Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTW NIKAH
Keesokan harinya, kondisi Ratih lebih baik sejak kedatangan Guntur. Mualnya sudah berkurang dan pagi pagi sudah minta makan kepada ayah si jabang bayi.
Hari ini, rencana mereka akan kembali ke Jakarta setelah bertemu Pak Martin di perusahaan Gelindi Abimanyu untuk mengucapkan terima kasih.
Gina sebagai rekan kerja Ratih pun ikut menghadap sang ayah untuk memberikan laporan penjualan selama 3 minggu ini.
"Kalian luar biasa!" puji Martin kepada putrinya dan Ratih.
"Sayang sekali jika bakat Ratih hanya sampai disini. Mungkin Tuan besar memberikan kesempatan kerja untuknya di Jakarta" lanjutnya.
"Aku juga berfikir begitu, paman. Tapi ya aku kembalikan kepada calon istriku jika ia ingin bekerja ya silahkan dan semisal jadi ibu rumah tangga dirumah juga silahkan. Bakat bisnisnya bisa dikembangkan dirumah juga" sahut Guntur.
"Betul sekali. Seharusnya aku tidak perlu khawatirkan hal itu karena kamu CEO muda yang memiliki berbagai ide cemerlang ya" ujar Martin.
"Oh ya, paman titip Gina di Jakarta untuk memastikannya bekerja dengan baik ya. Jika dia tidak bisa bekerja, kembalikan saja ke sini" lanjutnya.
"Ih, ayah..meragukan anak sendiri" protes Gina.
Semuanya pun tertawa kecil.
Setelah obrolan mereka selesai, Guntur dan Ratih pamit untuk kembali ke Jakarta.
Sedangkan Gina masih perlu menyelesaikan beberapa tugas di Gelindo Abimanyu sebelum pindah ke Jakarta, mengingat dirinya juga harus menyiapkan pengganti.
Pukul 3 sore, Guntur dan Ratih sudah kembali ke Jakarta. Mereka dijemput oleh asisten pribadi Guntur yang bernama Julian. Pria muda berumur 23 tahun yang bertugas sebagai driver serta pengatur jadwalnya.
"Kenalin ini Julian, dia asistenku untuk atur jadwal dan mengantarku bertugas" ujar Guntur kepada Ratih.
"Salam kenal, Nyonya. Saya Julian" sapa pria yang dikenalkan.
"Salam kenal, Julian. Saya Ratih" sahut calon istri Guntur tersebut.
Mereka pun dibawa ke kediaman keluarga Abimanyu.
Selama perjalanan, Ratih terlihat gelisah dan grogi. Guntur mengenggam tangan wanita itu erat dan mencoba menenangkannya.
"Rilex. Everything will be okay, sayang" ucap Guntur dan Ratih hanya senyum tipis.
Sekitar 40 menit dijalan, akhirnya mereka sampai tujuan.
Guntur membawa Ratih masuk kedalam rumah.
"WELCOME, KAKAK IPAR!" tiba tiba kedatangannya disambut oleh suara centil dari adik Guntur yang bernama Elora ternyata sudah pulang dari Amerika. Ia memeluk Ratih meskipun baru pertama kali bertemu.
Ratih bisa menduga jika wanita ini adalah adik dari calon suaminya. Dengan canggung dan kaget, Ratih tetap menerima pelukan ramah itu.
"Hai adikku sayang, ternyata kamu udah pulang. Padahal aku kakakmu tapi yang dipeluk duluan calon istriku" sapa Guntur sambil mengajukan protes.
Elora melepas pelukannya dari Ratih dan memeluk sang kakak
"Kamu jahat, bang. Bisa bisanya mau nikah gak kasih info. Kemarin malam aku pulang buat ngasih kejutan tapi kamu gak ada dirumah, kakek bilang kamu jemput calon istri di Batam" protes balik wanita berusia 22 tahun itu.
"Sengaja bikin kamu marah hahahhaa" canda Guntur.
Puk!
Punggungnya mendapat tepukan dari sang adik. Pelukan terlepas.
