NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela, namun tidak membawa kehangatan sedikit pun. Aku terbangun dengan mata yang sembab dan kepala yang berdenyut hebat. Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju pintu kamar. Saat jemariku menyentuh gagang pintu, aku bersiap untuk kecewa, namun ternyata... cklek.

Pintu itu tidak lagi dikunci.

Aku melangkah keluar ke koridor, namun keheningan mansion yang biasanya mencekam kini berganti dengan suara riuh rendah yang asing. Ada derap langkah kaki yang terburu-buru, suara geseran furnitur, dan bisik-bisik yang memenuhi udara.

"Apa yang terjadi?" gumamku lirih.

Aku menuruni tangga marmer dengan hati-hati. Di bawah, pemandangan kacau menyambutku. Para pelayan sedang sibuk memasang kain-kain hitam di beberapa sudut ruangan. Orang-orang berpakaian jas gelap berdiri di aula utama, berbicara dengan nada rendah. Mansion ini tiba-tiba terasa seperti markas besar yang sedang mempersiapkan upacara besar.

Aku mendekati salah satu pelayan yang sedang membawa tumpukan kain putih. "Bi... Bibi, ada apa ini? Kenapa semua orang sibuk sekali? Di mana Darrel?"

Pelayan itu menatapku dengan tatapan iba, bibirnya gemetar, namun ia tidak berani mengeluarkan suara. Ia hanya menunduk dalam dan segera berlalu dariku.

Tepat saat itu, suara deru mesin mobil yang berat terdengar dari arah halaman depan. Aku berlari kecil menuju pintu besar yang terbuka lebar. Sebuah mobil jenazah berwarna hitam pekat berhenti tepat di depan undakan tangga. Beberapa pria berbadan tegap turun dan mulai menurunkan sebuah peti kayu dari sana.

Duniaku serasa berhenti berputar. Oksigen seolah menghilang dari sekitarku.

"Tidak... tidak mungkin," bisikku. Tubuhku merosot, lututku menghantam lantai teras yang dingin. "Nenek..."

Aku melihat siluet tinggi yang sangat kukenali turun dari mobil di belakang mobil jenazah. Darrel. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, wajahnya tampak sangat kaku, seperti pahatan batu yang tak bernyawa.

Aku bangkit dengan sisa tenaga yang kupunya, berlari menghampirinya dan mencengkeram kemejanya dengan tangan gemetar.

"Darrel! Siapa itu?!" teriakku histeris, menunjuk ke arah peti yang sedang diangkat masuk. "Katakan padaku itu bukan dia! Nenek baik-baik saja, kan? Kau bilang kemarin dia sudah stabil! Darrel, jawab aku!"

Darrel diam. Ia tidak membalas pelukanku, tidak juga menjauhkan tanganku. Ia hanya menatap lurus ke arah peti itu dengan mata yang sangat dingin, seolah emosinya sudah mati total.

"Darrel, kumohon! Jangan diam saja! Siapa yang ada di dalam sana?!" aku meraung, memukul dadanya karena frustrasi.

"nenek sudah tidak ada, Lily," ucapnya pelan. Suaranya datar, tanpa getaran, namun kata-katanya menghujam jantungku lebih dalam dari belati mana pun.

"Kau bohong! Kau sengaja menjauhkan aku darinya agar dia meninggal sendirian! Kau pembunuh, Darrel! Kau pembunuh!" aku berteriak gila, tangisku pecah memenuhi halaman mansion yang sunyi.

Darrel akhirnya memegang kedua pergelangan tanganku, menguncinya agar aku berhenti memukulnya. Ia menatapku tajam, ada kilatan kepedihan yang sangat cepat lewat di matanya sebelum kembali menghilang.

"Hentikan histeriamu. Dia meninggal dalam tidurnya satu jam setelah kau pergi semalam. Setidaknya dia tidak perlu menderita lebih lama lagi karena rahasia-rahasia sialan keluargamu," desisnya rendah.

Ia melepaskan tanganku dan menoleh ke arah Martha yang berdiri tak jauh di belakang kami. "Martha, bawa dia masuk. Mandikan dia dan pastikan dia memakai pakaian hitam yang pantas. Pemakaman akan dilakukan dua jam lagi di pemakaman keluarga Grisham. Di samping Dante."

"Apa? Di samping Dante?" aku tertegun. "Kenapa di sana? Dia bukan keluarga Grisham!"

Langkah kaki Darrel terhenti. Ia berbalik perlahan, menatapku dengan sorot mata yang begitu tajam hingga aku merasa sanggup menembus kulitku. Angin pagi yang dingin berhembus di antara kami, menerbangkan ujung kemeja hitamnya yang tak terkancing rapi.

"Lalu di mana tempat yang kau inginkan, Liana?" tanyanya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun sarat dengan ancaman yang nyata. "Di pemakaman keluarga Livingston?"

Aku tersentak, lidahku mendadak kelu.

Darrel melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara kami hingga bayangannya menelan tubuhku sepenuhnya. "Kau pikir kenapa aku membawanya ke sini? Kau pikir aku melakukannya karena aku menghormati garis keturunanmu?"

"Aku hanya... dia bukan bagian dari kalian," rintihku sambil terisak.

"Justru itu poinnya!" Darrel mencengkeram bahuku, memaksaku menatap nisan-nisan Grisham di kejauhan melalui gerbang mansion. "Jika aku memakamkannya di pemakaman umum atau di tanah milik keluargamu yang lama, besok pagi seluruh klan mafia di negara ini akan tahu bahwa ada seorang Livingston yang masih bernapas."

Aku memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh membasahi pipiku. Rasa takut mulai menggerogoti rasa sedihku.

"Dunia luar menganggap Emily Livingston sudah mati terbakar belasan tahun lalu," lanjut Darrel, suaranya kini tepat di telingaku. "Jika identitasmu terbongkar karena sebuah nisan, aku tidak akan bisa melindungimu lagi, bahkan dari ayahku sendiri."

Ia melepaskan cengkeramannya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Memakamkannya di samping Dante adalah cara terbaik untuk membungkam mulut semua orang. Orang-orang akan mengira dia hanyalah pelayan setia keluarga Grisham yang diberikan kehormatan terakhir. Itu satu-satunya cara agar kau tetap hidup sebagai Liana."

Aku tertunduk lesu. Kebenaran yang ia ucapkan terasa seperti batu besar yang menghimpit dadaku. Aku tidak punya kekuatan untuk membantah lagi. Di dunia yang gila ini, bahkan untuk memberikan tempat peristirahatan terakhir bagi nenekku pun, aku harus bersembunyi di balik nama musuhku.

"Maafkan aku, Nek," bisikku dalam hati dengan hancur.

"Martha!" panggil Darrel tanpa menoleh lagi padaku.

Martha segera berlari menghampiri dengan wajah cemas. "Ya, Tuan Muda?"

"Bawa dia masuk. Ganti pakaiannya dengan gaun hitam yang tertutup. Pastikan dia memakai cadar tipis saat pemakaman nanti. Aku tidak ingin ada satu pun pelayat yang melihat wajahnya terlalu jelas," perintah Darrel dingin.

"Baik, Tuan Muda. Mari, Nyonya..." Martha membimbing lenganku yang lemas.

Aku mengikuti langkah Martha masuk ke dalam mansion, melewati peti mati nenek yang kini sudah diletakkan di tengah aula. Aku berhenti sejenak di samping peti itu, menyentuh kayu jati yang dingin dengan ujung jariku.

"Aku akan menurut, Darrel," ucapku pelan, meski aku tahu dia sudah berjalan menjauh. "Aku akan menjadi Liana... demi Nenek. Tapi jangan harap aku bisa melupakan siapa aku sebenarnya."

Di kamar, Martha membantuku memakai gaun hitam berbahan renda yang terasa sangat berat. Saat ia memasangkan cadar tipis transparan di wajahku, aku melihat pantulan diriku di cermin. Sosok di sana bukan lagi gadis toko bunga yang ceria. Dia adalah seorang wanita yang baru saja kehilangan akar terakhirnya, bersiap untuk menguburkan satu-satunya saksi sejarah hidupnya di tanah musuh.

"Nyonya tampak sangat cantik, tapi sangat sedih," bisik Martha sambil merapikan kain hitam di kepalaku.

"Cantik atau tidak, itu tidak ada gunanya di sini, Martha," jawabku datar. "Ayo. Aku tidak ingin membuat Darrel menunggu lebih lama lagi."

***

Prosesi pemakaman berlangsung di bawah langit yang mendadak mendung, seolah alam pun turut merasakan sesak yang menghimpit dadaku. Langkahku terasa berat saat melewati barisan nisan Grisham yang angkuh, hingga akhirnya kami sampai di sebuah liang lahat yang baru saja digali, tepat di sisi makam Dante.

Aku berdiri di samping Darrel, wajahku tertutup cadar hitam tipis yang menyamarkan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Namun, tubuhku seketika membeku saat melihat sosok yang berdiri di sisi lain liang lahat.

Erlan Grisham.

Pria tua itu berdiri tegak dengan setelan jas hitam sempurna, tangannya tertumpu pada tongkat kayu berukir kepala singa. Ia tidak menatap peti mati itu dengan kesedihan, melainkan dengan tatapan penuh kemenangan yang dingin. Kehadirannya di sini bukan untuk memberi penghormatan, melainkan untuk memastikan bahwa saksi hidup terakhir dari keluarga Livingston benar-benar telah bungkam.

"Sebuah akhir yang sunyi bagi seseorang yang menyimpan begitu banyak rahasia, bukan begitu, Lily?" suara Erlan memecah keheningan, berat dan berwibawa.

Aku hanya bisa menunduk, meremas sapu tangan di tanganku hingga buku-buku jariku memutih.

"Ayah, cukup," potong Darrel dengan nada peringatan. Ia melirik Erlan dengan sorot mata yang tak kalah tajam. "Biarkan pemakaman ini berjalan dengan tenang."

Erlan tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat bulu kudukku meremang. "Aku hanya mengagumi betapa rapi takdir bekerja. Siapa sangka, pengasuh keluarga Livingston akan berakhir di tanah pemakaman Grisham. Ini adalah bentuk kemurahan hatiku yang paling besar, Darrel."

Peti jenazah mulai diturunkan perlahan menggunakan tali tambang yang tebal. Suara kayu yang beradu dengan dinding tanah terdengar begitu menyakitkan di telingaku. Dug. Peti itu sampai di dasar.

"Lakukan," perintah Darrel padaku.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil segenggam tanah merah. Aku berlutut di tepi liang, menatap peti mati nenek untuk terakhir kalinya.

"Maafkan aku, Nek," bisikku di balik cadar, suaraku pecah. "Maafkan aku karena tidak bisa membawamu pulang ke tempat yang seharusnya. Tidurlah dengan tenang... Emily akan menjaga rahasia ini."

Saat aku menjatuhkan tanah itu, Erlan melangkah maju. Ia mengambil segenggam tanah dan melemparkannya dengan gerakan yang santai, hampir seperti membuang sampah.

"Tidurlah yang nyenyak, Zela," ucap Erlan dengan nada yang sangat rendah, namun aku bisa mendengarnya. "Sampaikan salamku pada Jhonatan di neraka. Katakan padanya, putrinya berada di tangan yang tepat."

Aku tersentak dan menatap Erlan dengan penuh kebencian di balik cadar. Namun, Darrel segera merangkul bahuku dengan kuat, menarikku mundur sebelum aku melakukan hal bodoh.

"Upacara selesai," ucap Darrel dingin pada para penggali kubur.

Erlan memutar tubuhnya, menatap kami berdua bergantian. "Sekarang setelah beban masa lalumu terkubur, aku harap kau bisa fokus pada masa depan klan ini, Darrel. Dan kau, Liana... ingatlah bahwa satu-satunya alasan kau masih berdiri di sini adalah karena marga Grisham yang kini melekat pada namamu. Jangan pernah mencoba menggali apa yang sudah tertimbun tanah."

Erlan melangkah pergi diikuti oleh para pengawalnya, meninggalkan aura kegelapan yang masih membekas.

Kini hanya tersisa aku dan Darrel di depan dua makam yang berdampingan: Dante dan Nenek Zela. Darrel melepaskan rangkulannya, namun ia tetap berdiri di sampingku, membiarkan angin bukit menerpa kami berdua dalam keheningan yang panjang.

"Kenapa ayahmu begitu membenci keluargaku, Darrel?" tanyaku dengan suara serak. "Jika dulu mereka bersahabat, apa yang membuat semuanya menjadi sekejam ini?"

Darrel menatap nisan Dante tanpa ekspresi. "Persahabatan antar mafia hanyalah ilusi, Lily. Yang ada hanyalah kepentingan yang saling menguntungkan. Dan ketika kepentingan itu dikhianati, hanya darah yang bisa menebusnya. Dante adalah harga yang harus dibayar keluargaku, dan keluargamu... adalah harga yang harus dibayar Erlan untuk dendamnya."

