NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: PETA BARU DAN MISTERI GUNUNG BERAPI

Beberapa bulan telah berlalu sejak pertempuran besar melawan Sang Adipati Kala. Kehidupan di sekitar wilayah gunung itu kini berjalan sangat damai, bahkan jauh lebih makmur dari sebelumnya. Warga desa hidup tenang, panen melimpah, dan rasa takut akan makhluk halus sudah hilang sama sekali. Hubungan antara manusia dan alam gaib kini terjalin erat layaknya saudara, saling mengingatkan dan saling menjaga.

Raga kini sudah dikenal luas sebagai Penjaga Sejati. Setiap hari, banyak orang datang dari desa-desa jauh untuk meminta bantuan, mendoakan keselamatan, atau sekadar memberi penghormatan. Meski sudah punya kedudukan tinggi, Raga tetaplah pemuda sederhana. Ia lebih sering terlihat bekerja di sawah, membantu warga, atau duduk diam di Gua Penggung mempelajari isi Kitab Lontar Eyang Noto yang terus bertambah halamannya.

Pagi itu, seperti biasa Raga duduk di ruangan dalam gua, diterangi cahaya kristal alami. Di depannya, kitab itu terbuka lebar. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda. Di halaman paling belakang yang biasanya kosong dan polos, kini muncul gambar dan tulisan baru yang bersinar samar berwarna merah gelap.

"Eyang... lihat ini," panggil Raga pelan.

Eyang Sastro yang sedang duduk merapikan tanaman obat di sudut ruangan segera mendekat. Ia menyipitkan mata mengamati tulisan dan gambar itu saksama. Mbah Joyo pun ikut mendekat, penasaran.

"Apa ini gambarnya? Bukan wilayah kita kan?" tanya Mbah Joyo menunjuk gambar peta yang tergambar rumit.

Eyang Sastro mengerutkan kening dalam-dalam. Ia mengusap jari tuanya di atas garis-garis peta itu, lalu wajahnya perlahan berubah menjadi serius dan tegang.

"Ini... ini bukan daerah kita, Raga. Ini jauh sekali ke arah timur. Di sana ada rangkaian gunung berapi yang sangat besar dan berbahaya. Wilayah itu dikenal sebagai Kawah Api Semesta."

Eyang Sastro menunjuk simbol aneh berbentuk lingkaran berapi di tengah peta itu.

"Dulu, saat zaman Eyang Noto masih muda, tempat itu adalah tempat pertemuan para leluhur dan pusat kekuatan alam terbesar. Tapi ratusan tahun lalu, tempat itu tertutup dan dikutuk karena ada kekuatan besar yang tidak seimbang di sana. Konon, di sana lah asal mula segala api dan energi panas dunia ini mengalir."

Raga mengamati tulisan di samping gambar itu. Tulisan itu berbunyi:

"Tanda merah menyala di timur, keseimbangan dunia terancam duri. Penjaga harus berangkat ke tempat asal api, menutup retakan yang bisa hancurkan bumi dan langit."

"Retakan?" Raga mengerutkan kening. "Maksudnya apa, Eyang?"

Eyang Sastro menghela napas panjang, lalu duduk bersila di depan kitab itu.

"Dunia ini, Nak, ibarat rumah besar. Ada banyak tiang penyangga yang menjaga agar rumah itu tidak roboh. Wilayah kita adalah satu tiang penyangga. Kawah Api Semesta itu adalah tiang penyangga utama yang paling besar. Kalau di sana ada gangguan atau kerusakan, dampaknya akan terasa ke seluruh dunia. Bencana alam, gempa besar, gunung meletus, wabah, semuanya bisa terjadi di mana-mana."

Eyang Sastro menatap Raga lekat-lekat.

"Dan tulisan ini muncul sekarang... berarti ada sesuatu yang salah di sana. Ada kekuatan yang mengganggu keseimbangan di pusat api itu. Dan karena kau Penjaga Utama yang diakui alam... tugas itu jatuh ke pundakmu."

Raga diam sejenak. Ia menatap peta itu, merasakan getaran samar yang keluar dari kertas lontar itu. Getaran itu tidak nyaman, panas, dan penuh bahaya.

"Berarti aku harus pergi ke sana?" tanya Raga mantap.

