NovelToon NovelToon
Jas Merah

Jas Merah

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / TimeTravel / Contest / Romansa Istana / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Gerimis Senja

Stop plagiat!!
Dan ini karya prematur, jadi jangan bandingin sama Kun.. Ini genre romance bukan detektif, jadi jangan nyari teka-teki di sini. Kalau mau mecahin teka-teki, belilah buku teka teki silang 😗
.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) -Ir. Soekarno.. atau maksudku, jangan sekali-kali merubah sejarah...
Aku seorang gadis bernama Ayu yang benar-benar mencintai sejarah romantis tentang Raja Anggara namun aku malah begitu membenci ratu yang bersamanya.
Dia pengkhianat dan tak pantas untuk raja.
Ya, itu yang sebelumnya selalu ku katakan, sebelum aku terdampar pada masa-masa berdirinya kerajaan yang di pimpin oleh Raja Anggara..
Ternyata... ini yang sebenarnya terjadi..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembuat Onar

*Agam POV

Aku dan Kun berjalan menuju ke salah satu kedai di dekat rumah kakek Didi. Bahan makanan apa yang bisa ku beli sementara keping emas kami masih sisa sedikit, dan beberapanya hanyalah keping perak saja.

Aku menjangkau uang di saku celanaku dan mengambil sekantong kain dari dalam sana. Ku buka serutan talinya dan ku hitung keping emas yang berada di dalam sana.

Masih sisa dua. Setidaknya ini masih cukup untuk satu Minggu.

Kun nampak menatapku ketika aku melakukan hal tersebut. Ia menatap heran namun aku hanya tersenyum kepadanya.

"Uang kita kurang, Gam?" Tanyanya, parau.

"Masih cukup untuk seminggu kok. Tenang aja." Ujarku. "Tapi.. kayaknya kita harus kerja deh." Lanjutku hingga membuat Kun mengerjap.

"Kerja?? Kerja apa??" Ia mulai berbicara sendiri sambil mengernyitkan dahi. "Hmm.. Hmm.. Hmmm..." Gumamnya tak jelas. Aku tahu ia sedang berusaha berpikir, tapi suara gumamannya itu menggangguku. Mana pakai lagu Nissa Sabyan lagi.

"Kita kan ganteng, apa jual diri?" Tukasnya tiba-tiba, namun itu tak membuatku terkejut. Aku sudah menduga kalimat gila itu akan keluar dari mulutnya.

Aku langsung mematut dan menatap matanya dengan tajam. "Kun?!" Sapaku.

"Hn?"

"Kayaknya gue udah lama gak ngegebuk kuntilanak pakai Asma Allah." Ujarku sambil menyeringai, namun ia hanya menimpalinya dengan tertawaan, meski wajahnya terlihat ketakutan.

"Saya kan bercanda. Mana mau juga saya jual diri. Tapi kalau bisa di tukar dengan berhektar-hektar kebun melati sih, tak a-" Ia lantas bungkam ketika aku menilik tajam ke arahnya. Di alihkannya pandangan pada salah satu kadal padang pasir yang melewati kami. "Hai kadal, ekormu ketinggalan satu tuh!!" Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Lagi pula, sejak kapan ekor kadal ada dua??

Sesampainya di salah satu kedai yang sepertinya menjual bahan makanan lengkap, aku dan Kun membeli sekarung beras, berbagai macam bumbu dapur dan juga sayuran serta sedikit daging untuk sekali masak.

Setidaknya beras ini bisa kami makan bertiga selama seminggu, bumbu dapurnya juga. Sisa satu keping emasnya bisa ku gunakan untuk membeli lauk seperti ikan, ayam, daging, atau sayuran.

Berbeda dengan desa pesisir, di sini jarak pantainya cukup jauh. Tak ada hutan hingga tak dapat mencari bahan makanan, tak ada sungai juga untuk memancing ikan. Jadi semuanya harus di beli pakai uang. Maksudku, keping emas.

Ternyata kerjaan ibu rumah tangga sangat merepotkan. Kasihan Ibu. Kerja sambil memikirkan hal seperti ini. Kalau aku punya istri, aku akan membantunya dan tak mau menyusahkannya sendiri.

