"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Mansion utama Grisham berdiri tegak di bawah langit malam yang pekat, seperti raksasa yang tertidur. Dinding batu besarnya yang berwarna abu-abu tua diterangi oleh lampu-lampu sorot kekuningan, memberikan kesan megah namun mengintimidasi. Aku turun dari mobil dengan tungkai yang gemetar. Tempat ini adalah titik awal segalanya—tempat di mana aku pertama kali "dibeli" dan diseret ke dalam kegilaan ini.
Aku menoleh ke arah bangunan sayap timur yang terlihat gelap dan tertutup rapat. Aku tahu di bawah sana adalah ruang bawah tanah, tempat yang disebut-sebut sebagai neraka bagi siapa pun yang berani menentang Grisham. Bulu kudukku meremang.
"Kenapa berhenti?" suara Darrel mengagetkanku.
Aku berdiri mematung tepat di ambang pintu masuk yang terbuat dari kayu jati ukir setinggi tiga meter. "Aku... aku takut."
Darrel menatapku sejenak, lalu tangannya yang besar dan hangat menggenggam jemariku yang dingin. Ia menarikku sedikit lebih dekat, memberiku sandaran yang tidak ia ucapkan dengan kata-kata.
"Jangan menunduk. Selama kau berada di sampingku, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang boleh menyentuhmu, termasuk ayahku," bisiknya dengan nada rendah yang penuh keyakinan. "Ayo."
Kami melangkah masuk. Interior mansion ini ternyata jauh dari kesan menyeramkan yang kubayangkan. Langit-langitnya tinggi dengan lukisan fresco bergaya renaisans, lantai marmernya berkilat sempurna, dan aroma kayu cendana tercium lembut. Sangat klasik, sangat elegan, dan sangat mahal. Namun, keindahan ini terasa seperti lapisan tipis yang menutupi kekejaman di bawahnya.
Di ujung aula luas itu, di sebuah meja makan panjang yang bisa menampung tiga puluh orang, Erlan Grisham sudah duduk di kursi kebesarannya. Ia memegang segelas wiski, menatap kami dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya.
"Duduklah," suara Erlan bergema, penuh otoritas.
Kami duduk berseberangan dengan pria tua yang masih terlihat sangat bugar dan berbahaya itu. Suasana makan malam terasa sangat kaku. Pelayan menyajikan hidangan pembuka dalam keheningan yang menyesakkan, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar.
"Jadi," Erlan memulai pembicaraan, matanya tertuju pada Darrel. "Kau merasa bangga dengan apa yang kau lakukan semalam, Darrel?"
Darrel tetap tenang, memotong daging steak-nya dengan presisi. "Aku melakukan apa yang perlu dilakukan."
BRAKK!
Erlan menggebrak meja hingga gelas kristal di depannya bergetar. "Menghajar putra mahkota Winston hingga masuk rumah sakit adalah apa yang perlu dilakukan?! Kau tahu betapa sulitnya menjaga keseimbangan kesepakatan gencatan senjata itu?"
Aku tersentak, jantungku hampir melompat. Darrel kembali ke pesta itu semalam? Setelah ia mengunciku di kamar, dia pergi lagi untuk menghajar Marthin?
"Dia menyentuh milikku, Ayah," jawab Darrel, suaranya naik satu oktav, tajam dan mematikan. "Winston harus tahu bahwa ada harga yang sangat mahal untuk setiap inci kulit istriku yang dia sentuh. Aku tidak peduli dengan kesepakatan bodohmu."
"Kau memperburuk keadaan!" bentak Erlan. "Charly Winston sekarang memiliki alasan untuk mendeklarasikan perang terbuka. Kau bertindak menggunakan emosi, bukan otak! Kau bukan lagi remaja yang berkelahi di sekolah, kau adalah calon pemimpin klan ini!"
"Kalau begitu, jangan pernah berikan posisi itu padaku jika kau ingin pemimpin yang membiarkan istrinya dihina demi sebuah kesepakatan!" balas Darrel sambil berdiri dari kursinya.
