana - mana dulu yah. Bunda takut Papa dan Mama di kampung dengar. Nanti mereka khawatir lagi dengan kehidupan kita" pintaku.
Aku terbayang wajah Papa dan Mamaku kemarin saat aku minta mereka mengikhlaskan aku hidup bahagia dengan caraku sendiri.
Mendengar suamiku berhenti bekerja pasti akan menjadi pikiran mereka. Aku dan Mas Fadil sama - sama bekerja saja hidup kami pas - pasan. Gimana kalau hanya aku saja yang bekerja?
"Bun.. percayalah. Rezeki kita bukan hanya dari situ saja. Mungkin Allah tutup satu pintu rezeki kita tapi Allah buka pintu rezeki yang lain yang lebih banyak untuk kita. Kita tidak akan mati hanya karena ayah berhenti bekerja. Ayah laki - laki kepala keluarga, ayah akan bekerja untuk kalian Bunda dan anak - anak" ucap Mas Fadil meyakinkanku.
Aku mencoba menarik nafas panjang. Aku pasrah ya Allah... Kalau aku sakit nanti lebih banyak masalah lagi. Aku akan dibawa ke rumah sakit. Walau pakai BPJ* tapi tetap saja harus ada pegang duit. Sementara uang tabungan sudah menipis.
Jalan satu - satunya aku harus kuat. Semua harus dihadapi. Aku yakin Allah kasih cobaan seperti ini karena kami sanggup menghadapinya.
"Yah Bunda akan mencoba menerimanya kalau memang ini yang terbaik. Tapi tolong ayah jangan bawa emosi di kantor. Kalau memang ada peluang untuk tidak berhenti jangan berhenti yah. Coba di tahankan aja beberapa bulan sampai kita punya uang untuk tabungan" bujukku.
"Justru kalau dia tiga bulan lagi ayah berhenti itu malah gak dapat apa - apa Bun. Berarti ayah mengundurkan diri, kalau saat ini saatnya tepat. Ayah bisa punya alasan tidak terima diperlakukan seperti ini oleh perusahaan. Masak hanya dalam satu minggu ayah sudah pindah dua kali dan yang ayah terima ayah pindah ke gudang yang bukan keahlian ayah. Waktu ayah melamar pekerjaan juga sebagai marketing bukan gudang" ucap suami masih ingin meyakinkanku.
"Bunda hanya berpesan itu kepada Ayah jangan bertindak gegabah dan emosi. Pikirkan masa depan keluarga kita" ucapku pada suami.
"Ayah akan mengambil tindakan terbaik untuk kita semua. Percaya lah.. " tegas Mas Fadil.
Beberapa hari kemudian..
Akhirnya Mas Fadil resmi berhenti kerja. Dia berhasil mendapatkan pesangon sebesar tiga puluh enam juta. Mas Fadil membayar pengacara sebanyak dua juta. Membayar pinjaman koperasi saat kami membangun rumah kemarin sebesar lima juta.
Sisanya Mas Fadil membagi dua untukku dan untuknya. Katanya dia ingin menyewa ruko untuk berjualan minum - minuman kekinian. Dia sudah bosan untuk bekerja di kantor lebih baik buka usaha.
Bersamaan dengan itu wabah virus corona mulai menyebar di seluruh Indonesia. Semua orang panik mendengar berita di televisi.
Para tetangga dan teman - teman kantor sibuk bercerita kalau orang - orang sudah panik membeli bahan sembako. Nanti kalau sudah pandemi, semua orang dibatasi untuk keluar rumah.
Akhirnya aku dan Mas Fadil berbelanja bahan pokok yang penting. Aku beli beras tiga puluh kilogram, tiga kotak mie instan. Tiga papan telur ayam, gula, dan bahan - bahan keperluan lainnya yang bisa untuk tiga bulan.
Tentu saja tidak ada harapan untuk Mas Fadil dapat kerja di kantoran lagi. Karena banyak perusahaan yang kabarnya akan mengurangi karyawan mereka.
Semua panik dengan keadaan yang tidak menentu ini. Sementara semua berita di televisi membicarakan tentang pandemi.
Semua orang harus keluar menggunakan masker, menyemprot rumah dengan sanitizer yang dimana - dimana sudah sangat langka untuk mendapatkannya dan harganya juga sudah sangat mahal sekali.
Malam itu keponakan suami yang saat ini sedang duduk dikelas tiga sekolah menengah pertama datang ke rumah kami hendak meminjam motor. Karena dia ingin mencari masker.
Dia akan mengikuti ujian akhir disekolah dan harus memakai masker datang ke sekolah.
Saat itu korban covid sudah mulai muncul di beberapa Rumah Sakit di kotaku.
"Mau kemana Lia?" tanya suamiku.
"Mau ke indomare* Pakde cari masker, pinjam motornya ya" jawabnya.
"Sudah malam Lia, lagian dimana - mana sudah tidak ada masker. Bude juga sudah cari kemana - mana tetap aja tidak ada" sambungku.
"Dekat aja bude, kata temanku di indomare* dekat sini ada. Aku pinjam motor bude aja ya. Motor Pakde besar dan berat" pintanya.
Karena dia mencari untuk keperluan sekolah rasanya aku tidak enak menolaknya. Karena sudah biasa dia meminjam motor seperti ini dengan catatan tidak jauh - jauh dari rumah mengingat sebenarnya dia belum cukup umur untuk membawa motor.
Akhirnya dengan berat hati aku memberi izin kepadanya. Dengan catatan dia tidak boleh lama - lama perginya.
Kira - kira sepuluh menit kemudian.
"Lia kok lama pulangnya ya Yah?" tanyaku pada Mas Fadil.
Aku sudah mulai resah dan khawatir. Karena Lia anak perempuan keluar malam - malam begini bisa bahaya. Mas Fadil mencoba menghubungi rumah orang tuanya untuk menanyakan Lia.
Saat suamiku bertelepon dengan Mamaknya tiba - tiba ponsel ku berdering. Aku lihat nama adik iparku yang tertera.
"Halo Tari" ucapku.
"Mbaaaak... tadi Lia baru hubungi aku. Katanya motor Mbak hilang di indomare*" ucap adik iparku.
"Apa, motor Mbak hilang?" tanyaku terkejut.
Aku langsung lemas dan pucat.
"Bun..... "
.
.
BERSAMBUNG
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik