bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Malam itu, pelukan itu lama. Lama banget sampai sarung bekas Aminah yang dipakelai Resty jadi hangat, karena kehangatan bapaknya."Pak....." bisik Resty dari dalam pelukan."Bapak masih ingat gak!, Ibu suka nyanyi apa setiap malam jumat?"
Awi diem sebentar. Otaknya muter, ngubek memori yang dulu dia kubur pakai mabuk. bibirnya gemetar. "Sholawat Nabi," jawab Awi pelan."Suara Ibu fals. Tapi Bapak suka dengerin. Sambil pura-pura tidur di tikar."
Awi mengangkat dagu Resty, nyuruh dia liat ke atas. Cahaya bulan semakin terang menyinari malam ini."Coba kamu nyanyi...Nak! Bapak yang dengerin. Kali ini Bapak janji tidak pura-pura tidur."
Resty kaget. Suaranya dia jelek. Turunan Awi katanya. Tapi dia tetap mulai, pelan banget, patah-patah."Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad..."
Suaranya emang fals. Sama seperti Aminah dulu. Tapi Awi merem, senyum. Air matanya jatuh lagi. Kali ini dia tidak ngelap. Untuk pertama kali dalam 20 tahun, rumah itu tidak diisi teriakan. Diisi sholawat fals dari anaknya, diiringi suara hujan yang sudah reda. Awi bisik pas Resty berhenti nyanyi."Mirip banget sama Ibu kamu...Nak!. Fals-nya, sabarnya, hatinya. semua mirip."
Resty nyender lagi. "Berarti Bapak harus jagain aku baik-baik. Soalnya aku titipan Ibu."
Awi ngangguk di atas kepala Resty. "Iya. Titipan paling berharga. Bapak tak akan ngecewain Ibu lagi. Demi Allah."
Malam itu mereka tidak langsung masuk. Duduk aja di beranda, ditemenin bulan, teh yang sudah dingin, dan janji baru yang lebih hangat dari selimut mana pun. Angin malam colek ujung sarung Resty. Awi reflek menarik selimut Aminah, nutupin bahu anaknya. Gerakan kecil. Tapi buat Resty, itu gerakan yang dulu dia tunggu selama 8 tahun.
"Bapak masih ingat gak....Pak," Resty ngupil-ngupil selimutnya, "dulu Ibu suka bilang, orang sabar rezekinya disuapin malaikat?"
Awi ketawa pelan. "Ingat...! Terus Bapak jawab, 'malaikatnya telat...buk!. Bapak lapar sekarang'."
Resty menyikut pelan lengan Awi. "Nih...! sekarang malaikatnya datang. Bentuknya bubur panas sama anak fals."
Awi nyender juga ke tiang beranda. Kali ini dia yang nyender ke anaknya. Gantian."Malaikat nya dudah datang dari dulu...Nak! Bapak aja yang buta," bisiknya. "Maafin Bapak telat sadar ya."
Resty tidak jawab. Dia cuma rebahin kepala ke bahu Awi lagi. Kali ini dia tidak merem, bukan karena takut. Dia merem karena ngantuk. Ngantuk aman.Angin malam nyusup lewat sela tiang beranda. Dingin, tapi bahu Awi hangat. Awi tidak berani gerak. Takut kalau napasnya aja bikin Resty kebangun. Dia mengusap rambut anaknya pelan, seperti menyentuh kaca.
"maafin bapak...nak! Sendu Awi sambil memandang anaknya yang sudah terlelap. "bapak menyesal telah perlakukan kalian dengan buruk."
Resty ngedumel kecil di sela ngantuknya. "Bapak cerewet..."
Awi ketawa pelan. Ini pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan anaknya. "Iya...Maaf ya!. Bapak mau belajar diam yang benar."
Hening lagi. Kali ini heningnya tidak nusuk. Cuma suara jangkrik sama napas dua orang yang akhirnya menemukan rumahnya. malam sudah semakin dingin dan orang-orang sudah mulai masuk rumah masing-masin. Hanya ada kegelapan, tandanya sudah lewat tengah malam. Awi masih duduk kaku. Kaki kebas, bahu pegel, tapi dia tidak berani merubah posisi sama sekali, Biarin. Sakitnya tidak seberapa dibanding rasa bersalah yang dia lakukan selama bertahun-tahun.
Resty meringkuk lebih dalam. Napasnya sudah rata. Di mimpi dia tidak lari-lari lagi, tidak nunduk kalau ada yang manggil "nak".
Awi mengecup jidat Resty pelan, sampai bibirnya sendiri tidak kedengeran. "Bapak janji...Nak! Mulai besok, rumah ini tidak ada yang teriak-teriak lagi. Yang ada cuma kamu mau makan apa, cerita apa, capek gak."
Resty tidak menjawab. Tapi tangannya yang dari tadi menggenggam baju Awi, mengendur kan genggamannya dikit. Karena cuacanya semakin dingin. Awi mengendong anaknya ke kamar, Langkah Awi pelan. Takut banget kalau ujung kaki kejedot tiang aja bisa bangunin Resty. Sesampai di kamar, selimut tipis sudah nunggu di ujung kasur. Dulu kamar ini kosong. Sekarang ada Resty. Awi menyelimuti badan Resty sampai ke bawah bahu biar tidakmasuk angin.
Dia jongkok di samping kasur, tidak duduk, tidak rebahan, Cuma nemeni.
"Bapak di sini..Nak," bisiknya. Suaranya sudah tidak serak lagi. tenang."Kalau kedinginan, bangunin Bapak ya. Jangan ditahan sendiri."
Resty membalikkan badan, cari posisi enak nya. Bibirnya menyungging dikit walau mata masih merem."Bapak...hangat."
Itu aja....tiga kata. Tapi buat Awi rasanya seperti diampuni seluruh dunia. Ada perasaan lega dalam hatinya melihat anaknya bisa sedekat ini lagi dengannya. Selama ini, dia tidak pernah perhatikan Tumbuh kembang anaknya, yang dia lakukan hanya mabukan dan pulang malam tampa memikirkan anak istri.
Awi merem, Tapi tidak tidur. Pikirannya muter ke belakang. Ke malam-malam dia pulang bau arak, gebuk pintu, terus bentak-bentak tidak jelas. Resty kecil dulu suka sembunyi di balik pintu kamar, nutup kuping pakai dua tangan saat dia bertengkar dengan Aminah.
Sekarang tangan yang sama itu malah mencari hangatnya dia."Goblok banget Bapak dulu ya...Nak," gumamnya pelan. Dadanya nyesek. "Anak segede gini harusnya diajarin naik sepeda, bukan diajarin takut sama bapaknya sendiri."
Dari kasur terdengar Resty ngorok halus. Ngorok aman. ngorok orang yang akhirnya berani lepas. Awi nyender lagi tembok papan Kali ini senyumnya beneran, Lega, Sakit, tapi akhirnya lega. seperti luka lama yang akhirnya boleh dibersihin.