"Kak Ratih kan namanya?" sapa Elora yang tadi belum sempat berkenalan dan asal main peluk aja.
"Iya. Kamu Elora kan? Salam kenal" sahut Ratih.
"Betul, kak. Aku adik satu satunya Abang Guntur yang kaku ini jadi cowok" ujar Elora.
Guntur yang disebut kaku hanya bisa geleng geleng kepala gemas.
"Ayo masuk ini, jangan ngobrol di ruang tamu" seru Randi dari ruang tengah.
Guntur, Ratih, dan Elora pun masuk kedalam rumah menuju sumber suara.
Disana sudah duduk Rustam, Randi, dan Ela.
Seperti biasa Ela dengan raut wajahnya yang dingin tidak suka melihat kedatangan Ratih. Tapi karena keterpaksaan dan perintah ayah mertuanya, akhirnya mau tidak mau harus menerima Ratih jadi mantu.
Guntur menyapa satu satu sambil mencium punggung tangan, Ratih mengikuti.
Namun saat hendak melakukannya pada Ela, Ratih dicuekin.
Guntur menarik Ratih untuk tidak memaksa memberikan salam hormat kepada ibunya.
Mereka berdua duduk di kursi yang kosong. Elora bisa melihat ketidaksukaan ibunya kepada calon kakak ipar.
"Waduh waduh, mami ini terlihat seperti cerita warga tiktok yang curhat tentang mertua mereka yang kejam ya" celetuk Elora dan mendapatkan tatapan tajam dari sang ibu.
Berbeda dengan Rustam dan Randi yang menahan tawa.
"Anak kecil diam saja. Mami hanya tidak suka sama orang yang gak sadar diri" sahut Ela.
"Udah udah, kita mulai obrolan serius tentang pernikahan Guntur dan Ratih tanpa drama" sela Rustam.
"Jadi bagaimana Tur, kapan kamu nikahi Ratih? Terus gimana soal keluarganya? Ayah Ratih masih ada kan?" tanya selanjutnya.
"Secepatnya. Aku sudah mengurus dokumen dokumen nikah ku sama Ratih di Karawang dengan bantuan Julian. Untungnya dia asli Karawang dan punya teman kerja di KUA" jawab Guntur.
"Kamu mau nikah dengan status keluarga kita yang kaya raya ini, Tur? Kamu gak takut diporoti sama keluarga calon istrimu ini?" lagi lagi Ela tidak tahan untuk tidak menyerang calon mantu.
"Aku masih dalam penyamaran sebagai Abi. Tapi tetap nama yang tercantum dan diucapkan nanti nama lengkapku hanya saja penampilanku sederhana serta tidak perlu mewah. Orang orang disana tidak peduli dengan siapa yang akan menikahi Ratih" sahut Guntur.
"Huh, tetap saja, jika mereka tau siapa kamu sebenarnya, pasti orang orang sana termasuk calon ayah mertuamu dan kakak iparmu akan memanfaatkan kekayaanmu" ujar Ela.
"Mohon izin, nyonya. Saya bisa memastikan bahwa ayah dan kakak laki laki saya tidak akan memanfaatkan apapun yang dimiliki oleh Mas Guntur. Jika mereka memerlukan bantuan, itu harus dari saya bukan dari keluarga suami saya" sahut Ratih.
"Halah, sama aja. Mana ada Guntur tega istrinya diserang sama keluarga yang parasit begitu. Pokoknya awas saja kalau keluargamu memanfaatkan kondisi keluarga Abimanyu untuk kepentingan mereka" serang Ela ketus.
Randi memberikan lirikan tajam kepada sang istri sebagai isyarat untuk diam.
"Maafkan istriku ya, Ratih. Semoga kamu bisa terbiasa saat sudah masuk keluarga kita" ujar ayah Guntur tersebut.
Ratih mengangguk dan tersenyum tanpa suara.
