Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.
Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.
Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.
Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.
Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.
"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."
Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.
Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?
Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: BISIKAN DALAM KABUT
Setelah berhasil melewati gerbang pertama dan menaklukkan para penjaga batu yang kuat itu, Mo Fei dan Bai Yue kembali melanjutkan perjalanan mereka masuk lebih dalam lagi ke wilayah yang diselimuti kabut tebal dan misterius itu. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa jelas bahwa tempat ini benar-benar berbeda dan jauh di luar akal pikiran biasa. Di bagian dalam ini, kabutnya jauh lebih pekat dan berat, seolah setiap butiran uap air di udara memiliki berat tersendiri yang terus menekan tubuh dan batin siapa pun yang berada di dalamnya. Suasana yang tadinya hanya sepi dan sunyi, kini perlahan mulai diisi oleh suara-suara samar yang terdengar dari segala penjuru, kadang terdengar seperti suara orang yang menangis dan merintih kesakitan, kadang terdengar seperti suara orang yang memanggil-manggil nama seseorang, dan kadang terdengar seperti bisikan halus yang berbicara tepat di samping telinga mereka, namun saat mereka menoleh melihat ke sana, tidak terlihat siapapun dan tidak ada perubahan apa pun di sekelilingnya.
"Awas, Bai Yue," ujar Mo Fei perlahan dengan suara rendah namun tegas, matanya yang bersinar keemasan terus bergerak mengamati sekelilingnya dengan kewaspadaan yang sangat tinggi. "Suara-suara ini bukanlah suara nyata atau suara makhluk hidup, melainkan sisa ingatan dan perasaan yang tertinggal di tempat ini selama ribuan tahun lamanya. Kabut di sini memiliki sifat khusus yang mampu menyerap dan menyimpan getaran emosi serta energi yang kuat, lalu memancarkannya kembali kepada siapa pun yang masuk ke dalam wilayahnya. Tujuannya hanya satu: Mengganggu pikiran, membangkitkan rasa takut, keragu-raguan, dan kenangan buruk yang tersimpan di lubuk hati terdalam kita, sehingga kita menjadi tidak tenang, kehilangan fokus, dan akhirnya tersesat selamanya di dalam sini atau bahkan saling menyerang satu sama lain dalam khayalan yang dibuatnya."
Mendengar penjelasan itu, Bai Yue mengangguk mengerti dan segera mengeratkan pertahanan batinnya sekuat tenaga. Ia sadar benar bahwa di tempat ini bahaya tidak hanya datang dari serangan fisik atau makhluk buas semata, namun bahaya yang paling mematikan justru adalah serangan yang ditujukan langsung ke dalam hati dan pikiran seseorang, karena begitu batinnya runtuh dan hancur, maka orang itu sama saja dengan orang yang sudah mati meskipun tubuhnya masih bernapas dan bergerak.
Namun meskipun mereka sudah mengetahui asal dan maksud dari segala gangguan yang terjadi di sekelilingnya, untuk benar-benar menahannya dan menolaknya sepenuhnya bukanlah hal yang mudah dan bisa dilakukan dalam sekejap mata. Semakin lama mereka berjalan dan semakin jauh mereka masuk ke dalam, suara-suara dan bisikan itu makin terdengar jelas, makin keras, dan makin menyentuh tepat pada titik paling peka di dalam hati dan ingatan mereka masing-masing.
Suatu saat di tengah perjalanan itu, tiba-tiba di telinga Bai Yue terdengar suara yang sangat dikenal dan dirindukannya selama bertahun-tahun lamanya, suara ibunya yang sudah meninggal dunia sejak ia masih sangat kecil dulu. Suara itu terdengar begitu lembut, begitu hangat, dan begitu penuh kasih sayang, memanggil namanya berulang kali dan menyuruhnya mendekat ke arah tertentu di balik kabut tebal di sebelah kirinya.
"Anakku... Putriku sayang... Kemarilah Nak... Ibu di sini menantimu... Sudah terlalu lama kita berpisah dan berjauhan... Kemarilah, mari kita pulang ke rumah kita yang dulu... Di sana aman, damai, dan tidak ada bahaya atau kesengsaraan apa pun lagi..."
Mendengar suara itu, seketika tubuh Bai Yue menjadi kaku dan langkah kakinya terhenti di tempatnya. Seluruh pertahanan dan kewaspadaannya seakan runtuh seketika, matanya perlahan menjadi kabur dan basah, dan hatinya terasa tersentuh sangat dalam seolah ia kembali menjadi anak kecil yang tak berdaya dan kesepian seperti bertahun-tahun yang lalu. Tanpa sadar kakinya mulai melangkah perlahan menjauh dari samping Mo Fei, berjalan menuju ke arah suara panggilan itu berasal, seolah seluruh tubuh dan jiwanya ditarik oleh kekuatan yang tak tertahankan lagi.
