Di usia yang baru menginjak 17 Tahun baru menyelesaikan pendidikan SMA. Kini Dinda harus di hadapkan dengan masalah besar yang tak pernah dia pikirkan akan menikah mudah di usia yang seharusnya dia bersenang-senang.
"Kenapa harus aku? aku ingin mengapai impian ku terlebih dahulu sebelum menikah!" Protes Dinda menolak.
"Impian yang kau katakan? Apa kau lupa Mama mu juga sama pernah berkata seperti itu, tapi lihat sekarang apa Mama mu berada di sisi kita setelah tergapai impian nya?" Tanya Papa Bara lantang menatap tajam putri kandung nya.
"Sudah sayang, ikuti mau Papa kamu jangan membantah. Anggap saja semua ini balas budi setelah apa yang di lakukan Mama mu, hanya Papa yang setia merawat dan membesarkan mu." Kata Mama Rita. Mama tiri Dinda.
"Baiklah." Ucap Dinda tanpa bisa berkata lagi. Hatinya kini sakit mengucapkan kata Baik yang berarti setuju dan siap menerima kehidupan yang akan terjadi ke depan nya.
Apa pernikahan Dinda akan membawa kebahagiaan yang mengubah kehidupan nya? Atau masih ada keterpurukan hidup yang harus di lalui Dinda?
Yuuk ikuti kisah kehidupan Dinda🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulia rysa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu untuk kedua kalinya.
🌻H 4 P P Y R 3 4 D I N G🌻
•
•
🌹✨💞✨🌹
Dinda tidak tau jika meeting kali ini akan bertemu Alvaro.
Saat tiba di tempat tujuan, Dinda keluar dengan penampilan menawan, semua mata kolega yang berada di tempat memandang kagum kecantikan Dinda, cuaca mendung seketika menjadi cerah dengan kilau wajah dan manis nya senyuman.
Tanpa di sadari Alvaro berada di dekat situ, betapa kaget melihat keberadaan Dinda di sini. Melihat tatapan pria tua dan muda menatap kagum memuja kecantikan Dinda, membuat ia ingin mencongkel masing-masing mata pria tidak lepas dari Dinda.
Tidak dapat di pungkiri penampilan Dinda saat ini sangat perfect, kecantikan Dinda yang sekarang semakin bertambah, tidak dapat ia bohongi dirinya sekarang sedang tidak baik jantung berdebar lebih cepat dan nafas memburu melihat tatapan memuja para pria pada wanitanya.
Entah kenapa belum kembali bersama, Alvaro sudah mengklaim Dinda wanitanya.
Alvaro berusaha menahan amarah, mengepal kedua tangan dengan kuat dengan rahang mengeras. Saat ini ia muak melihat pemandangan seperti ini.
Jika bisa saat ini dan detik ini, ia membawa Dinda pulang dan mengurung di kamar agar tidak ada pria mana pun memandang kecantikan Dinda. Cukup dirinya saja yang boleh melihat kecantikan Dinda, tidak boleh ada pria lain.
Dinda berjalan dengan langkah anggun, pandangan nya jelas pada satu titik, tidak memandang kiri kanan.
"Pagi, Bu Dinda." Sapa salah satu pengusaha yang tadi memandang kagum pada Dinda.
Melihat Dinda tampil anggun bukan sekali bagi mereka, tapi sudah berulang kali. Dinda selalu mewakili Papa Naldo untuk pertemuan antar perusahaan, mau itu luar negeri atau dalam.
"Pagi." Balas Dinda tersenyum ramah.
Hal tersebut tidak luput dari penglihatan nya, hatinya terasa panas melihat Dinda tersenyum manis pada pria lain.
Namun hal tersebut tidak di ketahui Dinda, ia belum menyadari sejak tadi terus di pandang Alvaro.
Sekarang mereka berada di ruang meeting.
****
Mama Sofia membangun Kanaya. Ia bingung kenapa cucu kecilnya ini malas bangun pagi. Jika di paksa pasti akan membuat drama baru yang mengguncangkan satu mansion gempar.
Mengingat yang lalu lalu, Kanaya membuat ulah Mama Sofia berpikir solusi terbaik agar cucunya bangun tanpa memainkan drama.
"Sayang, ayo bangun. Nenek mau kenalin Naya dengan Daddy." Bohong Mama Sofia, dan seketika mata Kanaya terbelalak mendengar ucapannya.
"Daddy? mana Daddy Nek? Naya mau ketemu." Semangat Kanaya mengucek matanya.
"Tapi, mandi dulu. Mommy sudah siapkan air hangat untuk Naya. Ayo." Ujar Mama Sofia.
"Apa Mommy tidak akan ketemu Daddy?"
"Mommy juga akan ketemu Daddy. Tapi Nenek mau Naya menyatukan Mommy dan Daddy lagi. Apa Naya mau?"
"Jadi sekarang Mommy dan Daddy lagi berantam, makanya tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek ya."
"Iya, Jadi sekarang apa Naya mau satukan Mommy dan Daddy?" Menatap cucunya seperti sedang berpikir.
Mama Sofia melihat tingkah Kanaya menggeleng kepala, kenapa anak kecil seperti ini berlagak seperti orang dewasa banyak pikir.
