NovelToon NovelToon
Belenggu Mafia Lapuk

Belenggu Mafia Lapuk

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Mafia / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Neti Jalia

Warning! 21+


Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.

Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.

Akankah Evelly berhasil lolos?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28.Perang Dingin

Tidak ada pembicaraan sedikitpun saat Evellyn dan Yasen pulang menuju rumah. Mereka seakan merasa larut dalam pemikiran masing-masing. Bahkan saat sampaipun, Yansen dan Evellyn tidak mengatakan hal apapun.

Brakkkk

Evellyn sedikit membanting pintu. Rasa kesal, marah, dan dongkol, bercampur jadi satu. Evellyn menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur dan terisak disana.

"Dasar bujang lapuk brengsek. Bahkan dia tidak mengucapkan maaf, setelah semuanya terjadi. Aku benci dia!" ujar Evellyn sembari memukul-mukul bantal gulingnya.

Sementara itu, Yansen yang berada diruang kerjanya sedang mondar mandir, sambil sesekali menjambak rambutnya sendiri.

"Bagaimana ini? aku harus bagaimana? Apa aku pergi saja kekamarnya dan meminta maaf?" ujar Yansen yang berbicara sendiri.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore, namun tidak ada pergerakkan dari Evellyn yang ingin membuat makan malam. Yansen yang mengerti suasana hati Evellyn sedang buruk, memutuskan untuk mengajak Ivanka makan diluar agar wanita itu tidak berkoar-koar.

Evellyn mengintip dari tirai jendela kamarnya saat Yansen dan Ivanka keluar pintu gerbang dengan mengendarai mobil lambourgini. Hati Evellyn berdenyut sakit, karena merasa dirinya benar-benar seperti tidak ada artinya.

*****

Evellyn mengenakan seragam sekolahnya dan pergi begitu saja tanpa berpamitan ataupun membuat sarapan seperti biasanya. Yansen yang mulai terbiasa itu sedikit merasa kehilangan karena sudah lebih dari seminggu, dia tidak mencicipi masakan Evellyn.

"Husss ada Doni tu," senggol Maria teman sebangku Evellyn.

"Biarin aja. Aku nggak mau berurusan dengan para penggemarnya itu," ujar Evellyn.

"Kamu kenapa nggak jalan aja sama Doni? gadis yang menemuimu waktu itu juga udah nyerah, Doni cuma mau sama kamu," ujar Maria.

"Hai...Eve...kantin yuk?" tanya Doni.

Evellyn menatap kearah Doni dan kemudian menyeringai.

"Bukankah dia memiliki mata-mata disekolah? dia kan nggak suka kalau aku memiliki pacar? kalau begitu aku buat onar saja disekolah, aku ingin lihat dia bisa apa. Kalau dia bisa berbuat semaunya, kenapa aku tidak?" batin Evellyn.

"Don. Aku sedang tidak berminat ke kantin, tapi kalau kamu mau, kita bisa nonton ke bioskop sepulang sekolah." ujar Evellyn tak terduga.

Doni dan Maria yang mendengar itu jadi melongo. Evellyn yang selama ini terkenal cuek dan jutek, tiba-tiba mengajak Doni sang playboy pergi nonton.

"Oke." Jawab Doni antusias.

"Yes. Sepertinya aku bakal menang taruhan lagi," batin Doni.

Seperti janji Evellyn dan Doni. Kedua orang itu pergi nonton kebioskop. Evellyn bisa merasakan kalau setiap pergerakkannya seperti ada yang mengawasi.

Tring

Sebuah chat masuk kedalam ponsel milik Yansen. Pria itu mengerutkan dahinya, saat melihat foto-foto Evellyn yang bersama dengan seorang pria sebaya sedang memasuki ruangan bioskop.

"Apa maksudnya ini? apa dia berhubungan dengan bocah ingusan itu?" gerutu Yansen.

Yansen menyuruh orang kepercayaannya untuk mencetak semua foto yang dia dapat. Hari ini Yansen memutuskan pulang lebih awal, karena ponsel Evellyn sama sekali tidak bisa dihubungi.

"Ckk..kemana anak itu? ini sudah kelewatan! sudah jam 10 malam tapi masih kelayapan," ujar Yansen.

Bruummmm

Bruummmm

Sebuah motor sport warna hitam berhenti tepat didepan pagar rumah Yansen. Yansen sedikit menyibak tirai rumahnya, dan mengintip apa yang Evellyn lakukan bersama Doni.

"Makasih ya Don, aku senang banget hari ini." ucap Evellyn.

"Sama-Sama. Lain kali kita bisa nonton lagi kalau kamu mau," ujar Doni.

"Tentu."

"Masuklah!" Doni mengusap puncak kepala Evellyn.

"Emm." Evellyn mengangguk.

Greeeeeppp

Yansen mengepalkan tangannya saat melihat pemandangan manis itu. Entah mengapa dadanya jadi bergemuruh hebat.

Ctaaakkkk

Yansen menyalakan lampu ruang tamu, yang membuat langkah Evellyn jadi terhenti seketika.

"Apa kamu pikir ini penginapan gratis? sehingga kamu melupakan semua kewajibanmu dirumah ini? apa kamu sadar kalau kamu hanya menumpang dirumah ini?" ujar Yansen tanpa perasaan.

Greppppppppp

Evellyn mengepalkan tangannya, perkataan Yansen begitu menghinanya sehingga membuat hatinya berdenyut sakit, air matapun dengan cepat berkumpul dikelopak matanya.

Tanpa menoleh, Evellyn mengeluarkan kata-kata telak yang membuat Yansen jadi terdiam seketika.

