"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.
Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.
Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.
Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 二十七
Ketika seberkas cahaya senja menyelinap masuk melalui celah gorden, Kenric Vane perlahan membuka kedua matanya. Detik pertama saat kesadarannya terkumpul, ia langsung tersentak kaget. Ia menatap langit-langit yang tidak familier. 'Tunggu, ini bukan kamarku... dan ini jelas bukan bangsal rumah sakit.' batin Kenric dengan insting waspada yang langsung aktif.
Ia bergegas menolehkan kepalanya ke samping, dan detak jantungnya seolah berhenti berputar saat melihat sosok Alana Syahira yang sedang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka di balik selimut. Dalam hitungan detik, memori memalukan beberapa jam yang lalu langsung berputar serentak di otaknya. Kenric mengingat bagaimana ia frustrasi, merangsek masuk ke kamar ini, menindih Alana, menuduhnya menggunakan jampi-jampi dukun, lalu berujung pingsan ketiduran di sebelah wanita itu.
"Sialan! Bodoh! Apa yang sudah kulakukan?!" kutuk Kenric dalam monolog batinnya yang dipenuhi rasa malu yang luar biasa hebat. Pria itu buru-buru turun dari kasur dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak membangunkan Alana. Ia merapikan kemejanya yang berantakan dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan gengsi.
Namun, sembari melangkah keluar dari kamar Alana menuju kamarnya sendiri, sebuah pemikiran gila mendadak melintas di kepala Kenric. 'Tapi... kalau dipikir-pikir kembali, semuanya sudah kepalang tanggung. Aku sudah tidak punya waktu lagi untuk menyortir ulang manusia-manusia ajaib dari luar sana. Dan lagipula... sepertinya aku memang sudah tertarik pada wanita aneh ini.'
Langkah kaki Kenric berhenti di koridor. Sepasang matanya menajam, memancarkan aura determinasi yang mutlak. 'Ya. Ini adalah langkah taktis terbaik. Aku akan melamarnya, aku akan memaksanya untuk menerima lamaranku malam ini juga.'
Begitu sampai di ruang kerjanya, Kenric langsung menghubungi tangan kanannya. "Rey, cari dan siapkan sebuah cincin berlian dengan kualitas tertinggi sekarang juga. Jangan banyak tanya, lakukan saja."
Beberapa saat kemudian, Alana perlahan terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mengerjapkan mata, meregangkan tubuhnya, lalu menoleh ke samping. Kasur di sebelahnya sudah kosong dan rapi. 'Eh? Sudah tidak ada siapa-siapa?' gumam Alana dalam hati sembari mendudukkan diri. 'Seingatku tadi Tuan kejam sang mafia itu tertidur di sebelahku setelah mengoceh tidak jelas tentang dukun. Apa aku hanya bermimpi karena terlalu mengantuk?'
Alana menggelengkan kepalanya, enggan ambil pusing. Namun, sedetik kemudian, sebuah suara nyaring terdengar dari arah perutnya. 'KRIUK...'
"Aduh, cacing di perutku sudah mulai memberontak minta jatah." Alana meringis sembari mengelus perutnya. Ia baru sadar bahwa sejak siang tadi dirinya belum memasukkan makanan sama sekali, sedangkan sekarang waktu sudah menunjukkan sebentar lagi memasuki jam makan malam.
Tanpa membuang waktu, Alana bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai berganti pakaian dengan setelan kasual, ia melangkah keluar kamar dan berjalan menuruni anak tangga dengan santai.
Namun, begitu kakinya menginjak lantai bawah, langkah Alana langsung terhenti dengan mata yang melebar sempurna. Di ujung ruangan, Kenric sudah duduk tegak menunggunya di balik meja makan panjang. Dan yang membuat Alana terkejut bukan main adalah suasana meja makan yang tampak sangat berbeda dari biasanya. Selain meja itu dipenuhi oleh berbagai macam hidangan mewah yang sangat berlimpah, di tengah-tengahnya juga terdapat beberapa lilin aromaterapi yang menyala temaram serta hiasan bunga mawar segar di beberapa sudut.
Alana berjalan mendekat dengan langkah yang pelan dan ragu-ragu. Pikirannya langsung menebak-nebak dengan liar. 'Aneh sekali... ada angin apa di mansion ini? Apa malam ini akan ada tamu kehormatan dari klan lain yang datang kesini untuk makan malam bersama? Kenapa si kaku itu repot-repot membuat dekorasi seperti ini?'
Begitu Alana sampai di dekat meja, Kenric langsung mendongak, menatapnya dengan pandangan dingin namun intens. "Duduklah. Kita makan bersama." perintah Kenric dengan suara baritonnya yang kaku.
Alana menaikkan sebelah alisnya, namun rasa laparnya mengalahkan rasa penasarannya. Ia pun mendudukkan diri di kursi yang berhadapan langsung dengan Kenric. "Tuan, apa kita sedang menunggu tamu? Kenapa makanannya banyak sekali?" tanya Alana sembari mengedarkan pandangan.
Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Kenric justru menggeser dua buah benda di atas meja ke hadapan Alana. Benda pertama adalah sebuah map dokumen tebal berlogo hukum klan, dan benda kedua adalah sebuah kotak beludru kecil berwarna merah pekat.
Alana menatap kedua benda itu bergantian, lalu menatap wajah Kenric dengan ekspresi melongo yang sangat bodoh. Ia benar-benar bingung setengah mati. "Ini... apa? Untuk apa kau memberikan ini padaku?"
Kenric berdeham keras, mencoba menetralisir rasa gugup yang mendadak menyerang dadanya, meskipun wajahnya tetap dipasang sedatar dan sekaku mungkin. Dengan punggung yang tegak, ia menatap lurus ke dalam manik mata Alana.
"Menikahlah denganku dan jadilah calon Nyonya Vane yang sah." ucap Kenric dengan nada suara yang lugas dan tanpa ragu sedikit pun. Ia menunjuk ke arah dua benda di depan Alana. "Di dalam kotak itu adalah cincin berlian untukmu. Dan di dalam map itu... adalah surat kepemilikan tanah, sertifikat rumah, serta seluruh surat kepemilikan legal atas rumah sakit swasta tempat selama ini kamu bekerja sebagai psikolog. Semuanya sudah kubalik nama atas namamu hari ini."
Mendengar kalimat sakral sekaligus bernilai fantastis yang meluncur dari bibir sang mafia, Alana bukannya merasa terharu, menangis bahagia, atau tersipu malu seperti wanita pada umumnya. Sebaliknya, ia justru merasa tingkat kebodohan di ruangan ini sudah mencapai puncaknya. Alana menatap map dokumen, lalu menatap kotak merah, sebelum akhirnya memajukan tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah kaku Kenric dengan pandangan penuh selidik.
"Tuan... apa kau sehat hari ini?" tanya Alana dengan nada suara yang sangat sangsi, dahi nya berkerut dalam. "Apa efek dari minuman keras yang kau konsumsi semalaman di balkon itu masih ada di dalam otakmu? Tolong jawab jujur padaku... apa sekarang kau sedang mabuk Tuan Besar Kenric? Kerasukan hantu apa kau sampai bertingkah gila seperti ini, hah?!"
kak semangat trz up nya y...✌️