Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 27
Sementara itu, Riska dan April mulai menyusun rencana untuk pergi dari apartemen tersebut. Bertahan di sana sudah tidak ada gunanya lagi, karena stok bahan makanan mereka semakin menipis.
Teguh pun tidak pernah kembali sejak wabah zombie semakin parah.
"Tapi kita harus ke mana, Tante, kalau berhasil keluar dari sini?" tanya April dengan wajah cemas.
Riska terdiam sejenak, memikirkan
kemungkinan yang ada.
"Itu juga yang Tante pikirkan… Apa kamu punya rumah atau keluarga di kota lain?" tanya Riska.
April mengangguk pelan.
"Kami punya rumah di desa sebelah, Tante. Kalau kita bisa keluar dari sini, kita bisa ke sana."
Riska langsung mengambil keputusan.
"Malam ini kita harus pergi dari sini, April. Bagaimanapun caranya."
Ia menatap ke arah jendela apartemen yang gelap.
Percuma bertahan di tempat yang tidak aman. Teguh bahkan tidak memikirkan keselamatannya, padahal ia tahu kondisi di sana sangat berbahaya.
"Setelah pergi dari sini… aku akan memulai hidup baru dengan kedua anak ini… dan melupakan Teguh," batin Riska dengan tekad kuat.
Di tempat lain, di rumah Abah Hasan—
"Kek, sebenarnya di mana para zombie itu tinggal selama ini?" tanya Gibran penasaran.
"Kalau tidak salah, mereka berada di apartemen. Karena ada seseorang yang mengendalikan mereka," jawab Pak Heru.
Shila mengernyit.
"Kenapa mereka bisa jadi zombie sih? Contohnya di kota kami… orang-orang berubah jadi zombie karena makan mochi viral."
Abah Hasan menatap mereka dengan serius.
"Kalau ingin tahu kebenarannya, kita harus ke apartemen itu. Mungkin saja masih ada orang yang selamat di sana," ucapnya.
Shila langsung menatap tajam.
"Apa apartemen itu yang dimaksud sebagai ‘rumah aman’, Kek?"
Abah Hasan dan Pak Heru saling pandang, lalu mengangguk.
Mereka juga merasa heran. Mengapa gedung apartemen itu justru dijadikan tempat aman, padahal kini dikuasai oleh Rainal?
"Untung kita bertemu Kakek waktu itu, ya, Sayang… jadi kita selamat," ucap Shila dengan rasa syukur.
"Iya… begitu juga dengan Aira. Untung Bapak bertemu dengannya, jadi dia juga bisa diselamatkan," tambah Pak Heru.
Gibran kemudian menatap Abah Hasan dengan penuh tekad.
"Gimana kalau kami ke apartemen itu untuk cari tahu semuanya, Kek? Apa ada jalan masuk tanpa CCTV?"
Shila langsung menimpali,
"Tenang saja, Kek. Kami tidak akan sampai tertangkap."
Pak Heru berpikir sejenak, lalu berkata,
"Ada satu jalan masuk yang jarang diketahui orang. Hanya pegawai tertentu yang tahu. Kalian ajak Aira juga—dia punya akses ke salah satu unit di sana."
Shila dan Gibran saling berpandangan, lalu
mengangguk mantap. Mereka tahu, Aira bukan lagi gadis penakut seperti dulu. Kini, ia sudah terlatih dalam bela diri dan menembak.
"Malam ini kita berangkat," ucap Shila tegas.
Shila mulai mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa. Sementara itu, Gibran mengantar Pak Heru pulang untuk memberi tahu Aira.
Namun sebelum mereka pergi, Abah Hasan tiba-tiba berdiri dan menatap ke arah luar rumah. Tatapannya tajam, seolah merasakan sesuatu.
"Heru… mulai sekarang, jangan pernah percaya pada Juki. Abah curiga dia sudah menjadi anak buah Rainal," ucap Abah Hasan dengan suara pelan namun tegas.
Pak Heru terkejut, namun langsung mengangguk.
"Baik, Bah."
Angin malam mulai berhembus.
Rencana besar sedang disusun.
Dan tanpa mereka sadari… bahaya juga mulai bergerak dari arah yang sama.
-------
Malam pun tiba.
Langit gelap tanpa bintang, hanya ditemani cahaya bulan yang tertutup awan tipis. Suasana desa begitu sunyi, seolah semua orang memilih bersembunyi di dalam rumah.
Di halaman rumah Abah Hasan, 3 orang sudah bersiap.
Shila, Gibran, Aira,.
Mereka mengenakan pakaian gelap agar tidak mudah terlihat. Senjata masing-masing sudah siap—meski tidak terlihat secara nyata, mereka tahu kekuatan itu bisa mereka panggil kapan saja.
