NovelToon NovelToon
Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Leogirl's

Cerita ini kelanjutan dari 'Police, I'm In Love'

"Aku mencintaimu, tapi bersama bukanlah jalan terbaik bagi kita. Kau berhak mendapatkan yang lebih dariku. Kau berhak bahagia." Irma menatap punggung Andre yang semakin menjauh dari pandangannya dan akhirnya hilang di balik pintu rumah sebelah yang tertutup keras.

Alesha Irmania, seorang wanita yang membuat Andreas Denandra tergila-gila di awal pertama mereka jumpa. Namun, sayang wanita yang dipanggil Irma itu sudah memiliki suami. Hingga, kabar perceraian Irma pun sampai di telinga lelaki yang berprofesi sebagai polisi tersebut. Kesempatan yang tak disia-siakan Andre. Ia kembali mendekati Irma dan berharap bisa menjalin kasih dengan wanita yang sudah berstatus janda itu.

Andre pun mendadak dibuat bucin oleh Irma. Berbagai cara dilakukan untuk mendekati wanita itu. Bahkan, ia selalu ada kapan pun Irma membutuhkannya. Hingga akhirnya, Andre merasa lelah sendiri dengan perjuangan yang dianggapnya sia-sia belaka karena selalu penolakan yang didapat Andre, setiap kali mengutarakan isi hatinya. Ia pun memilih tuk menjauh.

Kepergian Andre ternyata tak membuat Irma baik-baik saja. Ia merasakan kehilangan yang sangat mendalam. Wanita rindu akan rayuan-rayuan gombal Andre, perhatian Andre, senyum Andre dan semua tentang Andre—membuatnya tersiksa akan perasaanya sendiri.

Akankah cinta Andre berbalas dan berakhir ke pelaminan seperti Naura dan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Setelah menghabiskan waktu  hampir dua jam, akhirnya Irma sampai di toko. Raut kekesalan masih saja menempel di wajah putih wanita itu.

"Pak, tolong bawakan telur ini ke dalam, ya!" Dengan sangat ramah, Irma meminta tolong kepada tukang parkir di area pertokoan.

"Baik, Mbak!" Lelaki berumur sekitar 50 tahunan itu pun menurunkan satu peti telur dari motor Irma. "Telurnya banyak sekali, Mbak!" ucapnya  lagi.

"Sekalian buat stok di rumah, Pak." Irma memamerkan rentetan gigi putihnya, mencoba membuang kekesalan yang masih menghinggapi.

"Owh pantas saja. Tapi, tumben pulang belanja siang sekali, Mbak? Mbak Ara sudah bolak-balik depan toko kayak setrikaan nungguin Mbak Irma dari tadi," ucap Tukang Parkir lagi, sambil menunjuk ke arah Naura yang sedang mondar-mandir di depan pintu toko kue.

Mata Irma pun mengikuti arah tangan tukang parkir menunjuk, dan didapatinya Naura sedang berkacak pinggang dengan mata yang seperti akan keluar dari tempatnya.

"Pak, cepat bawa telurnya ke dalam, ya! Ibu hamilnya udah bertanduk, sebentar lagi ngamuk." Pinta Irma kepada si tukang parkir yang sudah terbiasa membantu memasukkan barang belanjaannya. Sementara itu, si tukang parkir hanya tersenyum mendengar ucapan Irma. "Tepung dan gulanya nanti saja, balik lagi."

"Baik, Mbak." Lelaki tua itu pun membawa satu peti telur ke dalam toko lewat pintu belakang.

Irma sendiri berjalan ke pintu depan sambil menenteng kresek berisi barang-barang ringan. 'Senyum dulu, Ir! Jangan sampai itu ibu hamil berubah jadi singa lapar.' Irma menarik sudut-sudut bibirnya, menghampiri si adik yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sedang apa mondar-mandir di sini, De?"

"Kakak habis dari mana saja? Apa terjadi sesuatu?" Naura memeriksa keadaan Irma, bahkan sampai memutar-mutar tubuh yang sedang berdiri di hadapannya itu.

