NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Motor Sagara melaju membelah jalanan malam yang mulai ramai oleh lampu kendaraan yang dan pedagang kaki lima. Angin malam berhembus cukup dingin, membuat beberapa helai rambut Nara yang keluar dari balik helm bergerak pelan.

Sementara itu, Nara diam-diam memperhatikan punggung pria di depannya. Entah kenapa, setiap kali naik motor bersama Sagara, ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Padahal biasanya ia paling tidak suka berdesakan di jalan atau terkena debu kendaraan.

Namun, kali ini berbeda. Justru suasana sederhana seperti ini terasa jauh lebih nyaman dibanding makan malam mewah bersama pria-pria pilihan kakeknya.

Beberapa menit kemudian, motor itu melambat dan berhenti di depan sebuah warung bakso sederhana di pinggir jalan.

Lampunya terang sederhana. Beberapa meja plastik tampak hampir penuh oleh pelanggan. Aroma kuah kaldu langsung menyambut begitu mereka turun dari motor.

Nara mengedip pelan sambil melihat sekeliling. "Kita makan di sini?"

Sagara melepas helmnya santai. "Kalau Nona keberatan, saya bisa cari tempat lain."

Nara justru menggeleng cepat. "Tidak." Sudut bibirnya naik tipis. "Aku hanya tidak menyangka."

Sagara memasukkan helmnya ke motor lalu menatap Nara datar. "Saya bukan orang yang tahu tempat mahal."

"Bagus." Nara malah melangkah lebih dulu menuju warung. "Aku sedang bosan tempat mahal."

Sagara memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya ikut masuk. Dan seperti biasa, kehadiran Nara langsung menarik perhatian.

Beberapa pelanggan sempat melirik diam-diam pada penampilan wanita itu yang terlihat terlalu elegan untuk ukuran warung pinggir jalan. Namun, Nara sama sekali tidak peduli. Ia justru duduk santai di bangku plastik sambil memperhatikan suasana sekitar dengan rasa penasaran.

"Bang Sagara!" seru pemilik warung ramah begitu mengenali pria itu. "Tumben bawa pacar."

Sagara langsung berdehem pelan. Sementara Nara hampir tertawa lagi.

"Bakso dua, Bang," jawab Sagara cepat seolah ingin mengakhiri topik itu.

"Oh siap siap."

Pria itu masih tersenyum jahil sebelum pergi menyiapkan pesanan.

Nara menopang dagunya sambil menatap Sagara yang duduk di depannya. "Kau terkenal juga rupanya."

"Karena saya sering makan di sini."

"Dan semua orang mengira aku pacarmu," tambah Nara santai.

Sagara langsung menghembuskan napas panjang. "Karena itu berhenti berada di sekitar saya."

Nara ingin menanggapi. Namun, terpaksa ia tunda saat melihat seorang wanita mengantarkan dua mangkuk bakso dan menghidangkannya di atas meja.

Aroma kuahnya langsung menyebar hangat. Nara menatap mangkuk itu cukup lama.

Sagara yang menyadarinya langsung mengernyit tipis. "Kenapa?"

"Aku baru sadar ...," gumam Nara pelan. "Sepertinya sudah lama sekali aku tidak makan di tempat seperti ini."

Sagara terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata datar, "Kalau begitu, malam ini anggap saja sedang mencoba hidup normal."

Nara meniup pelan uap panas dari mangkuk baksonya sebelum akhirnya menatap Sagara yang duduk di depannya.

Pria itu makan dengan tenang seperti tidak memiliki beban apa pun. Sangat berbeda dengan dirinya yang sejak tadi terus memikirkan ancaman kakek Dhanubrata.

Tatapan Nara lalu bergerak memperhatikan wajah pria di depannya lebih lama. Ia merasa, semakin lama mengenal Sagara, semakin ia merasa pria itu jauh lebih dewasa dibanding kebanyakan pria seusianya. Cara bicaranya tenang, sulit dipancing emosi, dan tidak mudah silau oleh uang ataupun status.

"Ngomong-ngomong," ucap Nara tiba-tiba.

Sagara mengangkat pandangannya sekilas. "Apa?"

"Berapa umurmu sebenarnya?"

Alis Sagara sedikit terangkat mendengar pertanyaan mendadak tersebut. "Dua puluh empat tahun."

Nara terlihat sedikit terkejut. "Aku kira lebih tua."

"Kenapa?"

Nara memutar sendok pelan di dalam mangkuknya. "Kau terlalu tenang untuk pria seusiamu," jawabnya jujur. "Bahkan kadang terdengar seperti orang yang sudah hidup terlalu lama."

Sagara terkekeh kecil mendengar hal itu. "Berarti saya terlihat tua?"

"Bukan tua," koreksi Nara cepat. Tatapannya masih tertahan pada wajah pria itu. "Dewasa."

Sesaat suasana di antara mereka terasa sedikit berbeda. Namun, Nara buru-buru mengalihkan pikirannya sebelum percakapan itu berubah aneh. Dan karena itulah, ia akhirnya memutuskan langsung masuk ke tujuan utamanya malam itu.

"Sagara."

Pria itu kembali menatapnya. "Ada apa?"

Nara meletakkan sendoknya perlahan. Tatapannya berubah serius. "Aku ingin membicarakan soal permintaanku yang dulu."

Gerakan tangan Sagara langsung terhenti sesaat. "Nona ...."

"Aku belum selesai." Nara menyandarkan tubuhnya santai pada kursi plastik itu. Namun, sorot matanya terlihat penuh tekad. "Aku ingin kau membantuku dengan kembali berpura-pura menjadi kekasihku dan menemui kakek."

Sagara langsung menghembuskan napas panjang. "Saya sudah pernah menolak."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa masih dibahas lagi?"