"Yasudah, saat kalian sudah menikah secara sah agama dan negara, kalian bisa melakukan acara resepsi sederhana intimite privat atau kalau mau ya ramaikan besar besaran juga gapapa, terserah kalian. Pokoknya ada resepsi" jelas Rustam.
Guntur menatap Ratih dengan senyum sesuatu seperti kode diantara mereka berdua.
"Sebelum membahas soal resepsi, aku ingin mengatakan sesuatu kepada Kakek, Papi, Mami, dan Elora" ucap Guntur menjeda ingin memberi rasa penasaran.
"Jangan bilang kalau Ratih bener bener hamil?" tebak Randi yang bisa membaca semu semu kebahagiaan diraut wajah putranya.
Guntur mengangguk. Ratih hanya bisa menunduk malu meskipun hal ini seharusnya jadi kabar baik, tapi tetap saja malu hamil di luar nikah.
"Ya, pi. Aku membuktikan bahwa kemampuanku sekali tembak langsung jadi anak terbukti! Ini kan yang kalian tunggu tunggu, memiliki cucu" ujar Guntur dengan wajah bahagia, meskipun ia tau juga bahwa ada dosa besar dalam kebahagiaan ini.
Elora menutup mulut tak percaya. Rustam hanya tersenyum tipis, sedangkan Ela lagi lagi hanya bisa memberikan ekspresi dingin dan memutar bola mata jengah.
"Apalagi cucu yang akan kalian dapatkan itu dari wanita yang aku cintai. Aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku sekarang, maafkan aku jika jalannya salah" lanjut Guntur.
"Semoga aja anaknya gak cewek, bikin malu aja lahir di luar nikah. Gak tau bapaknya sapa" celetuk Ela lagi lagi mengeluarkan perkataan yang menyayat hati Ratih.
"Mami, please ya..aku masih sangat menghormati mami jadi ibuku, aku harap mami bisa jaga perkataan ke Ratih. Jika mami terus terusan nyerang wanita yang aku cintai ini padahal udah mau ngasih cucu buat mami, aku tidak ragu lagi buat membela istriku dengan lebih keras" sahut Guntur serius.
"Iya nih, mami. Jangan merusak suasana dong" tambah Elora yang mendukung ucapan sang kakak.
"OKEH!! DUKUNG AJAA WANITA MISKIN INI!! DUKUNG!!! KALIAN BIKIN MALU KELUARGA AJA" seru Ela ngamuk sambil berdiri dan meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
"Jangan dimasukkan hati ya calon ibu mertuamu, Ratih. Maafkan istriku, dia akan lunak nanti" ujar Randi.
"Iya Pak Randi, saya paham. Saya memang dalam kondisi yang tidak bisa untuk dibanggakan keluarga dari calon suami saya. Tapi saya berusaha untuk bisa diterima" sahut Ratih.
Randi pun memberikan senyuman tipis.
"YEAAH!! BAKAL JADI AUNTY NIH AKUNYA!" seru Elora bahagia.
"Kalau kakak mau periksa ke dokter, aku ikut ya. Aku mau lihat dedek bayi" lanjutnya.
"Hei, abang juga mau lihat anak abang dong. Kamu tuh ya mau ambil posisi aku, Ra" sahut Guntur sok merajuk.
"Ya kan bisa berdua, bang. Lagipula aku 3 bulan lagi ada study camp di Australia. Aku mau kenalan lebih dekat dan jadi adik buat Kak Ratih" ujar Elora.
"Hah? Kamu mau ke luar negeri lagi? Berapa lama kali ini?" tanya Guntur.
"Sekitar 1 semester , 6 bulan karena aku juga ambil tesisku disana" jawab Elora.
"Ck..punya adik kok suka banget ke belajar ke luar negeri" celetuk Guntur.
"Yakan emang mau keliling dunia" sahut Elora.
"Ahahaha curiga nanti suami Elora adalah bule" timpal Randi.
"Papi tau aja selera Elora, doakan aja ya pi" ujar Elora.
Semua tertawa kecil dan setelah itu Rustam mengajak Guntur Ratih untuk berbicara di ruang kerjanya.