Namun tepat saat tubuhnya hampir menghilang sepenuhnya di balik selubung kabut yang tebal, tiba-tiba terasa genggaman tangan yang kuat dan hangat mencengkeram lengannya erat dan menahannya agar tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Bai Yue terkejut dan seketika sadar kembali dari lamunan dan khayalannya, ia menoleh dan melihat wajah Mo Fei yang berdiri tepat di sampingnya, menatapnya dengan pandangan yang tegas namun penuh kasih sayang dan perhatian yang mendalam.
"Jangan mendengarkannya, Bai Yue," ujar Mo Fei perlahan namun tegas, suaranya menembus kabut dan suara bisikan yang terus bergema di udara seolah suaranya memiliki kekuatan khusus yang tidak bisa dihalangi atau ditutup oleh apa pun. "Itu bukan suara orang tuamu, dan bukan juga suara orang yang menyayangimu. Itu hanyalah jebakan dan penipuan yang sengaja dibuat untuk memisahkan kita dan menjatuhkanmu ke dalam jurang keputusasaan selamanya. Orang tuamu yang sesungguhnya pasti tidak akan pernah mau melihatmu menyerah, lemah, atau tersesat karena rasa rindu dan kesedihan semata. Mereka pasti menginginkanmu terus hidup dengan kuat, terus melangkah maju, dan mencapai tujuanmu dengan gagah berani dan teguh hati."
Genggaman tangan Mo Fei makin erat dan hangat, mengalirkan seberkas energi yang lembut namun kuat masuk ke dalam tubuh dan batin Bai Yue, menyapu bersih seluruh rasa bingung, sedih, dan takut yang baru saja menguasai dirinya sepenuhnya. Perlahan namun pasti pandangan Bai Yue menjadi jernih kembali, ingatannya kembali utuh, dan kesadarannya pulih sepenuhnya dari pengaruh kekuatan aneh di tempat itu. Ia menundukkan wajahnya karena merasa malu dan menyesal, air mata penyesalan mengalir perlahan dari sudut matanya.
"Maafkan aku, Mo Fei..." bisiknya pelan dengan suara yang masih sedikit bergetar. "Aku sudah lengah dan hampir saja terjebak oleh buaian palsu itu... Padahal aku tahu betul itu tidak mungkin dan tidak nyata, tapi rasanya begitu nyata dan begitu menyentuh hati sehingga aku tidak sanggup menahannya sejenak pun..."
Mo Fei tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya perlahan, lalu mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut dan penuh pengertian.
"Tidak apa-apa, Bai Yue," jawabnya dengan suara lembut dan menenangkan hati. "Hal itu wajar dan manusiawi. Karena yang mereka serang dan manfaatkan adalah apa yang paling berharga dan paling dalam di dalam hati kita, sesuatu yang tidak bisa kita lupakan atau hilangkan selamanya. Justru karena kau memiliki perasaan dan kasih sayang yang begitu murni dan dalam itulah yang membuatmu menjadi dirimu yang sesungguhnya, dan itulah yang membuatmu berbeda serta jauh lebih berharga dibandingkan ribuan orang lain yang tidak memiliki perasaan atau hati nurani sama sekali. Selama kau sadar dan bangun kembali, selama kau masih sanggup membedakan mana kenyataan dan mana khayalan, maka kau sudah menang dan berhasil melewati ujian berat ini dengan sangat baik dan sempurna."
Mendengar kata-kata itu, hati Bai Yue terasa hangat dan kuat kembali. Ia mengangkat wajahnya dan menatap mata Mo Fei dengan tatapan yang penuh rasa terima kasih dan kekaguman yang makin mendalam. Ia sadar benar bahwa kalau bukan karena kewaspadaan dan perhatian Mo Fei yang begitu besar, mungkin saat ini ia sudah tersesat dan lenyap selamanya di tempat yang mengerikan dan gelap ini.