Perdebatan antara ayah dan anak itu kian memanas, saling lempar argumen dengan nada tinggi yang membuat para pelayan menyingkir karena ketakutan. Aku hanya bisa tertunduk, meremas serbet di pangkuanku, merasa menjadi penyebab kekacauan besar ini.
Tiba-tiba, ponsel di saku jas Darrel berbunyi nyaring. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat layarnya, dan rahangnya mengeras.
"Aku harus menerima ini. Urusan keamanan di pelabuhan," ucap Darrel dingin. Ia menatapku sejenak, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja, lalu melangkah pergi menuju teras samping untuk menjawab telepon.
Kini, aku hanya berdua dengan Erlan Grisham di ruang makan yang terlalu luas ini.
Erlan menghela napas panjang, lalu kembali menyesap wiskinya. Ia menatapku, kali ini tatapannya sedikit melunak, namun tetap terasa seperti predator yang sedang mengamati mangsanya.
"Lily," panggilnya lembut, namun namaku terdengar asing di mulutnya.
"Ya, Tuan Erlan?" jawabku pelan.
Erlan tersenyum tipis. "Pagi tadi, aku melihat sesuatu yang sangat menarik di sayap barat. Aku masuk ke kamarmu dan melihat kalian berdua tidur dalam satu ranjang. Tanpa sehelai benang pun."
Wajahku seketika terasa panas membara. Aku ingin menghilang ke bawah meja saat itu juga.
"Jangan malu," Erlan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat puas. "Justru itu membuatku sangat bahagia. Aku sudah lama tidak melihat Darrel membiarkan seseorang masuk ke ruang pribadinya sedalam itu. Artinya, kau mulai menjalankan tugasmu dengan baik."
Aku terdiam, tidak tahu harus merespons apa.
Erlan mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Lakukan itu setiap hari, Lily. Pastikan suamimu tetap berada di ranjangmu. Berikan aku keturunan secepat mungkin. Darah murni Grisham."
"Tuan, aku..."
"Jika kau mengandung anaknya, aku tidak akan ragu lagi," potong Erlan dengan mata berbinar penuh ambisi. "Begitu ada pengumuman tentang ahli waris baru, aku akan secara resmi mengumumkan Darrel sebagai pemimpin tertinggi klan Grisham. Kau akan menjadi ratu di dunia ini, Lily. Tidak akan ada lagi Marthin Winston atau siapa pun yang berani menyentuhmu."
Aku tertegun, merasa dadaku sesak. Mereka benar-benar menganggapku sebagai pabrik penghasil ahli waris. Di balik kemewahan ini, aku hanyalah alat untuk memperkuat takhta mereka.
"Kau mengerti, bukan?" tanya Erlan, menuntut jawaban.
Aku menelan ludah, menatap pintu tempat Darrel pergi tadi. "Ya, Tuan. Aku mengerti."
*
Mansion utama terasa semakin menyesakkan setelah percakapan pribadi dengan Erlan. Begitu Darrel kembali ke meja makan, suasana dingin langsung menyergap. Erlan, dengan senyum kemenangan yang tak tertutupi, meletakkan gelas wiskinya.
"Kalian akan menginap malam ini," ucap Erlan, lebih terdengar seperti perintah daripada tawaran.
Darrel langsung menegang. "Tidak. Kami akan kembali ke mansion. Mobil sudah siap."
"Ini sudah larut, Darrel. Dan pembicaraan kita tentang Winston belum selesai sepenuhnya. pelayan sudah menyiapkan kamar lamamu di lantai atas," balas Erlan tenang, namun matanya berkilat menantang.
Darrel sempat ingin membantah lagi, namun ia melirik ke arahku—melihat wajahku yang pucat dan kelelahan—lalu mengembuskan napas kasar. "Hanya satu malam."
