Bercerita tentang sebuah perpisahan yang disebabkan oleh sebuah ketakutan yang menyelimuti. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda dan jalan yang sama.
Jodoh tidak tertukar, begitulah banyak orang berkata. Dan memang benar adanya, meskipun mencoba berkelit dengan segudang alasan namun asa tetap terikat pada keduanya sehingga mampu menghela mereka menuju satu ikatan pernikahan.
wanita adalah tulang rusuk lelaki. maka tak ada istilah tulang rusuk yang tertukar selama ini.
Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Berwasiatlah untuk berbuat baik kepada kaum wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas, maka jika kamu meluruskannya (berarti) kamu mematahkannya, dan kalau kamu membiarkannya maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah (untuk berbuat baik) kepada kaum wanita"
(HR al-Bukhari dan Muslim).
®Mawarmay®
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarmay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ranah
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh."
[al-A'raf/7:199]
----
"Rencananya kita akan tinggal di rumah bunda selama satu bulan dan tinggal di rumah ibu selama satu bulan juga. Nanti kalau kamu sudah gak kerja kita akan berbagi waktu untuk menyiapkan rumah kita supaya siap huni." Dinan memindahkan baju ke gantungan.
"Terus kenapa jadi secepat ini?" tanya Amira, dia bergerak dengan cepat mengeluarkan baju dari koper.
"Karena kondisi Maura yang cukup memprihatinkan dan saat Mas ke rumah ibu ternyata besan ibu masih tinggal di sana. Jadi Mas harus berpikir mengajak kamu pergi kemana?" Dinan menjawab kemudian dia duduk di sisi tempat tidur.
"Maaf membuat Mas berpikir sendiri." Dinan tersenyum.
"Ini tugas Mas sebagai kepala keluarga. Mencari kenyamanan untuk istri dan anak-anaknya Mas kelak."
"Anak aku juga," seru Amira.
"Iya, anak kita." Dinan mengatakan hal itu dengan geli.
"Tapi kenapa Mas gak cerita?" tanya Amira.
"Kamu lupa kemarin malam kamu tiba-tiba menangis dan ingin tidur lebih dulu. Selain itu Mas tidak ingin membebani kamu karena persoalan yang bisa Mas selesaikan." Dinan membelai lembut kepala sang istri.
"Jadi, malam itu Mas mau membicarakan ini." Dinan mengangguk, membuat Amira merasa bersalah. Padahal Dinan sudah memiliki niat baik berbagi tapi dia tak memperdulikan justru memikirkan dirinya sendiri yang tersinggung dengan ucapan sang mertua.
"Maafkan aku ya Mas." Dinan mengangguk.
"Tidak ada yang salah, hanya keadaan yang membuat kita seperti ini. Mas pikir masih memiliki waktu sebulan tapi qodarrullah hanya waktu sehari sudah mengubah segalanya." Amira mengangguk.
"Mungkin ini sebabnya Rasulullah melarang kita menunda-nunda pekerjaan." Dinan mengangguk kemudian kembali membawa baju yang dirapikan sang istri ke almari.
"Mas, bagaimana kalau kita progam kehamilan?" tanya Amira dengan binar mata yang bercahaya.
"Tidak perlu, kita masih terhitung baru." Dinan mengatakan itu kemudian dia mengeluarkan beberapa pernak-pernik dari koper.
"Tapi rumah ini akan sepi tanpa adanya anak." Amira merajuk, Dinan tersenyum.
"Kita akan berusaha dan berdoa. Biarkan Allah yang berkehendak, nanti jika satu tahun belum juga diberi keturunan. Kita akan tes kesehatan dan progam dalam bentuk ikhtiar." Dinan menaruh alat make up sang istri di meja rias.
"Benar juga, tapi mau apa kalau aku gak kerja." Dinan tersenyum kemudian menoleh kepada sang istri yang nampak lesu.
"Kamu bisa bereksplorasi dengan banyak resep yang sudah kamu ciptakan tapi belum pernah kamu coba." Amira mendongak ke arah Dinan.
"Butuh biaya kali, Mas." Dinan mengerutkan keningnya.
"Mas sanggup jika hanya membelanjakannya." Dinan mengatakan hal itu dengan ringan.
"Mas Dinan beneran?" tanya Amira antusias.
"Iya, selama hal itu membuat kamu bahagia." Amira melompat kemudian memeluk Dinan dari samping.
