Erlangga Saputra, tampak seperti mahasiswa normal. Namun nyatanya, ia seorang penderita penyakit.
Suatu hari, ia mendapatkan sebuah hadiah ulang tahun berupa perangkat AFDVR yang memungkinkannya untuk menjelajahi dunia virtual. Ia pun memilih untuk menjelajahi Ardanium's Tale Online.
Dengan tujuan menyembuhkan penyakitnya, ia bertualangan di dunia fantasi itu dan mengumpulkan orang-orang berharga baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lutf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bab Pelahap Jiwa - Ruangan Dengan Obor Berapi Ungu
Daging sapi yang telah dipotong kecil berbentuk dadu ia masukan ke rebusan kaldu ayam untuk direbus. Menyusul kemudian jamur kancing yang telah dipotong dua dan beberapa jenis sayuran. Dan yang terakhir, ia memasukan mi basah pipih.
Bumbu yang telah disiapkan terdiri dari bawang putih, bawang bombay, cabai merah, dan cabai rawit merah. Semuanya dihaluskan bersama lalu ditumis. Setelah tumisan bumbu siap, bumbu itu dimasukan ke dalam rebusan.
Setelah masakannya matang, kemudian dimasukan ke dalam mangkuk. Di dalam mangkuk sudah disiapkan kecap asin, garam, dan minyak sayur. Setelah masakan dan bumbunya diaduk rata, ditambahkan taburan bawang goreng dan potongan halus seledri.
"Ah, dagingnya masih kurang empuk. Tapi kalau direbus lagi, minya bisa terlalu lembek. Ya sudah lah, nikmati saja."
Er coba membuat mi jamur pedas dengan resep karangannya sendiri. Ia sebenarnya ingin memakai mi instan yang biasa ia pakai. Tapi karena pekan ini ia telah makan terlalu banyak mi instan, ia pun mengurungkan niatnya itu dan membuat mi jamur pedas versi dirinya sendiri.
"Ah, ini sudah lumayan enak. Kalau dagingnya empuk sempurna, pasti lebih baik lagi dari ini."
Er baru menghabiskan santapannya. Dan kemudian menikmati kopi hitam instan manis yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Hm, ada pesan?"
Er membuka pesan di ponselnya, dan mendapati sebuah pesan dari Esa. Isi pesannya adalah sebuah pertanyaan tentang tugas kuliah. Esa ingin minta bantuan Er karena kesulitan menyelesaikan tugas itu.
"Gawat!!! Aku lupa ada tugas!!!"
Nyatanya, Er belum mengerjakan tugas itu sama sekali, bahkan ia lupa dengan tugas itu. Ia pun melesat ke kamarnya sambil membawa kopi dan beberapa camilan dari dapur.
Beberapa jam berikutnya Er meninggalkan kamarnya. Ia belum menyelesaikan tugasnya, karena ada beberapa bagian yang tak ia pahami. Er memakai jaketnya dan hendak keluar rumah. Sebelum benar-benar pergi, ia pamit pada ibunya yang sedang membaca di ruang keluarga.
"Bu, aku mau keluar dulu. Ibu mau titip sesuatu?"
"Mau ke mana memangnya?"
"Mau ke minimarket, mau cari es krim. Buat mendinginkan kepalaku."
"Ah, begitu, ya? Baiklah, ibu tidak titip apa-apa. Hati-hati di jalan."
"Ya, bu."
Erra pun meninggalkan rumah.
Er hanya perlu berjalan santai selama sepuluh menit untuk sampai ke minimarket tujuannya. Sesampainya di sana ia segera menuju tempat es krim dan mengambil beberapa bungkus es krim.
Minimarket ini adalah salah satu sponsor Ardanium's Tale Online di Nusantara. Jadi ada banyak produk yang berhubungan dengan Ardanium's Tale Online. Seperti game voucher, atau pernak-pernik kecil seperti gantungan kunci dan lain sebagainya.
Di belakang kasir terdapat layar besar yang menampilkan promo produk dari minimarket ini. Tapi belakangan ini, mereka mulai menayangkan acara yang bernama Ardanium's Show. Sebuah acara yang memang khusus membahas tentang Ardanium's Tale Online.
"Jadi, akhirnya Swamp Dragon itu menghilang lagi, ya?"
"Ya, memang disayangkan. Tapi mau bagaimana lagi? Swamp Dragon itu sudah melakukan ini selama beberapa bulan terakhir. Dan masih belum tertangkap juga."
Er melihat perbincangan dua orang di layar. Keduanya melakukan siaran dari dalam dunia Ardanium's Tale Online. Jadi penampilan mereka cukup unik.
Keduanya tengah membahas tentang seekor monster yang wujudnya sangat mirip dengan buaya. Tapi punya total panjang sepuluh meter, sisik hitam legam, dan ada duri-duri di sepanjang punggungnya. Monster ini tergolong jenis naga dan habitat aslinya adalah rawa. Jadi, monster ini dikenal dengan nama Swamp Dragon.
Beberapa bulan lalu terlihat seekor Swamp Dragon jauh dari rawa. Banyak yang mengejarnya, baik pemain atau pun NPC. Tapi, Swamp Dragon itu sangat lihai melarikan diri. Hasilnya, sampai saat ini monster itu belum bisa dihentikan.
Saat melihat wujud dari Swamp Dragon, Er bergumam dalam hati.
"Bukankah itu monster buaya yang membuatku hanyut di sungai? Jadi, ia memang monster yang menyebalkan, ya?"
"Kak, silakan." ucap kasir minimarket.
Er pun menyelesaikan transaksinya di meja kasir dan segera pulang.
......................
Sambil menikmati es krim yang baru dibelinya, Er membaca berita tentang Swamp Dragon. Terutama tentang penyerangan pelabuhan sungai tempo hari yang melibatkan dirinya.
Ternyata, Swamp Dragon itu sempat mengamuk beberapa saat di pelabuhan. Setelah menyantap mereka yang jatuh ke sungai, monster itu naik ke pelabuhan. Kemudian menyerang orang-orang di pelabuhan. Saat ada serangan yang berhasil. melukainya, Swamp Dragon itu pun langsung melarikan diri kembali ke sungai. Dan kemudian menghilang lagi.
"Eh? Kalau begini kondisinya, bukan kah monster itu akan sampai ke tempatku berada sekarang?"
Er berpikir si monster berenang menyusuri sungai itu. Lalu monster itu lama kelamaan akan sampai di tempat avatarnya berada.
Er ingin lang kembali log in ke dunia Ardanium's Tale Online. Tapi masalahnya, ia tidak bisa melakukan itu. Setidaknya sampai satu jam sepuluh menit ke depan.
Sebelumnya Er mati lagi setelah bertarung habis-habisan melawan puluhan minotaur. Lalu kemudian ia dipaksa log out.
Untuk menenangkan diri, Er coba mencari peta sungai tempat dirinya hanyut. Er kemudian menemukan sebuah peta yang diinginkannya di Ardanium's Forum.
"Tunggu dulu, kenapa begini? Ini peta yang benar, kan?"
Er pun segera memeriksa peta itu, dan menemukan sebuah keanehan. Menurut peta tersebut, sungai tempat Er tenggelam berakhir di sebuah daerah delta di dekat pesisir pantai. Dan tak ada cabang sungai yang masuk ke bawah tanah.
Ia pun memeriksa peta tersebut sampai berkali-kali. Ia berusaha memeriksanya dengan lebih teliti setiap waktunya. Tapi hasilnya sama saja, tak ada perubahan.
"Kalau begini, sebenarnya aku sedang ada di mana?"
Er kemudian mencari informasi tentang sungai dan danau bawah tanah di dekat tempatnya tenggelam. Juga informasi tentang sungai dan danau bawah tanah di dekat Furzt Town dan Kelutia City. Dan hasilnya nihil.
"Cih! Kalau begini, satu-satunya cara hanya mencari jalan keluar secepatnya."
Er memeriksa jam, dan mendapati waktu menantinya telah habis. Ia sudah bisa masuk lagi ke dunia Ardanium's Tale Online. Tanpa pikir panjang, Er pun langsung log in.
......................
Erra membuat sebuah api unggun untuk menghangatkan tubuhnya. Saat kesadaran kembali ke tubuh avatarnya, ia berada di dasar danau dengan kakinya yang tersangkut di bebatuan.
Erra segera berusaha naik kr permukaan air, dan untungnya danau itu tak terlalu dalam. Kurang kebih kedalaman danau tersebut hanya sekitar lima sampai tujuh meter saja.
Erra mendapati tubuh avatarnya dalam keadaan kedinginan. Bukan kedinginan biasa, tapi kedinginan yang menyebabkan damage. Ia pun segera membuat api unggun kecil dengan menggunakan kayu dari inventorinya. Kayu-kayu yang sebenarnya untuk bahan membuat aksesori.
Ia juga memeriksa panel menunya dan mendapati sebuah kabar yang luar biasa menyebalkan.
Tampaknya, saat ia jatuh ke sungai bersama minotaur yang menjadi lawan terakhirnya. Tubuh Erra tenggelam ke dasar danau lalu mati. Di saat itu lah kesadarannya dipaksa kembali ke tubuh aslinya, alias dipaksa log out.
Di saat kesadarannya belum kembali ke tubuh avatarnya, tubuh virtual tersebut sudah bangkit kembali dari kematian. Tapi, karena tenggelam di dasar danau, tubuh ini mati lagi. hal ini pun terjadi sampai beberapa kali. Dan menyebabkan Erra turun beberapa level dan kehilangan banyak barang dan uang.
"Aku benar-benar tidak menyangka, semua terus menjadi lebih buruk. Dan aku harus mati berkali-kali dengan cara konyol. Kalau setelah ini aku hanya terus mendapatkan kesialan. Lebih baik aku berhenti saja dari permainan ini."
Api unggun yang Erra buat semakin lama semakin mengecil. Sampai akhirnya padam dengan sendirinya. Sebelum api unggu itu benar-benar padam, Erra berkeliling ke daerah sekitarnya. Ia menemukan sebuah lorong sempit dan pendek yang cukup dalam.
Selain lorong itu, Erra tak menemukan jalan lain. Akhirnya, ia pun coba memasuki lorong tersebut. Erra harus jalan membungkuk untuk melalui lorong itu, karena tinggi lorongnya hanya sekitar satu setengah meter saja.
"Hah!? Yang benar saja!!!"
Setelah berjalan kurang lebih tiga puluh meter, Erra menemui jalan buntu. Ia pun mengumpat beberapa kali karena sangat kesal. Setelah menenangkan diri, Erra memeriksa sekelilingnya. Ia menemukan sebuah celah, dan merasakan ada angin yang berhembus dari sana.
Setelah mencoba, akhirnya Erra berhasil membuka jalan keluar. Ia pun langsung keluar dari celah yang ia buat. Dan kini sedang berada di sebuah lorong besar.
Ada dua arah yang bisa Erra pilih, ke kanan atau ke kiri. Tapi masalahnya, ia ragu untuk memilih. Ia tidak yakin jalan mana yang akan membawanya keluar dari tempat ini.
Sebelum menentukan pilihannya, Erra mencabut pedangnya.
Sebelumnya Erra telah kehabisan pedang, lalu dari mana pedangnya ini?
Saat belum log in kembali, Erra membeli beberapa perlengkapan dari Ardanium's Forum dan dimasukan ke inventorinya.
Setelah beberapa saat berpikir, Erra akhirnya memilih jalan ke kanan. Tak ada dasar apa pun dari keputusannya itu. Semua berdasarkan naluri saja.
Erra tak butuh waktu lama untuk menemukan ujung lorong tersebut. Baru sekitar sepuluh menit berjalan, jalannya sudah berakhir.
Erra mendapati sebuah pintu besi dengan tinggi dua meter dan lebar satu setengah meter. Pintu itu tampak sangat tua dan usang. Erra coba mendorong pintu itu perlahan, dan dikagetkan dengan betapa mudahnya pintu itu terbuka.
Saat Erra memasuki ruangan di balik pintu. Seketika obor-obor dengan api ungu terang menyala, menerangi ruangan bundar ini. Ruangan ini punya diameter sekitar tiga puluh meter, dengan tinggi langit-langit sekitar setengah dari panjang diameternya.
"Selamat datang wahai penantang."
Suara seorang pria yang terdengar berat dan penuh wibawa terdengar tiba-tiba. Erra melihat ke seberang ruangan dan menemukan sumber suara. Di sana berdiri seorang pria yang mengenakan seperangkat zirah pelat baja penuh berwarna hitam pekat. Sambil menggenggam sebilah pedang yang ujungnya tertancap di tanah.
"Apa kedatangan dirimu ini untuk menantangku, wahai penantang tanpa nama? Aku, Reiner von Schwarzerritter, siap menerima tantanganmu."
Pria itu kembali berucap sambil menatap Erra dengan tatapan yang sangat dingin.
Erra menanggapi,
"Hah, apa lagi ini?"
Bersambung...
masa Er gak ngeh juga yak
cuan cuan.. wkwkw
karena karakter avatar nya banyak berubah kali ya makanya dia gak kenal.. terus yg penyanyi dia kenal itu siapa dong?
ambil sub nya Smith biar bisa buat dan repair senjata