Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jemputan di pagi hari
Pagi melingkupi kediaman keluarga Diantha dengan kehangatan yang kontras dari dinginnya isi dada gadis itu..
Di meja makan, suasana hangat khas keluarga kecil begitu terasa. Keharuman nasi goreng margarin buatan Ibu Alisa memenuhi ruangan. Alif tampak sibuk mengunyah sembari mengusik piring kakaknya, sementara Pak Alfian santai menyeruput kopi hitamnya seraya membaca berita pagi.
Diantha duduk di sana, memutar-mutar sendok di piringnya tanpa selera. Matanya agak sembab, jejak dari pergulatan batin semalaman yang tak kunjung surut. Setiap kali ia berusaha menelan makanan, kata-kata Althaf kembali terngiang, menusuk ulu hatinya tanpa ampun..
Ting tong!... Ting tong!...
Dentang bel rumah yang berbunyi nyaring memecah keheningan meja makan.
"Siapa ya, Mah? Pagi-pagi dah bertamu?" tanya Pak Alfian heran, meletakkan cangkir kopinya dan hendak beranjak dari kursi..
Namun, gerakan itu dengan cepat dicegah oleh Diantha. "Biar Diantha aja, Pah. Papa makan aja," ucapnya sigap. Ia berdiri, memoles senyum tipis agar tak memancing curiga, lalu berjalan melangkah ke arah pintu depan.
Sebelum memutar gagang pintu, rasa penasaran mendorong Diantha untuk mengintip terlebih dahulu melalui celah gorden jendela kecil di samping pintu. Manik matanya membelalak seketika. Tubuhnya membeku di tempat.
Di balik pagar rumahnya, berdiri sosok Reyhan yang mengenakan seragam rapi, lengkap dengan helm di tangannya dan senyum lebar yang terpatri cerah.
Diantha menarik napas panjang, meremas jemarinya sendiri untuk menetralkan keterkejutan dan rasa enggan yang mendadak menyeruak. Dengan berat hati, ia memutar kunci dan membuka pintu.
"Hai, selamat pagi adek kelasku yang cantik," sapa Reyhan manis begitu sosok Diantha muncul. "Aku ganggu nggak? Maaf ya, aku mau ajak kamu ke sekolah bareng... boleh nggak?"
Diantha terdiam sejenak. Bukannya menjawab ajakan itu, ia justru melempar tanya dengan raut heran. "Hai, Kak... kok Kakak bisa tahu rumahku?"
Reyhan terkekeh pelan, menggaruk belakang lehernya yang tak gatal dengan gesture sedikit canggung. "Hehehe, dari Sari... Aku tadi nanya alamat kamu sama dia. Maaf ya kalau lancang."
Mendengar nama Sari, Diantha langsung paham. Temannya itu benar-benar menjalankan perannya dengan sangat totalitas hari ini. Di saat yang sama, kalimat Althaf kembali terngiang di benaknya: "Kamu coba aja dulu, Tha..."
Rasa sakit yang mendadak merayap naik berganti menjadi sebuah nekat. Baiklah, kalau ini yang Althaf mau, aku bakal buktikan, batin Diantha pahit.
"Boleh, Kak. Tunggu sebentar ya, aku pamit sama orang tuaku dulu," ujar Diantha akhirnya, memberikan jawaban yang sukses membuat mata Reyhan berbinar gembira.
"Eh? Beneran? Siap, siap! Aku tunggu di sini ya!" sahut Reyhan antusias.
Diantha berbalik masuk ke dalam rumah. Ia tak lagi melanjutkan sarapannya yang baru termakan beberapa sendok. Dengan gerakan cepat namun mekanis, ia menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di sofa, lalu menghampiri meja makan.
"Mah, Pah, Diantha berangkat sekolah sekarang ya," pamitnya terburu-buru, mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
Ibu Alisa menatap putrinya bingung. "Loh, Nak? Nasi gorengnya kan belum habis? Terus itu di luar siapa?"
"Teman sekolah, Mah. Diantha berangkat bareng dia naik motor, takut kesiangan. Diantha jalan ya, Mah, Pah! Daaah, Alif!" potong Diantha cepat tanpa memberikan ruang untuk pertanyaan lebih lanjut.
Sebelum kedua orang tuanya sempat membalas, Diantha sudah melangkah cepat keluar rumah. Ia menghampiri Reyhan yang sudah bersiap di atas motor matic andalannya. Setelah menerima helm yang disodorkan Reyhan dan memakainya, Diantha naik ke jok belakang, mengambil jarak yang cukup aman di antara mereka.
Deru mesin motor matic Reyhan pun membelah jalanan pagi kota. Di sepanjang perjalanan, Reyhan berusaha membuka obrolan dengan ceria lewat spion, sementara Diantha hanya membalas seadanya. Tatapan Diantha menerawang jauh ke aspal jalanan, membayangkan bagaimana raut wajah Althaf saat melihatnya sampai di gerbang sekolah nanti... bersama Reyhan.