Hola ...
Update setiap hari ... !!!
Warning :
Novel ini bisa membuat kalian tersenyum-senyum sendiri dan tertawa gemasss ...!!!
Novel ini juga mengandung banyak bawang ditengah!!! Selamat membaca ...
Karena ada yang minta sekuel anaknya Galas dan Gayung. Ini aku kasih sekuel mengenai anak kedua mereka, Jusuf Alexander.
Dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk menengok kedua orang tuanya yang kini menetap dikota kelahiran mereka. Jusuf Alexander tersesat dijalan karena mengikuti Google Map. Padahal ibunya sudah mengingatkannya untuk tidak mengendarai mobil sendiri. Karena Alex lemah mengingat jalan.
Hingga akhirnya ia tersesat dijalanan terjal dalam kondisi mobil yang tiba-tiba mogok. Apesnya hujan mengguyur begitu deras malam itu. Hingga ia kebingungan untuk meminta bantuan. Sampai kemudian muncul seorang gadis yang menolongnya.
Dari sanalah perjalanan cintanya yang amazing bermula. Ikuti terus ya ...Ok say ...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Curly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ( Rocker Dadakan )
Alex duduk gelisah. Rasanya ia ingin membelah diri saja saat ini. Ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi saat ini. Mantan kekasihnya ingin bicara empat mata dengannya. Sementara istrinya jelas menunjukkan keberatannya secara gamblang tadi dengan mengatakan bahwa ia cemburu jika ia berdekatan dengan wanita lain. Apalagi wanita lain itu adalah mantan kekasihnya sendiri. Ya Tuhan, bagaimana ini?
Matanya celingukan mencari keberadaan Pandan yang tak terlihat oleh indera penglihatannya. Kemana dia? Alex resah.
"Kamu kenapa, Lex?" tanya Mika yang merasa bahwa mantan kekasihnya itu seperti tengah gelisah.
"Ah, tidak. Aku hanya sedikit tidak nyaman. Mungkin karena aku belum mandi." Alex mencoba tersenyum meski jelas terlihat canggungnya.
"Oh. Sorry ya ... aku datang jam segini. Kamu pasti keganggu ya?" Mika tak enak hati. Ia begitu terburu meminta Kevin menemaninya ke rumah Alex tadi, saking senangnya bertemu salah satu orang terdekat mantan kekasihnya itu. Sejak pulang ke Indonesia, ia ingin sekali menemui Alex namun ia tak memiliki nyali untuk datang sendiri. Mengingat sebelumnya, dialah yang meninggalkan dan memutuskan laki-laki itu beberapa bulan lalu tanpa memberikan alasan yang jelas. Ia sadar, bahwa ia sudah mengambil keputusan yang salah.
"Tidak apa-apa. Mau bicara apa?" tanya Alex langsung pada point-nya. Rasanya lebih cepat lebih baik.
"Ehmm ... aku mau minta maaf sama kamu, Lex," ucap Mika hati-hati.
"Untuk?"
"Untuk waktu itu. Aku pergi gitu aja ... terus tiba-tiba putusin kamu. Aku ...."
"Aku sudah memaafkan kamu," potong Alex. "Lagipula sudah lama juga, kan ... aku juga salah karena tidak bisa memberi kepastian atas hubungan kita dulu ...." Alex rasa hanya itu yang mengganjal dari hubungan mereka yang telah usai. Selebihnya menurutnya, tidak ada hal lain yang perlu mereka bahas lagi.
Mika tersenyum tipis.
"Kamu nggak benci sama aku, kan Lex?"
"Tidak. Kenapa harus membenci?" Tidak ada benci begitupun cinta. Saat melihat Mika lagi, perasaannya sudah biasa lagi seperti bertemu orang asing. Tidak ada getaran, kenangan atau harapannya dulu atas hubungan yang mereka jalin. Namun tentu saja itu berbeda dengan apa yang dirasakan Mika.
Wanita itu tersenyum lega.
"Berarti kita masih bisa ... berteman, kan?" Harapan Mika datang adalah memperbaiki hubungan mereka lagi. Meski ia tahu itu tak akan mudah. Ia merasakan sendiri, kini, sikap Alex sudah begitu berubah kepadanya.
"Te-man? Oh tentu saja." Hanya teman, kan? Alex pikir itu tak masalah. Putus bukan berarti harus bermusuhan bukan? Itu memang prinsipnya.
"Makasih ya, Lex." Senyum Mika terkembang sempurna. Namun Alex tak terlalu memperhatikannya. Ia hanya mengangguk sekilas dengan matanya yang terus memandang ke salah satu sudut, berharap istrinya muncul disana.
Hening.