"Terima kasih," kata Amira mengecup pipi sang suami.
"Sama-sama." Dinan menggeser tubuhnya kemudian memasukkan tubuh kecil sang istri dalam pelukan.
"Tapi ada syaratnya," kata Amira membuat Dinan menunduk.
"Mas yang mengeluarkan modal, Mas juga yang menerima syarat?" tanya Dinan dan Amira mengangguk antusias.
"Baiklah, apa Nyonya?" tanya Dinan.
"Mas gak boleh ngeluh kalau masakannya gak enak." Dinan mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak akan, apapun yang kamu sajikan akan Mas makan. Karena Mas percaya bahwa kami tidak akan dengan sengaja mencelakai Mas." Amira memeluk Dinan dengan erat.
"Terima kasih ya Allah telah engkau kirim suami sebaik Mas Dinan kepadaku." Amira mengatakan itu dengan menyembunyikan wajahnya di dada Dinan sehingga suara tak jelas terdengar oleh Dinan.
"Semoga aku bisa menjadi istri yang Sholehah yang patut pada suami dan selalu mengutamakan Engkau." Dinan mendengar kalimat terakhir Amira dia menggumankan kata aamiin dengan pelan.
Dinan berharap bisa menghadapi segala cobaan yang menguji rumah tangganya dengan ikhlas dan sabar. Dan dia berharap bisa menjadi suami yang baik dan ayah yang baik juga jika kelak Allah mengamanatkan seorang anak kepadanya.
---
"Mas, ini rumah Mas renovasi atau memang seperti ini adanya. Kok kayak familiar gitu," kata Amira sambil mengaduk teh dan mengedarkan bertanya ke penjuru dapur.
"Mas renovasi bagian depannya, ini dulu rumah Atika teman masa kecil Mas. Dia menjual rumah ini karena butuh biaya selain itu dia juga sudah tinggal sama suaminya." Dinan menjelaskan kepada Amira.
"Oh, aku kira rumah ini bangunan baru." Amira menaruh cangkir teh ke depan Dinan kemudian mengambil bungkusan di meja dan mengeluarkan isinya.
"Rumah ini Mas desain seperti rumah ayahnya Mala. Dengan pintu ada dua dibagikan depan. Makanya kamu merasa familiar." Amira menoleh ke arah Dinan kemudian dia nampak berpikir dan tersenyum.
"Iya, aku ingat." Amira menaruh piring di depan sang suami.
"Arsiteknya sama kok, Atika. Dia yang merenovasi sehingga bangunan ini nyaman dan terlihat fresh." Amira menoleh ke arah Dinan. Dia sempat curiga dengan Dinan yang menyebut nama Atika lebih dari satu kali. Tapi dengan tegas Amira tepis, dia percaya sepenuhnya dengan Dinan bahwa Dinan tidak akan melakukan hal yang menyakiti dirinya.
"Atika seorang arsitek?" tanya Amira menghilangkan nada sewotnya.
"Bukan, dia seorang desain interior. Tapi dia bisa juga dibilang arsitek. Entahlah apa pekerjaan yang cocok buat dia." Amira mengangguk, meski dia bingung dengan kalimat rancu yang diucapkan oleh sang suami.
"Ayo makan," ajak Dinan yang sudah mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.
"Mas, mungkin Minggu depan aku sudah jadi pengangguran." Dinan menoleh kemudian tersenyum dan kembali makan.
"Mas beneran gak keberatan menanggung hidup wanita tak berpenghasilan ini?" Dinan menaruh sendoknya kemudian menoleh ke arah Amira.
"Sangat tidak keberatan, justru sangat bersyukur karena ada seorang wanita yang sudah memasrahkan hidupnya kepada Mas dengan ikhlas dan suka rela." Dinan mengulurkan tangannya untuk menyeka sisa makanan di sudut bibir Amira.
"Oh, Mas Dinan kok romantis sih!"
Dinan terkekeh kemudian dia kembali melanjutkan makannya. Kemudian Amira mengalungkan tangannya di tangan kanan Dinan.
"Mas, kok aku makin cinta ya?" Dinan tersedak mendengar ucapan manja Amira. Amira yang syok hanya menatap bodoh sang suami sambil menegakkan tubuhnya.
