NovelToon NovelToon
Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Sistem Kenaikan Surgawi; Jalan Kultivasi Melintasi Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nameless Monarch

ig: @namemonarch

Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.

​"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."

​Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 — Lelang Keputusasaan

Malam turun menyelimuti Kota Daun Gugur bersama embusan angin dingin yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin yang menggigit itu sama sekali tidak mampu meredam ketegangan yang mendidih di dalam Balai Lelang Pusat. Bangunan bundar berkubah tembaga tersebut malam ini menjadi saksi bisu dari keruntuhan sebuah dinasti kecil.

Di barisan paling belakang, tersembunyi di sudut yang minim pencahayaan, sesosok pria berjubah abu-abu kusam duduk dengan sangat tenang. Ye Chen menyandarkan punggungnya ke dinding batu, kedua matanya terpejam sebagian.

Tidak ada satu pun kultivator di ruangan itu yang menyadari kehadirannya. Melalui Teknik Pernapasan Arus Bumi, ia menarik seluruh fluktuasi Qi dan hawa keberadaannya ke dasar lantai kayu tempat ia berpijak. Bagi sensor spiritual para ahli di sekitarnya, kursi di sudut itu hanyalah sebuah ruang kosong yang tidak perlu diperhatikan.

"Sistem," gumam Ye Chen di dalam benaknya, mengandalkan insting analitisnya untuk memetakan situasi sebelum lelang dimulai. "Aktifkan Pupil Penembus Ilusi. Pindai fluktuasi emosi dan gelombang jiwa dari target utama di barisan depan."

Keheningan sesaat menyelimuti benaknya sebelum suara mekanis yang dingin merespons.

[Permintaan pengguna diterima.]

[Menyesuaikan sensor optik... Pemindaian gelombang jiwa dimulai.]

Di balik kelopak matanya yang setengah tertutup, dunia fisik berubah menjadi lautan spektrum warna. Ye Chen bisa melihat siluet energi dari tokoh-tokoh besar Kota Daun Gugur. Sebuah panel antarmuka transparan seketika memproyeksikan deretan data tepat di depan garis pandangnya.

[Target Pertama: Lin Tian.]

[Analisis Status: Fluktuasi Qi bergetar hebat. Keputusasaan di tingkat 85%. Emosi amarah mendominasi, tingkat rasionalitas menurun tajam.]

Ye Chen menatap sekilas ke arah kursi kehormatan di sebelah kiri. Lin Tian duduk di sana dengan wajah memerah dan urat pelipis yang menonjol. Auranya memancarkan warna merah gelap yang tidak stabil. Pria itu tampak seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.

[Target Kedua: Master Zhu (Paviliun Awan Merah).]

[Analisis Status: Fluktuasi Qi stabil. Tingkat keserakahan sangat tinggi. Kewaspadaan terhadap ancaman berada di titik terendah.]

Di seberang Lin Tian, Master Zhu bersandar santai di kursinya. Pria bertubuh tambun itu memancarkan rona hijau pekat dari tubuhnya, memperlihatkan ambisi dan arogansi yang tidak ditutupi sama sekali.

[Target Ketiga: Tabib Hua Jue.]

[Analisis Status: Sirkulasi meridian sangat bersih. Tingkat kepercayaan diri optimal. Emosi terkendali.]

Di barisan tengah, pion emas Ye Chen duduk dengan tenang. Tabib Hua Jue mengenakan jubah sutra putih berhiaskan sulaman teratai emas. Berkat penyembuhan malam sebelumnya, fluktuasi Qi pria tua itu memancarkan rona biru yang sangat stabil.

Suara ketukan palu kayu bergema keras ke seluruh penjuru ruangan melingkar tersebut, memutus analisis Ye Chen. Seorang juru lelang berpakaian rapi berdiri di atas podium. Wajahnya memancarkan ekspresi kaku yang profesional.

"Hadirin sekalian, pelelangan darurat malam ini dibuka secara resmi," suara juru lelang memecah dengungan kasak-kusuk para hadirin. "Hanya ada satu objek yang akan ditawarkan malam ini. Dokumen resmi hak kelola, penggalian, dan penguasaan tanah atas Tambang Batu Utara dengan durasi sembilan puluh tahun penuh. Sertifikat ini dijamin secara sah, langsung oleh cap resmi Balai Kota dan diawasi oleh Serikat Gagak Hitam."

Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruangan. Tambang Batu Utara adalah lahan yang secara resmi hanya menghasilkan bijih besi spiritual tingkat rendah. Namun, ukurannya yang masif menjadikannya aset logistik jangka panjang yang sangat krusial bagi faksi mana pun.

