Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak Pertama Di Balik Benteng
Fajar di Uluwatu selalu datang dengan kemegahan yang sunyi. Ketika semburat warna merah muda dan ungu perlahan memoles langit timur, kabut tipis dari laut naik menyelimuti permukaan tebing batu kapur tempat vila berdiri. Suara deburan ombak di bawah sana terdengar konstan, seolah menjadi detak jantung alami bagi daratan yang terisolasi itu.
Di dalam kamar utama, Alena sudah terbangun sejak pukul lima pagi. Tubuhnya terasa jauh lebih segar dibandingkan hari-hari sebelumnya di Jakarta. Ia menoleh ke samping dan mendapati sisi ranjang Adrian sudah kosong, meninggalkan bekas lipatan pada seprai sutra abu-abu yang menandakan pria itu telah terjaga lebih awal. Alena bangkit perlahan, merapikan gaun katun longgar putihnya, lalu melangkah menuju ruang medis privat yang terletak di lantai bawah tanah vila.
Ruangan itu sama sekali tidak menyerupai bangsal rumah sakit yang dingin dan menakutkan. Dindingnya dilapisi panel kayu ek hangat dengan pencahayaan interior yang lembut. Di sudut ruangan, sebuah mesin ultrasonografi (USG) mutakhir dengan layar monitor ganda beresolusi tinggi sudah menyala, memancarkan pendar cahaya kebiruan yang tenang. Dokter Saras sedang sibuk merapikan beberapa tabung sampel steril, sementara dua perawat privat memeriksa kembali sistem penyaringan udara ruangan.
"Selamat pagi, Alena. Tidurmu nyenyak semalam?" sapa Dokter Saras begitu menyadari kehadiran Alena. Senyum keibuannya langsung mengalirkan rasa tenang ke dalam dada Alena yang sempat sedikit berdebar.
"Selamat pagi, Dokter. Sangat nyenyak. Udara di sini benar-benar membantu mengurangi rasa pusing saya," jawab Alena tulus, mengambil posisi duduk di tepi ranjang pemeriksaan yang empuk.
Pintu ruang medis bergeser terbuka tanpa suara, dan sosok Adrian melangkah masuk. Ia sudah mengenakan pakaian kasual kaos hitam polos dan celana kain gelap namun aura kepemimpinan yang tegas tetap melekat kuat pada dirinya. Di tangannya, terdapat sebuah berkas laporan enkripsi dari Baskara yang baru saja ia tinjau di ruang kerja atas. Begitu matanya menangkap sosok Alena, tatapan dingin Adrian dalam sekejap melunak. Ia berjalan mendekat, lalu mengambil posisi berdiri tepat di samping ranjang pemeriksaan, menggenggam jemari Alena dengan kehangatan yang mantap.
"Kita bisa memulainya sekarang, Dokter," ujar Adrian, memberikan anggukan kecil yang penuh otoritas namun sopan.
Dokter Saras tersenyum, lalu meminta Alena untuk berbaring dengan santai. "Rileks saja, Alena. Ini adalah pemeriksaan ultrasonografi pertama kita untuk melihat posisi kantung kehamilan dan, jika kita beruntung, kita sudah bisa mendengar detak jantung pertamanya."
Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran di dadanya yang kian kencang.
Ketika Dokter Saras mengoleskan gel transparan yang sedikit dingin di atas permukaan perutnya yang masih rata, Alena secara refleks mencencang kuat jemari Adrian. Pria itu tidak melepaskannya; sebaliknya, Adrian membalas cengkeraman itu dengan tekanan yang lembut namun konstan, seolah mengirimkan pesan tak bersuara bahwa ia ada di sana sebagai penopang hidupnya.
Dokter Saras mulai menggerakkan transduser di atas perut Alena.
Matanya fokus menatap layar monitor utama, jemarinya bergerak lincah menekan beberapa tombol pada panel kontrol mesin USG untuk memperbesar gambar hitam-putih yang muncul di layar.
Untuk beberapa detik, ruangan itu diselimuti oleh keheningan yang menegangkan. Hanya ada suara dengung halus dari mesin medis dan helaan napas Alena yang tertahan. Alena memandangi layar monitor dengan tatapan cemas, mencoba menerjemahkan gumpalan bayangan abu-abu dan hitam yang tampak abstrak di matanya.
"Nah, lihat ini," suara Dokter Saras memecah kesunyian dengan nada yang sangat hangat, menunjuk ke sebuah titik kecil berbentuk lingkaran sempurna di tengah kegelapan layar. "Ini adalah kantung kehamilanmu, Alena. Posisinya sangat bagus, melekat dengan sempurna di dinding rahim atas. Tidak ada tanda-tanda pendarahan atau pelepasan prematur meskipun kamu sempat mengalami stres berat di Jakarta kemarin."
