Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prasangka
"A Ano lihat aku dapat nilai sembilan puluh!" Ara berjalan cepat menghampiri Ziano yang bersandar di sepeda motor.
"Sempilan puluh loh." ulangnya seraya memberikan lembar jawabannya pada Ziano.
Ziano mengambil kertas di tangan Ara, "Keren. Berarti jadi dong nraktir gue makan enak."
"Jadi dong, A. Tapi ajak Marcel juga boleh yah?" pintanya sedikit memohon.
"Boleh dong." Ziano menyerahkan kembali lembar jawaban itu pada Ara.
"Buruan, Cel!" teriaknya pada Marcel yang sudah siap dengan motornya.
"Nggak bareng Marcel?" Ziano menoleh ke belakang karena Ara malah naik ke motornya, bukan ke motor Marcel. padahal lelaki itu sudah berhenti tepat di sampingnya.
"Mau bareng A Ano aja." jawab Ara, tangannya sudah melingkar di perut Ziano.
"Serius ini? gue nggak bakal lapor ke Aki, tenang aja." tanya Ziano.
"Aku bareng Aa aja. Nggak apa-apa kan, Cel? tapi kamu tetep boleh ikut kok, kita makan enak. Syukuran nilai aku yang bagus."
"Iya." jawab Marcel datar.
"Yuk, A! gass lurus aja." ucap Ara.
Ziano oke-oke saja meskipun dari spion bisa lihat raut wajah Marcel nampak sedikit tak suka. Tapi bodo amat lah itu bukan urusannya, lagi pula ia sejak awal sudah bekerja sama dengan baik menuruti permintaan dua bocah itu.
"Masih jauh nggak sih ini?"
"Nggak, A. Itu di depan, Aa belok kiri aja."
Ziano mengamati bangunan yang ditunjuk Ara. Satu-satunya bangunan di pinggir jalan raya dengan keadaan kanan kirinya full sawah, parkirannya lumayan penuh dengan sepeda motor. Dari plang nya terpampang nyata dengan besar bertuliskan "GOYANG BATAGOR"
"Itu mah warung batagor, Ra. Bukan cafe elah!" protes Ziano sebelum memarkirkan motor sementara Marcel sudah lebih dulu menyeberang dan memarkirkan motornya.
"Kan Aa pengen makan enak. Disini aku jamin enak kok. Percaya deh! liat parkirannya aja penuh gitu, yang beli banyak, berarti enak."
Ziano menatap Ara dengan lesu, "kan gue bilang cafe, Ra. Ca fe!" Ziano mengejanya penuh penekanan.
"Disini nggak ada cafe, A. Udah nurut aja ngapa sih! yang penting makan enak. Buruan parkir ah!" Ara menepuk pundak Ziano.
Meski malas, Ziano tetap menurut karena tak ada pilihan lain.
Keadaan warung sore itu sangat ramai, di dominasi oleh anak-anak dengan seragam putih abu, rasa-rasanya disini ia paling tua jika dibanding pelanggan lain.
Tiga porsi batagor sudah datang lengkap dengan es jeruk. Melihatnya saja Ziano tak naf su, "buat lo aja, gue ogah."
"Kenapa? Aa takut mati lagi?" sindir Ara sambil memakan batagor miliknya.
"Kita makan aja, Cel. A Ano mah nggak makan, dia bisa mati kalo makan kayak ginian." lanjutnya pada Marcel.
"A, Kalo nggak mau makan ntar buat aku aja batagornya." Marcel malah siap-siap ngambil piring Ziano.
"Boleh." jawabnya singkat.
Ara menahan piring Ziano, "rewel."
"Nih A!" dengan cepat Ara menyuapkan batagor ke mulut Ziano.
"Heran setiap makanan baru mesti harus disuapin mulu!" gerutu Ara. Ziano hanya diam, lumayan kaget, ditambah dengan rasa batagor yang baru saja masuk, ternyata enak.
"Enak kan?"
"Lagi?" Ara menyuapinya lagi.
Ehm! melihat itu Marcel berdehem lumayan keras. Mereka selalu bersama tapi belum sekalipun ia disuapi, sementara orang asing dihadapannya? sedekat itu mereka.
Ara menoleh ka arah Marcel, "kenapa, Cel? keselek? minum."
