NovelToon NovelToon
HIMAWARI

HIMAWARI

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Contest / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:63.3k
Nilai: 5
Nama Author: flowel

Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

15:10 Perpustakaan Sekolah

                Karena terlalu lama menunggu Saka datang Ran sampai ketiduran di meja perpustakaan. Ran yang memang cuek membuat dirinya menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang melihatnya. Beruntung, tidak lama kemudian saat seorang siswi ingin membangunkan Ran sebelum ia ketahuan oleh petugas perpustakaan, Saka datang.

                “Sorry. Biar gue aja yang bangunin.” Kata Saka sembari menepuk pelan bahu siswi itu.

                “Oh, oke.” Sahut siswi itu yang kemudian pergi bersama dengan temannya.

                Saka pun segera duduk di samping Ran sambil menarik pelan kursi agar Ran tidak sampai terbangun. Tangannya yang hampir menyentuh bahu Ran untuk membangunkannya langsung ia tahan begitu ia melihat wajah damai Ran ketika tidur. Niatnya untuk membangunkan Ran malah ia urungkan, dan Saka malah menidurkan kepalanya di atas meja sambil memandangi wajah Ran. Kejadian ini sama seperti saat Ran sakit beberapa waktu yang lalu.

                Saat ini Saka berharap Ran tidak akan mengigaukan nama Ale, tapi juga ia tidak mau berharap Ran akan mengigaukan namanya. Baginya saat ini, bisa melihat Ran seperti ini lagi dalam keadaan tenang sudah cukup membuatnya merasa lega.

                “Kenapa kamu ngga bangunin aku? Malah ikutan tidur di atas meja.” Kata Ran yang tiba-tiba saja membuka matanya, dan mengagetkan Saka.

                “HAH!?” Dengan cepat Saka langsung mengangkat kepalanya.

Tapi sebaliknya, Ran justru dengan santainya mengangkat perlahan kepalanya sambil tersenyum menggodai Saka yang wajahnya memerah.

                “Jangan tatap wajah aku kayak gitu.” Kata Saka tegang.

                “Kenapa?”

                “Pokoknya jangan.” Jawabnya sembari membuang mukanya ke samping.

                Ran tidak menyangka kalau Saka bisa punya rasa malu seperti ini, dan ia tidak bisa menahan tawanya lagi.

                “Hahahaa” Ran melepas tawanya sambil menutup rapat mulutnya agar tawanya tidak sampai terdengar oleh orang lain.

16:05 Ruang Klub Menggambar

                Di waktu yang bersamaan, Ran dan Saka berada di klub yang berbeda. Ran berada di klub menggambar sedangkan Saka berada di klub basket.

                Saat ini Ran sedang berusaha membuat sebuah gambar mural di selembar kertas putih. Gambar itu akan ia jadikan sebagai pengajuannya untuk melukis mural dalam menyambut acara festival sekolah.

                Demmy berkeliling melihat satu per satu gambar setiap anggota klub menggambar, dan langkahnya berhenti saat pandangan matanya meluncur ke arah gambar yang sedang Ran buat.

                “Anak ini emang punya bakat.” Gumam Demmy di dalam hatinya.

***

                “Ran” Panggil Demmy seraya berjalan menghampiri Ran yang sedang merapihkan alat-alat gambarnya.

                “Ya kak?”

                “Sejak kapan kamu suka menggambar?”

                “SD”

                “Kelas?”

                “Mulai seringnya sih waktu saya kelas 3 SD.”

                “Kamu pernah les melukis?”

                “Pernah. Tapi lebih tepatnya cuma sampe tahap mewarnai aja. Itu juga ngga terlalu saya tekuni. Saya hobi baca komik. Itu sih awalnya saya jadi suka menggambar.” Kata Ran membisik pelan di dua kalimat terakhirnya.

                “Ohh”

17:20

                “SAKAAAA” Ran melambaikan tinggi tangan kanannya begitu melihat Saka yang baru selesai berlatih basket.

                Melihat keceriaan yang terpancar dari wajah Ran, Saka pun bergegas menghampiri Ran yang sedang menunggunya di bawah pohon rindang.

                “Kamu udah selesai dari tadi?”

                Ran mengangguk.