"Kita berangkat sekarang. Jangan ada yang ceroboh," ucap Shila tegas.
Aira mengangguk.
"Jalan masuk yang Pak Heru bilang itu ada di bagian belakang apartemen. Lewat jalur servis."
Gibran menatap sekeliling.
"Kita harus cepat dan tetap diam. Kalau sampai ketahuan, bisa berbahaya."
Perjalanan menuju apartemen terasa lebih mencekam dari biasanya. Jalanan kota sudah kosong, dipenuhi mobil-mobil terbengkalai dan bangunan rusak
Sesekali terdengar suara geraman dari kejauhan.
Shila memberi isyarat tangan.
"Jangan bersuara."
Mereka berjalan pelan, bersembunyi di balik kendaraan dan reruntuhan. Beberapa zombie terlihat berkeliaran, namun mereka berhasil menghindarinya.
Akhirnya…
Gedung apartemen itu terlihat.
Bangunan tinggi yang dulu terlihat mewah kini tampak gelap dan menyeramkan.
Beberapa jendela pecah, dan sebagian area tampak seperti tidak terurus.
"Itu dia…" bisik Aira.
Mereka mendekat dari sisi belakang, menuju jalur servis yang jarang digunakan.
Aira membuka sebuah pintu besi kecil dengan kartu akses yang masih ia simpan.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
"Masuk cepat," bisiknya.
Mereka pun masuk satu per satu.
"dimana unit lo berada aira.. kita akan kesana dulu" tanya shila.
"ada di lantai 4 , kita menggunakan tangga aja" ajak aira.. ini pertama kalinya aira datang ke apartemen itu.
Langkah kaki Aira, Shila, dan Gibran terdengar pelan saat mereka menaiki tangga darurat. Nafas mereka tertahan, telinga siaga mendengar setiap suara sekecil apa pun.
Gedung itu terasa aneh… terlalu sunyi.
“Lantai berapa?” bisik Gibran.
“Dua lantai lagi,” jawab Aira singkat tanpa menoleh.
Akhirnya mereka sampai di lantai yang dituju.
Lorongnya berbeda dari bawah mklebih bersih, lampu masih menyala terang, bahkan lantainya tidak berdebu seperti area lain.
Shila mengernyit.
“Kenapa di sini kayak… masih terawat?”
Aira tidak langsung menjawab. Tatapannya
sudah terkunci pada satu pintu di ujung lorong.
“Itu…” ucapnya pelan.
“Unit orang tua gue.”
Mereka bertiga berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat, bukan karena takut… tapi karena perasaan aneh yang menyelimuti Aira.
Dia berhenti tepat di depan pintu.
Tangannya perlahan menyentuh gagang, lalu berpindah ke panel kunci.
“Aku belum pernah masuk ke sini dan baru tahu papa punya apartemen di kota ini…” gumamnya.
Gibran menatap sekitar, memastikan aman.
“Cepat. Jangan lama di luar.”
Aira mengangguk, lalu memasukkan kode.
Beep… beep…
Beberapa detik terasa sangat lama.
Klik.
Pintu terbuka.
Mereka langsung masuk dengan cepat, lalu Gibran menutup pintu dari dalam.
Dan…Ketiganya langsung terdiam.
Unit itu… bersih.
Rapi, Seperti masih dihuni.
Tidak ada tanda-tanda kerusakan, tidak ada darah, tidak ada kekacauan seperti di bagian gedung lainnya.
“Ini…” bisik Shila pelan.
“Beneran kosong?”
Aira melangkah masuk lebih dalam, matanya menyapu seluruh ruangan sofa, meja, dapur… semuanya tertata sempurna.
Seolah waktu berhenti di tempat itu.
“Ini rumah mereka…” ucap Aira lirih.
Dia berjalan ke arah meja kecil, lalu menemukan sebuah bingkai foto.
Tangannya terangkat pelan.
“Itu mama… papa… dan gue…”
Gibran dan Shila tidak berkata apa-apa. Mereka memberi Aira waktu beberapa detik.
Lalu Gibran bergerak, mengecek jendela.
“Tertutup rapat. Aman.”
Shila menyusuri dapur.
“Masih ada air… bahkan listrik juga nyala.”
Aira menarik napas dalam, lalu menoleh ke mereka.
“Kita pakai tempat ini,” katanya lebih tegas sekarang.
“Ini lebih aman. Dan… nggak banyak orang tahu soal unit ini.”
Gibran mengangguk.
“Bagus. Kita bisa istirahat dulu sebelum lanjut.”
Shila menyandarkan tubuhnya sebentar.
aira tidak bisa membendung air matanya saat melihat pakaian orang tuanya masih tertata rapi di lemari.. dia seperti merasakan ada orang tuanya di sana.