"Naya mau, tapi Naya tidak tau wajah Daddy, bagaimana mau satukan?"
"Naya masih ingat gak pria yang kemarin bersama Naya dan Mommy?"
"Masih Nek."
"Paman itu Daddy Naya." Ucap Mama Sofia terus menatap Kanaya melihat reaksi apa yang akan di tunjukkan.
Di tempat meeting berlangsung, Dinda bersalaman dengan semua kolega yang menghadiri acara pertemuan ini, bahkan ia juga bersalaman dengan Alvaro.
Tatapan begitu dalam yang di berikan Alvaro pada Dinda, saat ingin menyudahi salaman Alvaro engan melepas genggaman tangannya.
"Tolong lepaskan tangan saya, Bapak Alvaro." Tekan Dinda setiap perkataan yang keluar dari mulut nya.
"Eee, maaf Bu Dinda." Balas Alvaro segera melepaskan salaman mereka.
"Iya." Singkat Dinda meninggalkan Alvaro.
"Bu Dinda." Panggil salah satu pria muda yang menghadiri pertemuan perusahaan. Mengejar langkah Dinda yang beranjak pergi dari ruangan.
"Iya, ada Pak." Sahut Dinda berbalik memandang pria yang memanggilnya.
Dinda memandang pria di depan nya ini sudah berulang kali berusaha mendekati nya. Bahkan pernah menyatakan perasaannya. Ia bingung terbuat dari apa pria di depan nya ini, berulang kali di tolak bukan berhenti mendekati nya, tapi lebih gencar mendekati nya.
"Apa setelah ini Bu Dinda ada urusan? jika tidak saya ingin mengajak makan di cafe." Kata pria tersebut memandang wajah cantik Dinda. Ia sudah menganggumi dan jatuh cinta pada Dinda saat pertama kali bertemu.
Meski mengetahui Dinda janda anak satu tidak membuat ia mundur. Hal tersebut membuat Alvaro makin geram, sejak tadi banyak pria gatal terus berusaha mendekati Dinda.
"Kenapa mereka terus mengejar Dinda. Apa tidak ada wanita lain, selain Dinda." Batin Alvaro kesal dengan pria gila di sekeliling nya.
"Maaf Pak, saya harus kembali ke rumah sakit, pasien saya pasti sudah menunggu." Tolak Dinda halus. Tanpa sengaja melihat Alvaro terus memandang nya dengan tatapan tidak suka, lalu pergi meninggalkan mereka.
Memandang kepergian Alvaro dengan tatapan seperti itu, entah kenapa perasaan nya sakit melihat tidak ada perasaan cemburu di tunjukkan Alvaro.
"Apa kamu sudah melupakan aku kak? untuk apa ciuman itu jika hati kakak sudah bukan untukku. Dan janji palsu kakak semua hanya ucapan sesaat untuk membuatku terlena." Batin Dinda memandang kepergian Alvaro.
Perasaan apa yang di rasakan, Dinda bingung. Semua secara mendadak tanpa bisa di pahami.
"Baiklah tidak apa-apa, lain kali semoga Ibu Dinda bisa luangkan waktu untuk saya." Kata pria tersebut. Namun Dinda tidak mendengar perkataan nya, fokusnya hanya pada Alvaro.
"Hallo, Ibu Dinda." Ucap pria tersebut melambaikan tangan menyadarkan Dinda.
"Eee, maaf. Bapak bicara apa tadi?" Tanya Dinda tersadar dari lamunan.
"Ibu Dinda lihat apa, hingga tidak fokus seperti ini?" Penasaran nya melihat tatapan Dinda ke suatu tempat dengan wajah sedih.
"Tidak ada, tadi Bapak bicara apa?" Tanya ulang Dinda.
"Semoga lain kali Bu Dinda bisa luangkan waktu untuk saya." Jawab pria tersebut menatap lekat kedua bola mata Dinda.
"Akan saya usahakan, jika tidak ada yang lain saya permisi segera ke rumah sakit." Ucap Dinda, tidak bisa lebih lama disini. Melepas tanggungjawab sama saja lari dari kenyataan hidup.
"Hati-hati di jalan."
Dalam perjalanan melangkah pergi, Dinda terus memikirkan sifat Alvaro yang cuek. Entah perasaan apa ini? ia sangat tidak menyukai sikap Alvaro yang sekarang.
Dinda kaget saat tangannya di tarik seseorang.
"Siapa anda? jangan macam-macam jika tidak ingin hidup mu hancur setelah ini!" Ancam Dinda, saat melihat wajah pelaku yang menarik tangannya ia terkejut.
Sakit takut dan terus mengoceh dengan ancaman maut, ia tidak melihat wajah pelaku. Sekali mengangkat kepala melihat pria tersebut, ia sangat terkejut.
"Kamu."
...Bᴇʀsᴀᴍʙᴜɴɢ......
...✨____________ 🌼🌼_______________✨...
2)Alvaro TERPERANGKAP melihat Dinda begitu cantik, TERPERANGKAP itu maksudnya apa thor??
walaupun tidak tau seperti apa nantinya