Pelelangan malam ini ibarat melihat seekor harimau raksasa yang sedang sekarat karena kehabisan darah, sementara kawanan serigala buas telah berkumpul di sekelilingnya, bersiap merobek dagingnya hingga tak bersisa.

"Harga pembukaan ditetapkan pada sepuluh ribu keping koin emas murni," lanjut juru lelang dengan suara lantang.

Lin Tian memejamkan mata erat-erat. Tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga kayu jati itu berderit. Harga pembukaan itu adalah sebuah penghinaan mutlak. Nilai nyata dari infrastruktur dan alat berat di tambang tersebut tidak kurang dari tiga puluh ribu koin emas.

Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Batas waktu pelunasan utang operasional kepada Serikat Gagak Hitam akan jatuh tempo besok pagi saat matahari terbit. Hilangnya kargo di Lembah Selatan telah menyapu bersih seluruh isi brankas klannya tanpa sisa.

Master Zhu tertawa kecil. Ia sengaja membuat suaranya menggema untuk memprovokasi musuh bebuyutannya tersebut. "Keluarga Lin tampaknya benar-benar kehabisan napas malam ini. Sepuluh ribu satu koin emas."

Tawaran itu mengundang bisikan dari barisan belakang. Master Zhu bahkan tidak repot-repot menaikkan harga secara layak. Ia tahu persis tidak ada faksi kecil di kota ini yang berani menantang hegemoni Paviliun Awan Merah secara terbuka. Ia berniat menelan aset Keluarga Lin dengan harga sampah.

Wajah Lin Tian semakin memerah menahan amarah. Ia menatap tajam ke arah Master Zhu, berharap tatapannya bisa membunuh, namun pria gemuk itu hanya membalasnya dengan senyum meremehkan.

"Apakah ada penawaran lain?" tanya juru lelang dengan nada pesimis. Matanya menyapu ruangan, namun ia sudah menduga bahwa Paviliun Awan Merah akan memonopoli pelelangan darurat tersebut. "Sepuluh ribu satu koin emas, kali pertama..."

Di sudut belakang yang gelap, Ye Chen tidak mengubah posturnya sama sekali. Wajahnya setenang genangan air di musim dingin. Ia hanya mengangkat jari telunjuknya, lalu mengetuk pelan sandaran kursi kayu di sebelahnya. Sebuah isyarat tak kasat mata mengalir melintasi udara menuju barisan tengah.

"Sepuluh ribu satu koin emas, kali ke—"

"Dua puluh ribu koin emas."

Sebuah suara yang tenang dan sangat berwibawa memotong kalimat juru lelang layaknya tebasan pedang. Seluruh kepala di dalam ruangan itu serentak menoleh ke arah barisan tengah. Tabib Hua Jue duduk tegak sempurna, tangan kanannya memegang plakat penawaran tinggi-tinggi tanpa ada getaran sedikit pun.

Master Zhu tersedak ludahnya sendiri. Senyum meremehkan di wajahnya lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kerutan tajam.

"Tabib Hua? Apa kau sudah gila?" geram Master Zhu kasar. "Sejak kapan sebuah balai kesehatan berdebu di pinggiran kota memiliki modal sebesar itu untuk bermain di meja lelang tambang?!"

"Dunia terus berputar, Master Zhu. Kekayaan tidak selamanya mengalir ke satu muara," jawab Hua Jue dengan nada halus yang sengaja dirancang untuk menyulut emosi lawan. "Beberapa waktu lalu, saya beruntung mendapatkan dukungan dari sebuah perkumpulan pedagang netral dari luar kota. Kami menyebut diri kami Organisasi Teratai Putih. Kami melihat potensi obat-obatan yang sangat besar pada ekosistem lumut gua di kedalaman Tambang Batu Utara."

"Omong kosong yang cari mati!" Master Zhu menggeram.

Detik berikutnya, ia melepaskan tekanan Qi dari Alam Kondensasi Qi Tahap Puncak miliknya langsung ke arah Hua Jue. Gelombang aura tak kasat mata itu melesat cepat, membuat kursi-kursi kayu di sekitar sang tabib berderit ngeri seakan mau patah menjadi dua.

Di masa lalu, Hua Jue pasti sudah memuntahkan darah menghadapi tekanan mematikan ini. Jangankan membalas, bernapas pun ia tidak akan sanggup. Namun malam ini berbeda. Dengan meridian yang telah bersih murni akibat teknik yang diberikan Ye Chen, pria tua itu hanya mengibaskan lengan jubah sutranya ke depan.