"Sudah semua?" Tanya si penjual dan aku hanya mengangguk. "Semuanya satu keping emas." Pintanya. Aku pun memberikan uang pada zaman ini pada si penjual.

"Mm, maaf.." Aku mulai bergumam ketika menerima belanjaan kami.

Penjual tersebut menoleh ke arahku. "Ada apa? Apa ada yang mau di beli lagi?"

"Ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya.. Apa ada pekerjaan yang bisa ku lakukan di sini?" Tanyaku, namun wanita penjual itu hanya memandangiku lekat-lekat.

"Kau tampan, jual saja dirimu jadi budak dan tuanmu akan menyayangimu. Aku yakin kau tak akan di perbudak, namun akan di rawat." Ujarnya. Terus terang saja itu membuatku tersinggung, apalagi Kun malah memandangiku dengan senyuman anehnya.

"Benar kan kata saya." Ujarnya.

"Tidak terimakasih." Sahutku seraya berbalik dan meninggalkan penjual tersebut. Kun mengikutiku sambil membantu membawa beberapa belanjaan yang tidak berat.

"Kamu tersinggung??" Tanyanya, namun diam dan ekspresiku ini sudah membuktikan kalau aku memang tersinggung.

"Zaman ini memang masih di berlakukannya perbudakan. Gak ada hak asasi manusia." Ucapku.

"Apakah itu merugikanmu? Budak kan di pelihara."

"Kita bukan hewan, Kun. Kita manusia. Dan lagi, tuan yang memiliki budak, bebas melakukan apa saja pada budaknya, termasuk mencampuri budak. Elu mau di grepe-grepe tuan lu? Iya kalau dia cewek, kalau dia cowok yang punya kelainan se*sual, bagaimana?" Kun langsung bergidik, padahal aku hanya memberikan perumpamaan terburuk saja.

"Hiiii.." Ia menggeliatkan tubuhnya. "Habis ini kita memasak apa?" Ia malah melupakan perkataanku tadi dengan cepat. Karena makanan memang berada dalam peringkat pertama dalam tahta kehidupannya.

"Tumis sayur dengan daging iris." Sahutku.

"Yeeeeey!!! Nyammiiii!!" Ia malah berteriak senang, membuat beberapa orang yang melewati kami menoleh heran.

"Berisik tau!!" Keluhku sambil menendang bok*ngnya.

"Heh!! Itu pecel lele tahu!!" Balasnya membentak. Apa maksudnya pelecehan??

Aku hanya tertawa untuk merespon kemarahannya. Ketika kami melewati salah satu kedai sebelum sampai ke rumah kakek Didi, aku tak sengaja menatap rumah milik Bi Puput.

Bagaimana kabarnya?? Apakah dia masih sakit? Dan apakah anaknya sudah menjenguknya atau belum hari ini??

"Tumis daging, tumis daging, tumis daging.." Gumam Kun sambil menyeka liur yang hampir menetes di sela bibirnya.

"Kun, kita mampir ke situ sebentar." Ujarku, membuatnya seketika berhenti bergumam.

"Eh? Mau beli cilok?" Tanyanya polos.

"Mata lu gue colok mau gak?! Makanan terus yang dipikirin!! Gue mau jenguk bibi!!" Keluhku hingga membuat Kun bersungut-sungut di belakangku.

"Tanya saja tidak boleh. Apalagi pinjam uang!" Gerutunya.

Sesampainya di depan kedai, bi Puput dengan cepat segera menyadari kehadiran kami. Ia yang sedang melayani tamu segera melambaikan tangannya ke arah kami.

Aku memperhatikannya dari jauh, sambil berjalan menghampirinya. "Bagaimana kabar bibi?" Tanyaku sambil meletakkan barang belanjaan di meja bagian bawah.

"Sangat baik. Resep obat dari Ayu benar-benar manjur." Ucapnya, nampak begitu senang.

"Alhamdulillah kalau begitu." Sahutku sembari tersenyum.

"Bi, pesan teh satu lagi!!"

"Satenya dua puluh tusuk lagi!!"

"Bi, kopinya lima cangkir, dua dengan gula, dua tanpa gula, dan satunya sangat manis."