"Nggak apa-apa. Lanjutin makannya." jawab Marcel seraya mengaduk-aduk batagornya.
Selera makannya seketika hilang melihat Ara begitu perhatian pada Ziano. Meski ada dirinya disana tapi Ara terus saja sibuk dengan Ziano. Meskipun kalimatnya selalu menyindir dan sarkas tapi sorot mata dan senyum Ara menunjukan gadis itu smemberikan perhatian lebih pada Ziano.
"Ra, abisin dulu batagor kamu." ucap Marcel.
"Iya." jawabnya tanpa menoleh ke Marcel. Dirinya malah sibuk meledek Ziano yang bahkan minta nambah.
"Pesen ke depan sana A kalo mau lagi." Ucapnya.
"Gue pesen lagi kalo gitu." Ziano beranjak dari duduknya, "Cel, lo mau nambah juga nggak?" lanjutnya bertanya pada Marcel.
"Nggak, A." jawabnya singkat.
Setelah Ziano pergi memesan, Ara masih terus memperhatikannya.
"A Ano lucu yah, Cel. Tadi so so an nggak mau tapi sekali makan malah minta nambah. Untung aku suapin tadi." ucapnya seraya menyedot es jeruk miliknya.
"Hampir tiap makanan A Ano kayak gitu. Ini itu nggak belaga nggak doyan tapi setelah dipaksa disuapin akhirnya nagih." jelasnya dengan senyam senyum mengingat banyak hal yang ia lalui dengan Ziano.
Makin di dengar makin hilang naf su makan Marcel, kali ini ia meletakan sendok dan menjauhkan piring. "Sebaiknya lo nggak terlalu deket sama dia, Ra. Kita nggak tau tujuan dia sebenernya apa, Ra." Marcel menengok lebih dulu, memastikan Ziano masih sibuk dengan pesanannya.
"Kita nggak boleh berprasangka buruk, Cel. Sejauh ini A Ano baik kok. Mau bantu ngasuh Lusi, beres-beres warung, bantuin kita bisa tetep jalan kayak gini, terus juga yang paling the best A Ano bisa ngajarin aku sampe nilai aku bagus gini." senyum Ara makin merekah.
"Nanti malem aku mau belajar lagi sama A Ano, biar Uji Kompetensi Eksteral aku bisa lebih bagus lagi nilainya. Apalagi UKK eskternal ada wawancaranya juga, aku harus belajar lebih." lanjutnya.
"Kalian tiap malem belajar bareng?"
Ara menggangguk, "iya kan kita serumah."
"Mending A Ano suruh tinggal di kosan abi aku aja, Ra. Buat jaga-jaga takutnya selama ini dia baik-baikin keluarga kamu biar keluarga kamu lengah. Kan bisa aja malem-malem dia kabur bawa barang berharga." jelas Marcel. Bagaimana pun caranya ia harus menjauhkan Ziano dari Ara sebelum gadis itu makin menjauh dari dirinya.
"Gitu yah?" Ara berusaha mencerna penjelasan Marcel.
Ara terdiam sejenak. Es jeruk di tangannya sudah hampir habis, tapi pikirannya malah sibuk memutar ulang perkataan Marcel.
"Maksud kamu A Ano pura-pura baik?" tanyanya pelan.
"Aku nggak bilang gitu." Marcel buru-buru menggeleng. "Tapi kita nggak kenal dia, Ra."
"Tapi selama ini A Ano baik kok."
"Orang jahat juga nggak langsung kelihatan jahat, Ra." jawab Marcel.
Ara refleks terdiam.
Marcel memanfaatkan jeda itu.
"Lagian aneh nggak sih?"
"Apa?"
"Dia betah banget tinggal di rumah kamu."
Ara hendak membalas, tapi Marcel lebih dulu melanjutkan.
"Kalau aku jadi dia, pasti nggak enak terus-terusan merepotkan keluarga orang."
Ara menggigit bibir bawahnya, suatu kebiasaan yang ia lakukan saat bingung. Satu sisi apa yang dikatakan Marcel tidak salah tapi di sisi lain hati kecilnya menolak saat Ziano dianggap memiliki niat buruk.
"Coba kamu pikir deh, apa yang aku bilang bener kan?" dan ucapan Marcel makin membuat Ara ragu.
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih