NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16.Clara

Malam itu, Thalia pulang lebih larut dari biasanya.

Rumah besar itu terang, rapi, dan dingin seperti biasa. Tidak ada suara apapun di rumah itu selain bunyi pendingin ruangan dan langkah Thalia yang terdengar jelas di lantai marmer.

Begitu ia masuk ke kamar utama, Rendra sudah ada di sana. Pria itu sedang melepas jam tangan dengan gerakan kasar di sisi ranjang. Kemejanya masih melekat di tubuh dengan lengan digulung sampai siku, sementara jas pria itu tersampir di sandaran sofa.

“Kamu lama sekali di rumah Mama,” ucap Rendra tanpa menoleh.

Thalia meletakkan tasnya di meja rias. “Aku sudah bilang akan pulang agak malam.”

“Aku tidak suka kamu pergi lama setelah kita bertengkar,” ucap Rendra.

Thalia menatap pantulan dirinya di cermin. “Kita tidak sedang bertengkar. Kamu yang menolak mendengarkan.”

Rendra akhirnya menoleh. Matanya menyipit. “Kamu mulai pandai memilih kata sejak semalam.”

Thalia tahu arah kalimat itu. “Aku lelah, Ren.”

“Kita belum selesai bicara.”

“Aku tahu.” Thalia melepas antingnya perlahan. “Tapi aku tidak ingin membahas semuanya sekarang.”

Rendra tertawa pendek. “Kamu selalu begitu. Menghindar saat pembicaraan mulai serius.”

Gerakan tangan Thalia terhenti.

Dulu, kalimat seperti itu akan membuatnya segera meminta maaf. Duduk di tepi ranjang dan mendengarkan sampai Rendra puas.

Namun malam ini, ia hanya menatap Rendra dari pantulan cermin.

“Aku tidak menghindar. Aku hanya tidak mau terus bicara di saat kamu tidak ingin mendengar.”

Wajah Rendra mengeras. Untuk sesaat, kamar itu menjadi lebih sunyi dari biasanya. Sesaat kemudian, Rendra mengambil handuk dari lemari.

“Aku mandi dulu. Setelah itu kita bicara.”

Nada suaranya bukan permintaan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantah. Seolah keputusan kapan mereka bicara tetap berada di tangan Rendra.

Thalia tidak menjawab.

Rendra meletakkan ponselnya di nakas, seperti biasa dengan layar menghadap atas. Ia tidak pernah menyembunyikan benda itu secara terang-terangan, karena selama ini Thalia juga tidak pernah berani menyentuhnya.

Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala beberapa detik kemudian.

Thalia berdiri diam di depan meja rias. Tangannya masih memegang satu anting yang belum sempat ia lepas. Dadanya terasa penuh oleh percakapan yang tertahan, oleh kata-kata ibunya, oleh bayangan Arkana, dan oleh keinginan untuk kembali bekerja yang terus berdenyut di dalam dirinya.

Ia menarik napas pelan, lalu duduk di kursi meja rias dan melepas anting yang tersisa. Tangannya bergerak membersihkan sisa riasan, namun gerakannya terhenti ketika ponsel Rendra di nakas bergetar.

Satu kali. Lalu layar menyala.

Thalia tidak berniat melihat. Namun, jarak antara dirinya dan ponsel yang cukup dekat membuat ia menoleh sekilas dan melihat nama pengirim pesan yang muncul di layar bersama potongan pesan.

Clara: "Jangan terlalu keras padanya, Ren. Kalau Thalia mulai curiga, rencanamu bisa gagal."

Gerakan Thalia berhenti sepenuhnya. Telinganya masih mendengar suara air yang mengalir dari kamar mandi, tetapi netranya menatap layar ponsel itu dengan satu pertanyaan: kenapa namanya disebutkan?

Kalau Thalia mulai curiga, rencanamu bisa kacau.

Rencana apa?

Thalia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Rendra masih di dalam.

Selama beberapa detik, ia hanya duduk diam. Tangannya berubah dingin. Pikirannya berusaha mencari penjelasan yang masuk akal, tetapi tidak ada satu pun yang cukup kuat untuk menenangkan gemuruh di dadanya.

Ponsel itu bergetar lagi. Pesan kedua muncul di layar dengan nama pengirim yang sama.

Clara: "Dan soal aset Amradita, jangan sampai dia tahu dari orang lain."

Dunia Thalia seolah berhenti.

Tangannya bergerak sebelum ia sempat berpikir panjang. Ia berdiri, melangkah ke nakas, lalu mengambil ponsel Rendra.

Layar belum terkunci, pesan Clara masih terbuka. Mungkin Rendra baru saja membalas pesan wanita itu sebelum Rendra mandi. Atau mungkin dia terlalu yakin Thalia tidak akan pernah menyentuh apa pun yang bukan miliknya.

