NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Setelah berjam-jam yang terasa seperti selamanya, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam.

Dokter keluar dengan raut wajah lelah namun memberikan secercah harapan.

Operasi berjalan lancar, peluru berhasil diangkat tanpa mengenai pembuluh darah utama, meski Sulfi masih harus berada di ruang ICU untuk observasi ketat selama masa kritis.

Zaidan, yang kondisinya sendiri masih lemah setelah mendonorkan darah dan baru saja pulih dari luka lamanya, tidak diizinkan berjalan jauh oleh perawat. Namun, ia bersikeras ingin melihat istrinya.

Akhirnya, dengan bantuan seorang perawat, Zaidan duduk di kursi roda dan melihat istrinya yang masih harus berjuang dari balik kaca besar ruang isolasi ICU.

Pemandangan di depannya menyayat hati. Sulfi, wanita yang biasanya begitu vokal dan penuh energi di ruang sidang, kini terbaring tak berdaya dengan berbagai selang medis dan monitor yang berbunyi teratur di sekelilingnya.

Wajahnya pucat pasi, namun dada istrinya itu terlihat naik turun dengan stabil, tanda bahwa kehidupan masih ada di sana.

Zaidan menyentuh kaca dingin itu dengan

jemarinya yang gemetar.

"Bertahanlah, Sayang," bisik Zaidan lirih, napasnya mengembun di permukaan kaca.

"Separuh jiwaku dan darahku ada di dalam sana bersamamu. Jangan biarkan aku sendirian lagi."

Yuana yang berdiri di belakang kursi roda Zaidan meletakkan tangan di bahunya, mencoba memberikan kekuatan.

Di ruangan yang sunyi itu, hanya suara detak jantung dari monitor ICU yang menjadi musik bagi harapan Zaidan.

Ia berjanji dalam hati, begitu Sulfi membuka mata nanti, ia tidak akan pernah membiarkan bahaya apa pun mendekati bidadarinya lagi.

Persidangan mungkin telah berakhir dengan kekacauan, namun perjuangan cinta mereka baru saja memasuki babak yang paling suci.

Sinar matahari pagi yang menerobos celah tirai ICU menjadi saksi sebuah keajaiban.

Perlahan, jemari tangan Sulfi bergerak kecil sebelum akhirnya kelopak matanya yang berat terbuka sedikit demi sedikit.

Hal pertama yang ia tangkap adalah bayangan pria yang sangat ia kenal di balik kaca besar.

Sulfi membuka matanya dan melihat suaminya yang duduk di luar di atas kursi roda, menatapnya dengan tatapan yang penuh kerinduan dan doa.

Melihat ada pergerakan, Zaidan langsung menegakkan punggungnya, wajahnya yang kuyu seketika cerah oleh harapan.

Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, memberikan isyarat kekuatan yang langsung dibalas Sulfi dengan senyum yang sangat tipis, hampir tak kentara, namun cukup untuk membuat jantung Zaidan berdegup kencang karena lega.

Tak lama kemudian, tim medis segera masuk ke dalam ruangan.

Dokter memeriksa keadaan Sulfi dengan sangat teliti, mengecek monitor detak jantung, pernapasan, serta respons motoriknya pascaoperasi besar tersebut.

Sulfi mengikuti instruksi dokter dengan kooperatif, meski tubuhnya masih terasa sangat lemas.

Zaidan menunggu dengan napas tertahan di koridor.

Setiap detik terasa begitu lama sampai akhirnya pintu otomatis itu terbuka.

Kemudian dokter keluar dan mengatakan kalau Sulfi sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa karena kondisinya telah melewati masa kritis dengan sangat stabil.

"Kondisi fisiknya sangat kuat, Pak Zaidan. Pendarahannya sudah benar-benar berhenti dan fungsi organ dalamnya normal. Ini sebuah kemajuan yang sangat cepat," ujar dokter sambil tersenyum ramah.

Zaidan memejamkan mata sejenak, membisikkan syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.

Ia segera memutar kursi rodanya, mengikuti brankar Sulfi yang mulai didorong keluar menuju ruang perawatan privat.

Kini, ia tidak perlu lagi terhalang kaca dingin untuk menyentuh tangan istrinya.

Di ruang perawatan nanti, ia berjanji akan menjadi orang pertama yang akan memeluk dan memastikan bahwa bidadarinya telah kembali ke pelukannya dengan selamat.

Ruang perawatan yang tenang itu seketika terasa jauh lebih hangat saat Sulfi akhirnya diizinkan untuk beristirahat di ranjang yang lebih nyaman.

Dengan suara yang masih sangat lemah dan serak, Sulfi mencoba memanggil pria yang tak sedetik pun beranjak dari sisinya.

"M-mas...." bisik Sulfi lirih.

Mendengar suara itu, Zaidan langsung bangkit dari kursi rodanya dengan perlahan, mengabaikan rasa pening yang sesekali masih menyerangnya.

Zaidan mendekat dan mencium kening istrinya dengan sangat lama, menyalurkan rasa syukur yang tak terhingga karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjaga wanita itu.

"Aku di sini, Sayang. Aku tidak akan ke mana-mana," ucap Zaidan sambil menggenggam lembut tangan Sulfi, seolah takut istrinya akan menghilang jika ia melepaskannya.

Tatapan Zaidan yang dalam kini dipenuhi dengan rencana masa depan yang lebih cerah.

Ia ingin menghapus semua memori kelam tentang ruang sidang dan sel tikus itu dari benak Sulfi.

"Cepatlah sembuh, bidadariku. Setelah semua ini benar-benar selesai dan lukamu mengering, aku ingin membawa kamu pergi jauh dari kebisingan kota," bisik Zaidan lagi.

Ia pun menyampaikan ajakan bulan madu setelah Sulfi sembuh.

"Kita akan pergi ke tempat yang tenang, hanya ada suara ombak dan udara segar. Kita akan merayakan pernikahan kita yang sebenarnya tanpa ada gangguan dari siapa pun."

Mendengar rencana indah itu, binar kebahagiaan terpancar dari mata sayu Sulfi.

Rasa sakit di dadanya seolah terangkat digantikan oleh harapan baru yang merekah.

Dengan senyum manis yang paling tulus, Sulfi menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan suaminya.

Di kamar perawatan itu, janji baru telah terpatri. Bukan lagi janji tentang perjuangan hukum atau pelarian dari maut, melainkan janji tentang kebahagiaan yang layak mereka dapatkan setelah melewati badai yang begitu hebat.

Suasana haru di ruang perawatan perlahan berubah menjadi lebih ceria saat pintu diketuk pelan.

Kunjungan Kompol dan Yuana siang itu membawa kesegaran baru bagi Zaidan dan Sulfi yang masih dalam masa pemulihan.

Sambil tersenyum lebar, Yuana mengangkat beberapa kantong plastik yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

Rupanya, mereka membawa makanan kesukaan Sulfi dan Zaidan untuk merayakan kabar baik kepindahan Sulfi ke ruang perawatan biasa.

"Kami tahu makanan rumah sakit pasti membosankan, jadi kami mampir sebentar ke tempat langganan kalian," ujar Yuana sambil menata kotak-kotak makanan di atas meja nakas.

Untuk Sulfi, mereka membawakan Bubur Ayam Spesial yang lembut namun kaya rasa, lengkap dengan kerupuk dan kuah kuning yang gurih—makanan yang paling pas untuk memulihkan tenaga pascaoperasi.

Sementara untuk Zaidan, Kompol Hendrawan membawakan Nasi Padang dengan Rendang Daging yang aromanya sangat menggugah selera, favorit Zaidan setiap kali mereka selesai bertugas di lapangan.

"Terima kasih, Komandan, Yuana. Kalian repot-repot sekali," ucap Zaidan sambil membantu menyuapi Sulfi sedikit demi sedikit.

Kompol Hendrawan terkekeh pelan sambil menepuk bahu Zaidan.

"Anggap saja ini perayaan kecil atas kemenangan kita di pengadilan. Maya, Riko, dan Guntur sudah diproses dengan pemberatan maksimal.

Sekarang, tugas kalian hanya satu: makan yang banyak dan cepat sembuh."

Sulfi tersenyum meski masih terlihat pucat. Rasa perhatian dari rekan-rekan mereka membuat suasana terasa seperti keluarga sendiri.

Di sela-sela tawa kecil dan cerita ringan dari Yuana tentang kekacauan di kantor saat mereka absen, Zaidan dan Sulfi menikmati hidangan tersebut dengan penuh syukur.

Luka fisik mungkin masih ada, namun kehangatan dari para sahabat dan aroma makanan kesukaan seolah menjadi obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan jiwa mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!