Alena merasakan setitik air mata kelegaan mulai menggenang di sudut matanya. Namun, kejutan yang sesungguhnya belum berakhir. Dokter Saras memutar sebuah kenop pada panel kontrol, memfokuskan sensor ultrasound pada titik putih kecil di dalam lingkaran tersebut.
Dug-dug... dug-dug... dug-dug... dug-dug...
Sebuah suara berirama cepat, konstan, dan sangat jernih mendadak menggema memenuhi seluruh sudut ruang medis melalui pengeras suara mesin USG. Itu adalah suara detak jantung. Suara kehidupan baru yang sedang berjuang dan bertumbuh dengan sangat suci di dalam rahim Alena.
Suara yang begitu murni hingga sanggup meruntuhkan seluruh sisa-sisa trauma, ketakutan, dan keraguan yang sempat membayangi pikiran kedua orang tua muda itu selama berminggu-minggu.
Alena membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri, air matanya tumpah tak terbendung lagi membasahi pipinya yang kemerahan.
Dadanya bergemuruh hebat oleh luapan emosi yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Mendengar suara detak jantung itu, kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ibu kini terasa begitu nyata dan mutlak. Janin ini bukan lagi sekadar subjek dari sebuah skandal atau alasan dari sebuah pernikahan kontrak di atas kertas pranikah; anak ini adalah sebuah anugerah, sebuah kehidupan nyata yang berhak ia lindungi dengan seluruh jiwa dan raganya.
Adrian terpaku di tempatnya berdiri. Sepasang mata elangnya yang biasanya memancarkan kilat dingin dan penuh perhitungan, kini tampak berkaca-kaca menatap layar monitor.
Rahangnya yang tegas sedikit mengendur, dan cengkeraman tangannya pada jemari Alena mendadak berubah menjadi sangat protektif. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang penguasa muda Dewangga merasakan sebuah getaran emosi purba yang begitu dahsyat menghantam ulu hatinya. Suara detak jantung yang cepat itu seolah mengikis habis seluruh ambisi korporasi dan ego aktingnya, menggantikannya dengan sebuah tanggung jawab suci yang lahir dari darah dagingnya sendiri.
"Detak jantungnya sangat kuat, seratus empat puluh kali per menit. Ini adalah tanda bahwa janin berkembang dengan sangat sehat," jelas Dokter Saras dengan senyuman haru, menatap kedua pasangan di hadapannya. "Kalian melakukan pekerjaan yang luar biasa untuk menjaganya tetap aman di tengah badai kemarin."
Adrian membungkukkan tubuhnya perlahan, mengecup kening Alena yang masih basah oleh air mata dengan kecupan yang sangat lama dan sarat akan perasaan mendalam. "Terima kasih, Alena... Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini untuk anak kita," bisik Adrian tepat di telinga istrinya, suaranya terdengar serak menahan haru yang meluap.
Alena mengangguk di dalam tangis bahagianya, mempererat genggaman tangannya pada Adrian. Di dalam ruang medis bawah tanah yang terisolasi itu, detak pertama sang buah hati telah resmi mengunci takdir mereka berdua.
Mereka bukan lagi sekadar dua rekan tim yang terpaksa bersatu demi sebuah kesepakatan bisnis; melainkan sepasang orang tua yang telah mengikrarkan sumpah batin untuk menghancurkan siapa saja yang berani mengusik kesucian kehidupan kecil yang baru saja memperdengarkan suaranya kepada dunia.
Satu jam setelah pemeriksaan medis selesai, Alena sudah kembali beristirahat di paviliun tengah yang menghadap langsung ke arah kolam renang tanpa batas (infinity pool) dan laut lepas. Sementara itu, Adrian berdiri di ruang kerja lantai atas bersama Baskara yang baru saja tiba dari bandara menggunakan helikopter privat sewaan demi menghindari pelacakan jalur darat.
Atmosfer di dalam ruang kerja itu kembali berubah menjadi dingin dan tegang, berbanding terbalik dengan kehangatan di ruang medis tadi. Di atas meja kaca, beberapa dokumen laporan intelijen terbaru mengenai pergerakan tim suruhan Baskoro Dewangga telah terbentang.
"Mereka sudah bergerak dari Nusa Dua sejak pukul delapan pagi tadi, Tuan Adrian," lapor Baskara dengan ekspresi yang sangat serius.
"Informan lokal kami di wilayah Pecatu melaporkan ada tiga mobil SUV hitam dengan plat nomor luar daerah yang terus berputar-putar di sekitar jalur utama Uluwatu. Mereka mulai menginterogasi beberapa pemilik vila sewaan dan petugas keamanan lingkungan mengenai keberadaan kendaraan kita."
