NovelToon NovelToon
CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:691.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: amel

Entah hanya sebatas mengagumi atau sudah lebih dari batas kekaguman akan sosok laki- laki yang tak pernah bisa ku genggam.

Karna semakin kucoba untuk menggapainya maka akan semakin jauh dalam genggaman,

Kamu bagaikan bintang di langit malam, semakin terang di hati ku, tapi semakin berada jauh di atas sana

*Khanza

Sebenarnya aku juga mengagumi mu, tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkannya. Bahkan bukan hanya sekedar mengagumi, tapi aku sudah jatuh hati kepadamu.

Tetapi maaf! Karena penampilanmu yang selalu di pandang sebelah mata dengan orang orang di sekitarmu, menjadikan aku gengsi akan memilikimu.

*Arif

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter-27~Bersamamu

Arif dan Khanza bersandar pada pembatas gazebo, menikmati kue kering dan minuman yang sudah mereka bawa.

"Za, Maaf!" ucap Arif mengambil tangan Khanza yang berada di sampingnya.

"Maaf .... Untuk?"

"Maaf untuk Ver ...."

Khanza menarik tangannya dan melipatnya di dada, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Tidak usah di bahas lagi!" ucap Khanza tanpa memandang Arif.

Arif menghela nafasnya berbalik menyandar pada pembatas, melipat tangan di dada mengikuti Khanza.

"Aku..., menyesal karena sudah membenarkan ucapan Vera, aku tidak tau harus berbuat apa. Semuanya terjadi begitu saja, Ta...."

"Stop!" Khanza menutup kedua telinganya dengan tangannya.

"Aku tidak tenang, Za! kalau semuanya belum jelas," ucap Arif menatap Khanza menarik tangan Khanza untuk melepas tangan pada kupingnya.

"Please!" ucap Khanza sendu, mata Khanza sudah berubah merah menahan tangis.

"Maaf!"

Khanza mengangguk, Arif menarik Khanza ke dalam pelukannya. Memejamkan matanya entah kenapa dia begitu takut jika Khanza akan menjauhinya. Meneguk air liurnya Arif membuka suara kembali.

"Za, aku sama Faizal tidak berniat membuatmu menjadi barang taruhan, kita berdua hanya terbawa emosi, Za!" ucap Arif yang tidak mau melepaskan Khanza dalam pelukannya.

Khanza membalas pelukan Arif dia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arif, air matanya seketika luruh bayangan kejadian di mall dan malam itu pun kembali berputar.

Arif melepas pelukannya, melihat Khanza menangis hatinya tersayat pilu. Begitu terluka kah gadis di depannya karena ulahnya. Menghapus air mata Khanza dengan tangannya, Arif menggelengkan kepala mengisyaratkan kalau Khanza tidak boleh menangis.

"Za, Ma ...."

"Aku sudah memaafkan semuanya Rif, aku mengerti kenapa kamu melakuannya. Vera memang benar, seharusnya aku tau diri kalau kamu sudah mempunyai pacar. Wajar kalau dia cemburu, memang sebaiknya kita ...."

"Nggak! jangan pernah minta aku buat menjauh!"

"Tapi, Rif!"

"Za, seberapa keras pun kamu meminta aku untuk menjauh, aku tidak akan pernah bisa menjauhi kamu!" ucap Arif tegas.

"Itu pilihan terbaik untuk kita."

"Nggak!"

"Dasar keras kepala!"

"Sudah tahu 'kan?"

"Terserah lah! susah kalau ngomong sama orang keras kepala," ucap Khanza merubah posisinya kembali bersandar, merentangkan kedua kakinya.

Arif tersenyum kemenangan, melihat Khanza selalu mengalah padanya. Merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya pada paha Khanza.

"Arif, apaan Sih!" Khanza terkejut dengan apa yang di lakukan Arif. Meskipun begitu tapi Khanza tidak berusaha menolak, dia membenarkan posisi duduknya agar Arif lebih nyaman, Mukanya langsung memerah menatap pada Arif yang memberikan senyum manis kepadanya.