Namun di saat yang sama, peristiwa itu juga membuka mata dan hati Mo Fei akan satu hal yang sangat penting dan berbahaya. Ia sadar benar bahwa kalau Bai Yue yang memiliki batin yang kuat dan teguh hati saja hampir saja runtuh dan terjebak begitu mudahnya, berarti ancaman dan serangan ini jauh lebih berbahaya dan hebat daripada yang ia perkirakan sebelumnya. Dan ia pun tahu pasti, bahwa apa yang dialami oleh Bai Yue barusan hanyalah awal dan bagian ringan saja dari serangan semacam ini, karena ia bisa merasakan dengan jelas bahwa sepanjang jalan di depannya, kekuatan ini makin lama makin kuat, makin tajam, dan makin berbahaya.
Dan memang benar saja, tidak lama setelah peristiwa itu terjadi, akhirnya giliran Mo Fei yang dihadapkan pada ujian berat yang bahkan jauh lebih hebat dan menyakitkan daripada apa yang dialami oleh Bai Yue. Saat mereka berjalan melewati sebuah dataran luas yang dipenuhi kabut yang sangat pekat dan berwarna kelabu tua, tiba-tiba di sekelilingnya pemandangan berubah drastis seketika. Kabut di sekelilingnya perlahan berubah wujud dan bentuknya menjadi pemandangan yang sangat dikenal dan sangat melekat di dalam ingatan terdalamnya: Pemandangan Lembah Naga Tidur, tempat ia dibesarkan, tempat ia belajar ilmu, dan tempat di mana seluruh keluarganya serta orang-orang yang dikasihinya dibunuh dengan kejam dan lembah itu dihancurkan rata dengan tanah bertahun-tahun yang lalu.
Di hadapan matanya, pemandangan masa lalu itu terlihat begitu nyata, begitu hidup, dan begitu jelas seolah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin saja di hadapan matanya sendiri. Ia melihat dirinya yang masih muda dan lemah berdiri terpaku tak berdaya di tengah api dan puing bangunan yang runtuh, melihat orang-orang yang dicintainya jatuh bersimbah darah satu per satu di hadapan matanya, dan melihat sosok Kakek Tian Lao yang saat itu masih tampak ramah dan baik hati berdiri di hadapannya sambil tertawa puas dan dingin, mengakui segala kejahatan dan pengkhianatannya dengan bangga dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Lihatlah, Mo Fei... Lihatlah apa yang telah kau lakukan dan apa yang telah kau sebabkan," terdengar suara Kakek Tian Lao bergema keras di seluruh penjuru tempat itu, suaranya penuh ejekan dan penghinaan yang tajam dan menyakitkan hati. "Segala yang terjadi di lembah ini, kematian orang tuamu, kematian teman-temanmu, kehancuran rumahmu, semuanya terjadi dan semuanya kau tanggung sendiri sepenuhnya. Kalau saja kau tidak lahir ke dunia ini, kalau saja kau tidak memiliki darah dan kemampuan istimewa itu, kalau saja kau tidak terlalu bodoh dan polos mempercayai orang lain... Maka semuanya tidak akan pernah terjadi dan mereka semua pasti masih hidup bahagia sampai hari ini. Kau adalah pembawa sial, kau adalah penyebab segala kesengsaraan dan penderitaan orang di sekitarmu. Semua yang mendekatimu, semua yang menyayangimu, dan semua yang membantumu pada akhirnya pasti akan binasa dan hancur karena mengikutimu... Sama seperti nasib gadis di sampingmu itu, yang saat ini masih setia dan mendukungmu, tapi suatu hari nanti ia pun pasti akan mati dan hancur dengan cara yang jauh lebih menyedihkan dan mengerikan lagi karena telah memilih berjalan di sampingmu..."
Kata-kata itu menembus langsung masuk ke dalam lubuk hati dan pikiran Mo Fei, menusuk lebih tajam daripada ribuan jarum yang paling tajam sekalipun, dan jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik yang paling parah sekalipun. Karena apa yang dikatakan suara itu sebenarnya adalah apa yang selama ini tersembunyi di dalam hatinya sendiri, apa yang selama ini ia pikirkan dan khawatirkan diam-diam jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Selama ini ia selalu merasa bersalah, selalu merasa menjadi penyebab segala kesengsaraan dan bahaya yang menimpa orang-orang di sekitarku, dan selalu merasa takut bahwa pada akhirnya ia tidak akan sanggup melindungi siapapun dan hanya akan membawa penderitaan serta kematian bagi orang-orang yang menyayanginya.
Pikiran dan perasaan itu perlahan menguasai seluruh isi kepala dan hatinya, membuatnya merasa sedih, putus asa, dan mulai timbul rasa ingin menyerah serta menjauhkan diri dari Bai Yue agar gadis itu selamat dan terhindar dari bahaya yang pasti akan menimpanya nanti. Tubuhnya perlahan menjadi lemah, cahaya keemasan di matanya perlahan meredup dan mulai memudar, dan pertahanan batinnya yang selama ini kokoh dan kuat mulai retak dan runtuh perlahan namun pasti.