Sebuah benteng aura pelindung yang solid seketika terbentuk, menahan tekanan Master Zhu dengan sempurna tanpa membuat Hua Jue tergeser satu sentimeter pun.

Mata Master Zhu melebar melihat pertahanan yang mustahil tersebut. Kekuatan tabib tua ini telah jauh melampaui informasi intelijen yang ia miliki.

"Dua puluh lima ribu koin emas," Master Zhu kembali bersuara, nadanya kini sarat akan ancaman pembunuhan secara terbuka. "Saya peringatkan Anda, Tabib Tua. Menyelam di laut dalam tanpa kemampuan bernapas hanya akan menjadikan Anda mayat sebelum fajar menyingsing."

Hua Jue tidak terpengaruh. Ia menatap lurus ke arah podium tanpa berkedip sedikit pun. "Tiga puluh lima ribu koin emas. Dibayar tunai, malam ini juga."

Ruangan melingkar itu langsung meledak dalam bisikan penuh kepanikan dan ketidakpercayaan. Angka tiga puluh lima ribu koin emas adalah nominal yang fantastis. Itu adalah jumlah yang bisa digunakan untuk membangun sebuah sekte kecil dari nol.

Lin Tian menatap Hua Jue dengan pandangan campur aduk. Ia sangat membenci kenyataan bahwa tambang leluhurnya jatuh ke tangan orang luar, apalagi seorang tabib lokal. Namun, dari sudut pandang rasional, harga yang ditawarkan Hua Jue sangat cukup untuk membebaskan klannya dari eksekusi utang besok pagi, bahkan menyisakan modal untuk bertahan hidup.

Master Zhu mengatupkan rahangnya erat-erat. Tiga puluh lima ribu sudah melampaui nilai rasional tambang tersebut dari kacamata bisnis konvensional manapun. Ia tidak tahu menahu soal urat nadi spiritual di bawah sana. Baginya, membayar lebih dari itu untuk sebuah tambang besi adalah kebodohan. Dengan menahan amarah yang meledak-ledak, ia membuang muka.

"Tiga puluh lima ribu koin emas. Kali pertama," juru lelang memecah ketegangan setelah memastikan tidak ada lagi pergerakan dari Paviliun Awan Merah. Palu kayu diangkat ke udara. "Kali kedua... Kali ketiga. Terjual!"

Brak!

Palu diketukkan keras menghantam meja kayu. Transaksi disahkan oleh hukum kota secara mutlak. Di sudut gelapnya, Ye Chen menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang sangat tipis. Keluarga Lin baru saja dibeli menggunakan kekayaan mereka sendiri yang Ye Chen rampas dari tangan mereka di Lembah Selatan.

"Tunggu! Jangan sahkan dokumen itu!"

Tepat sebelum petugas lelang membawa dokumen perjanjian turun dari podium, pintu kayu raksasa di ambang masuk terbanting terbuka ke arah dalam. Embusan angin malam melabrak masuk dengan kasar, membawa dedaunan kering ke udara.

Sesosok pemuda berpakaian sarjana putih bersih melangkah masuk melintasi ambang pintu. Wajahnya sangat tampan dan terawat, khas tuan muda aristokrat. Namun, yang membedakannya adalah sepasang matanya. Matanya memancarkan ketajaman yang dapat menembus seperti sebilah pedang pusaka yang baru diasah.

Di sudut belakang, tubuh Ye Chen tidak bergerak, tetapi instingnya sebagai analis seketika merespons keanehan di ruangan tersebut.

"Sistem," perintah Ye Chen di dalam kepalanya, suaranya sedingin es. "Fokuskan pemindaian pada target baru di pintu masuk. Bedah struktur energinya dan hitung tingkat ancaman intelektualnya sekarang."

[Mengeksekusi perintah analisis mendalam.]

[Mendeteksi gelombang jiwa baru...]

Layar antarmuka seketika membanjiri pandangan Ye Chen dengan barisan teks data yang diproses secara langsung.

[Identitas Target: Lin Feng (Pewaris Utama Keluarga Lin).]

[Tingkat Kultivasi: Alam Kondensasi Qi Tahap Akhir. Kepadatan sirkulasi energi: 98%.]

[Pemindaian Psikologis: Target memiliki kendali emosi yang ekstrem. Tingkat kepanikan pada situasi kritis: 0%. Rasionalitas mendominasi pola pikir.]

[Peringatan: Target diklasifikasikan sebagai Ancaman Kognitif Tingkat Tinggi. Target tidak bertindak berdasarkan dorongan emosional, melainkan menggunakan logika deduktif.]