"Masih ada lagi?" Alex mulai tidak sabar. Namun ia tak mungkin mengusir Mika secara terang-terangan. Karena itu akan menyinggung perasaannya dan ia tidak setega itu untuk melakukannya.
"Kamu sibuk, ya?" Mika memperlihatkan wajah kecewa. Alex benar-benar sudah berubah. Padahal mereka baru putus sekitar lima bulanan ini.
"Ah, ya ... maksudku aku sedikit lelah hari ini." Alex mencari alasan yang sekiranya tidak menyinggung Mika.
"Oh, ya udah kalau gitu aku ... balik dulu. Supaya kamu bisa istirahat juga." Mika mengambil tas selempang miliknya.
"Ehm ... tapi kalau kamu masih ingin disini, tidak apa-apa ...." Alex tiba-tiba saja merasa menjadi laki-laki tak berperasaan. Karena mengusir seseorang yang bertamu ke rumahnya. Meski secara halus.
"Ah nggak, aku pulang aja." Mika sudah berdiri, diikuti Alex yang kemudian memanggil Kevin yang berada di sofa lain, untuk mengantarkan Mika pulang. Padahal Mika sempat berharap Alex yang akan mengantarnya pulang.
"Sudah reuniannya?" canda Kevin yang langsung mendapat tatapan tak menyenangkan dari Bosnya itu. Ya ampun, salah bicara lagi nih aku, daritadi dipelototin terus sama si Alex? Keluh Kevin dalam hati.
"Ya sudah aku pamit dulu." Mika hampir saja menyodorkan tangannya, teringat kebiasaan mereka dahulu. Untungnya ia segera sadar bahwa Alex bukan lagi kekasihnya dan menahan gerakan tangannya. Namun sayangnya, Alex masih bisa melihat dengan jelas gerakan tangan Mika itu dan ia memilih abai, seolah-olah tak melihatnya.
Semua telah benar-benar berakhir bagi Alex dan Mika hanya bisa menyesali semua keputusan bodoh yang pernah ia ambil dulu. Alex terasa sulit untuk ia jangkau lagi.
****
Alex bergegas ke kamar belakang, setelah mengantarkan tamunya. Tempat dimana Pandan biasanya mengungsi jika ada tamu yang datang. Dan benar saja dugaannya, Pandan tengah merebahkan dirinya dengan mata terpejam disana. Alex mendekat hati-hati. Apa dia sudah tidur?
"Pandan ...."
Tak ada sahutan. Alex duduk disisi tempat tidur, memandang wajah damai itu. Tidak biasanya Pandan sudah tidur sesore ini? Apa dia benar-benar sudah tidur atau hanya pura-pura saja? Batin Alex ragu.
Alex mengulangi panggilannya sampai tiga kali. Namun Pandan tak bergeming jua. Mungkin dia kelelahan, pikir Alex. Ia bangun, hendak memindahkan istrinya itu ke kamar mereka. Namun baru saja, tangan Alex menyentuh tubuhnya. Pandan langsung membuka matanya.
"Alex, kamu mau apa?" Pandan waspada, menjauhkan tangan Alex dari tubuhnya. Alex langsung paham dengan situasinya.
"Wahh ... jadi istriku benar-benar cemburu rupanya ...." Alex menggoda Pandan yang nampak cemberut itu.
"Memangnya aku istrimu?" sindir Pandan menatap senyuman Alex yang luntur setelah Pandan mengungkit masalah utama mereka.
"Pandaaan ... jangan mulai lagi." Alex benar-benar tak ingin bertengkar lagi karena masalah itu.
"Kalau begitu, mana janjimu" tagih Pandan.
"Janji?" Alex mengeryitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat janji apa yang ia buat untuk Pandan.
"Hemm." Pandan malas menjawab, biar Alex sendiri yang mengingatnya.
"Oh itu ...." Alex akhirnya berhasil mengingat juga. "Aku akan menceritakannya, tapi nanti. Aku belum mandi belum solat juga, Pandan." Alex membuka kancing kemeja putihnya dan melepasnya begitu saja.
"Ya sudah sana." Pandan mendorong tubuh Alex menjauh.
"Cium dulu." Alex menyodorkan dirinya.
"Tidak mau," tolak Pandan mentah-mentah. "Majikan mana yang meminta ciuman pada pembantunya," sindir Pandan lagi.
"Pandannnn ...." Alex frustasi jika Pandan sudah mulai membahas hal itu. "Tidak ada ciuman tidak ada cerita ...." Alex tersenyum penuh kemenangan. Pandan pasti tidak bisa menolaknya kali ini. Namun ...
"Terserah," jawab Pandan cuek membuat senyuman dibibir Alex kembali terurai. Alex, kamu lupa dia siapa? Dia istrimu, si PANDAN yang cuek dan menyebalkan itu! Sabar Alex ... sabar ...
