NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: tamat
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:94.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Cemoohan Tante

Tante Rosalinda, kerabat tertua keluarga Halim, mencegat Sabrina di depan meja prasmanan.

Aroma daging sapi panggang berbumbu lada hitam dan saus anggur merah langsung menabrak rongga hidung Sabrina. Perutnya bergejolak hebat. Sisa obat penahan sakit dan antibiotik di lambungnya bereaksi keras menolak aroma lemak hewani tersebut. Ia membuang napas pelan lewat celah bibir, menetralkan rasa mual yang mendadak naik ke pangkal lidah.

Hawa dingin dari pendingin sentral menyapu kulit kaki kirinya yang sengaja dibiarkan terbuka. Zirah sutra robek mahakaryanya berkibar kecil. Luka jahitan di perut bawahnya berdenyut ngilu, mengingatkan batas fisik tubuh yang belum genap seminggu melahirkan ini.

Sabrina mengabaikan rasa sakit itu. Mode predatornya memindai ancaman di depan mata.

Rosalinda mengetukkan ujung tongkat kayu berukir naganya ke lantai pualam. Ketukan keras berirama lambat yang menuntut kepatuhan absolut. Wanita tua itu mengenakan gaun beludru hijau zamrud. Untaian kalung berlian dan zamrud sebesar telur puyuh mencekik leher keriputnya. Tiga istri dewan direktur mengekor di belakang Rosalinda bagai dayang-dayang penjilat.

"Kau pikir robekan baju gembel itu membuatmu terlihat tangguh?" Rosalinda membuka serangan. Suaranya serak, berat, dan sarat akan arogansi uang lama. "Kau cuma parasit yang beruntung bisa masuk ke kandang emas kami."

Sabrina tidak langsung menjawab. Ia mengambil piring porselen kecil dari tumpukan di atas meja. Capit perak ia raih, lalu ia menjepit sepotong tomat ceri segar. Ia mengabaikan eksistensi wanita tua berkuasa itu secara mutlak.

"Adrian." Rosalinda memindahkan pandangan tajamnya ke arah sang keponakan. "Singkirkan istrimu dari pandanganku. Dia mencoreng martabat Halim malam ini. Penampilannya liar. Memalukan."

Adrian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. Pria itu menatap bibir gelas anggurnya sendiri. Ia murni mengambil posisi pengamat. Tiran ini sedang mengukur seberapa brutal istrinya berani membalas gigitan anjing tertua di keluarganya.

"Kau membisu?" dengkus Rosalinda melihat Sabrina asyik memutar tomat ceri di atas piring. "Dasar perempuan tidak berpendidikan. Dan anak yang kau bawa itu... kita semua tahu asal usul rahimmu. Gen kampungan tidak akan pernah pantas menyandang nama Halim apalagi memimpin kerajaan bisnis ini. Dia cuma anak haram dari selokan."

Jari Sabrina berhenti bergerak.

Capit perak di tangannya mencengkeram tomat ceri itu terlampau kuat. Kulit merah buah itu pecah. Air tomat dan biji kuningnya muncrat menodai porselen putih murni. Persis seperti percikan darah.

Sabrina menoleh lambat. Sorot matanya kosong, menyerap habis seluruh cahaya di sekitarnya.

Sebelum lidahnya menjatuhkan vonis eksekusi, Sabrina melakukan kalibrasi emosi. Ia mengalihkan pandangan sebentar ke arah sudut ballroom. Ruang napas spiritualnya.

Tepat di detik itu, empat pengawal berseragam hitam dan Dokter Tirta sedang mendorong inkubator portabel Sebastian menjauhi area pesta. Roda inkubator berputar mulus menuju lift VIP di lorong utara.

"Mau dibawa ke mana anakku?" potong Sabrina mendadak. Suaranya rendah tapi membekukan udara.

Adrian mencondongkan tubuh mendekati telinga istrinya. "Prosedur standar keamanan medis. Kualitas oksigen ballroom mulai memburuk. Tirta memindahkannya ke suite karantina di lantai dua. Pengawal lapis pertama menjaga pintunya. Dia aman di atas sana."