"Karena aku tidak punya pilihan," gumam Nara dalam hati.

"Kali ini berbeda," ucap Nara pelan.

Sagara menatapnya datar. "Apa bedanya?" Anda mau menawarkan uang lebih banyak lagi?"

Biasanya Nara pasti akan menjawab iya. Namun, kali ini ia justru menggeleng. "Aku tidak akan menawarkan apa pun."

Itu justru membuat Sagara mengernyit heran. "Lalu?"

Sudut bibir Nara perlahan terangkat tipis. Aku akan mengganggumu."

Sagara terdiam beberapa detik. "Apa?"

"Aku serius," lanjut Nara tenang. "Kalau kau tetap menolak, aku akan terus datang ke rumah kontrakanmu."

"Saya bisa pindah," jawab Sagara cepat.

"Aku juga akan datang ke bengkelmu," balas Nara cepat. "Dan mencari tempat tinggal barumu, bukanlah hal yang sulit bagiku."

Rahang Sagara mulai mengeras tipis.

Nara melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Aku akan sering muncul di sana. Mungkin ikut mengobrol dengan tetanggamu. Atau makan siang di bengkel sambil menunggumu pulang."

"Nona."

"Aku bahkan bisa datang setiap hari sambil membawa laptopku dan bekerja dari sana."

Sagara langsung menatap wanita itu tidak percaya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Nara, ia benar merasa wanita di depannya ini sangat merepotkan. Dan yang lebih parahnya, Sagara tahu Nara benar-benar mampu melakukan ancamannya.

Membayangkan Bu Sari, Andi, dan seluruh tetangga gang terus menggoda dirinya setiap hari saja sudah cukup membuat kepalanya pening.

Nara melihat perubahan ekspresi pria itu dan tahu ancamannya mulai berhasil. "Aku tidak akan berhenti sampai kau setuju," ucapnya santai sambil mengambil bakso dengan sendok. "Jadi pikirkan baik-baik."

Sagara memijat pelipisnya perlahan. "Kenapa harus saya?" tanyanya lirih frustasi. "Bukankah Anda bisa mencari pria lain?"

Pertanyaan itu membuat Nara terdiam sesaat. Tatapannya turun pada mangkuk baksonya beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan, "karena aku hanya ingin kamu."

Kalimat itu keluar begitu saja. Dan setelah menyadarinya, Nara langsung berdehem kecil lalu buru-buru menambahkan. "Maksudku ... kau yang paling cocok untuk rencanaku."

Namun, jawaban tambahan itu justru terdengar terlambat.

Sagara sendiri terlihat diam beberapa saat. Tatapannya sulit dibaca. Hingga akhirnya pria itu menghembuskan napas panjang menyerah. "Anda benar-benar keras kepala."

Nara langsung menatapnya penuh harap. "Itu artinya?"

Sagara meletakkan sendoknya perlahan. "Baiklah, saya akan membantu Nona sekali lagi."

Mata Nara langsung berbinar tipis.

"Tapi saya punya beberapa syarat," ucap Sagara cepat.

**** bersambung.

1
SecretivePlotter
malah diem dieman cak🤣
SecretivePlotter
membuka untuknya, atau membukakannya cukup, tapi yang lebih pas, membuka pintu tersebut untuknya, cmiw
SecretivePlotter
apakah suruh menyerahkan semua hak waris ke si pelakor, makanya mereka nyari, atau suruh jadi pemuas buat mereka🤭
SecretivePlotter: terus apa dong? palingan alurnya aja yang dirubah/Curse//Tongue/
total 2 replies
SecretivePlotter
emang apa isina/Slight/
SecretivePlotter: afa eak?🤣🤣
total 2 replies
nuraeinieni
lagi2 sagara di kecewakan dgn isi surat almarhum ayahnya.
Teteh Lia: isi surat na ngadi-ngadi soal na😅. maka na Sagara kesel. 🤭
total 1 replies
nuraeinieni
sagara datang karna rindu sama nara kakek.
SecretivePlotter
mencengkram. ya tinggal serahin aja, banyak babibu, bilang aja ada maunya
SecretivePlotter
ingin dimengerti tapi gak mau mengerti, bangke ah
Teteh Lia: Kebanyakan kan begono. Mau na dimengerti, tapi syulit buat mengerti balik.
total 1 replies
SecretivePlotter
oalah rek, ibunya udah gak tahan ngejanda🥵🥵
SecretivePlotter
taik, ngomong ama silid, lu kira maafin orang macem lu semudah itu
SecretivePlotter: /CoolGuy//Grin//Hammer/
total 2 replies
SecretivePlotter
untuk diperas bijina🤭
Teteh Lia: ikut-ikutan pake na /Smug/
total 1 replies
SecretivePlotter
pasti dikira selingkuh🤭
SecretivePlotter
kek kerang disiram aer garem, ada gosip langsung pada nongol🤭
Teteh Lia: Kerang bambu tah... yang di siram air garem telus pada nelojoll🤭
total 1 replies
SecretivePlotter
udah kuduga, dia ama emaknya emang ngincer buwung sagara🤣
SecretivePlotter
udah telat woi
SecretivePlotter
wkwk ... mana belum pake baju pula🤭
〈⎳ FT. Zira
kondisikan matamu Vio/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak bisa liat yg seger seger yak🤣
〈⎳ FT. Zira
hanya author yg tahu😭😭
Hajime Nagumo
seru ngeliat ibu2nya, mau boikot sagara kalo dia milih viola, padahal viola itu sumber masalah keluarga sagara.

kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
Hajime Nagumo
wah ternyata! bener kan tebakan saya, sagara itu orang berada! nice kak untuk cerita chapter ini. andi sampe bingung sagara ngelamunin apaan.

akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!