*

Langkah kaki Erlan yang berat kembali bergema di atas tanah makam yang masih basah. Belum sempat aku menghapus sisa air mata di balik cadar, bayangan tubuhnya yang tinggi dan mengintimidasi sudah mengurungku kembali. Darrel yang berdiri di sampingku langsung menegang, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Erlan berhenti tepat di hadapanku. Ia tidak menatap makam, melainkan menatapku seolah aku adalah barang sitaan yang baru saja ia periksa kelayakannya.

"Jadi," ucap Erlan dengan nada yang sangat tenang namun tajam, "kau sudah mengetahui tentang nama Livingston, Emily?"

Aku tersentak saat dia menyebut nama asliku dengan begitu santai, seolah nama itu adalah sebuah kutukan yang sudah lama ingin dia muntahkan.

"Bagus," lanjutnya tanpa menunggu jawabanku. "Itu akan membuat segalanya lebih mudah. Setidaknya sekarang kau sadar bahwa kehadiranmu di sini bukan untuk menjadi putri dongeng. Kau ada di sini untuk membayar utang darah yang diperbuat keluargamu, terutama apa yang dilakukan kakakmu, Evelyn, pada putra kesayanganku."

"Ayah, cukup!" bentak Darrel, langkahnya maju satu tindak untuk menghalangi Erlan. "Ini bukan tempat untuk membahas itu."

Erlan mengabaikan Darrel, matanya tetap mengunci pandanganku di balik cadar. "Dengarkan aku baik-baik, Gadis Livingston. Karena kau adalah satu-satunya yang tersisa, maka seluruh beban kesalahan ayah dan kakakmu jatuh ke pundakmu. Satu-satunya cara bagimu untuk menebus dosa itu adalah dengan segera memberikan pewaris bagi Grisham."

Ia maju selangkah lagi, hingga aku bisa mencium aroma cerutu dan wiski yang melekat pada jasnya. "Kau harus mendesak suamimu ini agar segera mengambil alih klan. Sudah saatnya Darrel memimpin dan menggantikanku. Grisham butuh pemimpin baru yang memiliki penerus, dan kau... kau adalah wadah yang kupilih untuk itu."

Aku hanya bisa terdiam dengan tubuh bergetar. Rasa mual menjalar di perutku saat menyadari bahwa hidupku kini benar-benar hanya diukur dari rahimku dan ambisi kekuasaan mereka.

"Ingat posisimu, Liana—atau siapa pun kau ingin disebut," Erlan tersenyum miring, senyum yang menunjukkan kekuasaan mutlak. "Bayar hutangmu, atau kau akan berakhir di liang yang sama dengan nenekmu lebih cepat dari yang kau bayangkan."

***

Bersambung...

1
Mia Camelia
lanjut🥰
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Vanni Sr
huufttt smg lily g bodoh yaaa smg bisa seimbangi dn gada drama k toilet sndrian
Mita Paramita
semangat lily🔥💪
Indri
Menarik banget thor novel nya 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪 double up
Vanni Sr
hruanya lily tuh patuh ajaa sihh setiap laki² pny carany sndri , dn yg paling penting hrus bisa seimbangi darell saat d luar biar g lemah dn gk terlihat bodoh.
Nda
di tunggu double up nya thor
Mita Paramita
debut pertama Lily di pesta mafia🤨 semoga disana Ketemu Evelyn
Nanik Arifin
sebenarnya Darrel itu lembut. apalagi untuk ukuran ketua Klan. Lily aj yg suka memancing amarah & rasa cemburu
Mita Paramita
Darrel berubah jadi suami siaga
Mia Camelia
tambah dong 1 chapteer lgi ?😂😂😂teka teki lily banyak sekali thor🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Vanni Sr
gimnaaa reaksi erlaaan , gmna danteee
Mia Camelia
darrel kok jadi kasar bgini yah ??? cinta gak sih🤣🤣🤣
MissSHalalalal: terbakar api cemburu kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
darrel posesif banget🤣, abis lily nya juga sih nyebut2 mulu damian, kan jadi cemburu tuh👍
Mita Paramita
kasian Lily 😭😭😭
Mia Camelia
darrel horror banget klo lagi cemburu😂😂😂
Vanni Sr
ko seolah olah darel blm prnh berhubungan sm lily sihh ,terus itu ko bilg ny clon istri
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!