"Semua urusan dirumah ini memang kewajibanku. Tapi aku tidak memiliki kewajiban untuk melayani majikan diatas ranjang." Jawab Evellyn yang kemudian pergi begitu saja sembari membawa air matanya yang sudah menetes ke pipinya.

Yansen mengusap wajahnya berkali-kali. Karena perasaannya yang kacau, tanpa sadar dia sudah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan Evellyn.

Sudah 2 minggu sejak kejadian malam itu, dua minggu pula Evellyn menghindari Yansen. Semua kewajibannya dia lakukan sebagaimana mestinya, tapi setelah selesai dirinya langsung masuk kamar, atau langsung pergi kesekolah.

"Kamu kenapa sih? sudah dua minggu ini nggak nyentuh aku, aku kangen kamu Yansen," ucap Ivanka dengan manja.

"Aku sedang tidak berselera."

"Kamu yakin nggak selera?" Ivanka melepaskan semua kainnya dan menggoda Yansen hingga pria itupun menyerah.

Dalam pikirannya yang kacau, dia hanya bisa menuruti nalurinya. Namun anehnya, dipikirannya selalu ada tentang Evellyn yang akhir-akhir ini menghindari dirinya.

Tes

Tes

Air mata Evellyn merebak tidak bisa dikendalikan. Gadis itu benar-benar merasakan sakit, saat tidak sengaja mendengar suara-suara aneh dari kamar Yansen.

"Bodoh sekali kamu berharap dari bujang lapuk itu Evellyn. Dengan wanita itu masih dirumah ini saja, itu sudah membuktikan kalau kejadian malam itu sama sekali tidak berpengaruh padanya. Kamu masih muda, pria tua itu sama sekali tidak layak untuk daun muda sepertimu,"

Evellyn melangkah pergi dari pintu kamar pria itu. Meskipun hatinya mengatakan itu, tapi air matanya jauh lebih jujur hingga membuat mata gadis itu membengkak dipagi harinya.

"Eve. Aku suka sama kamu, kamu mau nggak jadi pacarku?" tanya Doni.

"Aku mau Don." Jawab Evellyn.

Evellyn tidak perduli Yansen akan mengamuk tidak jelas. Seperti 3 hari yang lalu, saat pria itu memperlihatkan foto-foto dirinya bersama Doni ditiap kesempatan.

"Yes. Makasih ya Eve? aku sangat bahagia hari ini, apa kamu mau jalan denganku setelah pulang sekolah?"

"Boleh." Jawab Evellyn singkat.

"Kamu senang karena merasa berhasil memenangkan taruhanmu itu bukan? tidak masalah, disini kita sama-sama saling menguntungkan," batin Evellyn.

Evellyn memang sudah tahu sejak lama, kalau Doni sering menjadikan gadis-gadis disekolahnya menjadi bahan taruhan. Tapi Evellyn ingin menjadikan moment itu untuk tujuannya sendiri. Seperti yang sudah-sudah, Doni akan mengumumkan pada semua orang bahwa mereka tengah berpacaran. Dan selama itu pula tidak akan ada yang berani mengganggu Evellyn disekolah.

"Apa maksudmu berpacaran dengan bocah ingusan itu?" tanya Yansen.

Evellyn menatap tajam kearah Yansen, bahkan terlampau tajam hingga membuat Yansen jadi sedikit salah tingkah.

"Bukankah itu bukan urusan tuan?"

"Apanya yang bukan urusanku? aku ini walimu,"

"Wali? wali yang berhak meniduri? setelah itu memperlakukannya seperti sampah?"

Yansen terdiam, disinggung masalah itu Yansen selalu tidak bisa berkutik.

1
Febby fadila
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Febby fadila
udah mulai malas bacax, mafia kok nggak ada yg jelas 1 heran deee, beda banget sama cerita yg disebelah, mafiax bekerja sangat rapi dan cepat
Febby fadila
orland lebih licik daripada Yansen,,,
Febby fadila
kalian berempat itu terlalu bodoh mafia kok nggak bisa bijak dlm berpikir siii heran deee
Febby fadila
klw dsni kayakx orland yg lbih cerdik dan licik dari Yansen deee, orang² orland yg duluan cepat daripada orang² yansen
Febby fadila
hmmm makin menarik, orland juga yg menyelamatkan Evelyn kayakx,, waaahh butuh perjuangan besar buat Yansen untuk menemukan eve dari musuh bubuyutannya
Febby fadila
knp nggak di masukin Ivanka kedalam karung baru buang dia,
Febby fadila
kok lambat sekali siii Nemu kebenaranx,
Febby fadila
Ivanka cari mati ditangan Yansen rupanx
Febby fadila
ooo Ivanka jual² nama Yansen biar eve membenci Yansen,,
Febby fadila
aku sumpahi kamu Yansen tidak punya anak seumur hidup, bila perlu jonimu mati suri seumur hidup,,, kamu pikir harta dan tahtamu bisa membuatmu bahagia
Febby fadila
pasti ulah ivanka
Febby fadila
kabur saja dari situ Evelyn biar Yansen menyesal
Febby fadila
mantap eve sandiwara yg sukses,, 🤣🤣🤣🤣 panas Yansen ❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Febby fadila
pasti eve bakalan hamil secara Yansen tidak pakai pengaman,,
Febby fadila
racun yang bikin ketagihan eve 😁😁😁😁
Febby fadila
awas aja kau Yansen jadikan eve seperti Ivanka,
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua
Febby fadila
iyalah wong Ivanka dia cuman bisa diranjang doang,,,
Febby fadila
bikin ngakak aku, Yansen seperti suami yg ketahuan selingkuh dari istrix 🤭🤣🤣🤣🤣
Febby fadila
uuuuhhh Yansen baik banget siiii,,, menolang tanpa terlihat orang² di sekitarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!