NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Mengungkit Kembali Perceraian

Setelah membuka perban yang sudah dipenuhi noda darah, Nara memperhatikan luka di dekat ibu jari kirinya. Bekas potongan itu hampir memutus seluruh pangkal jarinya, kini menyisakan lingkaran luka seukuran koin yang masih basah oleh darah segar.

Nyonya Mu terus menangis tanpa henti sembari menaburkan abu dapur ke atas luka tersebut untuk menyumbat pendarahan. Sepanjang tangannya bergerak, mulutnya tidak berhenti menggumamkan doa dengan suara lirih.

Obat luka pemberian Dokter Niu kemarin sebenarnya sudah hampir habis. Setelah pendarahannya agak reda dan sisa obat dioleskan, Nyonya Mu kembali membalut tangan Nara menggunakan potongan kain katun yang bersih.

Perban lama Nara yang sudah menguning sendiri sudah dibawa oleh Yan Ning untuk dicuci. Bocah itu sekarang sedang menjemurnya di dekat tungku api dapur agar cepat kering.

"Ayahmu itu... kenapa bisa tega sekali sama anak sendiri? Kamu ini darah dagingnya, kenapa dia bisa sekejam itu?" ratap Nyonya Mu sambil menatap nanar tangan Nara yang kembali terbungkus kain.

Kesedihan yang mendalam membuat pertahanan wanita itu runtuh lagi. Dia langsung berlutut di lantai kamar dan kembali menangis sesenggukan.

Nara menundukkan kepala, memandangi sosok ibunya dengan iba. Nyonya Mu sebenarnya baru berusia tiga puluh tahun, usia yang harusnya masih produktif, tetapi rambut di sekitar pelipisnya sudah mulai memutih dan tampak acak-acakan.

Pada pakaian lusuh yang dikenakan ibunya, Nara melihat sebuah bekas injakan kaki yang sangat besar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nara mengulurkan tangan untuk mengibaskan debu dan membersihkan bekas tendangan Yan Shong tersebut.

"Sampai detik ini, apa Ibu masih menganggap pria bajingan itu sebagai ayahku? Ayah mana yang tega menginjak anaknya sendiri?" tanya Nara memecah keheningan.

Isak tangis Nyonya Mu seketika terhenti. Dia mendongak, menatap Nara dengan sepasang mata yang masih basah dan berkaca-kaca. "Ara..."

Raut wajah Nara terlihat sangat tenang, hampir tanpa emosi. Dia menatap lurus ke dalam manik mata ibunya, lalu berkata dengan nada lirih, "Kalau dulu aku masih berharap dia bakal peduli, atau berharap orang-orang di rumah ini punya sedikit hati nurani, maka sekarang aku sudah menyerah total."

"Ibu lihat sendiri kan apa yang terjadi hari ini? Mereka semua tidak pernah menganggap kita sebagai bagian dari keluarga," lanjut Nara memperjelas kenyataan pahit.

Bibir Nyonya Mu tampak bergetar, sementara sorot matanya seketika dipenuhi oleh rasa putus asa yang mendalam.

"Ibu, ayo kita pergi dari sini. Mari kita tinggalkan rumah terkutuk ini dan hidup mandiri di luar," desak Nara sambil menggenggam erat tangan ibunya.

"Kita tidak butuh sosok ayah palsu seperti dia, kita juga tidak butuh kerabat yang kejam seperti mereka. Kita bisa hidup jauh lebih baik tanpa mereka semua," lanjut Nara dengan pandangan penuh harap.

Nara sengaja menekan kalimatnya agar ibunya sadar. "Dengan keluar dari Keluarga Yan, aku berjanji bisa membuat Ibu dan Yan Ning hidup dengan layak seperti manusia biasa, tanpa perlu selalu menunduk di depan orang lain."

Secercah binar harapan sempat melintas di sepasang mata Nyonya Mu yang lelah. Nara mengira ibunya bakal luluh dan mengangguk setuju, tetapi sayang, binar itu langsung meredup dengan cepat.

"Tidak bisa, Ara. Itu mustahil kita lakukan," tolak Nyonya Mu sambil terisak pelan.

"Orang yang tidak punya rumah itu hidupnya bakal telantar seperti eceng gondok yang tidak punya akar. Kalau kita nekat keluar dari Keluarga Yan, posisi kita cuma janda dan anak yatim, bagaimana cara kita bertahan hidup di luar sana?" tanya Nyonya Mu cemas.

"Bagaimana nasib masa depanmu dan Yan Ning nanti? Keluarga mana yang mau menerima menantu dari perempuan yang lari dari suaminya?" lanjut Nyonya Mu makin khawatir.

Nyonya Mu memaksakan diri untuk tersenyum, lalu mengelus lembut rambut Nara yang berantakan.

"Ara, umurmu sekarang sudah tiga belas tahun, dan adikmu Yan Ning sudah sebelas tahun. Tolong bersabarlah sebentar lagi saja, Ibu pasti akan mencarikan keluarga pria yang jujur untukmu. Kita cuma perlu bertahan sedikit lagi, ya?" bujuk Nyonya Mu.

Nara menghela napas panjang, perasaan kecewa yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dadanya. "Ibu..."

"Anak baik, badai ini pasti bakal berlalu kok. Ibu sudah meminta bantuan kakak iparmu untuk mencarikan jodoh yang baik di luar desa. Menikah dan keluar dari rumah ini secepatnya adalah jalan terbaik untukmu. Bersabarlah, ya?" kata Nyonya Mu lagi sembari menyeka sisa air matanya.

Nyonya Mu menatap wajah Nara dengan senyuman yang dipaksakan. "Anakku Nara ini cantik dan punya hati yang baik, kamu pasti bakal dapat suami dari keluarga yang terpandang. Hidup kita pasti bakal berubah jadi lebih indah setelah melewati semua penderitaan ini."

Nara menggigit bibir dalamnya kuat-kuat, menahan umpatan yang hampir aja lolos dari mulutnya. Dia rasanya benar-benar ingin mengambil kapak lalu membelah kepala ibunya yang keras kepala ini untuk melihat apa isi di dalamnya.

Menikah di zaman ini memangnya semudah membalikkan telapak tangan?

Apalagi sekarang Nara sudah telanjur dicap sebagai anak cacat pembawa sial oleh orang-orang desa, ditambah dengan kondisi internal keluarganya yang sekacau ini. Ingin mendapat jodoh dari keluarga baik-baik jelas cuma mimpi di siang bolong.

Belum lagi kalau dipikirkan lebih jauh, jika nanti dia dan Yan Ning benar-benar menikah dan pergi dari rumah ini, bagaimana nasib Nyonya Mu selanjutnya? Tanpa ada kedua anak perempuannya yang selama ini pasang badan membela, Nara sangat yakin hidup ibunya bakal jauh lebih menderita diperbudak oleh Han Ruo.

Namun hal yang paling membuat Nara merasa gemas dan tidak habis pikir adalah sikap Nyonya Mu sendiri.

Sampai detik ini, wanita itu masih belum bisa melihat kenyataan dan tetap berpikiran polos kalau Keluarga Yan yang beracun ini adalah satu-satunya tempat berlindung aman yang bisa melindungi hidup mereka bertiga.

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!