Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.
Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.
5 tahun berlalu~
Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Setibanya di rumah, Bu Ria benar-benar meradang mendapati nama 'Miranda' kembali datang dalam hidup putranya. Bu Ria ingin tahu, siapakah Miranda yang di maksud Sinta tadi.
"Ezar... Zar....!"
Suara itu menggema, percikan kemarahan menusuk setiap sudut rumah.
Salah seorang pelayan datang. Namanya Aini, lebih muda dan masih terlihat cantik. Dia lah rekan Miranda dulunya. Dan hingga kini masih menjadi pelayan kepercayaan Bu Ria.
"Eh, Ibu sudah pulang. Ibu nyari'in Mas Ezar?"
"Iya, kemana dia?" Bu Ria masih di kuasai emosinya.
Aini menunjuk teras belakang begitu sopan. "Mas Ezar ada di belakang, Bu!"
Bu Ria bergegas menunju teras belakang dengan dada yang sudah bergemuruh. Langkahnya teratur, matanya nyalang ke depan.
Sementara putranya, Ezar hanya duduk melamun, menyandarkan punggungnya pada bangku, tatapanya kosong ke depan.
"Ezar! Siapa Sekertaris baru kamu sekarang?!"
Ezar menoleh. Napasnya baru berhembus lemah. Ia tahu pasti kekasihnya sudah menceritakan semua itu kepada Ibunya. "Miranda!"
"Apa? Miranda? Jangan bilang Miranda mantan babu disini?!" napas Bu Ria semakin terengah.
Ezar bangkit. Menatap mata Ibunya tanpa ketakutan lagi di dalamnya. "Mamah benar! Memang Miranda orangnya."
"Ya Tuhan, Ezar... Bagaimana bisa kamu bertemu dengan wanita Jalang itu? Mamah nggak suka, Ezar!" Bu Ria merasa tak terima. Emosi yang sudah padam 5 tahun itu, kini kembali membara.
Ezar tak begitu menanggapinya kemarahan Ibunya. Tapi, dari semua masalah 5 tahun berlalu, baru kini ada dorongan rasa ingin tahu, benarkah pria yang meniduri Miranda di rumahnya memang benar_Arya?
"Mah... Ezar mau lihat rekaman itu lagi. Ezar cuma mau mastiin... Kalau pria yang meniduri Miranda memang benar suaminya atau tidak?!" suara bass itu penuh selidik.
Deg!
Jantung Bu Ria berpacu kuat. Menelan ludah saja sangat susah. Jika sampai Ezar tahu jika kegilaan itu berawal dari ide busuknya, niscaya saja Ezar akan membenci Ibunya setengah mati.
Dan, Bu Ria tidak siap dengan kepergian Ezar dari sisinya. Bayi 5 bulan yang dirinya rawat sepenuh hati.
"Ezar... Kamu ini bicara apa? Kejadian itu sudah 5 tahun yang lalu. Hp Mamah aja udah rusak. Kamu kenapa? Kenapa goyah seperti ini? Kamu pikir Mamah bohongin kamu. Lagian... Kamu sendiri udah lihat 'kan kelakuan bejad Miranda-"
"Tapi Ezar nggak lihat wajah Pria itu, Mah!" sambarnya.
Bu Ria juga tak mau kalah. "Ezar... Siapa pria itu nggak penting! Yang jelas, kamu sudah lihat sendiri 'kan, bagaimana kelakuan Miranda selama kamu tinggal!"
"Tapi penting bagi Ezar, mah!" suara Ezar naik satu oktav.
Telunjuk itu menuding wajah putranya. "Ingat, Ezar... Kamu sebentar lagi akan menikah dengan Sinta. Jadi, jangan pernah kamu pikirin masa lalu kamu. Miranda tetap lah Miranda! Sampai kapan pun... Mamah tetap tidak menyukainya!"
Selepas memberi paham putranya, Bu Ria melenggang masuk begitu saja.
'Aku harus mencari tahu sendiri setelah ini. Aku rasa... Ada sesuatu yang di sembunyikan Mamah,' bisik hatinya.
****
Di lain tempat, sebuah motor baru saja berhenti di depan rumah Miranda. Seorang pria muda, salah satu teman Miranda dari desa yang juga satu kerjaan selama di jakarta dulu, kini datang dengan wajah gusarnya.
Dimas.
"Mir... Mir....!!!!"
Miranda yang baru akan memasak, kini ia letakan dulu sayurnya. Lalu keluar sambil mengernyit.
"Dimas? Ada apa, Dim?"
Dimas, pria itu segera mengeluarkan gawainya dan tampak mengotak atik sebelum dirinya berikan pada temanya. "Mir, itu Bulek Lilis 'kan?"
Miranda spontan membekap mulutnya. Ya Allah... Kalimat itu meledak dalam hatinya. Wanita setengah baya yang masih cantik, memakai dress ketat, tengah berjalan bersama seorang pria seusia Ayahnya, dan Dimas mengabadikan foto itu di salah satu Hotel terbesar di Jakarta.
"Ibu...." lirihnya. Mata Miranda sampai mengendur, rasa panas menyeruat masuk. "Dim, ini Ibu! Dim... Aku ingin bertemu Ibu....." tanpa terasa, air mata kerinduan itu membuncah luruh.