Melihat keadaan Mo Fei yang perlahan berubah dan terlihat lemah serta bingung, Bai Yue segera sadar dan mengerti betul apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang dihadapi oleh pemuda di sampingnya saat ini. Ia tahu betul apa yang menjadi beban berat dan rasa takut terbesar di dalam hati Mo Fei, dan ia pun tahu bahwa saat ini dialah satu-satunya orang yang mampu menariknya kembali dan menyadarkannya dari jurang kegelapan yang sedang menariknya masuk perlahan namun pasti.
Tanpa ragu sedikitpun, Bai Yue segera melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Mo Fei, menatap lurus tepat ke dalam mata pemuda itu yang kini tampak kabur dan penuh rasa bersalah serta kesedihan yang mendalam.
"Mo Fei, dengarkan aku dan lihatlah aku dengan baik," ujar Bai Yue dengan suara yang tegas, jernih, dan berwibawa, suaranya menembus segala suara gaduh dan bisikan jahat yang bergema di udara seolah suaranya adalah satu-satunya kebenaran yang nyata dan mutlak di tempat itu. "Apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat di sekitarmu itu semuanya bohong dan penipuan belaka! Apa yang dikatakannya sama sekali tidak benar dan tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya! Kau bukanlah pembawa sial, dan kau bukanlah penyebab segala kesengsaraan dunia ini! Kalau bukan karena keberadaanmu, kalau bukan karena perjuangan dan pengorbananmu, mungkin aku dan ribuan orang lain yang baik dan tidak bersalah sudah lama mati atau hidup dalam penderitaan dan penindasan selamanya! Apa yang terjadi di masa lalu memang menyakitkan dan menyedihkan, tapi itu bukanlah kesalahanmu dan bukanlah akibat perbuatanmu! Itu adalah akibat dari kejahatan orang lain dan sistem yang tidak adil yang memaksa segala hal terjadi seperti itu!"
Ia memegang kedua tangan Mo Fei erat dan menatap matanya makin tajam dan dalam, air mata mengalir perlahan di pipinya namun tatapan dan suaranya tetap teguh dan kuat tanpa sedikitpun goyah atau ragu.
"Dan mengenai diriku... Dengarkan baik-baik kata-kataku ini dan ingatlah seumur hidupmu: Aku memilih untuk bersamamu bukan karena aku dipaksa, bukan karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi, dan bukan juga karena aku merasa kasihan padamu! Aku memilihmu dan aku tetap di sampingmu karena aku menginginkannya sepenuh hati, karena aku percaya padamu, dan karena bagiku bersamamu menghadapi bahaya dan kematian sekalipun jauh lebih berharga dan jauh lebih membahagiakan daripada hidup seribu tahun lamanya di tempat yang paling aman dan makmur sekalipun tanpa ada kau di sampingku! Kalau aku mati atau terluka karena bersamamu nanti, itu adalah pilihanku sendiri dan aku tidak akan pernah menyesal atau menyalahkanmu sedikitpun seumur hidupku! Karena sejak awal aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa di mana kau berada, di situlah tempatku berada, dan apa pun yang kau hadapi, aku akan ikut menghadapinya bersamamu sampai akhir hayatku!"
Kata-kata Bai Yue seolah menjadi petir yang menyambar tepat di dalam kepala dan hati Mo Fei, menyapu bersih seluruh rasa ragu, rasa bersalah, dan kegelapan yang selama ini bersarang dan menggerogoti hatinya perlahan-lahan. Cahaya keemasan di matanya kembali bersinar terang dan kuat berkali-kali lipat lebih kuat daripada sebelumnya, seluruh pemandangan palsu dan suara-suara jahat di sekelilingnya seketika lenyap seketika menjadi kabut biasa yang tipis dan tidak berbahaya lagi. Mo Fei menatap wajah gadis di hadapannya dengan mata yang jernih dan penuh rasa terima kasih serta kasih sayang yang tak terhingga besarnya. Ia sadar benar bahwa kalau bukan karena kesetiaan dan ketulusan hati gadis ini, mungkin ia sudah benar-benar runtuh dan hancur di tempat ini, dikalahkan bukan oleh musuh atau kekuatan asing, melainkan dikalahkan oleh rasa takut dan keragu-ragu