Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjemputan di Batas Fajar
Aula Agung Sanjaya yang tadinya riuh oleh kemegahan upacara kini berubah fungsi menjadi ruang tunggu yang mencekam. Alunan musik petik istana telah mati sepenuhnya. Tidak ada satu pun bangsawan yang berani berbisik, apalagi beranjak dari tempat duduk mereka. Kehadiran Ratu Micky Yoochun yang tetap duduk tenang sembari sesekali menyesap teh selatannya menjadi jangkar ketakutan yang menahan semua orang di dalam ruangan.
Di tengah karpet merah, Pangeran Ares telah bangkit dari berlututnya. Ia berdiri membeku di samping Pangeran David dan Naomi, matanya tidak sedetik pun lepas dari pintu besar aula. Sementara di sudut altar, Princess Ciara menangis sesenggukan di pelukan Ratu Cici, mengutuk takdir yang mengubah hari kemenangannya menjadi panggung penghinaan yang tak terlupakan.
Waktu terasa berjalan merayap. Setiap detak lonceng menara barat seolah menghantam dada Naomi dengan rasa cemas yang kian memuncak. Di balik ketegaran topeng Putri Naonna, jantungnya berdegup liar. Ibu... Ayah... bertahanlah sedikit lagi, bisiknya berulang kali dalam hati. Tangan David di pinggangnya masih setia menyalurkan kehangatan, seolah tahu bahwa ketenangan gadis itu sedang berada di ambang batas.
BRAAAK!
Pintu ganda Aula Agung dihantam terbuka dari luar. Embusan angin musim gugur yang membawa aroma tanah basah seketika merangsek masuk, menerbangkan beberapa helai umbul-umbul pernikahan yang terpasang di dinding. Dua orang prajurit zirah perak Warden melangkah masuk dengan napas terengah-engah, memapah dua sosok tubuh yang tampak teramat rapuh dan mengenaskan.
"Ibu! Ayah!"
Pekikan itu tertahan di tenggorokan Naomi. Ia nyaris melompat maju jika saja David tidak menahan pinggangnya dengan lembut namun tegas, mengingatkannya lewat tatapan mata bahwa mereka masih berada di bawah sorotan ratusan pasang mata musuh.
Martha dan Ingdrit diseret masuk. Pakaian pelayan mereka telah koyak dan kotor oleh debu penjara bawah tanah. Kulit mereka pucat pasi, membiru di beberapa bagian akibat hawa dingin ekstrem labirin batu Warden yang tidak manusiawi. Rambut Martha yang biasanya disanggul rapi kini terurai kusam, menyentuh lantai marmer saat tubuhnya yang lemas tak lagi mampu menopang bobotnya sendiri.
Begitu tali tambang di tangan mereka dipotong kasar oleh pengawal, Martha langsung tersungkur. Ingdrit, dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, merangkak memeluk istrinya, mencoba melindungi wanita itu dari tatapan menghakimi seisi istana.
"Martha... Ingdrit..." Raja Sanjaya melangkah turun dari podium takhtanya dengan raut wajah yang dipenuhi campuran antara rasa bersalah dan amarah yang tertahan. Ia menatap tajam ke arah Raja Warden. "Kau benar-benar memperlakukan pelayan setiaku seperti binatang, Warden. Aliansi ini... sudah cacat sejak awal."
Ares tidak memedulikan ucapan ayahnya. Dengan langkah lebar, sang Putra Mahkota Sanjaya itu menerobos barisan pengawal dan langsung berlutut di hadapan kedua orang tua angkat Naomi. Ia melepas jubah upacara peraknya yang mahal, lalu menyelimutkannya ke tubuh Martha yang menggigil hebat.
"Maafkan aku... Maafkan aku karena terlambat menemukan kalian," ucap Ares, suaranya bergetar hebat. Jari-jarinya meraba denyut nadi Ingdrit yang lemah.
Ingdrit mendongak dengan mata yang kabur oleh air mata ketakutan. Namun, saat tatapannya bergeser melewati bahu Ares, sepasang mata tuanya terpaku pada sosok wanita anggun berbaju sutra marun yang berdiri di samping Pangeran David. Meskipun warna rambutnya berbeda dan sepasang matanya berkilau hijau zamrud, seorang ayah tidak akan pernah salah mengenakan jiwa anaknya sendiri.
"Na... Naomi...?" bisik Ingdrit, suaranya sangat lirih, nyaris menyerupai desis angin.
Mendengar nama itu disebut dari bibir ayahnya, pertahanan Naomi runtuh. Sihir ilusi di matanya sempat berpendar tidak stabil karena emosinya yang bergejolak, membuat warna hijau zamrud itu sejenak menampakkan kilatan cokelat hangat yang asli. David yang menyadari bahaya itu segera melangkah maju, menghalangi pandangan para bangsawan lain dengan tubuh tegapnya.
"Bawa mereka ke ruang tabib istana sekarang juga," perintah Pangeran David dengan suara baritonnya yang mutlak, menatap langsung ke arah pengawal pribadi Baitang Sang yang berjaga di pintu. "Pastikan mereka mendapatkan perawatan terbaik dari Selatan. Siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka, tebas di tempat."
Raja Warden hanya bisa mengepalkan tinju di atas podiumnya, menyaksikan mangsa yang digunakannya sebagai umpan kini direbut begitu saja di depan matanya sendiri. Ia menoleh ke arah Ratu Micky Yoochun yang kini perlahan bangkit dari kursinya.
"Surat pembebasan sudah dipenuhi, Micky. Sekarang, bawa pasukanmu pergi dari perbatasanku!" tuntut Raja Warden dengan sisa-sisa keberaniannya.
Ratu Micky merapikan lipatan jubah sutra beratnya, lalu tersenyum tipis yang sarat akan ancaman masa depan. "Pasukanku akan mundur, Warden. Tapi ingatlah hari ini... karena takhta yang kau duduki dengan angkuh itu telah mulai retak. Dan ketika saatnya tiba bagi Putri Naonna untuk menuntut kembali tanah Dewanti Yang, aku akan memastikan zirah perakmu tidak akan bisa menyelamatkan lehermu lagi."
Ratu Micky kemudian berbalik, memberi isyarat kepada David dan Naomi untuk mengikuti langkahnya meninggalkan aula. Naomi melangkah mundur secara perlahan, matanya menatap Ares yang masih berlutut menjaga kedua orang tuanya. Sebuah anggukan kecil diberikan Ares kepada Naomi, sebuah janji tak tertulis bahwa meski hari ini mereka terpisahkan oleh dinding politik dan penyamaran, ikatan darah dan takdir rune di antara mereka akan selalu menemukan jalan untuk kembali bersatu menghancurkan para penguasa yang serakah.