"Kamu apa-apaan sih, De? Pusing tahu, baru datang udah suruh muter kayak gini. Aku baik-baik saja, tapi jika kau suruh aku berputar kayak gini bisa-bisa aku kena vertigo," tandas Irma.

"Kau habis dari mana?" selidik Naura lagi.

"Apa kamu tak lihat, apa yang aku bawa?" Irma mengacungkan kresek belanjaan ke depan mata sang adik.

"Ish ...." Naura menepis kresek yang menghalangi wajahnya. "Bukan itu maksudku. Aku tahu kau pergi ke pasar, yang jadi pertanyaan kau pergi ke pasar mana? Kata mamah, Kakak pergi ke pasar pagi-pagi, kenapa tengah hari baru balik lagi. Bikin orang lain khawatir saja," cecar Naura yang begitu mengkhawatirkan kakaknya karena tak kunjung kembali. "Bahkan, aku telepon pun tak diangkat-angkat," rutuknya lagi.

"Memangnya kamu nelpon, Kakak?" tanya Irma, sembari mengecek ponselnya dan dilihatnya dua puluh lima panggilan tak tertajawab tertera di ponsel. "Eh, maaf, hp-nya kakak silent jadi gak kedengeran." Wanita itu memamerkan rentetan giginya.

"Makanya kalau punya ponsel jangan pakai gantungan kunci!" imbuh Naura sambil berjalan masuk ke toko yang juga diikuti Irma.

Tidak hanya Naura yang mencecar Irma dengan pertanyaan, begitu sampai di dapur, Ranti yang melihat Irma sebelum berangkat seperti tidak baik-baik saja juga menginterogasinya.

"Kakak, kamu baik-baik saja,'kan? Apa terjadi sesuatu di jalan, Kak? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Ranti.

"Kenapa semua orang nanyanya gitu? Aku baik-baik saja, Mah. Lihatlah aku pulang dengan selamat."

"Syukurlah!" Ranti mengelus dadanya, ada rasa lega di hati.

"Gimana orang gak pada nanya, kalau ke pasar yang jarak tempuhnya cuma lima belas menit tiba-tiba menghabiskan waktu hampir empat jam," sarkas Naura. "Aku sampai berpikir, apa mungkin Sangkuriang memindahkan pasar ke Gunung Tangkuban Perahu dalam semalam, ya? Hingga Kakakku yang cantik ini tak bisa menemukan pasarnya." Naura mencubit pipi Irma saking geram akan kelakuan sang kakak.

"Kalau bicara jangan ngaco!" balas Irma sambil menyentil kening Naura. "Pas berangkat kejebak macet, muter-muter pasar juga lama. Belum lagi pas pulang kena razia. Jadi ... ya, maklum saja." Ia mencoba memberi penjelasan.

"Kena razia?" Naura memicingkan sebelah mata, menatap sang kakak penuh selidik. Jawaban Irma tak masuk di akal ibu hamil itu.

"Iya, razia. Tadi di jalan ada razia dan kakak diberhentikan," jawab Irma lagi dengan santai, tanpa merasa ada yang salah dengan jawaban yang terlontar dari mulutnya.

"Beneran kena razia?" tanya Naura lagi, mamastikan.

Irma pun mengangguk pasti.

"Beneran. Kenapa nanyanya gitu amat? Kayak yang gak pernah kena razia aja," sungut Irma sembari menata barang belanjaannya. "Sudah masuk semua, Pak?" tanya Irma kepada Tukang Parkir yang baru saja selesai mengantarkan gula dan tepung.

"Sudah, Mbak."

"Terima kasih, Pak." Irma berterima kasih, tak lupa juga memberi upah kepada Tukang Parkir tersebut.

Setelah mengucapkan terima kasih, si Tukang Parkir pun undur diri.

"Tunggu, Pak! Ini buat anak-anaknya di rumah, siapa tahu suka." Naura memberikan satu kotak red pelvet kepada lelaki yang berkalung piluit tersebut.