"Kamu," kata Dinan setelah reda dari batuknya, kalimat yang sudah terangkai di dalam otak tidak jadi dilanjutkan, dia menangkap kedua pipi Amira dan menghujani kecupan diwajahnya Amira sampai Amira kesal dan mencoba melepaskan diri dari Dinan.
"Mas," rajuk Amira.
"Ih Mas Dinan."
"Apa Sayang?" jawab Dinan santai dengan tubuh kembali menghadap meja dan tangan memegang sendok untuk melanjutkan makanya.
Amira kicep, dia tak tahu harus mengatakan apa kemudian dia kembali melanjutkan makan sesekali melirik ke arah Dinan yang nampak santai seolah-olah tak terjadi apapun.
"Mas? Siapa Atika?" tanya Amira setelah menyelesaikan makannya.
"Teman kecil Mas, dulu di rumah lama kami bertetangga saat kecil. Tapi setelah SMA kita pisah karena dia ikut sang ibu tinggal di kota ini." Dinan membersihkan bibirnya.
"Kenapa?" tanya Dinan.
"Dekat sekali?" Dinan menaikan satu alisnya.
"Cemburu, hem?" Dinan tersenyum dengan menggoda.
"Ya wajar kalau aku cemburu, kalau gak cemburu itu baru dipertanyakan." Amira mengambil piring Dinan kemudian dia menumpuk menjadi satu dengan piringnya.
"Tidak perlu cemburu, dia sudah bersuami." Dinan mengambil satu tangan Amira.
"Trust me, please. Hidup tidak akan tenang jika kamu diliputi sifat prasangka buruk dan curiga. Kita harus mulai dengan saling percaya, kamu bisa mempercayai Mas karena Mas juga mempercayai kamu. Yakini itu," kata Dinan mengambil alih piring kemudian membawa ke tempat cucian.
Amira menyesal karena dia selalu mencurigai Dinan, dia tahu yang dia lakukan adalah sesuatu yang salah. Akan tetapi, hati dan pikiran siapa yang bisa tenang saat dia pernah mengalami yang namanya kegagalan saat dia lengah sedikit saja.
Amira berjalan menuju dapur saat Dinan sudah mengelap tangannya dengan kain, bertanda dia sudah selesai mencuci piring.
"Kenapa diam saja?" tanya Dinan mengalungkan tangannya dan menghela Amira menuju kamar.
"Mas, maafkan aku." Dinan menunduk kemudian dia mengangguk dan tersenyum.
"Mas tahu, saat Mas sudah menikahi seorang wanita maka Mas harus belajar sabar menghadapi segala sikap yang dimiliki wanita itu. Karena Mas yakin, semua bisa berubah menjadi lebih baik selama kita m njalani proses dengan sabar." Dinan mengecup kening sang istri.
"Ada yang ditanyakan, Sayang?" Amira menangis karena dia salah menilai Dinan selama ini.
"Mau peluk boleh?" tanya Amira.
"Memang selama ini Mas pernah melarang kamu untuk memeluk Mas. Kita sudah halal mau melakukan apapun, kalau kamu lupa." Dinan merengkuh tubuh istrinya.
"Sudahkah Mas menyambutnya?" Amira menggelengkan kepala.
"Mas sambut dirimu dalam pelukan Mas. Selamat datang, halal!" Dinan mengeratkan pelukannya. Kemudian membopong tubuh sang istri menuju ke tempat tidur.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan saling menyalurkan rasa." Kalimat Dinan ditutup dengan penyatuan dua bibir. Kemudian dilanjutkan dengan segala perbuatannya yang menjadi nilai ibadah jika sudah bersertifikat dari KUA.
Dalam sebuah rumah tangga bukan sekedar hubungan suami istri di atas tempat tidur, akan tetapi hubungan suami istri di manapun berada. Baik mulai dari sekedar pikiran, ucapan atau tindakan. Dalam sebuah hubungan pasti ada masalah yang menemui kadang ada rasa putus asa atau rasa resah karena diri sendiri, tetapi semua itu akan terselesaikan dengan komunikasi dan saling percaya.
Pak Dinan dan Bu Amira pamit.
Bye...bye....😉
End.
dari sekian banyak novel yang ku baca ceritamu yg paling dalam mengadu perasaanku
👑 dari ku untukmu
🏕 di alam terbuka biar othor punya inspirasi lebih banyak lagi,dan bisa membuat pembaca jungkir balik lagi
👌👋👋👋
# geramku