Sabrina mengawasi pintu lift logam itu tertutup rapat menelan kotak kaca bayinya. Insting keibuannya berdenyut liar, namun logikanya menerima hitungan taktis tersebut. Di lantai dua, Sebastian jauh dari jangkauan hama pesta ini.

Tarikan napas Sabrina kembali stabil. Detak jantungnya melambat di angka enam puluh denyut per menit. Ia memasukkan kembali otaknya ke dalam ruang es kalkulasi murni. Anak itu aman. Sekarang saatnya membantai hama di depannya.

"Gen kampungan." Sabrina mengulang frasa Rosalinda dengan nada sedatar lantai marmer. Ia meletakkan piring porselennya ke atas meja prasmanan. Bunyi denting keramik beradu keras memecah ketegangan.

Sabrina melangkah maju satu tindak. Ia merangsek masuk memotong zona nyaman personal Rosalinda. Aroma parfum mawar tua yang menyengat bercampur bau napas asam langsung terdeteksi oleh indera penciuman Sabrina.

"Mundur selangkah, jalang kecil," desis Rosalinda. Tangan keriputnya mencengkeram tongkat kayu makin erat. "Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."

"Aku tahu persis sedang berhadapan dengan siapa, Tante Rosalinda." Sabrina menatap lurus menembus iris mata berawan katarak milik wanita itu. "Kau nyonya besar yang gemar bicara soal darah biru. Tapi mari kita bahas soal uang biru. Berapa banyak kalung zamrud yang bisa Tante beli dari uang pajak negara yang dicuri paman?"

Rosalinda membeku. Kerutan di ujung mata dan dahinya menegang kaku. Tiga istri direktur di belakangnya saling pandang dengan raut panik.

"Tutup mulut kotor itu!" Suara Rosalinda tertahan di kerongkongan. Bola matanya melirik liar ke sekeliling, memastikan tidak ada jurnalis yang berdiri dalam radius pendengaran. "Kau berani memfitnah suamiku di depan umum?!"

Sabrina mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Ia merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan mematikan yang hanya bisa ditangkap oleh Rosalinda, Adrian, dan para dayang di belakang mereka.

"PT Trimitra Gemilang." Sabrina mengeja nama perusahaan itu pelan. Presisi bagai ketukan palu hakim. "Perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman yang didaftarkan memakai nama gadismu. Rosalinda Widjaja."

Dada Rosalinda berhenti bergerak satu detik. Zamrud hijau di lehernya ikut bergetar memantulkan cahaya lampu kristal.

"Dua ratus miliar rupiah dana operasional fiktif dialirkan ke rekening offshore bank Swiss setiap kuartal," lanjut Sabrina tanpa memberi celah bernapas. Kata-katanya meluncur tajam menyayat ego lawan. "Suami Tante memalsukan laporan rugi laba sejak lima tahun lalu. Menghindari pajak perseroan untuk menutupi hutang judimu di Makau."

Napas Rosalinda memburu hebat. Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada pita suara yang bergetar. Paru-parunya menolak bekerja normal.

"Kau... kau mengigau." Rosalinda menggeleng pelan. "Itu semua omong kosong!"

"Faktur palsu pembelian bahan baku dari distributor fiktif di Singapura." Sabrina menggali luka itu lebih dalam. "Dokumen aslinya tidak dihancurkan. Paman bodoh itu menyimpannya di laci kedua meja kerja kayu jatinya. Di rumah singgah rahasia kawasan Menteng."

Mata Rosalinda membelalak maksimal. Tongkat kayunya tergelincir miring menabrak ujung sepatunya sendiri. Fakta terakhir itu menembus jantung pertahanan paling absolut miliknya.

Rosalinda mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Insting purba mendesaknya untuk menampar wajah pucat perempuan kurang ajar ini.

Plak!

Bukan suara tamparan di pipi.

Tangan kiri Sabrina melesat menangkis serangan itu di udara. Ia mencengkeram erat pergelangan tangan keriput Rosalinda. Jari-jari Sabrina yang dingin bagai es menekan titik saraf radialis di balik kulit tipis wanita tua itu.

Rosalinda memekik tertahan. Rasa sakit tajam menjalar dari pergelangan hingga ke bahunya.

"Jangan pernah mengangkat tanganmu di depanku," bisik Sabrina mematikan. Ia menarik pergelangan tangan Rosalinda satu inci lebih dekat.

"Lepaskan aku!" Rosalinda merintih pelan. Matanya mulai berkaca-kaca menahan nyeri.

Sabrina tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menunduk menyejajarkan bibirnya dengan telinga Rosalinda.

"Laci di rumah Menteng itu dikunci memakai brankas digital," bisik Sabrina lambat-lambat. "Tahukah kau apa kombinasi enam digit angka pembukanya, Tante? Dua belas, nol empat, sembilan puluh."

Wajah Rosalinda yang semula merah padam karena amarah seketika memutih bagai mayat.

"Tanggal lahir anak laki-laki haram suamimu dari wanita simpanannya di Surabaya." Sabrina melepaskan cengkeramannya kasar. "Paman lebih peduli mengamankan masa depan anak haramnya daripada menyelamatkanmu dari ancaman penjara, Tante."

Rosalinda terhuyung ke belakang. Keseimbangannya runtuh seketika. Salah satu istri direktur menangkap lengannya sebelum tubuh tua berselimut zamrud itu menghantam marmer. Mulut Rosalinda membuka dan menutup mencari pasokan oksigen yang seolah hilang dari ruangan.

Penggelapan pajak adalah satu hal. Namun ditelanjangi fakta tentang rumah rahasia dan anak di luar nikah suaminya adalah kiamat personal bagi sosialita tua ini. Harga dirinya hancur lebur menjadi abu di bawah tumit sepatu Sabrina.

"Darah kampungan ibarat debu di jalanan, Tante." Sabrina menyentuh kalung zamrud Rosalinda menggunakan ujung jarinya yang dibalut perban sutra putih. "Bisa dibersihkan. Tapi penggelapan pajak sebesar delapan ratus miliar rupiah adalah darah busuk yang akan menyeret seluruh anggota klan ini memakai baju tahanan oranye."

Adrian berdiri diam menyilangkan kedua lengan di depan dada. Urat lehernya menegang menahan euforia buas. Ia sudah tahu soal penggelapan pajak pamannya. Ia murni merencanakan hal itu untuk materi rapat bulan depan. Tapi Sabrina mengeksekusinya malam ini, jauh lebih cepat, efisien, dan seratus kali lebih sadis. Manipulasi informasi kelas dewa.

"Kau... monster. Siapa kau sebenarnya?" Rosalinda berbisik parau. Ujung bibirnya bergetar hebat. "Perempuan miskin sepertimu tidak mungkin memegang data setingkat itu."

Sabrina menarik tangannya. Postur tubuhnya kembali tegak menantang gravitasi.

"Aku ibunya Sebastian." Sabrina menjatuhkan vonis mutlaknya. Matanya mengunci iris Rosalinda tanpa ampun. "Siapa pun yang berani menghina asal usul putraku, akan kehilangan sisa hidupnya sebelum matahari terbit."

Sabrina memutar tumitnya. Ia menatap wajah suaminya secara langsung. "Kirim semua bukti audit itu ke Direktorat Jenderal Pajak besok pagi, Adrian. Atau aku sendiri yang akan membuangnya ke meja redaksi media massa malam ini."

Senyum tipis yang mematikan terbentuk di sudut bibir Adrian. "Aku yang memegang kendali atas eksekusi Paman, Sabrina. Kau hanya perlu menonton."

"Mereka masuk ke wilayah anakku." Sabrina membalas tajam tanpa menurunkan nada suaranya.

"Mereka milikku."

1
Endang Sulistia
seru..menegangkan..keren...
lee zha
bagus...tegang penuh intrik 🥳🥳🤩🤩semangat Thor...
Anonim
aneh ya tirannya lembek nggak bisa ngapa ngapain
Sandisalbiah
LUAR BIASA
Sandisalbiah
hanya untuk menyambut satu org perempuan Vincent mengerahkan seluruh tim elit ordo sutra... kau yg terlalu pengecut buat hadapin Maureen sendiri atau kau ngerasa gak mampu buat menghadapi dia sendirian, Vincent..? bahkan kau mempersiapkan segala jebakan secara maksimal dan totalitas... sebegitu menyeramkan sosok Maureen bagimu ternyata... dasar banci..
Sandisalbiah
untungnya Adrian sudah memberi mandat utk Sabrina akan kekuasaan mutlak yg tak bisa di banyak oleh bawahan Adrian.. siapa sangka musuh begitu lihai, licik dan licin.. Sabrina kudu ekstra kerja keras.. memaksa otot dan otak kolaborasi buat menghadapi lawan..
Sandisalbiah
intinya Adrian percaya sepenuhnya pd Sabrina.. good job.. krn emang Sabrina yg paling paham apa yg sedang mereka hadapi juga mengingat insting nya yg lebih tajam dan peka...
Sandisalbiah
mereka berdua mulai berdamai dgn kondisi dan sedikit mengarah pd perdamaian hati.. mungkin..
Sandisalbiah
Sabrina dan Vincent ibarat raga dan bayangan.. satu sama lai saling memahami keunggulan dan keahlian masing² .. insting yg sama² tajam.. jadi waspada dan siaga total adalah solusi terbaik buat pertahanan diri..
Sandisalbiah
Sabrina seolah menghadapi dirinya sendiri, itu sebabnya dia faham betul apa yg perlu dia lakukan dan dia siapkan..
Sandisalbiah
harusnya kepala dan tubuh Kania ini dipisahkan dan di kirim dlm paket yg berbeda... otak bebalnya gak pernah belajar dr yg sudah dia alami.. masih aja menjual kesedihan dgn fitnah murahan menjadi senjatanya.. gak merah dgn ending yg selalu Sabrina berikan
Sandisalbiah
Sabrina selalu memprovokasi lawan utk menyatukan mental mereka.. lawan mendapat serangan kepanikan krn tekanan psikologis drnya
Sandisalbiah
hem.. akhirnya sang tiran mengakui kekuatan Sabrina dan tunduk patuh padanya.. ya walau gak sepenuhnya tunduk rp jelas dia mengakui kalau Sabrina itu lebih dr mampu..
Sandisalbiah
sadar sepenuhnya kalau itu jebakan tp masih di ladenin.. konyol si kalau sampai Sandrina gak punya rencana sebelumnya... krn dia faham betul situasinya kan..?
Sandisalbiah
hah.. selalu ya.. kenapa musih selalu mudah menebak, memprediksi gerakan atau mencium siapa yg jd target mereka.. dan sayangnya Adrian terlalu bebal utk mpercayai insting istrinya walau berulang kali Sabrina sudah mbuktikan bahkan beraksi dlm melindungi mereka...
Sandisalbiah
Sabrina adalah korban Vincent tepatnya Maureen lah korban yang dan Sabrina adalah target Vincent... dia bukan ragu tp waspada pd pengawal bayaran itu.. krn uanglah tuan mereka yg sesungguhnya dan uang bisa merubah dr yg harus di jaga malah menjadi target..
Sandisalbiah
istriku.. istriku.. mulai lembek hati lu.. Adrian.. ishh
Sandisalbiah
lagian manusia bodoh mana yg akan merasa aman tinggal seatap dgn perempuan yg sudah menculiknya dan menyewa preman buat membunuh dia dan bayinya seperti binatang.. di tambah suami iblis yg otaknya sebelas duabelas belas dgn iblis dan hewan predator tanpa ada sisi kemanusiaan yang sama sekali.. lalu dr segi mana Sabrina harus merasa aman Adrian.. lu tololl apa buta atau sengaja biar Sabrina beneran mati kah..
Sandisalbiah
itu suami dajjal si Sabrina membawa mereka ke tempat paling aman katanya tp justru Menyerahkannya ke sarang yg isinya anjing penjaga Kania... otak Adrian itu bodoh atau tololl sebenarnya.. jd gedeg sendiri...
Dewi Kasinji
si Adrian ini tiran apa ya ??? kok kyk e ceroboh banget 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!