"Ya. Dan perjalanan itu tidak mudah, Nak. Jauh, berbahaya, dan penuh misteri. Wilayah itu panas, beracun, dan dijaga oleh makhluk-makhluk kuno yang sifatnya liar dan keras kepala. Mereka tidak sebaik Kanjeng Raden atau Nyi Blorong. Mereka hidup mengikuti hukum alam yang keras dan kejam."

Tiba-tiba, dari mulut gua terdengar suara langkah berat dan gemuruh tanah. Kanjeng Raden dan Nyi Blorong masuk. Mereka berdua sepertinya sudah merasakan gangguan itu juga, aura mereka tidak seceria biasanya.

"Kami sudah mendengarnya, Raga," kata Kanjeng Raden langsung. Suaranya berat dan serius. "Kekacauan energi dari timur itu sudah terasa sampai ke sini. Udara makin panas, angin makin kering. Benar kata Eyang Sastro, ada yang rusak di Kawah Api Semesta."

Nyi Blorong mengangguk cemas. "Dulu... Sang Adipati Kala sempat menyebut tempat itu sebelum dia mundur. Sepertinya dia punya rencana lain di sana. Dia kalah di sini, tapi dia mungkin mau mengacak-acak keseimbangan di sana sebagai balas dendam."

Raga bangkit berdiri. Ia menutup kitab itu dan menyelipkannya kembali ke dada. Ia merasakan semangat petualangan kembali membara di dadanya. Dulu ia bertarung karena terpaksa, sekarang ia bertualang karena tanggung jawab dan cinta pada kedamaian.

"Kalau begitu... aku berangkat," kata Raga tegas.

"Sendirian?" tanya Mbah Joyo khawatir.

"Kau tidak akan pergi sendirian," potong Kanjeng Raden cepat. Ia menepuk dada bidangnya sendiri. "Aku akan ikut. Aku kenal jalan-jalan rahasia ke sana. Dan kekuatan api adalah keahlianku juga. Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke sarang harimau sendirian."

Nyi Blorong tersenyum dan melangkah maju. "Aku juga ikut. Wilayah di sana banyak berawa dan tanah lunak, aku bisa mengendalikan tanah dan akar kalau kita butuh jalan atau perlindungan. Lagipula... aku penasaran apa yang sebenarnya ada di pusat dunia itu."

Eyang Sastro tersenyum puas melihat kebersamaan mereka. "Bagus sekali. Tim ini sudah lengkap. Aku dan Mbah Joyo akan tetap di sini menjaga markas dan wilayah kita. Kami akan jadi pusat penghubung energi kalian. Kalian pergi dan selesaikan tugas ini."

Eyang Sastro lalu mengeluarkan dua benda pusaka baru dari tasnya.

"Raga, ambil ini. Ini Cincin Pelindung Api. Dulu milik Eyang Noto. Pakai ini, panas sekuat apa pun tidak akan membakar kulitmu. Dan ini..." Ia memberikan sebuah lonceng kecil berwarna perak. "...ini Lonceng Pemanggil. Kalau kalian dalam bahaya besar dan butuh tenaga tambahan, bunyikan ini. Energi kita akan langsung mengalir ke sana sekuat tenaga."

Raga menerima kedua benda itu dengan hormat. Ia memasang cincin itu di jari manis tangan kanannya. Seketika terasa dingin dan nyaman menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Terima kasih, Eyang. Terima kasih, Kek."

Mbah Joyo memeluk cucunya erat sekali, berlinang air mata. "Hati-hati ya Nak. Jangan nekat. Ingat, kami selalu mendoakanmu dari sini."

"Siap, Kek. Aku janji pulang dengan selamat," jawab Raga meyakinkan.

 

Pagi itu juga, persiapan dilakukan dengan cepat. Tidak butuh banyak bekal makanan atau pakaian, karena perjalanan ini adalah perjalanan alam dan gaib. Bekal utama mereka adalah ilmu, kekuatan, dan keberanian.

Raga mengenakan jubah perjalanan berwarna putih sederhana dengan ikat pinggang kulit. Di pinggang kirinya terselip Keris Berluk 9 yang kini bersinar stabil dan tenang. Di dadanya tersimpan Kitab Lontar, sumber segala ilmunya.