"Oh!! Ya!! Baik!! Tunggu sebentar!!" Ucap si bibi, nampak begitu kewalahan. Kini pandangannya terarah pada aku dan Kun. "Maaf, bibi mengabaikan kalian dulu. Banyak sekali pesanan setiap harinya. Bibi jadi kewalahan sekali." Ucapnya sembari mulai membuatkan banyak pesanan tadi.

Pantas saja dia sakit kepala, setiap hari dia menghadapi banyak orang dengan berbagai pesanan yang berbeda.

Tanpa diminta, aku bergegas masuk ke dapur dan ikut membantunya. Aku membuatkan beberapa pesanan yang di minta, dan Kun yang mengantarkan pesanan tersebut kepada pelanggan. Bibi nampak tersenyum meski tak mengatakan apa-apa.

Entah memang ramai atau bagaimana, sedari tadi kami kedatangan banyak tamu wanita dan perempuan muda. Mereka sampai rela berdesakkan seperti itu.

Dan ketika hampir memasuki pukul sepuluh berdasarkan perkiraan ku -Di sini belum ada jam- tamu sedikit demi sedikit mulai berkurang dan memasuki jumlah wajar. Setidaknya kami bisa beristirahat sekarang.

Aku dan Kun terduduk lemas di sudut dapur. Sementara bibi menyodorkan kami minuman dan sate cilok.

"Wah!!" Kun melahapnya tanpa malu, sementara aku masih mengipasi tubuhku yang kepanasan dengan tutup panci.

"Terimakasih, bi." Ujarku.

"Bibi yang berterimakasih. Bahkan kalian membantu tanpa di minta." Ia mulai duduk di dekat kami.

"Pantas saja bibi sakit, bibi terlalu kelelahan seorang diri menjamu banyak pelanggan begitu."

Ia hanya tersenyum mendengar perkataanku. "Hari ini lebih banyak dari biasanya, dan lagi kebanyakan dari mereka adalah kaum wanita. Sepertinya kalian memanggil banyak pelanggan ke toko ku." Ia terbahak usai mengatakannya. "Apa kalian tak bekerja? Atau bagaimana?"

Aku menggeleng. "Tak punya." Singkatku.

"Wah!! Kalau tak keberatan, maukah kalian bekerja di sini? Bibi akan membayar upah yang sesuai." Aku langsung terkesiap, dan sedikit duduk tegap saking senangnya.

"Boleh?" Tanyaku.

"Tentu saja!!" Lanjutnya sambil tersenyum dengan wajah cerah. "Ngomong-ngomong, kalian belanja banyak itu untuk apa?"

Aku dan Kun langsung tersentak sambil saling pandang ketika melihat belanjaan kami. "Aku melupakan kakek!!" Desahku sembari beranjak dan mengambil bahan makanan tersebut.

"Biarkan saja dia mati kelaparan! Bukan salahmu kok! Dia itu pelit!" Ujar Kun sinis hingga membuat Bi Puput tertawa.

"Bantuin kali'!!" Keluh ku sambil menatapnya. "Bi, kami pamit sebentar untuk masak. Nanti kami kembali lagi untuk bekerja." Sambungku sebelum meninggalkan kedainya.

"Jangan terburu-buru!!" Singkatnya.

Aku dan Kun segera keluar kedai. Kakek pasti sangat kelaparan sekarang. Aku berpamitan pagi tadi dan sekarang aku ngaret sampai beberapa jam.

Kun memperhatikanku yang berjalan tergopoh. "Santai saja, dia tak akan mati hanya karena kelaparan. Memangnya ada orang yang mati karena berpuasa?"

"Enggak sih. Cuma gue kasian aja. Kakek kan udah baik banget mau numpangin kita, masak kita ngebiarin dia kelaparan." Ucapku, membuat Kun mendecakkan lidah.

"Baik?" Kun mengulangi perkataanku dengan nada mencemooh, membuatku sedikit melirik kepadanya. "Tak terlalu baik juga." Balasnya singkat, membuatku mengernyitkan dahi.

"Lu tau sesuatu? Atau lu denger sesuatu?" Terkaku, membuat Kun menghela napas panjang.

"Pokoknya kita jangan percaya dia." Tambahnya, sambil berjalan mendahuluiku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Kun.