Erlan mengangguk puas dan memberi isyarat pada pelayan untuk menuntun kami. Kami dibawa ke lantai paling atas, melewati lorong sunyi yang dipenuhi potret leluhur Grisham yang tampak menghakimi dari bingkai emas mereka. Saat pintu besar itu terbuka, aku terpaku di ambang pintu.
Kamar masa kecil Darrel tidak seperti kamar anak-anak pada umumnya. Ruangan itu luas, dengan furnitur kayu gelap dan nuansa maskulin yang kaku. Namun, mataku langsung tertuju pada sebuah sudut yang agak berdebu. Di sana, terpajang sebuah lukisan besar yang ditutupi kain putih tipis yang sudah agak transparan.
Aku melangkah mendekat, mengabaikan Darrel yang langsung berjalan menuju balkon tanpa suara. Aku menyingkap sedikit kain itu. Jantungku berdegup kencang. Lukisan itu menggambarkan pemandangan sebuah danau saat senja, dengan teknik sapuan yang sangat detail namun terasa penuh kesedihan. Dan di sudut bawah, aku melihat inisial itu lagi.
D.M.N.
"D.M.N," bisikku pelan. Inisial yang sama dengan yang ada di kuas lukis di kamar sayap barat. Kini aku semakin yakin, ini adalah karya mendiang kakaknya. Kenapa inisial ini terasa begitu menghantui, seolah-olah nama pemiliknya sedang tertahan di ujung lidahku?
Aku menoleh ke arah balkon. Pintu kaca besar itu terbuka, membiarkan angin malam yang menusuk masuk ke dalam kamar. Darrel berdiri di sana, membelakangiku. Asap rokok mengepul dari jemarinya, terbang tertiup angin menuju kegelapan hutan yang mengelilingi mansion.
Aku melangkah perlahan menghampirinya. Suara langkah sepatuku di lantai kayu membuat Darrel menoleh sedikit, namun ia kembali menatap lurus ke depan.
"Kenapa lukisan itu ada di sini?" tanyaku pelan saat berdiri di sampingnya. "Inisial D.M.N itu... itu milik kakakmu, kan?"
Darrel menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Cahaya dari ujung rokoknya yang membara menyinari sebagian wajahnya yang tampak sangat lelah.
"Dia satu-satunya orang yang seharusnya ada di sini, Lily. Bukan aku," suaranya parau, hampir hilang ditelan desau angin. "Dia pelukis berbakat, dia yang dicintai Erlan, dan dia yang memiliki jiwa pemimpin yang sesungguhnya. Sedangkan aku? Aku hanya bayangan yang tersisa untuk membersihkan noda darah di klan ini."
"siapa namanya? D.M.N... siapa nama lengkapnya, Darrel?" tanyaku hati-hati.
Darrel terdiam cukup lama. Keheningan di antara kami terasa sangat berat. Ia menjatuhkan puntung rokoknya ke lantai balkon dan menginjaknya hingga padam.
"Dante Maximilian Nikolas," jawabnya tajam. "Nama yang seharusnya menjadi legenda, tapi Erlan menghapus namanya dari setiap dokumen sejarah klan setelah dia tiada. Hanya lukisan-lukisan itu yang tersisa."
Dante. Nama itu bergema di kepalaku. Aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi di mana?
"Jangan terlalu banyak bertanya tentang dia," lanjut Darrel, kini ia memutar tubuhnya dan menatapku dengan sorot mata yang kembali dingin. "Mengetahui tentang Dante hanya akan membuatmu semakin benci berada di keluarga ini. Tidurlah. Besok pagi kita pergi dari sini."
Ia hendak melangkah masuk, namun aku menahan lengannya. "Erlan ingin aku memberinya keturunan, Darrel. Dia bilang itu syarat agar kau menjadi pemimpin baru."
Darrel berhenti melangkah. Rahangnya mengeras. Ia menatapku dengan intensitas yang mengerikan. "Erlan bisa memimpikan apa pun yang dia mau. Tapi kau... kau bukan mesin untuk ambisinya."
***
Bersambung...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya