Sequel Menikahi Sopir Kaya
Namanya Cantika, tetapi tak seperti penampilannya yang jauh dari kata cantik.
Keseharian Cantika bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga yang memiliki dua orang Tuan Muda, yaitu Mr. Culun dan Mr. Perfect.
Akankah di masa depan Cantika mengalami keberuntungan yang tak pernah ia mimpikan sebelumnya? Atau kehidupannya tak akan pernah lepas dari hinaan orang-orang kepada dirinya yang jelek, miskin dan culun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Sukendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Kembali Ke Pulau Cinta
Luna dan Cantika berpisah ketika keduanya telah tiba di tempat tujuan mereka.
"Cantika, aku akan menemui mu lain waktu, jangan katakan kepada siapapun tentang pertemanan kita! Sampai jumpa!"
"Sampai jumpa, Nona!" Balas Cantika.
Luna berlari kedalam rumah untuk menemui Aidan, salah satu pelayanan yang ia temui memberitahu Luna bahwa Aidan dan Thoriq saat ini sedang berada di ruang kerja milik Aidan.
"Luna! Kemana saja kau? Kenapa ponselmu susah sekali di hubungi?" Aidan bertanya sesaat kedatangan Luna.
"Maafkan aku! Aku pergi berolahraga pagi-pagi sekali dan melupakan ponsel milik ku. Apa berita tentang kematian Tamara itu benar?"
Thoriq tersenyum tipis, "Lihatlah, Mr. Culun bersikap seperti seorang suami posesif saja terhadap mu, Luna." Ejek Thoriq.
Aidan tak menghiraukan ejekan Thoriq dan kembali bertanya kepada Luna, "Apa dalam perjalanan mu tadi, kau melihat para wartawan itu?"
Luna mengangguk pelan, "Ya! Mereka menunggu di ujung jalan. Aku melihat ada sekitar lima media besar yang saat ini sedang menunggu kemunculan Mr. Perfect." Jelas Luna.
"Kak Aidan, Kira-kira kejadian apa yang paling tepat untuk pengalihan issue terkait kematian Tamara?" Tanya Luna kemudian.
Aidan lantas memikirkan langkah yang akan mereka ambil. Bagaimanapun kematian Tamara tidak boleh di kaitkan dengan Thoriq.
"Aku memiliki ide bagus, tetapi itu pun jika Mr. Perfect bersedia melakukannya."
"Ide apa?" Thoriq menimpali.
"Luna, bisa kau meminta pelayan di luar untuk memanggilkan pelayan paling jelek di rumah ini?"
"Pelayan paling jelek? Maksud mu Cantika?"
"Cantika? Aku bilang pelayan paling jelek, kenapa kau malah menyebut nama Cantika? Tidak mungkin nama pelayan jelek itu Cantika."
Thoriq tertawa lantang, "Hahaha, Luna benar! Nama pelayan jelek itu Cantika. Aku pikir, karena kau juga jelek, kau tidak akan kaget seperti itu mendengar namanya."
Aidan tersenyum canggung, "Baiklah! Cantika atau Buruk rupa, siapapun namanya, aku ingin kau membawanya kemari, Luna!"
Luna mengangguk menerima perintah dari Aidan, meskipun hati Luna bertanya-tanya, apa yang akan mereka lakukan kepada Cantika yang baru saja resmi menjadi temannya itu.
.
.
.
.
.
.
Cantika bergegas ke rumah utama ketika salah satu temannya memberikan tahu bahwa Luna ingin Cantika menemuinya. Meskipun obrolan mereka di taman tadi cukup singkat, tetapi Cantika percaya, bahwa Luna benar-benar tulus ingin berteman dengannya.
"Nona, Anda memanggil saya?" Sapa Cantika ketika bertemu dengan Luna.
"Bukan aku Cantika! Mr. Culun yang meminta ku membawa mu menemuinya."
"Mr. Culun? Tapi ada apa Nona? Apa saya telah melakukan kesalahan?" Cantika merasa jantung nya berdegup lebih cepat ketika mengetahui Aidan lah yang mencarinya.
Luna menggeleng pelan, "Aku juga tidak tahu! Lebih baik kita temui saja mereka." Luna menarik tangan Cantika tetapi Cantika menahannya, "Mereka? Maksud Nona.."
Luna mengangguk, "Ya, Mr. Culun dan Mr. Perfect saat ini ada di ruang kerja dan sedang menunggu kedatangan mu."
Tubuh Cantika bergetar, ia ingat betul kejadian tadi pagi ketika mendengar rencana mereka akan membunuh nya untuk menarik perhatian para media.
"Nona... saya..."