                “Nunggu aku lama donk?”

                “Ngga apa-apa.”

                Saka jadi ingin tahu apa yang membuat Ran terlihat seceria ini. “Kamu abis menang jackpot ya?” Tebaknya asal.

                “Ihhh sok tau.”

                “Terus apa yang buat kamu hepi?”

                Untuk sekarang tidak ada alasan lain yang membuat Ran merasa bahagia selain bisa bersama Saka disaat ia menginginkannya.

                “Kamu.” Jawabnya dengan senyum menggoda.

                “Aku ngga percaya.”

                “Terserah.” Sahutnya seraya berjalan meninggalkan Saka.

                “Himawari, kasih tau aku donk apa yang buat kamu hepi. Aku penasaran banget nih.” Desaknya merengek seperti anak kecil sambil mengikuti Ran dari belakang.

                “Emang itu alasannya Sakaaaa.”

                Meskipun masih setengah percaya, tapi alasan Ran itu membuat kedua pipi Saka kembali memerah.

                “Himawari, tunggu!” Panggilnya sambil berlari mengejar Ran.

                “Ngga mau.” Sahutnya meledek.

                “Himawari hari sabtu besok kita jalan-jalan ke Dufan yuk.” Ajaknya sambil merangkul bahu Ran tanpa sengaja.

                DEG!

                Tubuh Ran langsung mematung. Dengan sangat rapih kedua kaki Ran langsung berhenti merapat. Rangkulan Saka membuat jantungnya berdebar hebat, dan kedua matanya secara reflek berputar 30 derajat

ke samping ke arah tangan Saka yang masih merangkul bahunya. Namun tidak sampai hitungan 5 detik Saka pun langsung menyadarinya. Saat itu juga Saka segera menjauhkan tangannya dari bahu Ran begitu juga dengan badannya.

                “Maaf Himawari, aku benar-benar ngga sengaja.” Kata Saka merasa bersalah, karena sudah melanggar janjinya untuk tidak bersentuhan dengan Ran.

                Melihat ekspresi wajah Saka seperti itu Ran tidak bisa berkata apa-apa selain diam dengan raut datar.

***

21:00 Rumah Susun

                Setelah makan malam, Ran langsung masuk ke dalam kamarnya. Ran bukanlah orang yang pintar menyembunyikan keresahannya di depan Ale. Jadi Ale tahu kalau Ran sedang merasa tidak nyaman saat ini.

                30 menit memandangi kamar Ran dan membuat Ale tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan kantornya. Laptop yang sudah dibuka dari satu jam lalu akhirnya teranggur begitu saja dengan layar meredup.

                “Apa aku tanya aja ya?” Ale semakin penasaran. Jari-jari tangannya menari tak menentu di atas kedua

lututnya.

                Cklek.

                Akhirnya Ran membuka pintu kamarnya dan Ale hampir berdiri karena kaget. Tapi ia langsung kembali duduk sambil pura-pura mengerjakan pekerjaannya di laptop.

                “Bang Ale” Panggil Ran sambil berdiri di depan pintu kamarnya.

                “Ada apa?” Tanya Ale pura-pura acuh.

                “Aku mau ke rumah Bunda.”

                “Ya. Besok pulang sekolah Abang anterin ke rumah Bunda.”

                “Malam ini.”

                Barulah Ale mengangkat wajahnya begitu Ran memintanya untuk mengantar ke rumah Bundanya malam ini.

                Sebelum menolaknya, Ale melihat ke arah jam dinding lebih dulu. “Ini kan udah malam Ran, besok kamu sekolah.”

                “Tapi aku maunya malam ini.” Rengeknya.

                “Emangnya kenapa harus malam ini?”

                “Bang Ale ngga perlu tau alasannya kenapa. Kalo aku bilang malam ini ya malam ini.” Jawab Ran dengan

nada tinggi.

                Ale masih bisa menahan kesabarannya menghadapi mood Ran yang sedang moody.

                “Ran, Ran lagi ada masalah?” Tanya Ale, lembut.

                “Banyak.”

                “Coba kasih tau Abang masalah Ran apa? Siapa tau Abang bisa bantu.”

                “Masalah aku itu Abang.”

