NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Menguliti Karakternya

Keheningan paviliun malam itu mendadak terasa mencekik, hanya menyisakan suara derik jangkrik dan desis lampu minyak yang bergoyang pelan.

Bau sisa minyak tanah dari belacu di lantai kini berbaur dengan aroma keringat dingin amarah yang menguap dari tubuh tegap sang juragan.

Lantai tegel abu-abu di bawah telapak kaki Sumarni terasa sedingin es, menembus kulit tipisnya dan mengirimkan sengatan batin yang kian memperkuat tekadnya.

Harjono menatapnya dengan sepasang mata elang yang kini tidak lagi memancarkan kemurkaan buta, melainkan sebuah kegelisahan yang mendalam.

"Apa maksudmu dengan menentukan posisimu sendiri, Marni?" tanya Harjono, suaranya berat dan bergetar, bergema di ruang tengah yang kini tampak estetik dan rapi.

Sumarni tidak langsung menjawab, ia membalikkan tubuh sepenuhnya, menantang langsung manik mata kelam suaminya tanpa ada keraguan sedikit pun.

Keberanian jiwa modern dari tahun 2026 bergolak hebat di dalam dadanya, menolak segala bentuk penindasan yang biasa diterima oleh Sumarni yang asli.

"Selama ini, aku hidup di paviliun belakang ini seperti hantu yang tidak berhak bersuara, Mas," ucap Sumarni, suaranya mengalun rendah namun memiliki ketegasan yang mematikan.

"Aku membiarkan diriku dihina, dikucilkan, bahkan diberi makan dengan lauk sisa oleh para pelayan rumah utama atas perintah istrimu," lanjutnya dengan mata yang berkilat tajam.

Harjono terdiam, rahangnya mengeras mendengar kenyataan pahit yang keluar langsung dari bibir istri keduanya. Rasa bersalah kembali memukul ulu hatinya, menciptakan denyut nyeri yang menjalar hingga ke dada.

"Aku sudah katakan, mulai besok kalian pindah ke paviliun timur," sergah Harjono, mencoba mengembalikan otoritasnya sebagai kepala keluarga. "Aku yang menjamin tidak akan ada lagi pelayan yang berani bertindak kurang ajar kepadamu."

Sumarni tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang terasa begitu menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia melangkah mendekati meja jahit Singer miliknya, menyentuh permukaan logam hitam yang dingin dengan ujung jarinya yang lecet.

"Jaminanmu tidak ada artinya jika Nyonya Sulastri masih memegang kunci keuangan dan hukum di rumah ini, Mas," balas Sumarni sambil membalikkan tubuh kembali menatap Harjono.

"Aku mau pindah ke paviliun timur, tapi bukan sebagai selir yang menerima belas kasihan setelah difitnah," desis Sumarni dengan dagu terangkat tinggi.

[Sistem Istri Ideal Era Aktif. Misi Utama: Ajukan Ultimatum Batas Hak Rumah Tangga. Hadiah: 400 Poin Reputasi]

Layar biru transparan yang berkedip di sudut pandangannya mempertegas langkah taktis yang sedang ia ambil. Sumarni tahu, pria sekaya dan seangkuh Harjono tidak akan pernah menghargai wanita yang menyerah begitu saja tanpa syarat.

Harjono menyipitkan matanya, ada rasa tidak nyaman sekaligus ketertarikan yang kian mendalam melihat sosok baru di hadapannya ini. "Lalu apa yang kamu inginkan, Marni? Uang belanja yang lebih besar? Perhiasan baru untuk mengganti yang hilang?"

"Aku menginginkan hakku sebagai istri yang sah di mata hukum rumah tangga ini, Mas," jawab Sumarni lantang, suaranya memecah kesunyian malam dengan begitu berani.

"Aku adalah istri, bukan budak yang bisa kamu datangi hanya saat kamu butuh, lalu kamu abaikan dan kamu tuduh berkhianat saat istrimu yang lain berbohong!"

Kata-kata itu menghantam ego Harjono bagaikan godam besar yang meruntuhkan tembok kesombongannya selama ini.

Belum pernah ada satu orang pun, termasuk Sulastri, yang berani menguliti karakternya dengan begitu telanjang dan jujur di depan wajahnya sendiri.

"Marni! Jaga bicaramu!" suara Harjono meninggi satu tingkat, tapi tidak ada lagi beringas amarah di dalamnya, hanya ada kepanikan seorang penguasa yang kehilangan kendali.

"Jika Mas Harjono tidak bisa menerima persyaratanku, lebih baik aku dan Dimas tetap tinggal di paviliun belakang ini," tantang Sumarni tanpa berkedip sedikit pun.

"Aku akan menghidupi diriku dan Dimas dari hasil jahitan kemeja batik ini, dan aku tidak akan pernah mengizinkanmu menginjakkan kaki di tempat ini lagi."

Harjono terbelalak, matanya beralih menatap sepuluh kemeja batik mewah di atas meja yang menjadi bukti nyata dari keahlian luar biasa istri mudanya. Ia tahu betul, dengan kemampuan menjahit seperti itu, Sumarni bisa dengan mudah membangun bisnisnya sendiri di luar sana dan meninggalkannya.

Rasa takut kehilangan yang aneh mendadak menyergap rongga dada Harjono, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun menjalani pernikahan politik bersama Sulastri.

Istri keduanya yang dulu pasif dan bodoh, kini telah menjelma menjadi sosok wanita tangguh yang sangat memikat sekaligus berbahaya bagi ketenangan batinnya.

"Sebutkan persyaratanmu, Marni," ucap Harjono akhirnya, suaranya melunak sepenuhnya, menyerah pada dominasi baru yang ditunjukkan oleh istrinya.

Sumarni tersenyum tipis, sebuah kemenangan taktis yang manis bergejolak di dalam benak editor kontennya. "Pertama, aku mau pengelolaan dapur paviliun timur dipisahkan sepenuhnya dari rumah utama, tidak boleh ada campur tangan dari pelayan Sulastri."

"Kedua, semua kebutuhan sekolah dan kesehatan Dimas harus diserahkan langsung kepadaku, bukan melalui tangan istrimu," lanjut Sumarni dengan nada mengunci. "Dan yang ketiga, aku meminta modal untuk membuka usaha batik tulis sendiri di paviliun timur."

Harjono tertegun mendengar persyaratan ketiga yang diajukan oleh Sumarni, tapi sebelum ia sempat membantah, Sumarni kembali berbicara.

"Sepuluh kemeja batik yang di rusak polanya lalu kurekonstruksi dengan tenun emas ini adalah buktinya, Mas," ujar Sumarni sambil menunjuk tumpukan kain di meja. "Jika dipasarkan ke Surabaya melalui jaringan kereta api logistik, pakaian ini akan menjadi tren baru yang mendatangkan keuntungan besar bagimu."

Otak bisnis Harjono seketika berputar cepat, ia menyadari potensi keuntungan yang luar biasa besar dari ide taktis yang ditawarkan oleh Sumarni.

Wanita ini tidak hanya menuntut hak pribadi, melainkan menawarkan sebuah aliansi bisnis yang sangat jarang di tahun 1984 ini.

"Baiklah, aku menyetujui semua persyaratanmu, Marni," jawab Harjono dengan suara rendah yang sarat akan rasa kagum yang tak lagi bisa ia sembunyikan.

"Besok pagi, kalian pindah ke paviliun timur. Aku sendiri yang akan mengantarkan modal awal untuk usaha batikmu."

[Ding! Misi Utama Selesai. Ultimatum Diterima Target Utama. 400 Poin Reputasi ditambahkan ke akun Anda. Poin saat ini: 1050 Poin.]

Sumarni menundukkan kepalanya sedikit, memberikan kesan hormat yang sangat elegan sebagai penutup konfrontasi malam itu. "Terima kasih atas pengertiannya, Mas. Sekarang, silakan kembali ke rumah utama, istrimu pasti sedang menunggumu dengan penuh kecemasan."

Harjono menatap wajah Sumarni untuk terakhir kalinya malam itu, merasakan getaran obsesi yang semakin kuat mencengkeram hatinya sebelum ia berbalik dan melangkah keluar dari paviliun belakang dengan hati yang dipenuhi perasaan campur aduk.

Sumarni mengembuskan napas panjang setelah langkah kaki Harjono benar-benar menghilang di balik rimbun pohon mangga, rasa lelah yang luar biasa mendadak mendera seluruh persendian tubuhnya.

Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar, menemui Dimas yang ternyata sudah tertidur lelap di atas kasur kapuk tipis sambil memeluk buku gambarnya.

Sumarni tersenyum lembut, ia berlutut di sisi ranjang dan mengusap dahi anak tirinya dengan kasih sayang yang tulus. Langkah pertamanya untuk merebut kekuasaan di rumah ini telah berhasil, namun ia tahu bahwa Sulastri tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan malam ini.

Keesokan paginya, matahari fajar baru saja menyembul di ufuk timur, membawa hawa sejuk yang menyegarkan udara kota yang mulai sibuk.

Proses perpindahan ke paviliun timur berjalan dengan sangat lancar, beberapa pelayan pria rumah utama mengangkut mesin jahit dan kotak kain milik Sumarni dengan sikap yang teramat hormat.

Paviliun timur adalah bangunan yang jauh lebih besar, dengan lantai tegel yang bersih mengilat dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman bunga.

Sumarni menata ruang tengah paviliun barunya dengan estetika modern, meletakkan rak kain dan meja jahit di posisi yang paling banyak mendapatkan cahaya alami.

Siang harinya, Mbok Darmi, seorang pelayan tua yang setia dan tidak memihak Sulastri, datang membawakan nampan berisi makan siang khusus untuk Dimas. "Nyonya Marni, ini sup ayam kampung dan nasi hangat untuk Den Dimas, Mas Harjono yang meminta saya memasaknya secara khusus di dapur depan."

"Terima kasih, Mbok Darmi. Tolong letakkan saja di atas meja makan," jawab Sumarni hangat sambil menuangkan teh tubruk wangi ke dalam cangkir seng miliknya.

Dimas yang baru selesai merapikan buku sekolahnya langsung berlari mendekati meja makan dengan wajah yang tampak gembira.

Aroma gurih kaldu sup ayam yang mengepul hangat di udara seketika membangkitkan selera makan bocah kurus yang selama ini selalu kekurangan gizi tersebut.

Sumarni mengambil mangkuk sup itu untuk menyuapi Dimas, tapi gerakan tangannya mendadak terhenti di udara saat indra penciumannya menangkap sesuatu yang ganjil.

Bau gurih kaldu ayam tersebut samar-samar bercampur dengan aroma umbi gadung mentah yang sangat tipis, sebuah aroma beracun yang sangat ia kenal dari memori tragis tubuh Sumarni yang asli.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!