"Ayolah Cantika! Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama! Kau tidak perlu khawatir, aku akan berada di tempat itu bersama mu!" Luna menduga Cantika tidak nyaman karena ia harus berada di antara dua laki-laki di sebuah ruangan. Untuk itu, Luna berjanji akan menemaninya.
Dengan langkah berat Cantika mengikuti Luna menuju ruang kerja dimana Aidan dan Thoriq sedang menunggu mereka. Mulut Cantika komat-kamit sambil berdoa agar Tuhan masih melindungi nyawanya yang ia rasa sedang dalam bahaya.
Lindungi aku Tuhan...!!!
***
"Jadi, kapan kita akan ke pulau Cinta, Sayang?" Inara betanya tampak tidak sabar mengunjungi tempat yang menjadi sejarah pertemuan mereka.
"Aku tidak bisa meninggalkan Tuan dan Nona dan pergi berdua bersama mu ketempat itu, Inara."
"Ayo, Aku sudah siap! Inara, bukankah hari ini kalian akan pergi ke Pulau Cinta? Kebetulan aku juga ingin kesana. Sayang, ayo kita kesana!" Mentari yang baru muncul di tengah-tengah mereka mendengar Inara tengah merengek minta pergi ke Pulau Cinta akhirnya membantu Inara dengan mengatakan dirinya pun ingin pergi ke tempat itu.
"Tapi Nona, ada baiknya Anda dan Tuan tetap di rumah ini! Aku yang akan menemani Inara ke tempat itu!" Fino melarang Argha dan Mentari ikut karena khawatir dengan keselamatan mereka.
"Sayang! Apa-apaan dia? Dia menyuruhku menghabiskan 2 hari terakhir ini hanya di rumah saja? Sedangkan dia dan Inara akan pergi bersenang-senang!" Mentari merajuk minta Argha membelanya.
Fino dan Argha saling menatap penuh makna, tanpa para wanita itu tahu, mereka begitu mencemaskan sesuatu terjadi karena ulah Mark yang saat ini pasti sudah membuat rencana untuk menyulitkan mereka.
"Sudahlah, jangan ngambek sepet itu! Kita akan ikut mereka ke Pulau Cinta. Bersiaplah!" Argha mengelus lembut rambut Mentari yang sedang cemberut.
Mentari tersenyum lebar dan bersemangat kemudian memberikan kedipan mata kepada Inara sebagai tanda keberhasilan mereka mengendalikan para suami itu.
Inara kembali merasakan sesuatu yang aneh dengan sikap Fino, tetapi keinginannya mengunjungi Pulau Cinta mengalahkan segala perasaan ingin tahunnya kali ini. Inara berpikir, selama mereka pergi bersama, tak akan ada hal buruk yang tidak dapat mereka lalui.
.
.
.
.
.
Mereka harus menyebrangi Pulau menggunakan perahu kecil untuk tiba di Pula Cinta. Fino mengatakan dirinya bisa menyiapkan sebuah helikopter untuk perjalanan mereka kesana, akan tetapi Mentari dan Inara menolaknya karena ingin menikmati suasana laut yang akan mereka lalui.
Lagi-lagi Argha dan Fino hanya bisa pasrah mengikuti keinginan para wanita itu, tetapi dengan syarat mereka harus kembali sebelum hari mulai gelap. Mentari dan Inara tak masalah menerima syarat itu, karena yang mereka inginkan hanya mengetahui suasana Pulau itu selama beberapa puluh tahun mereka tak kesana.
Setibanya di Pulau Cinta, Mentari meminta Argha untuk memisahkan diri dari Fino dan Inara. Mentari melakukannya untuk memberikan waktu kepada Inara jika ingin bernostalgia dengan pertemuan awal dirinya dan Fino.
"Tuan, tidak perlu memisahkan diri. Kita bisa bersama-sama pergi ke suatu tempat untuk menikmati pemandangan di Pulau ini." Fino tak ingin menjauhkan diri dari Argha dan Mentari lagi-lagi dengan alasan keselamatan mereka.
"Sayang! Aku tidak mau! Aku hanya ingin menikmati waktu kita disini hanya berdua saja dengan mu? Apa kau merasa bosan jika kita hanya berdua?" Bujuk Mentari.
Lagi-lagi Argha di buat tak berkutik jika istrinya sudah merajuk seperti itu, "Aku dan Mentari tidak akan pergi terlalu jauh. Kau bisa pergi bersama istri mu!" Argha meyakinkan Fino untuk membiarkan mereka pergi.
Meskipun dengan perasaan cemas, akhirnya Fino mengikuti perintah Argha tetapi ia meminta beberapa anak buahnya yang sudah tiba lebih dulu dan menyamar sebagai para pelancong disana untuk tetap berada di sekitar Argha dan Mentari untuk mengawasi mereka.
semangat author nulisy 🌹🌹🌹🌹