Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tinggal di ruko
“Bagaimana, Amira, apakah kamu takut?” tanya Kuswara.
Udara di dalam ruko itu masih terasa lembap, bau apek yang tertinggal dari waktu yang panjang tanpa penghuni seakan menempel di dinding-dindingnya. Lampu temaram menggantung seadanya, memantulkan bayangan samar di lantai yang berdebu. Amira berdiri tenang di tengah ruangan itu, matanya menatap lurus, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Saya sudah banyak mengalami penderitaan hidup, Pak. Kalau saya masih saja takut sama hantu, rasanya percuma penderitaan saya itu.”
Jawaban itu meluncur begitu saja, tanpa ragu, tanpa gemetar. Kuswara tertawa pelan, bukan menertawakan, melainkan seperti menemukan sesuatu yang jarang ia temui—keteguhan dalam diri seseorang yang tampak sederhana.
“Baiklah, baiklah, Amira. Mulai malam ini kamu akan tinggal di sini, kan?” tanya Kuswara.
“Iya, Pak. Kami akan tinggal malam ini juga.”
“Baguslah kalau begitu. Saya pamit dulu, ya,” ucap Kuswara sambil tersenyum.
Ia kemudian berpamitan kepada semua orang. Langkahnya santai, namun matanya menyapu setiap sudut ruangan seakan memastikan tempat itu benar-benar akan hidup kembali. Saat melihat Dewi, gadis kecil itu berdiri dengan wajah polos, Kuswara tak bisa menahan diri. Ia mencubit pipi Dewi.
“Kalau pegang bayar, Pak,” ketus Dewi cepat.
“Dewi, apaan sih,” tegur Nanda, sedikit malu.
Kuswara justru tertawa lebih lepas. “Kamu lucu sekali, Nak. Pipi kamu seperti bakpao.”
“Nah, karena sudah menyebut bakpao, Bapak harus beli bakpao.”
Kuswara menggeleng, masih tersenyum. “Baiklah, baiklah.”
“Dewi, tidak boleh begitu,” kali ini Amira yang menegur, suaranya lembut tapi tegas.
“Tidak masalah, tidak masalah. Jangan marahi anak kecil. Makan yang banyak, ya.”
Kuswara tertawa lagi, lalu melangkah pergi dengan hati yang ringan. Dalam benaknya, ruko itu akhirnya tidak lagi kosong. Ada kehidupan baru di dalamnya. Dan itu berarti lebih dari sekadar bangunan yang terisi—itu berarti harapan.
Amira masuk ke dalam ruko, menghela napas pelan.
“Kamar kita di atas, ya,” ucap Amira.
“Aku bersih-bersih di bawah, ya, Mira,” ucap Nanda sigap.
“Iya, Mah. Aku di atas, ya.”
Amira dan Dewi menaiki tangga kayu yang sedikit berderit. Setiap langkah seperti membuka lembaran baru. Begitu sampai di atas, sebuah ruangan luas menyambut mereka, kosong, tapi penuh kemungkinan.
“Wah, luas banget kamarnya,” ucap Dewi dengan mata berbinar.
“Iya, akhirnya kita punya tempat tinggal.” Amira tersenyum kecil. Melihat Dewi yang riang, hatinya terasa hangat—rasa lelah yang selama ini menumpuk seakan berkurang sedikit.
“Sekarang bantu Mamah, ya, bersihkan kamar ini.”
“Siap, Bos!”
Amira menemukan beberapa sapu dan pel di sudut ruangan. Tanpa banyak bicara, ia mulai menyapu, mengusir debu-debu yang beterbangan. Dewi ikut membantu, meski gerakannya lebih banyak bermain daripada bekerja.
Tak lama, Amira turun ke bawah, berniat memanggil Arjuna. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat anak itu sudah membantu Nanda. Arjuna bergerak gesit, mengangkat barang, menyapu lantai, sesekali tersenyum kecil.
Amira berdiri sejenak, memperhatikan. Hatinya dipenuhi rasa syukur.
“Mudah-mudahan ini awal yang baik,” ucapnya lirih.
Hampir satu jam berlalu. Ruko yang tadinya kusam dan berbau kini berubah. Udara terasa lebih segar, lantai lebih bersih, dan yang terpenting—tempat itu mulai terasa seperti rumah.
Mereka akhirnya duduk di lantai bawah, kelelahan namun puas.
“Mah, aku lapar,” ucap Dewi sambil mengelus perutnya, lalu menyandarkan kepala di pundak Amira.
“Tunggu, ya. Mamah beli dulu.”
“Amira, biar aku saja yang beli,” sahut Nanda.