                “HHHHH” Ale mendesah berat. Alasan dan jawaban yang lagi-lagi tentang perasaan.

                “Ran, apa kamu ngga bisa buat hidup kamu simple dengan cara ngga berurusan terus-menerus tentang

perasaan?! Abang ngga masalah kalo kamu pacaran sama Saka. Abang ngga masalah kalo Ran masih belum bisa mencintai Abang. Abang juga ngga masalah apa yang Ran mau lakukan di usia Ran sekarang. Tapi Abang juga minta Ran berhenti menyalahkan Abang terus-menerus. Hati Abang bukan terbuat dari batu yang kuat, jadi Abang

minta tolong Ran berhenti kecewa dengan keadaan.” Kesabaran Ale pada akhirnya mulai melemah. Ia sadar akan artinya cinta.

                Pertemuan yang intens, obrolan yang tak terputus, pengorbanan yang maksimal, cinta yang sudah terkunci. Semuanya tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk mendapatkan balasan yang sama, dan malam ini Ale merasa kecewa dengan Ran.

                “Kalo Bang Ale ngga bisa anterin aku ke rumah Bunda, aku ke rumah Bunda sendiri.” Kata Ran dengan suara lirih dan mata berkaca memerah.

                Ale lemah selemah-lemahnya mendengar kalimat Ran. Bukan kalimat itu yang Ale inginkan dari semua ungkapan perasaannya yang tertahan selama ini pada gadis di depannya. Ale berharap Ran akan berjalan menghampirinya dan memeluknya. Lalu Ran mengatakan beberapa kalimat yang akan menenangkan hatinya saat ini. Ternyata semua hal itu tidak ada satu pun yang Ran lakukan padanya.

                Ran justru masuk ke dalam kamarnya kembali, lalu tak berapa lama kemudian Ran keluar dengan tas yang sudah ada di punggungnya.

                “Bang Ale” Ran mengulurkan tangannya ke arah Ale untuk pamit.

                Ale mengangkat dengan lemah tangannya untuk meraih tangan Ran.

                “Ayo Abang anterin ke rumah Bunda.” Kata Ale yang pada akhirnya harus kembali mengalah.

                Lalu, apa maksud dari semua ucapan Ran saat di taman 400 meter beberapa hari yang lalu? Dimana Ran terus menyalahkan dirinya karena tidak pernah bisa mengerti dengan perasaan Ale?

***

1
penulis_dee
assalamualaikum kakak , aku sangat suka cerita ini tolong buat season 2 nya kak, aku sgt sgt menyukai karya Kakak aku selalu membaca nya berulang-ulang
Dani Fitriani
lah udah tamat ajja...
gk ad kelanjutanya kah....??
Ilan Irliana
yeeaaayyyy....alle ran...love U pkk'y mh...
flowel
Sampai disini kisah Ale dan Ran. Himawari sudah tamat. Terimakasih ya utk support kalian 😉
isah
masih lanjut kan Thor kisah Ale sama Ran?...apakah udah tamat?...
arafah firdauz
ini belum tamat khan thoor???
Dani Fitriani
heemmm dasar bocah
Dani Fitriani
waktu berjalan
arafah firdauz
aku slalu mninggu crta slanjut nya...
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
isah
yang ditunggu tunggu akhirnya up...makasih othor...makin seru makin penasaran ceritanya...lanjut💪
arafah firdauz
makasih thor dah up
flowel
maaf yaa kalo up nya lama. author lagi super sibuk hehee
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
arafah firdauz
tumben lama banget up nya
arafah firdauz
kayanya bunda /mamah deh yg datang...

atau juga aluna????

thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
isah
siapa ya tamunya🤔...next
arafah firdauz
ganteng ga thor??? 😄
kalem ga ??
arafah firdauz
kaya nonton drakor...
aku suka bngt...
arafah firdauz
kayanya bang ale sengaja nyuruh ran sama saka jalan, supaya ran bisa ngrasain masa2 remajanya.

iya kan thor??

uuh makin sayang bgt sama bang ale
flowel: ahh jadi pengen post foto bang Ale yg asli nih di novel 🤭
total 1 replies
naira
cmn ini...
lnjut dong thor
Dani Fitriani
enak diliat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!