Ye Chen menatap baris informasi itu dengan ketertarikan yang tiba-tiba memuncak. Sebuah ancaman berbasis logika murni adalah hal yang sangat langka di dunia kultivasi yang biasanya hanya mengedepankan kekuatan otot dan ego. Ia menyandarkan tubuhnya lebih nyaman, bersiap melihat seberapa jauh otak pemuda itu bisa membedah skema operasinya.

Lin Feng melangkah mantap membelah kerumunan. Ia tidak memedulikan tatapan heran ribuan mata yang tertuju padanya. Langkah kakinya konstan hingga ia berdiri tepat di samping ayahnya, Lin Tian.

"Ayah, tolak dokumen itu. Jangan pernah cap segel darah pada penyerahan asetnya," ucap Lin Feng. Nadanya tidak tinggi, namun intonasinya memotong udara dengan sangat tajam.

"Feng'er? Bagaimana kau bisa pulang dari akademi provinsi lebih awal?" Lin Tian tampak terkejut sekaligus kehilangan arah. "Tapi lelang ini sudah ditutup. Kita butuh koin emas ini besok pagi untuk bertahan hidup!"

Lin Feng menggeleng pelan. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum tatapannya berhenti dan terkunci rapat pada sosok Tabib Hua Jue.

"Ini bukanlah sebuah pelelangan, Ayah. Ini adalah tahap akhir dari sebuah skema pembubaran secara paksa," ujar Lin Feng dingin. "Aku melewati jalur Lembah Selatan dalam perjalananku kemari. Aku menemukan dan memeriksa mayat Paman Hai beserta para pengawal. Luka fatal di tubuh mereka terlalu efisien. Tidak ada pemborosan Qi, tidak ada pertarungan yang berlarut-larut."

Di sudut ruangan, antarmuka sistem Ye Chen memunculkan baris notifikasi baru.

[Analisis Sistem: Target sedang melakukan rekonstruksi pola serangan dari data visual masa lalu.]

[Tingkat akurasi identifikasi taktik tempur pengguna: 74%.]

"Pembunuh Paman Hai tidak bertujuan merampok batu spiritual itu untuk mengambil kekayaannya semata," lanjut Lin Feng. Suaranya bergema dengan tenang, dirancang secara presisi agar pesan tersebut tertanam di kepala seluruh faksi yang hadir. "Tujuan utama operasi itu adalah melenyapkan modal usaha kita secara instan. Mereka ingin memicu kepanikan utang yang tak tertahankan, dan pada akhirnya, memaksa kita menjual tambang ini dengan harga jauh di bawah potensi seharusnya, malam ini juga."

Pemuda berpakaian sarjana itu melangkah perlahan mendekati posisi Tabib Hua Jue. Menariknya, Lin Feng sama sekali tidak memancarkan aura membunuh, melainkan aura rasionalitas yang justru terasa jauh lebih mengintimidasi daripada tekanan Qi manapun.

"Lihatlah polanya. Waktu kejadiannya dirancang terlalu sempurna dan berdekatan. Kematian elit kita, hilangnya kargo pendanaan, tenggat waktu utang Serikat, dan secara tiba-tiba... muncul seorang tabib tua dengan modal raksasa dari organisasi yang tak pernah tercatat di rute perdagangan manapun." Mata Lin Feng menyipit tajam. "Ini bukan serangkaian kebetulan takdir. Ini adalah skenario menghancurkan ekonomi yang dipimpin oleh seseorang."

[Peringatan Sistem: Target telah merangkai benang merah konspirasi operasional.]

[Tingkat akurasi pemetaan skema logistik pengguna oleh target: 91%.]

[Saran Taktis: Pertahankan isolasi identitas. Risiko terekspos saat ini: Rendah (Terlindungi penuh oleh proksi Hua Jue).]

Ye Chen tersenyum tipis di balik kegelapan tudungnya. Deduksi Lin Feng benar-benar brilian. Jika Ye Chen sendiri yang berada di posisi pemuda itu, ia pasti akan mengambil kesimpulan deduktif yang persis sama.

"Tuduhan yang sangat luar biasa, Tuan Muda Lin," Hua Jue akhirnya membalas tatapan Lin Feng. Suaranya datar berkat latihan mental yang telah dipersiapkan. "Namun, saya tidak tertarik dengan cerita penyelidikan Anda. Hukum perdagangan Kota Daun Gugur dikawal oleh formasi segel dari otoritas provinsi. Palu lelang telah diketukkan secara sah. Uang telah berpindah tangan."

Hua Jue menunjuk ke arah petugas lelang. "Jika Keluarga Lin membatalkan ini sekarang berdasarkan sebuah teori konspirasi tanpa satu pun bukti fisik, denda pelanggaran kontrak akan membuat kediaman utama kalian disita secara paksa malam ini juga."