Memangnya dia pikir aku bisa dengan mudahnya mempercayai seseorang?? Aku hanya sedang bermain, dan mengikuti alur permainan sang dalang.

Tapi terimakasih Kun, setidaknya.. perkataanmu ini membenarkan dugaanku.. Kalau kakek itu, memang melakukan hal yang ku perkirakan.

Kakek.. maaf saja, sepertinya kau salah memilih lawan.

*Agam POV End

.......

.......

.......

.......

*Kejadian sebelumnya, selepas subuh..

*Author POV

Ayu berjalan terhuyung dengan mata yang sangat berat. Ia merasa begitu mengantuk. Kemarin dia harus bolak-balik desa pesisir dan balai kota beberapa kali, dan tadi ia terlalu bersemangat membaca buku medis hingga memaksakan diri untuk begadang.

Baru saja ia hendak menutup mata tapi si pengawal malah mengganggu dengan membangunkannya dari tidur.

"Apa salahnya sih tidur di perpustakaan?" Gerutunya dalam hati.

Sembari terus mengomel, Ayu mulai memandangi tiap gedung yang berbentuk serupa.

"Kalau tidak salah, dari perpustakaan, aku hanya perlu berjalan lurus." Gumamnya seorang diri.

"Kalau sudah menemukan empat pilar dari selasar gedung, aku tinggal belok ke kiri kan??"

"Untung saja ingatanku bagus. Sepertinya mulai dari sekarang, Kun harus mengakui kepintaran ku. Aku juga tak kalah pintar kok dari Agam. Aku belajar banyak darinya, dan sepertinya.. IQ ku sekarang menyamai mereka berdua." Ocehnya terus-menerus. Sedang melantur memang.

Sambil berjalan, pelupuk matanya nampak menutup beberapa kali. "Kalau aku tidur di pinggiran gedung, apakah akan terlihat aneh?? Aku tak tahan lagi menahan tubuhku yang menjadi berat karena terlalu ngantuk. Habis ini belok kiri kan?" Gumamnya seperti orang yang mengigau sambil berjalan.

Gadis itu mulai berbelok dan mencari sebuah pintu, di mana para tabib senior menyambutnya. Dan tak perlu menunggu waktu yang lama, ia telah menemukan pintu kamarnya di depan sana.

Ia tak mengunci pintunya, karena ia merasa, kalau tak ada yang akan mencuri di istana ini? Kalau pun mereka ingin mencuri, ia merasa tak punya banyak harta berharga untuk di ambil. Jadi sia-sia saja.

Treeek...

Ayu mulai menarik dan membuka gagang pintu. Ia memeluk buku aneh yang sempat di bawanya dari perpustakaan dan ia mulai duduk di ujung tempat tidur.

Selepas menguap dan merenggangkan tubuh, Ayu mulai berbaring dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.

"Akhirnya!! Aku kembali ke kasur yang hangat dan bisa melepaskan penatku di tempat tidur ini." Gumamnya sambil menutup mata dan terlelap dengan penuh kedamaian.

.........

Langit yang gelap perlahan memunculkan mataharinya. Cahaya matahari mulai memasuki sebuah gedung melalui celah-celah jeruji dari jendela kamar.

Raka mengernyitkan kedua matanya dengan sangat, tatkala sinar matahari menusuk pandangan matanya meski ia tidur dengan menutupi selimut dari kepala sampai ke kakinya. Ia masih sangat mengantuk usai berlatih begitu keras kemarin. Hari ini mereka libur latihan, jadi bisa bangun lebih siang.

Ia yang awalnya tidur dengan posisi terlentang mulai membuka selimutnya. Selama di istana, ia selalu melepaskan baju atasnya setiap ingin tidur.

Ia yang terbiasa tinggal di rumah yang di kelilingi pepohonan merasa kalau istana ini sangatlah panas hingga membuatnya kesulitan tidur jika tak melepaskan baju.

Meski sudah bangun, namun lelaki tersebut masih memejamkan matanya. Ia berbaring menyamping sambil menghela napas panjang beberapa kali, merasakan ngilu-ngilu pada seluruh tubuhnya.