“Tidak masalah, Mah. Mamah pasti capek, kan?”
“Tidak, Mamah tidak capek. Tadi Juna gesit juga,” kata Nanda sambil mengelus kepala Arjuna.
Arjuna hanya tersenyum, sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana terasa hangat.
Amira lalu mengeluarkan uang pecahan 100.000 dan memberikannya kepada Nanda. Nanda berdiri, bersiap keluar.
Namun belum sempat melangkah jauh, suara dari luar terdengar, memecah keheningan sore yang mulai turun perlahan.
“Dewi, kakek datang,” ucap Kuswara dengan raut gembira.
Amira yang semula duduk langsung bangkit. “Pak Kus, ada apa?” tanyanya.
Kuswara masuk sambil membawa beberapa bungkusan plastik di kedua tangannya. Wajahnya terlihat sumringah, seolah ikut bahagia melihat ruko itu kini berpenghuni.
“Ini, aku beli bakpao isi daging dan minumannya,” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Pak, tidak usah repot seperti itu, Pak. Kami baru saja mau beli nasi,” jawab Amira, sedikit canggung.
“Tidak usah, kalian tidak usah beli makan. Ini aku beli banyak. Anggap saja ini salam perkenalan dari saya.”
Amira menunduk sedikit, perasaan tidak enak menyelinap di hatinya. “Aduh, Pak, maaf ya, jadi merepotkan.”
“Tidak merepotkan, tidak merepotkan,” ucap Kuswara cepat, ringan.
Ia lalu menoleh ke arah Dewi yang sejak tadi memperhatikan dengan mata berbinar.
“Dewi, ini ambil bakpaonya.”
Dewi segera melangkah mendekat. “Makasih, Kek,” ucapnya polos. Tangan kanannya memegang plastik berisi bakpao, sementara tangan kirinya menepuk pipinya sendiri.
Kuswara terdiam sejenak, lalu tersenyum bingung. “Ada apa, Dewi?”
“Karena kakek baik, ini kakek boleh cubit pipi Dewi,” jawabnya jujur.
Kuswara tertawa lepas, lalu mencubit pipi Dewi dengan gemas.
“Kalau besok mau lagi, harus bawa lagi, ya,” tambah Dewi santai.
“Dewi!” suara Nanda terdengar tegas.
“Tak masalah, tak masalah,” ujar Kuswara sambil tersenyum.
“Kalian makanlah yang kenyang, ya.”
Tak ingin mengganggu lebih lama, Kuswara pun pamit dan pergi. Setelah itu, plastik dibuka. Aroma bakpao hangat langsung menyebar, menggoda perut yang sejak tadi lapar. Ada sepuluh bakpao dan empat botol air mineral. Mereka makan dengan lahap, sederhana, tapi penuh rasa syukur.
..
Malam datang perlahan, membawa udara yang lebih dingin dan sunyi. Dewi dan Arjuna sudah berada di dalam ruko, tetapi Dewi masih berdiri di depan pintu, menatap ke arah jalan dengan gelisah.
“Kamu nunggu apa sih, Dewi?” tanya Amira dari dalam.
“Anjani belum pulang sih, Bu.”
“Ya, mungkin dia lupa jalan,” jawab Amira setengah bercanda.
“Dia pasti mengingat bauku,” kata Dewi yakin.
Amira menghela napas pelan. “Kamu harusnya mandi dulu. Bau kamu pasti bercampur keringat, makanya Anjani tidak mencium bau kamu.”
Dewi melirik ke arah Amira, ragu. “Jadi aku harus mandi dulu, ya? Nanti Anjani datang, ya?”
Amira terdiam. Ia sendiri tidak yakin. Ular itu… apakah benar masih ingat? Atau semua ini hanya keyakinan polos seorang anak kecil?
“Mamah itu bohong, kan? Dewi lagi di jalan, Mah. Sebelum Anjani datang, aku tidak akan mandi.”
Amira semakin bingung. Ia tidak ingin terus membohongi Dewi, takut akan berdampak pada pikirannya kelak.
Tiba-tiba wajah Dewi berubah cerah. “Mamah, itu Anjani pulang!”
“Mana?” tanya Amira cepat.
Dewi menunjuk ke arah got di tepi jalan. Dan benar saja, seekor ular putih tampak melata perlahan di sana.
Jantung Amira berdegup. Dewi segera mendekat, tanpa rasa takut, lalu meraih Anjani. Ular itu langsung melingkar di lehernya, tenang seolah mengenali.
“Ah, untung saja dia pulang,” gumam Amira, meski rasa ngeri masih tersisa.
Dewi tersenyum puas, lalu masuk ke dalam ruko bersama Anjani.
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