Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Revi.
Ketiadaan sekolah dihari Sabtu membuatku sekarang hanya bisa memetik gitar sambil membayangkan malam ini. Bertemu princess di ulangtahun Baskara, sebagai kejutan!
Awalnya aku kecewa saat princess memberi kabar bahwa ia harus pergi bersama adik-adiknya. Tapi itu bukan masalah yang besar bagiku, karena tanpa princess pun aku akan pergi ke rumah Baskara sendiri.
Lama memetik gitar dengan tempo yang tidak pas, Prince melemparku dengan bantal.
"Kacau banget wajahmu! Kenapa, dik? Ditolak?" tanya Prince setelah menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Enggaklah, ngapain ditolak!" jawabku dengan jumawa.
"Jadi mana traktiran buat kakak? Jadian sama putri raja gak bagi-bagi bahagia!" cercanya bercanda.
Aku tersenyum kecut, sebelum menyamankan dudukku sambil menyerahkan gitar akustiknya.
"Apa mommy dulu juga mendisiplinkan kakak?" tanyaku setelah memastikan mommy tidak mendengar.
Dahi Prince berkerut, ia mendesah dan petikan gitar akustik dengan ritme menyedihkan itu mengiringi ucapannya.
"Kamu harus mengerti terutama masalah mendisiplinkan diri, Rev. Keluarga mommy adalah orang-orang dengan disiplin tingkat tinggi, tepat waktu dan segala sesuatunya harus terorganisir, sedangkan Ayah adalah pengusaha juga penyanyi. Gak ada kata sepakat dalam hidup kakak dulu sewaktu mommy menyuruh kakak dan kak Mira untuk menjadi seperti mereka. Apalagi dulu, kakak berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Ayah dan mom..."
"Stop it! Prince!" sergah mommy.
Aku dan Prince menunduk. Menyesal sudah membahas ini. Masa lalu mommy dan ayah yang tidak sejalan.
"Gak perlu dibahas lagi. Oke! Kamu dan mommy sama-sama terluka. Dan, sekarang sudah baik-baik saja, Prince. Kamu tumbuh dan tidak kekurangan apapun, termasuk kasih sayang!" ujar mommy dengan nada tertahan.
"Semua anak mommy harus disiplin! Karena apa? Hanya dari disiplin kita bisa melakukan semua dengan serius. Tidak membuang waktu percuma. Mengerti, Rev!"
Aku bingung. Demi Tuhan aku bingung! Disiplin dalam hidupku sekarang adalah disiplin menemui princess, menunjukkan bahwa aku adalah satu-satunya, setia, dan sayang banget sama dia. Apalagi sekarang baru dalam tahap seru-serunya.
"Betul kata mommy, Rev! Kalau kakak gak disiplin latihan nyanyi ataupun latihan menembak, kakak rasa kakak masih belum jelas masa depannya!" ujar Prince, tersenyum hangat kepadaku dan mommy. Mommy membalasnya, senyuman yang tak kalah menenangkan.
"Karena pria harus punya keahlian khusus selain cinta yang tulus, Rev. Cewek gak cuma butuh setia, tapi juga cuan yang lancar!" lanjut mommy menimpali.
Aku tidak bisa berbuat banyak, satu-satunya jalan aku memang harus disiplin. Karena idolanya princess punya keahlian khusus dalam apa saja. Apalagi senyumnya.
Kata Lilah. "Ayahanda kalau senyum manis sekali seperti ada gulanya." Sedangkan senyumanku seperti asam! Kecut!
"Tidak ada yang membatasimu, Rev! Kamu masih bisa bertemu dengan princess, pacaran, atau jalan-jalan. Tapi waktunya latihan ya latihan. Itu saja saran mommy." ujar mommy sembari menepuk bahuku.
Aku mendesah pasrah. "Iya... Iya... Lagian Revi ini baru kelas dua SMA! Belum mau nikah, tapi kenapa rasanya udah diuber-uber untuk cepet-cepet punya bakat dan nikah!" Aku mendesah lagi dan menutup wajahku dengan bantal.
"Karena kamu memang harus punya bakat selain hanya suaramu yang bagus, Rev! Lagian cewek mana mau hanya dikasih suara bagus, cewek sukanya cuan. Apalagi pacaran sama princess, butuh modal banyak!" urai Prince.
"Mom!" seruku mencari bantuan.
"Mommy gak muda lagi ya, Rev! Atur sendiri kakakmu!" ujar mommy dengan tawa geli saat aku membuang bantal ke arah Prince. Prince terkekeh geli.
"Daripada ngurusin Revi. Mending mommy minta tolong kakak agar cepet kawin! Mommy sudah pantas menggendong cucu!" sungutku jengkel.
"Ah... Revi jangan gitu! Kakak masih asyik menyendiri." ujar Prince dengan menggelikan.