Namun ada hal aneh yang ia rasakan. Sejak kapan bantalnya terasa begitu lembut??? Dan lagi, ada hembusan dingin yang mengarah tepat diantara leher dan dadanya.

Karena penasaran, Raka mulai membuka matanya. Namun apa yang ia lihat?? Ia benar-benar terperanjat kaget hingga kedua matanya terbelalak, tatkala melihat seorang perempuan telah berbaring penuh kedamaian di dalam pelukannya.

Ia mengerjap. Merasa kalau ini hanyalah mimpi. Tak mungkin kan, kalau tiba-tiba saja ada orang yang muncul di hadapannya dan tidur bersamanya?

Tapi... Ia merasa kalau ini terlalu nyata.

Dengan berhati-hati, Raka mengusap wajah wanita tersebut. Setelah kulit tangannya bersentuhan dengan wajah lembut sang wanita, barulah Raka tersentak dan terkesiap kaget.

Ia beranjak cepat dan terduduk dari posisi tidurannya. Wajahnya memerah dan suhu tubuhnya memanas seketika. Jantungnya bukan lagi berdetak, kini malah menggelegar.

Ia menggeleng tak percaya dan menatap kedua tangannya sendiri. Ia memeluk dan menyentuh gadis itu barusan.

"A.. Ayu?" Keluhnya tak percaya.

Gerakkan mendadak darinya membuat gadis itu tersentak dan membuka matanya. Awalnya perempuan itu hanya menatap datar, beradu pandang dengan lelaki di dekatnya. Ia kembali memejamkan matanya. Namun, lima detik kemudian, ia seolah baru menyadari apa yang ia lihat.

Ia kembali membuka matanya, kali ini dengan mata yang melotot dan terbelalak. Ia tersentak dan ikut bangkit dari posisi berbaringnya.

Ia menatap Raka yang tak mengenakan baju dengan seksama. Pandangan mereka sama-sama kacau dan kaget. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri.

Setelah Ayu mencoba untuk menyadarkan diri, barulah ia terkesiap dan menjerit sejadi-jadinya.

"Gyaaaaah!! Pelecehan s*ksual!!!" Pekiknya nyaring, membuat Raka terkejut. Seolah tak menyangka kalau Ayu akan menjerit sekeras itu. Raka lantas membungkam mulut Ayu dengan tangan besarnya.

Tiga orang yang berada satu kamar dengan Raka lantas terbangun, membuat Raka terkesiap dan kebingungan.

Apa yang harus ia lakukan?? Bagaimana kalau orang-orang di istana salah paham, dan menyangka kalau ia telah melakukan hal tak senon*h pada seorang wanita di kamar istana??

"Ga... Gawat!!" Keluh Raka, sembari menatap teman-temannya yang hendak beranjak.

"Apa.. yang harus ku lakukan?"

.......

.......

.......

.......

...Bersambung......

1
Ryan Alkhumaira
udah sering ngulang kisah ini,tetap saja terharu bacanya..
Ryan Alkhumaira
iyalah pedas mulutnya,ponakan Kun gitu loh
Ryan Alkhumaira
ga pa2 duda,asalkan temannya agam
Ryan Alkhumaira
bener tuh gam,gimana dengan kami kunations?ga ditembak juga?😆
myPuspa
oh ternyataaa
myPuspa
💚
Rofik Aulian
ngambil darah Raka untuk kebangkitan ludira
Rofik Aulian
untung Raka mengikuti
Rofik Aulian
keknya Raka anaknya dah
Rofik Aulian
waaah sudah tau kalo mereka bersama tira
Rofik Aulian
aku sampe lupa siapa dara saking lamanya terakhir baca kun
Rofik Aulian
siapa anda ini
Rofik Aulian
hayo siapa
Rofik Aulian
kebetulan atau tidak yg diincar raja adalah wanita raka
Rofik Aulian
apakah tira adalah raja
Rofik Aulian
ludira
Rofik Aulian
dab setelah ini ayu jadi jembatan perselingkuhan mereka
Rofik Aulian
gila
Rofik Aulian
paku yg akan membunuh raka
Rofik Aulian
koq bisa punya belati?
dan belati itu yg akan menikam ayu sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!