Dimas tahu betul bagaimana tersiksanya rindu sang sahabat. Dari desa merantau bersama, dan Dimas juga tahu bagaimana hidup Miranda sejak kecil yang di tinggalkan Ibunya begitu saja.
"Mir... Sepertinya Bulek Lilis baru masuk pagi tadi. Oh ya, nanti coba aku tanyain informasinya sama temen aku. Kamu tenang saja ya," Dimas menenangkan.
Dimas dan Miranda juga baru bertemu 3 tahun lalu setelah temanya itu resmi menikah dengan Arya. Dulu, sebagai Teman, Dimas juga kebingungan mencari keberadaan Miranda setelah di usir Majikannya dari rumah. Tapi bersyukur, keduanya kembali di pertemukan saat Dimas juga satu kompleks yang sama dengan Miranda.
"Mir, kamu tenang ya. Nggak usah di pikirin," Dimas agak canggung semenjak Miranda berhijrah.
Miranda mengerjab, terbawa suasana membuatnya hampir lemah. "Dim, makasih ya!"
"Ya sudah, aku mau pulang dulu, Mir!" Dimas bergegas pamit pulang.
Miranda kembali menutup pintunya. Kalimat Istiqfar berdengung dalam batinnya. Ia memejamkan mata dalam, masih menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ingatanya terlempar. Hari yang seharusnya bahagia itu, berubah pedih karena kepergian Ibunya dari rumah.
...----------------...
Pagi itu, Miranda masih berusia 7 tahun. Semalam, ia sudah meminta Ibunya untuk mengambilkan raport beserta ijazah TK'nya. Tapi, Lilis menolak dengan dalih sibuk harus bekerja.
Miranda terima meskipun wajah kecilnya menahan kecewa. Sebagai Ayah, Ridwan tak tega melihat putri kecilnya yang harus menekuk wajah dengan dada yang sudah kembang kempis.
"Mira....." Ayahnya selalu memanggil dengan sebutan 'Mira'. Ridwan mencoba menengkan sambil menggendong tubuh kecil itu. "Nggak usah sedih, ya! Besuk biar Ayah yang ambilkan raportnya."
Miranda kecil mengangkat wajahnya. Masih sendu. Kecewa belum sepenuhnya hilang.
"Bapak benar? Tapi...." ada jedaan kalimatnya. Helaan napas kecil itu terdengar berat. "Teman-teman Mira pada di ambilkan sama Ibunya, Bapak! Miranda ingin sekali Ibu hadir. Selama ini Bapak terus yang ambil."
Bukan karena malu atau gengsi. Miranda hanya ingin menunjukan pada dunia, jika Ibunya juga sama sayangnya seperti sang Ayah. Tapi, hal itu belum mampu Miranda dapatkan.
Ridwan juga tak kalah kecewa terhadap dirinya sendiri. Cinta hasil perjodohan rupanya masih sulit diterima hati kecil Lilis. Dan hingga kini, Miranda lah yang harus menanggung semuanya.
Tidak hanya sekali dua kali. Miranda kecil sering melihat Ibunya mamaki sang Ayah tanpa ampun, hanya karena Ridwan tak mampu menutupi gaya Ibunya.
"Udah, ya... Mira nggak boleh sedih, besuk biar Bapak yang ambilkan," putus Ridwan kembali.
Dengan berat hati, dan demi menghargai sang Ayah, Miranda hanya mampu mengangguk. Tapi, hati kecilnya merasa bangga sekaligus terharu melihat keteguhan sikap sang Ayah.
Paginya, sepulang mengambil raport, Miranda dan Ayahnya di kejutkan sebuah koper besar bekas Lilis mejadi Tkw semasa gadisnya, kini berdiri tegak menyambut Ayah dan anak itu.
Lilis keluar, sebuah mobil terdengar mengklakson di depan.
Dint!
"Ibu... Ibu mau kemana?" Miranda kecil langsung menghambur dalam tubuh Ibunya. Sementara Lilis tampak kurang nyaman.
Kedua sudut mata Ridwan sudah berkedut. Matanya berkaca, suaranya bergetar ruah. "Lis... Kamu mau kemana? Apa maksud semua ini, Lis?"
Lilis menghempas tubuh kecil Miranda dengan pelan. Tatapanya lurus, sangat tak berselera menatap wajah tampan Ridwan.
"Aku mau pergi merantau lagi, Mas! Aku capek hidup sama kamu yang kaya gini-gini aja. Miranda sudah mau besar, tapi tabungan di rumah kamu juga nggak punya," tarikan napas itu sangat sesak. Lilis melanjutkan. "Aku titip Miranda sama kamu. Tolong rawat dan jaga dia. Aku pamit!"
Miranda mengejar Ibunya, tapi di tahan oleh Ridwan. "Ibu... Hua....." tangisan itu pecah.
"Tega sekali kamu, Lis! Padahal aku sedang berusaha membuat kalian bahagia! Tapi kenapa seperti ini balasan kamu," gumam Ridwan disela isakan tangisnya.
Sementara itu, yang lebih sakit dan menghantam dada Ridwan, seorang pria cukup tampan dan rapi keluar dan membukakan pintu untuk Istrinya.
Tak mampu berbuat lebih, Ridwan hanya dapat pasrah. Namun, setelah Miranda lulus SMA, Ayahnya itu menghembuskan napas terakhir, sebab sakit yang di derita Ridwan selama 2 tahun terakhir.
...---------------...