"Enggak usah, Mbak. Ini 'kan buat jualan," tolak lelaki itu.

"Bukan buat jualan, Kok. Aku sengaja bikin karena lagi pengen saja, tapi ide Bapak bisa dipikirkan juga. Siapa tahu nanti bisa nambah menunya." Naura memberikan kue yang memang belum ada di daftar menu toko mereka.

Kegembiraan tampak jelas di mata si Tukang Parkir itu, berulang kali ia mengucapkan terima kasih kepada Naura, Irma dan Ranti. Semenjak mereka menyewa ruko di sana, tak jarang tukang parkir dan para tukang becak di sana mendapat rejeki lebih dari para wanita hebat itu.

"Kembali ke laptop!" tukas Naura dengan gaya bicara menirukan logat komedian ternama, saat tukang parkir itu sudah pergi. "Jangan mentang-mentang ada breaking news, perkara kita sudah selesai. Kalau boleh tahu, Ibu Alesha Irmania kena razia di mana? Bukannya yang ada razia itu di Jalan X, ya? Itu jauh, lho, dari pasar. Bukan jalan biasa yang suka dilewati pula, lho!" tanya Naura sembari menaik-turunkan alisnya.

Irma terjebak jawabannya sendiri. Ia lupa kalau adiknya istri seorang polisi, yang pastinya lebih tahu di mana suaminya bertugas. 'Ish ... kenapa bisa lupa?'

1
Muftia Arisanti Muftia Arisanti
irma ngidam belut itu apa iya mau di adu sm juniornya si andre ya...sevara si andre vobia sm belut, 🤣🤣🤣✌❤🙏
Muftia Arisanti Muftia Arisanti
junior si andre emang piknik nya kemana tor...palingan pengen jajanan KROTO..ya apa sarang TAWON..🤣✌✌✌❤❤❤👌🙏
Muftia Arisanti Muftia Arisanti
iki opo lakone autor dewe ya..kok ditel bingit puisi upacara pedang pora juga di tulis, sakralnya ngena di kalbu...jadi baper tor...✌❤🤣👌💪💪🙏🙏🙏
Muftia Arisanti Muftia Arisanti
ora coment piye ora betah, weteng senep dari awal aku nyimak guya guyu dewe suwe2 kok malah gladraahhh..iki lakone kok complit nano2 rasane, tapi yo koplak e..iki tambah nemen, iki autor e genius bikin lakon opo emang autore sableng ya...sorry2...tapi lope2..tor..🤣🤣🤣✌✌✌👌💪❤❤❤🙏🙏🙏
mika
🤣🤣🤣🤭🤭sdh patah jd dua
mika
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Welda Arsy❤
huhuyyyy aq datang lagi thoor😜 mengentuk pintu novel mu,,,,bukan pintu novel lebar² ya😁
G Use
Polisi kok bego amat...masakan di bilang roti nggak ngarti...pasutri sekarang sebelum Pandemi tau kok ini tokoh Polisinya kok bego amat...wkwkwk
‼️n
Wah mamah mamah jago ngeprank....🤣🤣🤣
‼️n
Kayaknya ok nih....nyimak
Ulna Yana
kak kemanakah dikau kenapa gak nongol2 notif sih kak 😔😁
Sri Utami Utami
manggil nya jangan mbak song udah jadi istri
Mahmudah Mahmudah178
visual ya thor
Sur Tini
Biasa
Sur Tini
Kecewa
Indry Bata
ceritanya muter2
Dianherlina Siswoyo
anak sableng Ema dewek di kira setan 🤣🤣🤣🤣🤣
Dianherlina Siswoyo
otak Naura udh terkontaminasi sama tips Ema mertua nya yg sengklek 🤣🤣🤣🤣🤣
Dianherlina Siswoyo
pengen ketawa takut dosa🙈
Dianherlina Siswoyo
kacian bnr dah babang Andre😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!