Lin Feng terdiam. Ia mengatupkan rahangnya erat-erat hingga urat lehernya menegang. Perhitungan risiko dan keuntungan berputar cepat di dalam kepalanya.

Pemuda itu tahu dengan sangat jelas bahwa tabib tua di hadapannya sedang memegang kartu truf absolut berupa regulasi hukum. Tanpa bukti konkret mengenai siapa dalang pembantaian di Lembah Selatan, menolak hasil lelang sama saja dengan menggiring seluruh klannya ke tiang gantungan. Kenyataan memaksanya untuk menelan pil pahit kekalahan kecerdasan ini.

"Kau benar," desis Lin Feng. Suaranya sedingin angin utara. Ia berbalik, mengambil dokumen dari tangan juru lelang. Ia tidak merobeknya karena amarah. Ia justru menyerahkan perkamen itu kepada ayahnya untuk diberikan segel darah. Ia memilih menelan kerugian masif ini demi memastikan klannya masih bisa melihat matahari terbit besok.

Setelah cap disahkan, Lin Feng menoleh dan menatap tepat ke dalam bola mata Hua Jue.

"Namun ketahuilah ini, Tabib Tua. Aku sudah membaca riwayat hidupmu. Berdasarkan profil psikologis dan rekam jejakmu, kau tidak memiliki kapasitas intelektual yang cukup untuk mendesain arsitektur kejahatan seindah dan serapi ini," ucap Lin Feng membedah lawan bicaranya. "Kau hanyalah sebuah terminal. Pion yang menerima perintah. Sampaikan pesanku pada operator yang bersembunyi di balik bayangan punggungmu..."

Lin Feng mencondongkan tubuhnya sedikit. "Celah sekecil apa pun yang ia tinggalkan di masa depan, akan aku temukan. Permainan ini baru saja dimulai."

Di kursinya yang terisolasi dari perhatian, Ye Chen bangkit perlahan. Ia tidak menghasilkan suara gesekan sedikit pun dengan lantai. Ia menarik tudung jubahnya lebih dalam, menutupi wajahnya sepenuhnya.

"Sistem," perintah Ye Chen di dalam benaknya saat ia membalikkan badan menuju pintu keluar samping. "Simpan profil psikologis, pola pikir, dan tingkat kewaspadaan Lin Feng ke dalam arsip ancaman prioritas utama."

[Perintah diterima.]

[Profil kognitif target Lin Feng berhasil diekstrak dan diarsipkan.]

[Menyiapkan protokol keamanan enkripsi lapis dua untuk seluruh operasi lanjutan di Kota Daun Gugur.]

Ye Chen melangkah keluar, menembus dinginnya udara malam. Ia meninggalkan Lin Feng yang kini berdiri tegak di tengah Balai Lelang, masih sibuk mengumpulkan kepingan-kepingan petunjuk yang berserakan.

Tahap pertama dari operasinya telah sukses besar. Dokumen kepemilikan tambang telah diamankan dengan legal. Kini, Ye Chen akan segera bergerak ke utara menuju Tambang Batu Utara, menyedot energi dari urat nadi spiritual rahasia untuk membiayai langkah skakmat berikutnya.

1
monoton kurang menarik
ada usul tidak jelas
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss author
Naevys
Wow, penulisan, dan pemilihan kata kata nya...
Nameless Monarch: Masih pemula bang, sama sekali gak ada wow nya:)
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
punya penulisan yang bagus, dan cerita yang mudah di ikuti. enak untuk di baca /CoolGuy/
Manusia Ikan 🫪: 😋hump
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
hmmmm masih tidak terbiasa dengan fantasi timur😅
Manusia Ikan 🫪
bagus nih, ruang simulasi mental
Manusia Ikan 🫪
sebagai mahasiswa arsitektur, aku pengen punya skill yang berhubungan dengan membangun ini😹
Manusia Ikan 🫪
hemmmm
Manusia Ikan 🫪
wah jarang jarang tuh ada sistem toko
Manusia Ikan 🫪
kenapa cerita fantasi timur, sangat mudah untuk mendapatkan kekuatan😅
Manusia Ikan 🫪: kwkawkoa masuk akal😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
bukan bumi kan!
Manusia Ikan 🫪
apakah ini urutan kekuatannya?
Manusia Ikan 🫪
😅mmmmm bro langsung tahu cara makenya?
Manusia Ikan 🫪: wkaowkaokwoa tapi lebih bagus kayak gini, dari pada gk tahu apa apa😹
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
yeeeeeey aku yang like pertama😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!