"Manis!" ucap Arif.

Khanza semakin salah tingkah, pipinya begitu panas. Mukanya semakin memerah. Arif sukses mengacak-acak hatinya, dia memalingkan muka menatap ke arah lain.

'Rif, kalau kamu selalu seperti ini, aku tidak bisa mengontrol hatiku Rif!'

"Za!" panggil Arif.

Khanza menatap Arif, pandangan mereka bertemu, cukup lama terdiam menatap kedalam mata masing-masing.

Gluk! Arif meneguk air liurnya.

'Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku jika besamanya, bibir itu, mata itu. Tahan Rif!"

Arif segera menyadarkan dirinya. "Za, Aku dan Faizal ...."

"Aku mengerti Rif! aku hanya tidak suka jika kalian selalu menyelesaikan dengan emosi," ucap Khanza memotong ucapan Arif. Khanza meletakkan tangannya di kepala Arif, mengusap lembut kepala Arif seperti Ibu yang mengusap kepala anaknya.

Arif memejamkan mata merasakan sentuhan lembut dari tangan Khanza, tenang dan nyaman dia melupakan semuannya. Bahkan dia tidak berpikir kalau Vera akan benar-benar marah kalau sampai tau apa yang mereka lakukan. Arif hanya menikmati kenyamanan ini bersama Khanza.

Suara dering telpon berbunyi, ada sebuah panggilan masuk dari handphone Arif. Arif mengambil handphone itu dari sakunya, terlihat ragu untuk menjawab.

"Angkat aja! siapa tahu penting," ucap Khanza.

Arif bangun dari posisinya, mengambil posisi duduk dan menggeser layar telpon itu.

📞"Hallo!" ucap Arif.

📞"Sayang! kok lama jawabnya!" ucap Vera di seberang sana.

📞"Maaf! y ... yang!" ucap Arif merasa tidak enak menatap Khanza.

Khanza menatap Arif mendengar kata sayang yang di ucapkannya. Khanza tau kalau yang sedang di panggil Arif itu adalah Vera, ada rasa sakit sekaligus tidak enak yang dia rasa. Bagaimana pun dia yang salah karena sudah berani melakukan hal yang di luar batas teman dengan Arif, meskipun tidak ada hubungan yang spesial antara dia dan Arif.

📞"Kamu di mana yang?" tanya Vera.

📞"Aku lagi di jalan, sudah dulu ya!" ucap Arif lanhsung mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban Vera.

Menangkap tangan Khanza yang turun dari gazebo itu untuk pergi dari sana.

"Hei! mau kemana?" Khanza berbalik, Arif menatap mata Khanza yang memerah.

"Cemburu!" ucap Arif lagi.

"Apa'an, sih! siapa juga yang cemburu! dia 'kan pacar kamu," ucap Khanza melepas tangan Arif dan duduk dengan kesal di ujung gazebo.

"Kalau nggak cemburu kenapa mukanya di tekuk!" ucap Arif mencolek dagu Khanza, mengoda Khanza dengan senyumnya agar Khanza tidak sedih lagi.

Belum sempat Khanza menjawab kini giliran handphonenya yang berbunyi. Arif yang duduk di samping Khanza menengok layar handphone di tangan Khanza, tertera nama Faizal disana. Muka Arif berubah datar ingin mengambil poncel itu di tangan Khanza, tetapi Khanza dengan cepat menarik poncelnya. Arif langsung mengambil jaket dan kunci motornya, begitu terlihat emosi.

"Eh! marah!" Khanza menarik lengan Arif.

"Lepas!" Arif menarik tangannya kesal.

"Nggak!" ucap Khanza semakin erat memegang tangan Arif.

Arif menghela nafas beratnya, mencoba tenang kembali. Melepas perlahan tangan Khanza, tapi Khanza tetap bersikeras tidak mau melepasnya.

"Duduk dulu!" ucap Khanza menarik tangan Arif untuk duduk. Arif pasrah mengikuti Khanza.

"Gitu aja, emosi!" ucap Khanza meledek.

Arif berdiri lagi, Khanza panik sendiri menahan tangan Arif.

"Sudah dong! sudah mati juga telponnya!"

"Telpon balik aja! aku mau pulang!" ucap Arif ketus.

"Cemburu!" ucap Khanza mengembalikan ucapan Arif kepadanya.

"Nggak!"

"Oh, ya sudah! aku telpon Faizal aja!" ucap Khanza dengan senyum jahilnya, mengambil handphone-nya pura-pura ingin menghubungi Faizal.

Arif merebut poncel itu dari tangan Khanza. Khanza tertawa puas karena berhasil menipu Arif.

"Puas, ketawanya!" ucap Arif mengembalikan poncel ke tangan Khanza.

"Lucu, sih!"

Arif membuat wajah lucu, membuat Khanza semakin tertawa.

"Huk.... Huk...." khanza tertawa sampai terbatuk.

Arif menepuk bahu Khanza pelan.

"Kualat 'kan! ngetawain aku," ucap Arif mengambilkan air minum menyerahkannya pada Khanza.

Khanza langsung meminum dari tangan Arif. Sebelah tangan Arif masih berada di bahu Khanza. Khanza menatap mata Arif, dia kembali tertawa bersama dengan Arif.

"Sudah ah!" ucap Khanza mengehentikan tawanya.

"Siapa yang mulai tadi!"

"Iya ... iya!" ucap Khanza tersenyum kepada Arif. "Aku ambil gitar dulu deh! ajarin ya?" ucap Khanza lagi.

"Emang punya?"

"Ngeselin ya! adalah! aku ambil dulu, tunggu jangan pulang!" ucap Khanza mengejek. tertawa kembali dan berlalu masuk mengambil gitarnya. Arif tersenyum menanggapi candaan dari gadis manis itu.

'Manis banget kalau sudah tertawa lepas gitu. sit! kenapa sama aku sih! jantung ini! melihatnya tertawa seperti itu!"

Jantung Arif yang tidak bisa menyembunyikan detakannya.

Seberapa kuat pun kita menampik dan menyembunyikan rasa cinta, ketika cinta itu tumbuh dan berbunga maka orang lain akan mencium aromanya. Wangi cinta yang menyeruak keluar dari pori-pori hati membuat orang yang meraskannya terbuai dengan pesona denting dawai asmara. Melupakan semua tentang apa yang sebenarnya menjadi takdir lakukan padanya.

Khanza kembali membawa sebuah gitar.

"Ajarin ya?" ucap Khanza duduk di samping Arif yang mengotak-atik handphone-nya.

Arif menyimpan kembali benda pipih itu saat Khanza kembali membawa gitar dan duduk di sampingnya. Arif bangun dari duduknya, beralih kebelakang Khanza.

"Sini aku ajarin!" ucap Arif dengan posisi memeluk Khanza dari belakang.

Khanza bengong mengangkat kepala menatap pada manik mata coklat hitam itu.

'jantungku! bisa serangan jantung aku kalau seperti ini! Tapi detakan jantungnya! apa dia juga merasakan yang sama? nggak mungkin dia cuma menganggap teman!"

"Hei! sudah kali lihatnya! ganteng ya?!" ucap Arif mencubit hidung Khanza.

"Auuu ...! Pede banget!" ucap Khanza memegang hidungnya.

"Harus dong!" ucap Arif percaya diri.

"Gimana ni?" ucap Khanza yang kembali memegang gitarnya.

Arif memegang tangan Khanza, posisinya sekarang ini membuat olah raga jantung untuk keduanya. Arif mengajari Khanza dengan begitu sabar, sesekali mata mereka bertemu. Lemparan senyum termanis untuk sebuah hati yang di landa panah cinta dari dewa-dewa asmara.

"Kamu nyanyi dong!" ucap Arif.

"Kamu main gitarnya ya?"

"Yaudah sini! mau lagu apa?"

"Kekasih bayangan gimana?" ucap Khanza.

"Cakra Khan?" tanya Arif.

Khanza mengangguk, Arif pun mulai memetik gitarnya.

***

Padamu pemilik

Hati yang tak pernah kumiliki

Yang hadir sebagai

Bagian dari kisah hidupku

Engkau aku cinta

Dengan segenap rasa di hati

Selalu 'ku mencoba

Menjadi seperti yang engkau minta

Aku tahu engkau sebenarnya tahu

Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu

Kau sembunyikan rasa cintaku

Di balik topeng persahabatanmu yang palsu

Kau jadikan aku kekasih bayangan

Untuk menemani saat kau merasa sepi

Bertahun lamanya kujalani kisah

Cinta sendiri

Mungkin memang benar

Cinta itu tak lagi berharga

Semua percuma

Bila engkau tak punya harta

Aku tahu engkau sebenarnya tahu

Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu

Kau sembunyikan rasa cintaku

Di balik topeng persahabatanmu yang palsu

Kau jadikan aku kekasih bayangan

Untuk menemani saat kau merasa sepi

Bertahun lamanya kujalani kisah

Cinta sendiri

O-ho ....

***

Khanza menyanyikan Reff lagu dengan memejamkan mata seolah merasakan sepenuhnya apa yang tertuang dalam lirik lagu itu.

Arif menatap Khanza dalam, Arif begitu mengerti apa yang coba di sampaikan Khanza dalam lagu itu. Tapi, dia tidak bisa mundur dari Vera maupun Khanza.

Menjalani semuanya seperti air mengalir hanya itu yang bisa di lakukan Arif. Biarlah takdir menjalankan tugasnya.

*Maaf Khilaf...!!!

1
☄dimpi3 🀄š🌕
aku suka faisal 😉
First Time
arif terlalu egois dan kanza terlalu lemah
Dhina ♑
aku lupa belum lanjut, bentar ya thor 🙏🙏
ƓáɓɓřįáÎexxa Ɲáşƴăvą Ȥ.
kek tau gw visualnya😳
tpi lupa namanyaa
Rasyifa Zora Naivira
Zia berteman sama Khanza dan Dea aja!
Rasyifa Zora Naivira
Arif
Arif itu Adalah pemain dari Film 'Chandranandini' UnU
Fix Author nya suka Film India:v
Widia nurasih
lanjut kk smofa kanzs dan aris smpe nikah dn slamanya yahh ... jgn lama2 kk nnty lupa ms critanaya
Dhina ♑
kasihan Khanza
Khanza: 🙏🙏🙏 mkasih kak sudah baca
total 1 replies
Dhina ♑
keren keren
Dhina ♑
ada Sofi disini
Dhina ♑
Arif...kenalan dong
TereLea(♥ω♥ ) ~♪
yuyuyu
Radin Zakiyah Musbich
seru thor... 🌮🌮🌮

ijin promo donk,

jgn lupa mampir di novel dg judul "AMBIVALENSI LOVE"

kisah cinta beda agama 🌮🌮🌮

ditunggu like and comment nya ya 🙏😊
Tya Gunawan
mantaap
Radin Zakiyah Musbich
up up up.... 🎉🎉🎉

ijin promo thor 🍿🍿🍿


jgn lupa mampir di novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE",

kisah cinta beda agama 🍿🍿🍿


jgn lupa tinggalkan like and comment ya 🍿❤️❤️❤️
yuli novelis🕊🕊
Semangat di tunggu ya💪💪
Alif
lama2 males aq sm khanza trll lemah cb author bikin sdikit kuat karakternya gk dikit2 nangis, katanya udah sabuk hitam oalah thoor trseserah author aj deh.. tep smngt thoor.
Alif
males sm karakter kanza mudah terbawa arus g berpendirian.
bella puspita
terimakasih ya sudah mampir
uzaki-chan: apaan ini
total 1 replies
Ay'Fa JHutex
ιн ĸnpa ѕιн ĸнanza d вυaт мυraнan......ngarep вngт d cιυм gιlιran d laвraх ѕaĸιт gιgι....💩💩💩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!