(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Pertemuan tak terduga
Meskipun malam sebelumnya dipenuhi laporan dan berkas keamanan, Raka tetap bangun seperti biasa. Mansion keluarga Pradipta sudah kembali hidup sejak pagi, suara langkah pelayan terdengar samar di koridor, aroma kopi dan roti panggang memenuhi udara.
Namun suasana di meja sarapan terasa sedikit berbeda. Nyonya Shanum beberapa kali masih memperhatikan putranya dengan tatapan penuh penilaian, seolah memastikan pria itu benar-benar tidur dan tidak menghabiskan malam di ruang kerja.
“Wajahmu masih terlihat lelah,” gumamnya sambil menuangkan teh. “Jangan bilang kau hanya tidur dua jam.”
Raka meletakkan cangkir kopi pelan. “Aku sudah tidur cukup, Ma.”
“Berapa jam?”
Raka terdiam sepersekian detik.
Nyonya Shanum langsung menghela napas panjang. “Mama sudah tahu jawabannya.”
Di sisi lain meja, Selina yang baru duduk spontan menahan senyum kecil.
“Kau benar-benar mengecekku tadi malam?” tanya Raka tanpa menoleh.
Selina berdeham kecil. “Aku hanya lewat.”
“Hm.”
Jawaban pendek itu cukup membuat ujung telinga Selina sedikit memanas. Namun pagi itu tidak berlangsung lama bagi Raka.
Sementara tuan Rendra hanya terkekeh pelan saat memperhatikan interaksi keduanya itu sambil menyesap tehnya yang masih terlihat mengepul.
Beberapa laporan dari Jack memaksa Raka keluar mansion lebih cepat, meskipun kali ini satu kendaraan pengawal mengikuti dari belakang sesuai permintaan Nyonya Shanum.
Menjelang siang, setelah menyelesaikan pertemuan singkat di salah satu properti perusahaan, Raka meminta kendaraan berhenti di sebuah minimarket di kawasan pusat kota.
“Aku turun sebentar,” ucapnya singkat pada pengawal.
“Tuan muda, biar kami...”
“Hanya lima menit.”
Pengawal akhirnya mengangguk, meskipun tetap berjaga tidak jauh dari pintu masuk, suasana minimarket siang itu cukup ramai. Pendingin ruangan langsung menyambutnya, suara mesin kasir bercampur dengan percakapan pelanggan yang berlalu-lalang.
Raka berjalan tenang di antara lorong rak, mengambil sebotol air mineral dan kopi kaleng sebelum menuju area pembayaran.
Namun langkahnya berhenti sepersekian detik, di dekat rak kebutuhan rumah tangga, seorang wanita berdiri membelakanginya.
Rambut yang mulai memutih sebagian, tas tangan besar tergantung di bahu, ekspresi wajah yang terlalu familiar.
Bu Sari, mantan ibu mertuanya.
Entah kebetulan atau memang nasib sedang mempertemukannya dengan wanita paruh baya itu, wanita itu perlahan berbalik dan tatapannya langsung berhenti tepat pada Raka.
Beberapa detik keduanya hanya saling diam, lalu wajah Bu Sari berubah.
Bukan canggung, bukan terkejut, melainkan dingin, tajam, dan penuh penilaian.
“Oh,” ucapnya pelan, tetapi cukup keras untuk terdengar. “Ternyata masih berani muncul di hadapanku.”
Beberapa orang di sekitar mulai melirik samar.
Raka tetap berdiri tenang. “Bu...”
Wanita itu tertawa pendek tanpa kehangatan.
“Tidak usah sok sopan memanggil saya seperti itu,” katanya cepat. “Setelah apa yang terjadi pada anak saya.”
Suasana di sekitar perlahan berubah canggung, seorang kasir bahkan sempat melirik ke arah mereka sebelum buru-buru menunduk lagi.
Raka tetap tenang. “Kalau Ibu ingin bicara, kita bisa bicara baik-baik.”
“Baik-baik?” ulang Bu Sari dengan nada meninggi. “Kamu tahu apa arti baik-baik itu?”
Tatapan beberapa pelanggan mulai jelas tertuju pada mereka.
“Kamu menghancurkan kehidupan anak saya, lalu sekarang bicara soal baik-baik?” lanjutnya tajam. “Sudah puas hidup nyaman setelah menceraikan Rasti?”
Raka tidak langsung menjawab, ekspresinya tetap datar, meskipun rahangnya tampak sedikit mengeras.
Bu Sari justru melangkah lebih dekat.
“Cih! So berpenampilan kata begini?” katanya sinis sambil melirik penampilan Raka dari atas ke bawah.
Beberapa orang mulai berbisik pelan.
“Ada apa itu?”
“Mantan keluarga, mungkin…”
Suara samar terdengar dari berbagai arah.
Raka tetap berdiri tenang. “Ibu sedang emosi,” ujarnya rendah. “Tetapi tempat ini bukan tempat untuk membicarakan urusan keluarga.”
“Jangan mengatur saya!” potong Bu Sari cepat.
Nada suaranya kini jauh lebih keras.
“Kamu pikir setelah mempermalukan anak saya, semuanya selesai?” katanya tajam. “Kami semus menderita karena kamu! Kamu pikir hidup anakku mudah setelah perceraian itu?”
Raka diam beberapa detik, tatapannya tetap tenang, tetapi ada sesuatu yang lebih dingin muncul di sorot matanya.
“Saya tidak datang untuk berdebat,” ucapnya akhirnya.
“Karena kamu memang tidak pernah merasa salah!” balas Bu Sari cepat. “Dasar laki-laki tidak tahu diri!”
Udara di minimarket terasa berubah berat, beberapa pelanggan mulai berhenti berpura-pura tidak memperhatikan.
Sementara di luar pintu kaca, salah satu pengawal Raka sudah tampak bergerak waspada, jelas menyadari situasi mulai tidak biasa.
Namun sebelum suasana berubah semakin buruk, suara langkah tergesa terdengar dari arah lorong sebelah.
“Ma!”
Suara perempuan itu cukup keras untuk membuat beberapa kepala spontan menoleh.
Rasti muncul dengan napas sedikit tidak teratur, wajahnya jelas berubah saat menyadari orang-orang mulai memperhatikan ke arah mereka. Ia tampak masih mengenakan pakaian kerja sederhana, satu tangan memegang tas, sementara tatapannya bergerak cepat antara ibunya dan Raka.
“Ma, cukup,” ucapnya cepat sambil mendekat.
Bu Sari langsung menoleh dengan wajah yang masih dipenuhi emosi. “Rasti? Bagus, kamu lihat sendiri!” katanya cepat. “Laki-laki ini masih bisa berdiri santai seolah tidak pernah menghancurkan hidup kita!”
“Ma...” Rasti mengembuskan napas pendek, jelas menahan malu dan frustrasi sekaligus. “Bisa pelankan suaranya sedikit?”
Tatapan beberapa pelanggan masih jelas mengarah pada mereka.
Bu Sari mendecak keras. “Kenapa harus pelan? Memangnya Mama salah apa?”
Rasti menutup mata sepersekian detik sebelum kembali membuka, lalu menoleh pada Raka.
Untuk beberapa saat ia hanya diam, sudah lama sejak terakhir kali mereka benar-benar berdiri berhadapan seperti ini tanpa dinding rumah, tanpa pertengkaran, tanpa pengacara atau dokumen perceraian di meja.
Raka berbera, tak ada senyuman ataupun tatapan lembut seperti biasanya, wajah Raka datar nyaris tanpa ekspresi.
Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda, melihat penampilan Raka yang berbeda jelas mengganggu pikiran Rasti. Raka yang dulu selalu berpenampilan sederhana, kini terlihat seperti bukan Raka yang dulu di kenalnya.
Rasti akhirnya menghela napas pelan. “Ma, ayo kita pulang saja,” ucap Rasti akhirnya lebih pelan sambil menyentuh lengan ibunya.
Bu Sari langsung menarik lengannya pelan. “Kamu membelanya?” tanyanya tidak percaya. “Setelah semua yang terjadi?”
“Aku tidak membela siapa pun,” jawab Rasti cepat, nada suaranya mulai terdengar lelah. “Tapi ini tempat umum.”
Kalimat itu membuat Bu Sari terdiam sepersekian detik, meskipun wajahnya masih penuh kekesalan.
Rasti lalu kembali menoleh pada Raka, untuk sesaat, suasana di antara mereka terasa aneh.
Tidak lagi seperti pasangan, tidak juga seperti orang asing sepenuhnya.
Lebih seperti dua orang yang pernah saling mengenal dekat lalu berjalan jauh ke arah yang sangat berbeda.
“Kamu...” Rasti berhenti sejenak sebelum akhirnya berkata lebih pelan, “tidak apa-apa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Bu Sari langsung menoleh tajam.
“Rasti!”
“Aku hanya bertanya,” balas Rasti cepat tanpa mengalihkan pandangan.
Raka memandangnya beberapa detik, lalu melangkah pergi tanpa mempedulikan Rasti dan mantan ibu mertuanya.
Rasti tertegun, Raka tak menjawabnya sama sekali membuatnya semakin merasa bahwa Raka sudah benar-benar melupakannya. Berbeda dengan Bu Sari yang terlihat kesal dengan Raka.
“Dasar laki-laki tidak tahu diri!”
Bu Sari langsung menghela napas keras. “Sudah, cukup,” katanya cepat. “Tidak perlu mengkhawatirkan orang seperti dia.”
Lalu wanita itu kembali memandang Raka dengan tajam.
“Kalau memang masih punya sedikit hati nurani,” ujarnya dingin, “setidaknya berhenti membuat hidup anak saya lebih sulit.”
Raka yang berada di kasir tidak menoleh sedikitpun bahkan tidak terlihat peduli sama sekali dengan kehadiran keduanya.
Suasana kembali terasa menegang, tetapi kali ini Rasti lebih cepat bergerak. “Ma, cukup,” ucapnya lebih tegas. “Ayo pulang.”
Tangannya kembali menyentuh lengan sang ibu, kali ini sedikit lebih memaksa.
Di luar pintu kaca, pengawal Raka sudah berdiri lebih dekat, tetap tenang tetapi jelas siap bergerak bila keadaan semakin memburuk.
Sementara di tengah minimarket itu, Raka tetap berdiri tanpa banyak berubah, hanya saja sorot matanya menjadi sedikit lebih dingin daripada sebelumnya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km