Kanjeng Raden kembali ke wujud aslinya yang gagah dan berwibawa, namun tidak terlalu raksasa agar mudah bergerak. Ia membawa tombak panjangnya yang tidak pernah lepas dari tangannya. Nyi Blorong tampil anggun dengan pakaian hijau daun yang menyatu dengan alam, gerakannya lembut namun penuh kewaspadaan.

"Siap?" tanya Raga pada kedua temannya itu.

"Siap!" jawab mereka serentak.

"Berangkat!"

Mereka bertiga melangkah keluar dari Gua Penggung. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, mereka berjalan menuju jalur timur, jalur yang jarang dilewati makhluk hidup mana pun.

Perjalanan hari pertama dan kedua berjalan melewati hutan-hutan lebat yang makin lama makin liar. Pepohonan makin tinggi dan rapat, suhu udara makin hangat, dan tanah makin berwarna kemerahan. Hewan-hewan yang mereka temui makin aneh dan jarang dilihat di tempat biasa. Semua makhluk yang lewat seolah tahu mereka siapa, dan semua menyingkir dengan hormat, memberi jalan lebar bagi Penjaga Sejati dan rombongannya.

Malam ketiga, suasana berubah drastis.

Langit yang tadinya biru bersih perlahan berubah menjadi kelabu kemerahan. Awan tidak lagi berwarna putih, melainkan abu-abu tebal yang menggantung rendah. Udara yang dihirup terasa panas dan agak pedih, bau belerang mulai tercium samar-samar namun jelas. Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar-getar kecil, berirama seperti napas raksasa yang sedang tidur.

"Kita sudah masuk wilayah perbatasan," kata Kanjeng Raden pelan, matanya tajam mengamati sekeliling. "Di depan sana, tidak ada lagi pepohonan. Hanya tanah tandus, batu tajam, dan asap panas. Kawah Api Semesta tidak jauh lagi."

Raga memandang ke depan. Di kejauhan, terlihat garis cakrawala yang bersinar merah samar, seolah matahari terbit di sana tapi warnanya jauh lebih gelap dan mengerikan.

"Kau rasakan itu, Raga?" tanya Nyi Blorong pelan.

"Ya... ada yang marah di sana," jawab Raga. Ia bisa merasakan energi yang sangat besar, liar, dan tidak terkendali berdenyut dari kejauhan. Energi itu jauh lebih tua dan jauh lebih murni dibandingkan energi Sang Adipati Kala. Itu adalah energi alam asli, kekuatan murni bumi.

Tiba-tiba, dari balik gundukan batu besar di sebelah kanan jalan mereka, terdengar suara mendesis panjang dan tajam.

"Ssssssttttt... Siapa yang berani masuk ke wilayah kami... Wilayah Api Abadi..."

Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong langsung berhenti melangkah, siap siaga.

Dari balik batu itu, muncul makhluk-makhluk menyeramkan. Tubuh mereka berwujud manusia tapi kulit mereka berwarna merah bata, kasar dan retak-retak seperti tanah liat yang kering. Mata mereka menyala api kecil, dan dari mulut mereka keluar asap tipis. Mereka memegang senjata berupa tongkat batu yang ujungnya menyala api hidup.

Ada puluhan makhluk itu, mengelilingi mereka bertiga dengan gerakan kaku namun cepat.

Kanjeng Raden maju selangkah, aura emasnya memancar menahan panas udara.

"Kami utusan Penjaga Gerbang! Kami datang bukan untuk berperang, tapi untuk melihat apa yang rusak di tempat kalian! Minggirlah!" bentak Kanjeng Raden tegas.

Namun, pemimpin makhluk tanah itu, yang tubuhnya lebih besar dan lebih merah, tertawa keras. Tawanya kasar dan kering.

"Penjaga Gerbang? Di sini tidak ada penjaga selamanya! Di sini yang berkuasa adalah Raja Api Purba! Dan dia sedang marah besar... Siapa pun yang masuk... akan jadi abu!"

Makhluk itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Seketika, tanah di sekitar Raga dan teman-temannya retak-retak, dan semburan api kecil menyembur keluar dari celah tanah!

"SIAPKAN DIRI! MUSUH SUDAH MENGHADANG!" teriak Raga. Ia mengangkat tangannya, cincin di jarinya bersinar terang membentuk perisai dingin menahan panas yang menyambar.

Petualangan baru yang jauh lebih liar dan lebih berbahaya... BARU SAJA DIMULAI di tanah merah yang panas ini!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!