(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Rencana busuk
Di meja makan panjang, Tuan Rendra sudah duduk sambil membaca laporan bisnis di tablet, sesekali menyeruput kopi hitam tanpa banyak bicara. Nyonya Shanum tampak sibuk memperhatikan beberapa pelayan yang menata sarapan, sementara aroma roti panggang dan sup hangat memenuhi ruangan.
Raka turun dengan langkah tenang, mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana formal, rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi.
“Pagi,” ucapnya singkat.
Tuan Rendra mengangkat pandangan sekilas. “Pagi.”
Nyonya Shanum langsung menarik kursi di sampingnya. “Duduk dulu. Mama sengaja minta dibuatkan sarapan yang ringan.”
Raka hanya mengangguk kecil sebelum duduk. Namun belum sempat mengambil sendok, suara langkah tergesa terdengar dari arah tangga.
Selina muncul dengan napas sedikit memburu, rambut panjangnya masih sedikit berantakan dan blazer kerjanya belum terpasang rapi sepenuhnya.
“Tunggu aku dulu!” ucapnya cepat sambil menarik kursi.
Nyonya Shanum terkekeh kecil.
Selina langsung berhenti bergerak. “Ta-tante, om... maaf aku sedikit terlambat.”
“Tenang saja Selina, lagi pula Raka masih ada disini,” balas Nyonya Shanum santai.
Wajah Selina langsung berubah merah samar. Ia buru-buru mengambil roti di meja untuk mengalihkan perhatian.
“Aku takut di marahi oleh bos baru yang menyebalkan,” gumamnya cepat.
Raka yang sejak tadi diam hanya melirik singkat ke arahnya sebelum sudut bibirnya bergerak samar.
“Kau terlalu banyak bicara,” ucapnya tenang.
Selina langsung menoleh cepat. “Apa?”
“Tidak,” jawab Raka datar sambil mulai memotong roti panggangnya.
Nyonya Shanum kembali menahan tawa kecil melihat interaksi keduanya. “Kalau begini terus,” gumam wanita itu santai, “Mama semakin yakin pendapat semalam memang tidak salah.”
“Ma...” ucap Raka pendek.
“Ta-tante!” Selina ikut berseru hampir bersamaan.
Tuan Rendra yang sejak tadi diam akhirnya menurunkan tabletnya, lalu berdeham kecil. “Kalau kalian mau berdebat, lakukan nanti saja. Hari ini banyak pekerjaan.”
Suasana kembali sedikit tenang, meski Selina masih terlihat salah tingkah setiap kali tanpa sengaja bertatapan dengan Raka.
Di sela sarapan, Jack masuk dari pintu samping dengan langkah formal, sebuah map tipis berada di tangannya. “Tuan muda,” ucapnya sopan. “Ada laporan yang perlu Anda lihat sebelum berangkat.”
Raka menerima map itu tanpa banyak bicara, lalu membuka isinya singkat.
Tatapannya bergerak cepat membaca beberapa lembar laporan investigasi internal perusahaan, termasuk perkembangan evaluasi divisi operasional dan nama yang langsung membuat matanya sedikit menyipit.
Farhan.
Jack berdiri tenang di sampingnya. “Sejak semalam ia tidak masuk kerja dan beberapa transaksi pribadinya mulai bermasalah. Selain itu...” ia berhenti sejenak. “Ada kabar dari pihak pengacara, dokumen gugatan tadi pagi sudah resmi diterima.”
Ruangan mendadak sedikit lebih hening, Raka tidak langsung menjawab, jemarinya hanya mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya menutup map itu perlahan.
“Baik,” ucapnya tenang.
Tidak ada ekspresi lega ataupun marah di wajahnya, hanya ketenangan yang aneh, seolah satu bab panjang dalam hidupnya benar-benar mulai ditutup sedikit demi sedikit.
Namun tanpa sadar, pandangannya sempat bergerak ke arah Selina yang sedang pura-pura sibuk mengoles selai roti sambil sesekali melirik diam-diam ke arahnya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya tidak terasa sesesak biasanya.
***
Sementara itu, di sisi lain kota, suasana sebuah rumah mewah bergaya modern klasik terasa jauh berbeda. Tidak ada kehangatan seperti di mansion keluarga Pradipta, hanya udara tegang yang menggantung di ruang kerja pribadi milik Herman.
Pria paruh baya itu berdiri di dekat jendela besar sambil memegang gelas kopi yang sejak tadi nyaris tidak disentuh. Wajahnya terlihat lebih keras dibanding biasanya, rahangnya menegang saat layar tablet di tangannya masih menampilkan notulen hasil rapat pagi tadi.