"Pandan ...." Alex mulai berakting memelas.
"Nyanyikan lagu untukku." Pandan mengajukan syarat.
"Lagu?" Alex menaikkan alisnya. Astaga ... ia saja tak yakin dengan suaranya sendiri malah disuruh menyanyikan lagu.
"Lagu yang mewakili perasaanmu untukku," pinta Pandan penuh harap. Terlihat dari binar dimatanya yang indah itu.
"Lagu cinta?" Alex berpikir keras. Ya Tuhan ... setiap hari ada saja ulah Pandan yang membuatnya pusing tujuh keliling seperti ini. Namun bagaimana lagi, salah sendiri kamu jatuh cinta setengah mati dengannya, Alex. Rutuknya dalam hati.
Sementara Pandan mengangguk semangat. Alex nelangsa.
"Aku tidak bisa menyanyi, Pandan." Alex mencari alasan. " Sumpah! Aku tidak bohong, suaraku jelek sekali ... hemmm hemmm." Alex berdehem untuk menetralkan suaranya. Namun tetap saja ia berdiri, bersiap untuk menyanyi dengan tubuh bagian atasnya yang sudah terbuka itu.
"Kiss me ... out of the bearded barley ... nightly, beside the green, green grass ...!" Alex menyanyikan lagu milik The Cranberries itu dengan irama yang berbeda dengan lagu aslinya. Ia menyanyikan dengan gaya rocker. Karena Alex memang pecinta music keras.
Pandan menahan tawanya melihat gaya aneh suaminya yang begitu bersemangat menyanyi dengan gaya rockernya itu. Namun akhirnya, pertahanannya jebol juga. Ia kembali tertawa lepas, selepas-lepasnya sampai perutnya kram saking lamanya ia tertawa.
"Ya ya ya ... senang sekali kamu Pandan mengerjai suamimu sendiri. Tertawakan saja terus suamimu ini ...," dumel Alex yang terlihat sudah terengah-engah, padahal baru sebentar bernyanyi. Menyanyi memang bukan keahlianmu, Alex. Oke. Tidak apa-apa. Demi istri yang sangat kamu cintai itu. Bertingkah sedikit GILA harusnya bukan masalah bukan?
Pandan menutup mulutnya, berusaha untuk berhenti tertawa namun sulit. Bayangan kegilaan suaminya baru saja begitu lucu baginya. Ia tak menyangka Alex akan menyanyikan lagu cinta dengan gaya rocker untuknya.
"Pandannn ...." Alex menarik tubuh Pandan dan menyembunyikan tawa istrinya itu didada bidangnya. "Berhenti tertawa ...." Alex mulai frustasi melihat tawa istrinya yang tak kunjung berhenti. Ia malu. Sangat malu sekali. Astaga ... Pandan selalu saja bisa membuatnya melakukan hal yang memalukan. Seperti menangis misalnya, juga menyanyikan lagu cinta rock dengan suaranya yang ala kadarnya.
"Alex ...." Pandan menarik wajahnya dari pelukan suaminya, masih dengan tawanya yang tersisa.
"Jangan tertawa ...." Wajah Alex jelas terlihat kefrustasiannya. Pandan menjadi tak tega sudah mengerjai suaminya.
"Alex, aku mencintaimu." Pandan mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya dan memberi sebuah kecupan dibibir laki-laki itu. Akhirnya, tak sia-sia kan perjuangannya menyanyikan lagu Rock, Alex!
"Aku maunya ciuman, Sayang. Bukan kecupan." Alex sudah mau maju saja. Namun Pandan malah menahan wajahnya. "Kenapa?
"Alex, lihat jam berapa sekarang?" Pandan menunjukkan waktu dari ponselnya di depan wajah Alex. "Kamu belum solat ...."
Alex membulatkan matanya. Tersadar waktu maghrib tinggal sebentar lagi.
"Ya ampun ... kenapa tidak bilang daritadi Pandaaaan." Alex langsung melesat kabur dengan terburu-buru. Namun sedetik kemudian kembali menghampiri istrinya lagi. Membuat Pandan keheranan, apalagi yang mau dilakukan suaminya itu.
Cup.
"Nanti ya ...," ucapnya sebelum berlari keluar kamar kembali.
Pandan ternganga. Ternyata suaminya kembali hanya untuk mendaratkan ciuman kilat dipipinya. Pandan menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
"Dasar Jusuf!"
***
Sorry guys ... lg gak ada ide, seadanya penting up dulu ...
YANG LIKE KOMEN VOTE, SEMOGA REJEKINYA LANCARRRR 😆😆😆😆