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat namun mematikan. "Apakah mereka membawa tim medis dari Jakarta seperti yang kita duga?"
"Benar, Tuan. Tim hukum kita di Jakarta berhasil meretas manifes penerbangan domestik darurat dua jam lalu. Ada dua nama dokter spesialis patologi dari rumah sakit pusat milik Dewangga Group yang ikut mendarat bersama tim intelijen Tuan Besar Baskoro. Rencana mereka sudah sangat jelas: mereka ingin melakukan penggerebekan sepihak, mengisolasi Nyonya Alena, dan melakukan pengambilan sampel darah atau Amniosentesis paksa untuk tes DNA tanpa persetujuan Anda," jawab Baskara dengan rahang yang mengeras.
Sebuah senyuman dingin yang sangat mengerikan terukir di sudut bibir Adrian. Mata elangnya menyalang penuh kilat amarah yang siap menghancurkan siapa saja yang berani melintasi garis batas teritorinya. Mendengar suara detak jantung anaknya satu jam lalu telah mengubah Adrian dari seorang pelindung taktis menjadi seorang pemburu yang tidak akan memberikan belas kasihan sedikit pun kepada musuhnya itu membahayakan untuk dia dan istrinya meskipun jika musuh itu adalah ayah kandungnya sendiri.
"Ayahku mengira dia masih berhadapan dengan Adrian yang berusia delapan belas tahun yang akan patuh ketika diancam dengan pencabutan hak waris," desis Adrian, suaranya rendah namun bergaung dengan kekuatan intimidasi yang luar biasa di dalam ruangan. "Dia lupa bahwa di atas tebing Uluwatu ini, hukum Dewangga Group di Jakarta tidak memiliki kekuatan apa pun. Baskara, aktifkan protokol 'Gerbang Tertutup' sekarang juga."
"Dimengerti, Tuan. Apakah kita akan melibatkan pihak kepolisian daerah Bali?" tanya Baskara memastikan.
"Tidak perlu. Ini adalah urusan domestik keluarga yang akan aku selesaikan dengan caraku sendiri," jawab Adrian tegas. "Gunakan seluruh personel keamanan privat internasional kita untuk memblokir jalan setapak yang menuju ke arah tebing ini. Begitu kendaraan mereka memasuki radius lima ratus meter dari gerbang utama, lumpuhkan mesin kendaraan mereka menggunakan perangkat pengacau sinyal digital (signal jammer) yang kita miliki. Tangkap semua orang suruhan ayahku, termasuk kedua dokter patologi itu, dan tahan mereka di dalam gudang penyimpanan bawah tanah pos jaga depan."
Adrian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati dinding kaca besar yang menatap langsung ke arah jalur jalanan berliku di perbukitan Uluwatu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan postur tubuhnya tampak begitu tegap bagai sebuah benteng yang mustahil untuk ditembus.
"Aku akan memberikan pelajaran pertama kepada ayahku tentang arti dari sebuah kedaulatan keluarga baru," lanjut Adrian dengan nada yang begitu dingin.
"Jika dia ingin melihat hasil tes DNA anak ini, maka dia harus datang sendiri berlutut di hadapanku di atas tebing ini, bukan dengan mengirimkan anjing-anjing pelacaknya untuk mengintimidasi istriku. Bergeraklah sekarang, Baskara. Jangan biarkan satu pun dari mereka berhasil melepaskan pandangan mata mereka ke arah vila ini."
"Baik, Tuan Adrian. Operasi pembersihan perimeter dimulai dalam waktu lima menit," sahut Baskara seraya memberikan hormat dan melangkah cepat keluar dari ruangan untuk mengoordinasikan perintah kepada komandan pasukan keamanan privat di pos depan.
Di dalam keheningan ruang kerjanya, Adrian menatap lurus ke arah ujung jalan bukit kapur yang tampak samar di kejauhan.
Di bawah sana, di paviliun tengah, ia bisa melihat Alena sedang duduk dengan tenang sembari membaca buku kehamilan di bawah hangatnya sinar matahari siang Bali. Rasa protektif yang luar biasa besar kembali membakar seluruh aliran darahnya. Detak jantung pertama yang ia dengar pagi ini telah menjadi bahan bakar abadi bagi Adrian untuk berdiri sebagai perisai hidup yang paling mematikan.
Badai besar dari Jakarta kini telah resmi mengetuk gerbang depan Uluwatu, namun di atas bukit karang yang kokoh itu, sang penguasa muda telah bersiap untuk menenggelamkan siapa saja yang berani mencoba merusak istana dongeng yang ia bangun demi kedamaian istri dan calon penerus darah dagingnya. Perang sesungguhnya telah pecah, dan kali ini, tidak akan ada kata mundur dalam kamus seorang Adrian Dewangga.