Di sofa panjang ruang kerja, Kevin duduk dengan ekspresi muram sambil memainkan korek logam kecil di tangannya. Jas formalnya masih melekat rapi, tetapi sorot matanya jelas menyimpan ketidaksenangan.
“Dia terlalu cepat bergerak,” gumam Kevin pelan sambil menyandarkan tubuh. “Baru datang saja, langsung mengubah aturan perusahaan seenaknya.”
Widuri ibu dari Kevin, yang sejak tadi duduk di kursi tunggal sambil menyeruput teh, menghembuskan napas kecil. Wanita itu terkenal tenang di depan orang lain, tetapi ekspresi wajahnya kali ini jelas menunjukkan ketidaksukaan.
“Bukan hanya aturan,” ucap Widuri pelan. “Kalau evaluasi tiga bulan itu benar berjalan, semua jalur yang selama ini dipakai orang-orang tertentu bisa terbongkar.”
Tatapan Herman berubah tajam. “Dan itu termasuk kita,” ujarnya dingin.
Ruangan mendadak sunyi beberapa detik.
Kevin mendecakkan lidah pelan sebelum meletakkan korek di atas meja kaca. “Aku tidak mengerti kenapa Om Rendra bisa langsung menyerahkan semuanya begitu saja pada Raka,” katanya kesal. “Dia pergi bertahun-tahun, lalu tiba-tiba saja datang dan bertingkah seperti seorang penyelamat.”
Herman menoleh perlahan. “Karena dia anak kandung Rendra,” jawabnya datar. “Dan sayangnya, bocah itu ternyata jauh lebih tenang dari perkiraan.”
Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan dengan nada lebih rendah.
“Orang seperti Raka berbahaya, dia tidak terlalu emosional, tidak mudah terpancing, dan lebih buruknya lagi... dia mulai membersihkan perusahaan.”
Widuri menaruh cangkirnya perlahan di meja. “Kalau dibiarkan terlalu lama,” katanya tenang, “posisi kalian berdua akan semakin terancam.”
Kevin langsung menegakkan tubuh sedikit. “Jadi kita hanya diam saja?”
Herman terdiam beberapa detik, pikirannya bergerak cepat.
Ia mengenal perusahaan itu terlalu lama untuk tahu satu hal, orang seperti Raka tidak mudah dijatuhkan secara langsung. Terlalu bersih, terlalu hati-hati, dan kini didukung penuh oleh Rendra.
“Tidak,” jawab Herman akhirnya.
Kevin mengangkat alis. “Lalu?”
Herman berjalan perlahan mendekati meja kerja sebelum meletakkan tablet di atas permukaannya.
“Kita tidak akan bertindak gegabah,” ucapnya tenang. “Kalau dia gagal, harus terlihat seperti kesalahannya sendiri.”
Widuri menyipitkan mata tipis. “Maksudmu?”
Herman tersenyum tipis, tipis sekali hingga justru terasa dingin. “Reputasi,” jawabnya. “Orang seperti Raka baru kembali ke perusahaan, sedikit kesalahan saja bisa menjadi bahan bagi direksi dan pemegang saham untuk meragukannya.”
Kevin mulai memperhatikan lebih serius.
“Mulai cari tahu proyek mana yang akan dia sentuh lebih dulu,” lanjut Herman. “Siapa orang-orang dekatnya, siapa yang loyal padanya, dan celah apa yang bisa dimanfaatkan.”
Kevin mengangguk perlahan, ekspresi kesalnya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Widuri menyandarkan tubuh sambil menyilangkan kaki. “Dan jangan lupa,” ucapnya santai namun tajam, “orang seperti dia memiliki kelemahan.”
Tatapan Kevin berubah samar.
“Maksud Mami... soal perceraian?”
Widuri hanya tersenyum kecil.
“Tidak perlu menyerangnya secara langsung,” jawabnya pelan. “Cukup buat dia goyah.”
Herman mengetuk meja pelan sebelum menatap Kevin lurus. “Tapi dengar baik-baik,” katanya tegas. “Tidak ada tindakan bodoh. Kita amati dulu, pahami pola geraknya, baru bertindak.”
Kevin mengangguk kecil, meski di balik matanya, rasa tidak suka pada Raka jelas belum mereda.
Di luar rumah, langit pagi masih terlihat cerah. Namun tanpa diketahui Raka, sesuatu mulai bergerak pelan di balik senyum formal keluarganya sendiri.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km