Kulihat mommy menggeleng. Tanda bahwa aku tidak boleh melanjutkan ucapanku.
"Nge-band aja yuk, mom, kak! Malas banget aku hanya duduk diam. Rasanya juga lama sekali jam tujuh malam!" ujarku sambil lalu. Kedua manusia dewasa yang mengguruiku berjalan mendekatiku dan merangkulku.
"Aku penasaran mom, mereka kalau pacaran gimana ya? Pura-pura gak kenal atau mungkin seperti pacar yang minta putus!"
"Mommy juga penasaran, Prince! Revi pasti bingung, mau peluk gak bisa, apalagi minta cium!" gurau mereka sambil cekikikan berdua.
Aku mendengus kesal sambil berkacak pinggang. "Sungguh kalian nggak paham dengan kondisiku ini! Mau peluk tali ah... sudahlah..."
***
Malamnya harinya. Aku menggeber motorku menuju rumah Baskara. Kata beberapa temanku, princess sudah datang, sejak tadi. Tapi kata mereka, dia hanya diam karena---mungkin tidak ada aku---atau memang ada adiknya yang bernama Raden Mas Suryawijaya jadi ia tidak leluasa bersenang-senang.
Aku yakin, selain adiknya memang berteman dengan Baskara. Adiknya juga berniat untuk menjaga princess.
Sebetulnya, malam itu ketika aku sengaja mengempeskan ban motorku, aku pulang membawa kegelisahan karena memikirkan bagaimana kelanjutan hubunganku setelah aku membawa anak gadis Raja jalan-jalan sampai malam.
Dan, mungkin ini balasannya.
Tiba di rumah Baskara, rumah itu tampak penuh dengan siswa-siswa kelas satu dan tim basket sekolah. Aku bergabung dengan mereka setelah mengucapkan selamat ulangtahun untuk Baskara.
"Dimana princess?" tanyaku.
"Di ayunan besi, deket kolam!"
"Sama siapa?"
"Adiknya. Lihat aja kalau curiga!"
"Hahaha, tau aja!"
Aku keluar dari ruang pesta untuk menghampiri princess, tapi saat berada di sleding door kaca yang terbuka. Aku menyadari dua pria dengan ketampanan hampir sama itu juga duduk tak jauh darinya. Aku mendadak gusar, karena malam ini Bimo juga datang!
Fix, princess sedang dijaga dan aku harus menjaga jarak. Ku putuskan untuk kembali ke ruang pesta, bergabung dengan tim basket yang lain dan menikmati suasana.
Ku coba untuk menempatkan perasaan yang sesuai pada tempatnya. Semoga, dia tidak menyukainya, jadi aku tidak perlu bersaing dengannya. Kalau memang iya, aku akan memilih jalan damai. Berdamai dengan diri sendiri lalu kembali memulai aksi. Begitu saja terus aku ulangi.
Aku harap buat kalian-kalian yang pro ke Bimo, bisa mengerti. Aku benar-benar menyukai kejujuran ini.
Lama menunggu, princess masuk ke ruang pesta. Ia bercakap-cakap dengan Baskara dan berpelukan.
Astaga, pemandangan apa ini! Aku saja yang berlabel pacarnya tidak pernah dipeluk, kalau boncengan juga kayak ojek. Dia, Baskara dipeluk lama-lama di depan adiknya yang biasa-biasa melihatnya.
Aku kecewa, tapi marah juga tidak bisa. Princess terlalu cantik malam ini untuk dimarahi. Dia memakai dress selutut berwarna biru muda, memakai sepatu yang aku belikan kemarin, rambutnya digerai panjang dan di jepit sebelah kiri. Senyumnya mengembang saat Baskara menggodanya, lalu bagaimana dengan nasibku sekarang?
Teman-temanku meledek, status sebagai pacarnya lalu dipertanyakan. Aku frustasi.
Pada saat yang sama aku menyeruak di sebelah sang DJ, sembari berkata.
Peluk pacar orang, pacar sendiri gak pernah di peluk!
Princess menoleh, ia terpana sekaligus membelalakkan matanya. Dengan segera ia melepaskan pelukannya.
Aku menyeringai, princess tampak canggung. Ia seperti menyesal dan aku pastikan ia menghargai perasaanku.
Aku menghampirinya. Saat aku hendak bersyukur dengan cara ingin merangkulnya, adiknya berdehem, mengancam. Aku lupa ada penjaga dengan mata paling awas disini. Lalu wajahnya menjadi serius, ia bicara dengan suara datar dan serak oleh emosi.
Mengerti bahwa Raden Mas Suryawijaya sedang tidak bersahabat denganku, Baskara memecah suasana. Ia mengambil alih situasi.
Bagusnya, semua tidak berakhir babak belur karena salah paham. Tapi bukankah semua di dunia ini butuh pengorbanan? Dan, aku bersiap babak belur untuk setiap kebersamaan ku dengannya.
...Happy Reading....