Atau mungkin kebohongan memang punya caranya sendiri untuk muncul ketika seseorang mulai terlalu percaya diri.

Thalia menatap layar itu dengan napas tertahan. Ia tahu nama Clara.

Rekan kerja Rendra. Wanita yang beberapa kali disebut dalam percakapan kantor. Rendra pernah mengatakan Clara adalah salah satu anggota tim paling bisa diandalkan. Pintar. Cepat. Loyal.

Dulu, Thalia tidak pernah mempermasalahkan. Ia percaya, karena Rendra selalu membuat semuanya terdengar wajar.

Namun malam ini, nama itu terasa berbeda.

Bukan karena Clara mengirim pesan. Melainkan karena pesan itu menyebut namanya.

Dengan tangan yang mulai dingin, Thalia menatap layar ponsel Rendra. Pesan itu masih terbuka.

Clara: "Jangan terlalu keras ke dia. Kalau Thalia mulai curiga, rencanamu bisa kacau."

Thalia membaca kalimat itu berkali-kali.

Rencanamu. Bukan pekerjaanmu atau proyekmu. Dadanya mulai terasa sesak.

Ia menggulir layar perlahan. Tidak jauh. Hanya beberapa pesan di atasnya. Namun beberapa pesan itu cukup untuk membuat lantai di bawah kakinya seolah hilang.

Rendra: "Dia mulai bertanya soal kerja lagi."

Clara: "Karena semalam kamu terlalu jelas memakai dia, Ren."

Rendra: "Aku butuh Arkana tetap melihat proyek itu."

Clara: "Tertarik pada proyek, atau tertarik pada istrimu?"

Rendra: "Kalau itu membantu, kenapa tidak?"

Thalia membeku dengan wajah pucat seolah darah di seluruh tubuhnya tersedot habis. Kalimat terakhir itu menghantam dadanya tanpa suara.

"Kalau itu membantu, kenapa tidak?"

Jadi benar. Semalam bukan perasaannya saja. Bukan karena ia yang terlalu sensitif.

Bukan ia yang terlalu lelah oleh gaun merah, tatapan orang-orang, dan tangan Rendra di pinggangnya.

Rendra memang tahu sejak awal. Dia tahu Arkana memperhatikan dirinya. Tahu kehadirannya membuat suasana berubah. Tahu istrinya tidak nyaman.

Tapi Rendra melihatnya sebagai sesuatu yang berguna. Sebagai jalan, alat dan bagian dari rencana yang pria itu buat.

Tangan Thalia gemetar, tetapi ia tetap menggulir sedikit lagi.

Clara: "Kamu juga terlalu berani memasukkan keluarga Amradita dalam simulasi aset. Kalau Thalia tahu, dia tidak akan diam."

Rendra: "Itu belum resmi. Hanya angka pendukung."

Clara: "Tetap saja itu nama keluarganya."

Rendra: "Selama belum ditandatangani, tidak ada yang bisa dipermasalahkan."

Clara: "Kamu yakin? Pak Arkana bukan orang bodoh. Kalau dia audit, dia akan lihat."

Rendra: "Dia tidak akan sejauh itu kalau aku bisa membuatnya tetap melihat sisi yang menguntungkan."

Thalia menutup mulutnya dengan tangan. Aset Amradita. Nama keluarganya. Warisan ayahnya.

Semua yang selama ini tidak pernah Rendra bahas secara terang-terangan, ternyata sudah berada di dalam perhitungan proyek pria itu.

Belum resmi, kata Rendra.

Hanya angka pendukung.

Seolah nama keluarganya hanya angka. Seolah hidupnya hanya lampiran. Seolah dirinya, pernikahannya, bahkan tubuh yang semalam ia bungkus dengan gaun merah pilihan Rendra, semuanya bisa ditempatkan dalam kolom yang sama: sesuatu yang berguna jika dapat menaikkan nilai.

Suara air dari kamar mandi berhenti.

Thalia tersentak, tetapi tidak meletakkan ponsel itu.

Pintu kamar mandi terbuka beberapa detik kemudian.

Rendra keluar dengan handuk melilit di pinggang dan rambut basah. Tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat Thalia berdiri di dekat nakas dengan ponsel miliknya di tangan wanita itu.

Wajah Rendra berubah sepersekian detik sebelum kembali normal seperti biasanya.

Namun cukup untuk membuat Thalia tahu bahwa semua yang ia baca bukan salah paham.

Rendra menatap ponsel miliknya di tangan Thalia, lalu beralih menatap wajah istrinya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

 . .. .

. . . .

To be continued...

1
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
Dewi Payang
Ayo Thalia.... bertindaklah......
Dewi Payang
Blencekkk memang si cuami ini.....
Zenun
bisa jadi ini sudah dipalsukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!